Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Masalah


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah, setelah Hujan berhenti. Hujan yang telah menggagalkan rencana Gue semalam. Tapi hari ini, Gue gak akan membiarkan siapapun untuk menggagalkan rencana Gue lagi.


Gue akan selalu ada di samping Reina, sampai waktu pulang sekolah. Saat waktunya istirahat Gue akan duduk di sampingnya dan tentu saja Gue juga yang akan memesankannya makanan.


Gue dan Raisa pun pergi kesekolah. Karna Reina pasti sudah pergi kesekolah sendirian, jadi tidak sempat untik Gue pergi bersamanya karna Raisa yang sangat lama bangun dan bersiap-siap.


Sesampainya kami di sekolah, seperti kemarin. Gue mengantar Raisa dulu, lalu berlari ke kelas dengan sangat cepat.


Saat di kelas, Gue masuk dengan senyum yang terpancar cerah di bibir Gue.


"Selamat Pagi, teman-teman tersayang Gue." Teriak Gue menyapa mereka.


Ya tentu saja semua yang ada di kelas terkejut dan menatap Gue aneh.


Itu tidak akan menghentikan langkah Gue yang akan duduk di samoing gadis yang Gue suka.


Aneh? Memang sangat aneh. Baru pertama kalinya Gue seperti ini selama Gue hidup.


Jatuh cinta dengan gadia yang Gue tidak tau jelas dengannya. Tapi itu tidak membuat Gue untuk berhenti mecintainya.


Gue tetap akan mencintainya, karna dia lah cinta pertama Gue.


Gue pun duduk di kursi dengan sangat santai, dan tentu saja senyum Gue masih terpancar dengan sangat cerah.


"Lu kenapa lagi, sih?" Tanya Putra.


"Gue? kenapa? Gue baik-baik aja, kok." Jawab Gue masih tersenyum.


"Makin hari, Lu makin gak jelas." Sambung Reyhan.


"Gue jelas kok Rey." Jawab Gue.


"Gung... Teman Lu kenapa?" Tanya Rendi.


"Jatuh cinta." Jawab Agung yang membuat Gue terkejut setengah mati dan senyum Gue pun hilang entah kemana.


"APA!!!" Teriak 3 Bocah itu kepada Agung.


"Hm..." Agung hanya mendehem saja sambil menutup mata dan kupingnya.


"Si-siapa yang jatuh cinta!!!" Teriak Gue.


"Lu." Jawab Agung santai dan masih saja menutip mata dan telinganya.


"GAK MUNGKIN!!!" Teriak Gue dan 3 bocah itu.


******* Gue kalau mereka sampai tau.* Batin Gue yang mulai panik.


"Kalau gak percaya, yasudah." Jawab Agung lalu membuka matanya dan juga telinganya.


"Rasya? Jatuh cinta? Gak mungkin." Ucap Rendi.


"Apa Dunia ini sudah mau kiamat?" Lanjut Reyhan.


"Gue gak mimpi kan." Sambung Putra.


"Sangka kalian...Gue bukan manusia, apa?" Sahut Gue.


"Gue juga manusia kali, masa gak bisa jatuh cinta." Lanjut Gue.


"LU SETAN!!!" Teriak 4 Bocah itu sangat kompak.


"Sembarangan, Kalau Gue setan Lu pada juga setan lah." Ucap Gue.


"Lu Setan, kita manusia yang Lu goda." Jawab Putra.


"Sangka Lu, Gue–"


"SETAN!!" Teriak 4 bocah itu lagi memotong ucapan Gue.

__ADS_1


"Lu mau Gue tabok, Hah?!!!!" Geram Gue.


"Gak-gak. Canda doang, Sya." Jawab Putra.


"Dasar gak guna. Untuk Gue baik hari ini. Kalau gak, habis Lu pada." Ucap Gue.


"Tuh kan, dia gila." Gumam Reyhan.


"Reyhan!!" Geram Gue sambil menatapnya tajam.


"Kagak-kagak. Gu-gue canda aja, gue mau belajar. Dah." Ucapnya Lalu kembali ketempat duduknya.


"Gu-gue juga." Lanjut Rendi dan kembali ke tempat duduknya.


Ternyata mulai tadi Reina memerhatikan Gue yang sedang marah dengan 4 bocah itu.


"Lu, ngapain?" Tanya Gue.


"Merhatiin Kamu." Jawabnya sambil menopang dagunya dengan sebelah tangannya dan menatap Gue dengan senyumnya.


"Gu-gue? Kenapa?" Tanya Gue.


"Lucu." Jawabnya yang membuat jantung Gue ingin lepas dan hati Gue ingin terbang tinggi.


"Ga-gak ada yang lucu." Sambung Gue lalu mengalihkan pandangan Gue keluar jendela.


"Hahaha, kenapa lucu banget sih." Ucapnya lalu mengacak-acak rambut Gue.


Gue sontak menatapnya yang sedang tersenyum ke Gue.


*Jangan kayak gini dong, gue makin gila.* Batin Gue.


"Mau makan siang bareng?" Tanyanya yang tambah membuat Gue kaget.


"Hah? Ma-mau... Mau." Jawab Gue sambil menganggukkan kepala.


"Hahaha, oke." Tawanya lalu kembali fokus kedepan.


"Hah? Kenapa?" Tanyanya.


"Gak, kok. Gak papa." Jawab Gue.


Tak lama kemudian, pelajaran pun dimulai. Gue bukannya memerhatikan pelajaran atau melihat ke luar jendela. Malah menatap Reina dengan tersenyum kecil sambil menopang dagu dengan sebelah tangan Gue.


