
RAISA POV*
Bel istirahat pun berbunyi semua murid di kelas gue langsung berlari kekantin sedangkan gue masih menunggu Rasya dan teman-temannya jemput gue di depan kelas. Tak lama kemudian Rasya dan temannya pun datang, gue langsung menghampiri mereka dan seperti biasa Rasya langsung merangkul gue dengan santai lalu kita berjalan ke kantin. Di perjalanan kita gak ada ngobrol sama sekali saat sampai di kantin kita milih tempat yang sama kayak kemarin.
"Lu mau makan apa?" tanya Rasya setelah gue duduk di kursi.
"Terserah lu aja yang penting jangan lupa kopi." jawab gue santai.
"Tadi pagi lu udah minum kopi loh, sekarang mending teh atau susu aja dah." balas Rasya.
"Tadi pagi sama sekarang itu beda, dan lu tau sendiri gue gak suka susu, intinya kopi!!" gerutu gue.
"Sudah lah Sya, iyain aja bisa-bisa lu kena tabok ntar kalo kebanyakan ngomong." saut Agung.
"Yayaya." jawab Rasya lalu pergi bersama temannya untuk memesan makanan.
Seperti biasa gue hanya menunggu mereka sendirian di meja yang lebar ini sambil bermain ponsel seperti orang yang sedang menyendiri dalam keramean. Ditengah-tengah gue menunggu Rasya dan teman-temannya, gue tiba-tiba mendengar gosipan anak-anak yang ada di kantin menyebut-nyebut nama anak baru dan juga nama Rasya.
"Katanya anak baru itu duduk berdua sama Rasya loh." bisik murid kelas lain
"Terus sih anak baru berani banget nyebut Rasya gila, kalau tadi dia sampai ngamuk di kelas bisa-bisa adeknya itu bakal ngamuk juga di sekolah." bisik murid lainnya.
"Husst!! Nanti kedengaran sama orangnya loh, bisa berabe urusannya ntar." bisik murid lainnya.
Udah kedengaran kali, F*ck!!! *Batin gue.
"Tumben Rasya mau duduk sama orang lain, temennya sendiri aja dia ogah duduk bedua masa sama ank baru dia mau duduk bedua, dah lah tanya aja Nanti." Gumam gue.
"Ngapain lu ngomong sendiri? gila ya?" saut Rasya sambil membawa makanannya dan makanan gue.
"Iya gue gila, apalagi lu." balas gue dan menerima kopi yang disodorkan oleh Agung.
"Serah lu dah, nih makan." jawab Rasya sambil menyodorkan gue sepiring makanan.
"Oh ya bang, gue mau nanya." saut gue sambil menerima makanan gue.
"Apaan?" tanya Rasya sambil duduk di kursi.
"Gue denger lu duduk bedua sama anak baru ya?" tanya gue yang membuat Agung kaget dan tersedak makanannya sendiri.
"Uhuk uhuk uhuk." batuk Agung.
__ADS_1
"Lah lu napa dah?" saut gue ke agung yang masih berbatuk-batuk.
"Iya Sa, Rasya duduk sama anak baru dan parahnya anak baru itu malah bilang CRAZY ke Rasya." saut Putra.
Rasya yang mendengar Putra berbicara seperti itu langsung menginjak kaki Putra dengan sangat keras sampai membuat Putra berteriak sangat keras.
"SHIT!!!!" teriak Putra dan membuat semua orang yang ada di kantin menengok kearah kami.
"Hust!! diam Put." ucap gue.
"Sa-sakit Sa, abang lu mau bunuh gue kayaknya." jawab Putra sambil memegang kakinya yang di injak Rasya tadi.
"Lu juga, yang gue tanya siapa yang jawab malah lu, ya salah lu sendiri lah." balas gue sambil tertawa kecil.
"Dan lu bang... JAWAB!!" ucap gue yang awalnya santai berubah menjadi serius dengan tatapan mata tajam.
"Ampun Sa, tadi gue gak buat onar kok, cu-cuma anak baru itu aja yang ngotot malah duduk di tempat gue, kan lu tau sendiri kalau gue gak suka duduk sama orang lain selain lu." jawab Rasya.
