Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Ingin Bersamanya.


__ADS_3

Bel istirahat pun berbunyi. Gue dan 4 bocah itu seperti biasa menjeput Raisa di kelasnya.


Tapi sebelum Gue pergi menjemput Raisa. Gue ingin mengajak Reina pergi bersama, tapi karna Putra yang sontak menarikku pergi. Gue pun tidak sempat mengajaknya pergi.


Kami pun sampai di kelas Raisa. Tapi Raisa seperti sedang menunggu seseorang, gue hanya berharap kalau orang yang di tunggunya adalah Reina.


"Nunggu siapa?" Tanua Agung.


"Reina." Jawabnya santai sambil melihat kearah kami datang tadi.


"Eh itu... Reina, sini." Panggilnya.


*Kali ini harapan Gue terkabul.* Batin Gue dan tersenyum kecil.


Reina pun menghampiri kami. Dan berdiri di samping Gue.


*Akhirnya, bisa berdiri berdua lagi.* Batin Gue seneng.


Tapi dari kesenangan itu, selalu ada pengganggu yang menanti untuk menghancurkan momen Gue dan Reina. Ya benar saja, Raisa sontak mendorong Gue menjauh dari Reina.


"Woi!!" Teriak Gue.


"Napa?" Tanyanya seperti tidak tau apa salahnya.


"Sudah lah, buruan ke kantin. Lapar." Jawab Gue lalu pergi meninggalkannya bersama Reina.


Saat di kantin kami langsung menuju meja yang biasa kita tempati saat makan.


"Lu pesan apa?" Tanya Gue ke Raisa.


"Samain aja." Jawabnya.


"Lu, Rei? Mau pesan apa?" Tanya Gue lembut.


"Modus!!" Teriak Raisa.


"Bacot!!" Balas Gue.


"Mau pesan apa, Rei?" Tanya Gue lembut.


"Terserah aja." Jawabnya dengan lembut juga.


"Oke, Rei. Yuk teman-teman tersayang Gue." Ajak Gue dan lagi-lagi bertingkah aneh.


Kami pun memesan makanan. Setelah makanan siap, Gue membawa pesanan Raisa dan juga Reina. Sedangka pesanan Gue, dibawah oleh Putra.


"Nih, punya adek Gue tersayang. Dan yang satunya punya Reina." Ucap Gue dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Lu gila ya, bang? Jiji banget, suara Lu kayak gitu." Ucap Raisa.


"Gak, Kok. Cuma lagi happy aja." Jawab Gue.


"Gak usah di urusin, Sa. Dia dari tadi pagi memang gila." Sambung Putra.


***


Tak terasa, bel pulang pun berbunyi. Disaat-saat seperti ini, gue ingin berdua dengan Reina. Akhirnya Gue memutuskan untuk semua murid di kelas pergi kecuali Gue dan Reina.


Tapi tiba-tiba saja Reina ingin pergi lebih dulu dari pada murid lainnya. Gue sontak menahannya dengan menggenggam tangannya.


"Gue mau ngomong, tolong jangan pergi dulu." Bisik Gue dengan Ekspresi memohon.


Tanpa menjawab apapun, akhirnya Reina kembali duduk di kursinya. Tak lama kemudian, kelas pun kosong. Hanya tinggal kita berdua saja.


"Mau ngomong, apa?" Tanyanya.


"Hmm... Gue mau selalu bisa di samping Lu." Jawab Gue.


"Hah?" Reina terkejut dengan jawaban Gue.


"Kenapa? Apa kamu takut kalau aku akan dalam bahaya lagi? Tidak perlu takut. Aku akan berusaha untuk tetap menjaga diriku sendiri." Ucapnya.


"Tidak-tidak. Gue juga tidak tau kenapa Gue begini. Hati gue selalu berkata, kalau Gue harus dekat-dekat dengan Lu. Sedangkan pikiran Gue... Gue harus menjauh dari Lu agar Gue tidak terlihat aneh." Jelas Gue.


"Gu-Gue gak bisa jauh dari Lu. Tapi kalau Lu gak suka, Gue akan berusaha untuk menjauh dari Lu." Lanjut Gue.


"Oke!! Gue akan menjauh dari Lu. Gue akan berusaha agar Gue tidak selalu menempel di dekat Lu. Gue pergi, Bye." Potong Gue yang sudah tidak sanggup mendengar jawaban darinya lalu pergi meninggalkannya sendiri.


Gue cukup hancur, karna dia tidak ingin Gue ada disisinya. Seperti sedang ditolak saat menyatakan cinta. Ini memang aneh, tapi ini nyata.