Menatap nya yang sedang sibuk mendengarkan materi dari guru dan sesekali juga menulis sesuatu di buku catatannya. Itu adalah pemandangan yang sangat indah menurut Gue.


Pandangan Gue benar-benar tidak bisa lepas darinya. Terkadang Gue berfikir apa Gue sedang bemimpi telah mencintai seorang gadis yang tidak tau asalnya dari mana. Jika itu benar, Gue tidak ingin bangun dari mimpi indah ini.


Gue ingin selalu berada di dalam mimpi ini sampai akhir yang bahagia tanpa ada yang mengganggu sedikitpun.


***


Tak terasa, bel istirahat pun berbunyi. Gue dan 4 bocah itu menjemput Raisa seperti biasa. Tapi kali ini cukup spesial, karna ada Reina yang berjalan di samping Gue sambil memainkan ponselnya.


Gue sesekali menatapnya yang sedang sibuk dengan ponselnya. Dan sesekali juga menarik seragamnya dengan lembut agar dia tidak menabrak seseorang karna terlalu sibuk dengan ponselnya.


Sesampainya kami di kelas Raisa. Ia sontak menatap Gue aneh karna sedang menggenggam seragam Reina. Gue pun melepas seragam itu dan menghampiri Raisa.


"Yuk." Ajak Gue.


"Tumben mau bareng sama Reina." Ucapnya.


"Iya kan, tumben banget." Sambubg Putra.


"Diem, Lu!!" Geram Gue.


"Lagi pengen aja." Jawab Gue.


"Yuk, ah. Keburu rame kantin." Lanjut Gue.

__ADS_1


Kami pun pergi bersama ke kantin. Saat sampai di kantin, gue menyuruh Reina duduk di samping Gue. Sedangkan Raisa duduk di depan Gue.


"Kok Lu di depan, Gue?" Tanya Raisa bingung.


"Gakpapa, pengen aja." Jawab Gue.


"Aneh Lu." Ucap Raisa.


"Memang aneh." Sahut seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul.


"Lu/Devan." Ucap Gue dan Raisa serentak.


"Ngapain anak basket kesini?" Tanya Putra yang tidak senang dengan keberadaan Devan.


"Emang kenapa kalau anak basket gabung sama Anak taekwondo." Jawabnya.


"Elu!!!" Geram Putra yang berdiri di depan Devan sambil menunjuk wajah Devan.


"Kenapa?" Tanya Devan yang wajahnya seperti ingin mengajak Putra bertengkar.


"Lu memang mau di–" Ucap Putra sudah bersiap ingin memukul Devan.


"Woi!!!" Teriak Gue memotong ucapan Putra.


"Lu berdua mau Gue tabok, hah?!!" Ancam Gue.


Karna Gue tau kalau putra gak akan melawan ucapan Gue, walaupun dia yang paling sering ngajak Gue berdebat. Tapi dia tetap nurut sama ketuanya.


"Duduk!!!" Perintah Gue lalu Putra pun duduk dengan emosi yang masih tertahan.


"Lu juga duduk!!" Perintah Gue ke Devan lalu dia duduk di samping Raisa dan juga Putra.


"Ngapain sih Lu nyuruh dia duduk." Sambung Putra.


"Lu gak usah buat masalah lagi, gak ingat masalah tahun lalu?" Jawab Gue.


Memang Gue kenal Putra dan 3 bocah lainnya itu dari klub taekwondo. Gue juga sudah berani memerintah mereka karna Gue ketua di klub itu. Tapi karna sifat Putra yang suka mengajak orang berdebat dan memulai perkelahian lebih dulu. Dia sempat membuat masalah dengan klub basket saat kelas 11 dulu.


Karna tidak ada yang berani melerai mereka termaksud para Guru, Gue pun yang tadinya sedang bersantai di kantin sontak berlari menuju lapangan utama sekolah dan melerai perkelahian mereka.


Dan dari situlah, Putra selalu nurut ke Gue. Karna Gue juga sudah menyelamatkan nya dari hukuman sekolah yang akan mengeluarkannya.


"Sekarang kita pesan makan dulu." Ucap Gue.


"Lu biar Gue yang pesanin ya." Lanjut Gue ke Reina.


"Iya, makasih." Jawabnya.


"Lu, Sa? Mau pesan apa?" Tanya Gue.


"Samain aja." Jawabnya.


"Oke, yuk." Ajak Gue kepada 4 bocah itu.


Kami pun memesan makanan dengan santai.


***


Setelah selesai makan, kami kembali kekelas masing-masing. Karna kali ini Raisa memilih di antar oleh Devan. Akhirnya Gue, Reina, dan 4 bocah itu kembali ke kelas.


Seperti Rencana Gue. Gue tetap berada di samping Reina sampai waktu pulang sekolah. Tidak ada yang memerdulikan Gue yang bertingkah aneh kali ini.


Gue sesekali juga menggenggam tangan Reina dengan diam-diam. Saat Reina sadar tangannya di genggam oleh Gue, dia bukannya marah tapi malah tersenyum ke Gue dan menggenggam tangan Gue juga.


Selama pelajaran berlansung, satu tangan Gue dan Reina berada di bawa meja agar tidak ada yang melihat kalau kami sedang berpegangan tangan.


Sedangkan tangan Reina yang satu lagi sibuk menulis materi yang di sampaikan Gue. Dan tangan Gue yang satu hanya untuk menopang dagu Gue sambil menatap Reina.


Bersambung

__ADS_1


*Bantu support author dengan Like dan Commentnya :)


Thanks*!!


__ADS_2