"Yakin lu gak buat onar? Agung coba jawab yang JUJUR!!" ucap gue yang awalnya menatap Rasya berpindah menjadi menatap Agung yang ingin memasukkan makanannya kedalam mulutnya.
"Anu Sa, tadi sih Rasya sempat berdebat sama guru sebentar buat mempertahankan kursi kosongnya ta-tapi sih anak baru malah tiba-tiba duduk di kursi kosong itu te-terus Rasya bentak sih anak baru habis i-itu sih anak baru tiba-tiba bilang CRAZY ke Rasya dengan tatapan mata tajamnya, ja-jadi begitu." jawab Agung terbata-bata.
"Anak baru nya cewek atau cowok?" tanya gue.
"Ce-cewek." jawab Agung.
"Rasya Putra!" ucap gue sambil menatap Rasya tajam.
"Sumpah gue gak salah, sih guru itu yang salah malah ngotot kan kursi kosong banyak di kelas lain kenapa harus dikelas gue coba, dan lagi sih cewek itu sumpah dia yang gila kenapa malah bilangin gue gila sih kan dia gak jelas, jadi bukan salah gue." jelas Rasya.
"Lu udah janji ke gue gak buat onar lagi walaupun lu gak pernah pake fisik kalo kelai tapi kan lu udah janji gak buat onar lagi dan sekarang lu malah kayak gitu ke anak baru, lu tau kan adek lu ini ketua osis dan gue juga termaksud yang bertanggung jawab atas anak baru di sekolah ini, aduh Rasya." jawab gue.
"Iya iya gue salah, maaf–" ucap Rasya yang tiba-tiba terpotong.
"Kamu Raisa kan?" tanya seseorang yang tiba-tiba menghampiti meja kami.
"Hah? Iya kenapa?" tanya gue lalu menatap cewek itu.
"Sya, itu anak baru tadi." bisik Putra.
"Shit!" bisik Rasya.
__ADS_1
"Kepsek nyuruh saya menemui kamu." jawab Cewek itu dingin.
"Oh oke, tunggu aja di kelas lu, nanti gue yang kesana, gue belum selesai makan." jawab gue santai.
"Oh, oke." balas cewek itu dingin lalu pergi.
"Dingin banget kayak di kutub selatan." gerutu gue.
"Kan gue udah bilang dia tuh cewek gila." saut Rasya.
"Rasya Putra, awas lu buat masalah lagi, gue gak segan-segan kasih tau Papi biar uang bulanan lu di potong." ancam gue.
"Ya jangan lah, iya-iya gue gak buat onar lagi, dah lah gue lapar mau makan." ucap Rasya.
"Gue kenyang." ucap Rendi dan Reyhan serentak.
"Eit dah cepat banget." saut Agung.
"Kan kita dari tadi makan bukan ngomong." jawab Rendi.
"Dah lah buruan makan gue masih ada urusan ntar." saut gue.
Kami pun melanjutkan makan makanan kmi masing-masing. Setelah selesah makan gue ikut Rasya dan Teman-temannya kekelas mereka untuk menemui anak baru yang tadi menghampiri kami di kantin. Saat sampai di kelas Rasya gue langsung menghampiri anak baru itu yang duduk santai sambil memakai earphone.
Tok tok tok, ketukan meja yang gue buat agar anak baru itu menyadari keberadaan gue.
"Oh!" ucap murid baru itu lalu melepaskan earphone nya.
"Lu ikut gue, kita keliling sekolah bareng gue, gue bakal ngasih tau semua yang ada di sekolah ini." ucap gue santai.
"Oke." jawab murid baru itu lalu berdiri dan berjalan lebih dulu dari gue.
"Lah?!" ucap gue bingung karna seharusnya gue yang jalan lebih dulu dari tuh orang.
"Sabar Sa, abang lu aja sabar masa lu kagak sih." saut Agung sambil melirik Rasya yang seperti ingin menjambak rambut murid baru itu.
"Dah lah, gue duluan ya–"
"Oh ya, tolong jagain temen lu itu, kalau sampai buat masalah lagi lapor ke gue langsung, kalau kagak lu semua yang kena, bye!!" ancam gue lalu pergi mengikuti murid baru itu.
Bersambung
__ADS_1