
Pagi hari pun tiba. Gue baru terbangun dari tidur dan melihat Rasya yang kasih terlelap di sebelah Gue.
"Sya." Panggil Gue lembut.
"Rasya!!" Panggil Gue lagi sambil menggoyang-goyangkan badannya.
"Hmm..." Dehemnya yang baru terbangun.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Lepasin, Gue mau mandi." Jawab Gue.
"Entaran, Gue masih ngantung." Balasnya yang tambah memeluk Gue dengan sangat erat.
"Gue gak bisa napas, anjim." Sahut Gue.
"Buruan, lepas." Lanjut Gue.
"Iya-iya." Jawabnya lalu melepas pelukannya.
Gue pun turun dari ranjang lalu berdiri di samping ranjang sambil mengikat rambut Gue.
"Bangun, Sya. Ini sudah waktunya makan pagi." Ucap Gue.
"Iya... Entar, lagi ngumpulin nyawa." Jawabnya.
"Jangan lama-lama. Gue mandi dulu." Balas Gue lalu pergi ke kamar mandi.
Tak lama kemudian, Gue pun keluar dari kamar mandi. Tapi Rasya masih berbaring di atas ranjangnya dengan selimut yang menutupi setengah tubuhnya.
"Rasya!!!" Teriak Gue.
"Hah? Ke-kenapa?" Tanyanya yang terkejut karna teriakan Gue.
"Kenapa?" Tanya lagi yang duduk di atas ranjang dengan mata yang sangat susah untul dibuka.
"Lu kok masih tidur sih? Ini sudah jam berapa loh." Jawab Gue lalu berjalan kearah lemari pakaian Gue.
"Iya-iya, entar Gue bangun." Balasnya lalu kembali berbaring.
Gue kembali lagi ke kamar mandi untuk memakai pakaian Gue. Tapi saat Gue keluar dari kamar mandi, Rasya tiba-tiba berpindah ke atas ranjng Gue dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Rasya Putra!!!!" Teriak Gue lalu menghampirinya.
"Jangan teriak-teriak, Gue yang tidur. Lagi ngumpulin nyawa nih." Ucapnya lalu membuka selimut itu.
"Lu kenapa sih? Masih sakit?" Tanya Gue lalu menghampirinya.
"Gak lah." Jawabnya.
Gue sontak menempelkan telapak tangan Gue ke dahi Rasya.
"Gu-Gue gak sakit." Sambungnya.
"Panas... Panas banget,Bang!!!" Geram Gue.
"Lu kenapa baru ngomong sih? Kenapa panas Lu tambah parah? Kita kerumah sakit aja ya, bang." Oceh Gue khawatir.
"Gak, Gue gak papa." Jawabnya.
"Gak papa, apanya?!! Sekarang Lu siap-siap kita kerumah sakit." Perintah Gue.
"Ta-tapi–"
__ADS_1
"Gak ada kata tapi." Potong Gue lalu keluar dari kamar.
Gue akhirnya keluar dari kamar untuk menumui salah satu Manajer Hotel.
RASYA POV*
Gue yang akhirnya pasrah dan hanya bisa mengikuti perintah Raisa untuk bersiap kerumah sakit.
"Gue gak sakit kok, cuma agak pusing aja." Gumam Gue lalu mengganti pakaian tanpa mandi.
Setelah Gue selesai mengganti pakaian. Gue menunggu Raisa datang sambil berbaring di atas ranjang.
"Kok dingin, sih." Gumam Gue yang menggigil di atas ranjang.
Gue pun melilit tubuh Gue dengan selimut Gue di tambah selimut punya Raisa.
*Raisa kok lama, sih?* Batin Gue yang semakin tidak tahan dengan dinginnya kamar ini.
"Remot AC... Gue butuh remot ac." Gumam Gue yang mencari-cari remot AC di atas laci yang berada di tengah-tengah Ranjang Gue dan Raisa.
"Remot." Gumam Gue lalu keluar dari selimut dan turun dari ranjang Gue.
Gue berusaha untuk berdiri dengan pandangan mata yang seperti teputar. Kepala Gue pusing dan itu sangat sakit.
Gue tetap berusaha berdiri dan berjalan pelan untuk mencari remot AC itu. Gue pun melihat remot itu yang berada di atas meja rias Raisa.
Gue langsung berjalan menuju meja rias itu. Tapi saat sudah dekat dengan meja itu, pandangan Gue tiba-tiba memudar.
"Se-sedikit lagi." Gumam Gue lalu mencoba meraih remot itu.
Saat Gue sudah mendapatkan remot itu, pandangan Gue tiba-tiba gelap. Tubuh Gue lemas dan tidak sanggup untuk berdiri.
