Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Mba Kunti?


__ADS_3

Malam hari pun tiba, kami sekarang sedang menyiapkan segalanya untuk pesta malam ini.


Devan dan Rasya yang mengurus alat pemanggangan, Agung dan Reyhan yang memotong-motong buah dan juga sayuran, Putra dan Rendi yang merapikan meja makan dan juga menyiapkan alat makan untuk kami.


Sedangkan Gue? tentu saja bersantai. Kenapa tidak membantu? awalnya tuh Gue mau bantu Devan mengurus alat pemanggangan berdua saja, tapi karena masalah tadi sore di kamar mandi, Rasya menyuruh Gue duduk saja dan biar dia yang membantu Devan.


Ayam dan daging yang akan kami panggang sudah Gue bumbui tadi sore setelah berenang, karna Gue yakin di antara 6 cowok itu yang bisa masak cuma Gue dan Rasya.


Tapi Gue salah, ternyata 6 cowok itu bisa masak. Buktinya saja, Reyhan dan Agung memegang pisau dengan santai tanpa rasa ragu sedikit pun, Devan yang menambahkan beberapa bumbu tambahan untuk daging dan ayamnya tanpa rasa ragu, sedangkan Putra dan Rendi, mereka berdua tau apa yang kami butuhkan di meja makan dan juga mereka terkadang membantu Reyhan dan Agung.


"Kalau begini sih, Gue sebagai cewek gak ada gunanya nih." Gumam Gue yang sedang duduk di ayunan sambil memperhatikan mereka bekerja.


Gue pun sontak berdiri dan ingin melangkah ke arah Agung dan Reyhan untuk mengambil sepotong buah.


Tapi saat ingin melangkah, tiba-tiba ponsel Gue berdering dengan sangat keras. Gue pun sontak berbalik dan mengambil ponsel Gue yang berada di ayunan itu.


Saat Gue melihat siapa si penelpon, Gue tanpa basa basi lagi langsung berjalan cepat menuju pintu utama rumah Gue.


Tapi baru beberapa langkah, Gue langsung di panggil oleh Devan.


"Sayang!" Panggilnya.


Gue pun berbalik dan bertanya. "Kenapa?"


"Mau kemana, kok buru-buru?" Tanyanya.


"Oh...a-ada tamu penting." Jawab Gue.


"Siapa?" Sahut Rasya.


"Kepo Lu!!" Balas Gue lalu berlari menuju pintu utama.


Saat di depan pintu utama, Gue pun langsung membuka pintu itu pelan-pelan agar Rasa tidak mendengarnya.


"Selamat malam, Raisa." Sapa seseorang itu setelah Gue membuka pintu.


"Hah...Malam." Balas Gue.


"Lu sudah bawa semuanya kan?" Tanya Gue.

__ADS_1


"Iya, sudah semua." Jawabnya.


"Kalau begitu, buruan masuk. Tapi Lu jangan buat suara sedikit pun." Balas Gue.


"Oke." Jawabnya.


Ia pun masuk dengan membawa beberapa barang yang Gue perintahkan. Setelah ia sudah di dalam, Gue pun menutup pintunya kembali.


"Sekarang jangan ribut, kita akan langsung ke dapur." Sahut Gue.


"Iya." Jawabnya.


kami pun mulai berjalan dengan pelan menuju dapur. Gue berusaha agar kami tidak terlihat oleh siapun termaksud Rasya.


Kami pun sampai di dapur, dan bersembunyi agar Rasa tidak melihat kami lewat jendela dapur.


"Sekarang Lu diam disini, Gue bakal cari alasan biar Rasya ke dapur dan bisa bertemu dengan Lu." Ucap Gue.


"Tapi...Gue yakin saat Rasya melihat Lu, ia pasti akan langsung pergi dan menjauh dari Lu. Tapi kalau Ku bisa menahannya, ia tidak akan pernah pergi dari hadapan Ku. Gue yakin itu." Lanjut Gue.


"Baik, aku akan berusaha untuk menahannya." Jawbannya.


"Oke...sekarang Lu tunggu sini ya, Gue ke belakang dulu." Balas Gue.


RASYA POV*


Gue yang sedang sibuk menjaga ayam, daging, dan juga sayuran yang Gue panggang bersama Devan.


Awalnya Gue tidak ingin melakukan apapun malam ini, tapi karena makhluk aneh ini yang selalu menempel dengan arek Gue, dengan terpaksa Gue pun melakukan hal ini bersama dengannya.


"Raisa mana sih?! lama banget!!" Gerutu Gue.


"Lu tuli? dia udah bilang kalau dia ada tamu, Lu malah nanya lagi." Sahut Devan.


"Lu bilangin Gue apa tadi?!" Tanya Gue menatap tajamnya.


"Tuli, kenapa? gak suka?" Jawabnya dengan ekspresi menantang.


"Bener-bener nih orang...Lu mau Gue tabok, hah?!!!" Geram Gue.

__ADS_1


"Silakan, Gue mah gak peduli." Ucapnya dengan tersenyum miring.


"Wah!!" Ucap Gue dengan tersenyum licik, dan sontak mengayunkan pukulan Gue ke wajah Devan.


Belum sampai di wajah di berengsek ini, tangan Gue lebih dulu di tahan oleh seseorang. Gue pun sontak menengok.


"Loh? Lu dari mana aja sih?" Tanya Gue lalu sontak melepas tangan Gue dan berbalik menghadap ke Raisa.


"Dari depan." Jawabnya.


"Lama banget, dah Lu mending duduk di ayunan aja sana." Balas Gue.


"Hm...Bang." Panggilnya.


"Kenapa? Lu sakit?" Tanya Gue yang mulai khawatir.


"Kamu kenapa sayang?" Sahut Devan.


"Lu diam!" Ucap Gue sambil menatapnya tajam.


"Gue gakpapa, kok." Jawab Raisa.


"Cuman...Gue mau ice Cream yang ada di dapur." Lanjutnya.


"Yaudah tunggu bentar, Gue ambilin." Ucap Gue.


"Ma-makasih, Bang." Sambungnya.


"Iya sama-sama." Jawab Gue.


Gue pun langsung melangkah menuju dapur dengan santai, tidak cepat dan juga tidak lambat.


Tapi saat di dapur, Gue terkejut melihat cewek yang berdiri membelakangi Gue dengan rambut yang terurai.


*Gak mungkin mba kunti kan?* Batin Gue yang baru ingat kalau di rumah ini gak ada cewek selain Raisa


Karna Mami dan Papi yang masih sibuk, sedangkan Bibi yang segaja kami liburkan hari ini. Jadi tidak ada cewek lain selain Raisa di rumah ini, dan lagi cewek yang di hadapan Gue ini seperti seumuran dengan Raisa.


Gue pun memberanikan diri memegang pundak kanan cewek itu dan berkata. "Misi...mba bukan mba kunti kan?"

__ADS_1


Cewek itu pun berbalik dan menatap Gue...


Bersambung


__ADS_2