"Sesak." Hanya itu yang Gue rasain di dalam hati Gue. Pikiran Gue kacau. Gue sampai tidak ingat untuk menjemput Raisa.


Gue pergi... Pergi entah kemana. Yang ada di pikiran Gue hanya ingin menghilang dari bumi ini.


Tanpa Gue sadari. Gue menyetir ke pantai. Pantai yang sangat sepi, tapi cukup indah jika di liat lebih dekat.


Gue memutuskan untuk keluar dari mobil lalu berjalan ke pantai itu sendirian. Tapi saat Gue sudah dekat dengan pantainya. Tiba-tiba saja Gue teringat sesuatu.


"Kenapa Gue kesini? Emang Gue lagi putus cinta?" Gumam Gue bertanya-tanya dan berhenti melangkah.


"Bodoh!!" Teriak Gue.


"Ngapain Gue kayak gini?? Gue belum nyatain cinta ke dia!!" Lanjut Gue.


"Kenapa Gue malah pergi tiba-tiba sih?!!!" Sambung Gue.

__ADS_1


"Dasar Rasya *****!!!" Teriak Gue dengan sangat keras.


"Gue gak akan nyerah, cewek yang sudah buat Gue suka sama dia harus bisa Gue dapatkan. Mau bagaimana pun caranya, dan siapapun lawannya. Gue berjanji akan terus maju sampai dia benar-benar jadi milik Gue." Tegas Gue.


Akhirnya Gue memutuskan untuk kembali ke Hotel dengan perasaan yang membara.


***


Saat Gue sampai di depan kamar Hotel. Gue berbalik sebetar dan menatap lembut pintu kamar Reina, berharap ia keluar. Tapi sejujurnya, Gue takut meghadapinya karna telah meninggalkan nya sendiri di kelas tadi.


*Dasar bodoh!!* Batin Gue sambil memukul kepala Gue.


Gue pun masuk ke dalam kamar. Gue terkejut saat membuka pintu, karna ada Reina dan juga Rais sedang duduk berdua seperti mengobrol sesuatu. Tetapi raut wajah Raisa seperti mengkhawatirkan sesuatu, yang Gue gak tau itu apa.


Setelah Gue menutup pintu kembali, tiba-tiba tatapan mereka berdua tertuju kepada Gue. Karna tidak tau ada masalah apa, Gur hanya bisa diam dan memasang raut wajah bingung.


"Kenapa?" Tanya Gue santai.


Raisa tiba-tina berlari menghampiri Gue dan memeluk Gue erat.


"Kenapa?" Tanya Gue lagi.


Raisa pun melepas pelukannya dan menatap Gue tajam, seperti akan meraung.


"Lu dari mana aja sih?!! Lu kira Gue gak kahwatir apa?!! Lu gila ya? Tiba-tiba hilang tanpa kabar gila Lu ya dasar orang gila gak jelas orang gak genah dasar bodoh lu bikin Gue panik *****!!!" Oceh Raisa seperti kereta yang sangat laju, karna tidak ada titik dan koma saat dia berbicara.


"Wait-wait... Lu nyari Gue?" Tanya Gue.


"Menurut Lu!!!" Teriaknya sangat keras.


"Sorry... Gue lupa jemput, Lu. Guw tadi habis dari suatu tempat. Terus ponsel Gue mati." Ucap Gue.


"Terus gunanya Power bank di mobil Lu, apa?!!" Geram Raisa.


"Maaf-maaf, gak gitu lagi Gue. Dah Gue mau mandi." Jawab Gue.


"Bye... Oh ya Rei, maaf dan thanks. Senang berteman dengan Lu. Tapi Gue mau lebih." Sambung Gue lalu pergi ke kamar mandi meninggalkan mereka berdua.


Hari ini memang aneh. Gue yang sangat aneh karna seorang cewek yan awalnya Gue benci. Tapi sekarang kata benci itu menjadi kata suka. Dan aku bisa memastikan setelah kata suka akan ada kata cinta dan sayang dari Gue ke dia.


Tapi... Gue gak tau, apa dia akan merasakan apa yang Gue rasakan ini. Tapi Gue berharap dia juga merasakannya.


Mulai saat ini, cerita pengejaran cinta seorang Rasya Putra yang tidak pernah jatuh cinta kepada seorang gadis akan dimulai dari sekarang.


Mungkin dari sekarang cerita hidup Gue akan mulai rumit. Tapi Gue berharap tidak serumit kisah cinta orang lain.


Bersambung

__ADS_1


*Bantu support author dengan Like dan Commentnya :)


Thanks*!!


__ADS_2