Saat Gue mencoba menekan Remot itu, tiba-tiba kesadaran Gue hilang.
Setelah selesai menemui Manajer, Gue pun kembali ke kamar untuk menemui Raisa.
Saat Gue membuka pintu, Gue tidak melihatnya di atas ranjang. Gue hanya melihat 2 selimut yang berhampuran di atas ranjangnya itu.
"Rasya!!" Panggil Gue.
"Sya!!" Panggil Gue lagi lalu menutup pintu kamar itu.
Saat Gue berjalan masuk dan menuju meja rias Gue. Gue terkejut dengan apa yang Gue lihat. Gue melihat Rasya yang tergeletak di atas lantai dengan meja rias gue.
"RASYAA!!!" Teriak Gue lalu lari menghampirinya.
"Sya...bangun." Ucap Gue yang memangku kepalanya.
"Bangun... Sya, bangun!!" Teriak Gue yang ingin menahan air mata Gue.
Gue langsung berdiri dan menelpon pelayan untuk membantu Gue mengangkat Rasya.
Sambil menunggu pelayan datang, Gue berusaha untuk membangunkannya. Tapi nihil tidak ada tanda-tanda Rasya akan sadar.
"Panas... Badan Lu panas banget, Bang." Gumam Gue.
Tak lama kemudian, para pelayan laki-laki yang Gue panggil pun datang. Mereka mulai menggendong Rasya menuju mobil Gue.
Setelah Rasya sudah berada di mobi Gue. Gue tanpa basa basi langsung menancapkan gas dengan kecepatan penuh.
Perasaan khawatir, takut, sedih dan rasa bersalah sudah bercampur aduk di dalam diri Gue. Gue sebagai adek gak bisa jaga dia dengan baik.
Gue yang sangking khawatirnya, sampai lupa untuk memberitahu orang tua kami. Kalau Rasya sedang sakit.
__ADS_1
***
Saat sampai dirumah sakit. Gue langsung berlari kedalam rumah sakit, untuk meminta pertolongan.
Para perawat pun mulai membantu Gue untuk memindahkan Rasya ke ruang ICU.
Saat Rasya sedang di periksa. Gue langsung mengeluarkan ponsel Gue dari dalam tas dan menelpon Mami.
"*Halo sayang." -Mami.
"Mi..." -Gue.
"Kenapa, sayang?" -Mami.
"Mi... Mami... Bang Rasya... Hiks..." -Gue.
"Kenapa? Abang kamu kenapa?" -Mami.
"Bang Rasya dirumah sakit, Mi." -Gue.
"Kenapa? Kok bisa? Abang kamu kenapa?" -Mami.
"Abang sakit, Mi. Demam tinggi, Mi... Hiks..." -Gue.
"Kamu dimana? Sekarang Mami Papi akan kesan." -Mami.
"Dirumah sakit XX, Mi." -Gue.
"Yaudah, sekarang kamu tenang dulu ya. Sebentar lagi Mami kesana. Tunggu ya sayang." -Mami.
"Iya, Mi." -Gue*.
Mami pun mematikan telponnya. Gue yang gak tau harus berbuat apa, hanya bisa duduk sambil menunggu Dokter keluar dari ruangan itu.
*Lu kenapa sih, Bang? Gak mungkin kan Lu sakit cuma karna cewek doang. Lu bikin Gue merasa bersalah, karna dekat dengan Reina.* Batin Gue.
"Lu gila, Bang." Gumam Gue.
Tak lama kemudian, Mami dan Papi pun datang. Mereka langsung berlari menghampiri Gue.
"Sa." Panggil Mami.
"Mami." Ucap Gue lalu memeluknya.
"Gimana? Dokterya belum keluar?" Tanya Papi.
"Belum Pi. Bang Rasya masih di dalam sama dokter." Jawab Gue.
"Yaudah,kita tunggu aja dulu." Sambung Mami lalu kami pun duduk bersama.
"Tapi, Mi. Kalau Bang Rasya kenapa-kenapa, gimana?" Tanya Gue khawatir.
"Tenang... Abang kamu kan kuat, dia cuma butuh istirahat aja didalam. Jadi gak usah takut ya, sayang." Jawab Mami sambil mengelus kepala Gue.
"Ta-tapi, Mi–"
"Gak papa, Abang kamu lagi tidur aja didalam." Potong Papi.
Tiba-tiba saja pintu ruangan ICU terbuka. Dokter dan para perawat pun keluar. Kami yang melihat itu langsung menghampiri dokter itu.
"Bagaiman dengan Putra saya?" Tanya Papi.
Bersambung
__ADS_1