Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Menghibur.


__ADS_3

RAISA POV*


Sore hari. Gue pun kembali ke kamar untuk mengecek keadaan Rasya. Saat di kamar, Gue melihat Rasya yang sedang tidur dengan pulas.


"Sya." Panggil Gue lembut lalu menghampirinya.


Gue mengelus-elus kepalanya lalu duduk disampingnya yang sedang tertidur.


"Bang." Panggil Gue lembut dan masih mengelus-elus kepalanya.


"Hmm..." Dehemnya lalu membuka matanya.


"Masih pusing, Bang?" Tanya Gue lalu menempelkan telapak tangan Gue ke dahinya.


"Lumayan." Jawabnya lemas.


"Tadi kata Dokter, Apa?" Tanya Gue lagi.


"Katanya demam biasa, doang." Jawabnya lalu memeluk pinggang Gue.


"Gue pusing, sakit..." Lirihnya.


"Apa yang sakit? Kita kerumah sakit aja ya, Bang." Ucap Gue khawatir.


"Hati Gue... sakit." Lirihnya lagi.


Gue yang mendengar itu langsung berbaring di sampingnya lalu memeluknya.


"Kenapa sih Lu tersiksa banget, Bang? Lu masih bisa hidup tanpa dia. Gak usah dipikirin." Ucap Gue.


"Gue juga gak mau mikirin dia, tapi... Hati gue berkata lain." Jawabnya.


"Sudah-sudah. Jangan sampai Lu nangis cuma karna Cewek." Sambung Gue.


"Nanti mau makan malam,apa? Biar Gue pesanin." Lanjut Gue.


"Gak ada selera makan." Jawabnya.


"Yaelah...Gue pesanin semua cake kesukaan Lu, dah. Kita pesan dari luar, sekalian Chatime dan starbuck favorit Lu. Gue yang traktir." Bujuk Gue.


"Lu mau bikin Gue gendut atau gimana?" Tanyanya lalu menatap Gue.


"Mau bikin Lu gendut. Biar badan lu makmur begitu pula hati Lu." Jawab Gue tersenyum kecil.


"Dasar... adek gak guna." Ucapnya.


"Gini-gini berguna ya, hahaha" Sambung Gue tertawa kecil.


"Oke... Pesan semua nya, biar Gue yang habisin." Jawabnya.


"Dasar rakus." Ejek Gue.


"Lu bilangin Gue rakus? Gue gelitikin Lu." Ucapnya lalu menggelitik perut Gue.


"Hahahaa, sto-stop, Bang. Geli, hahaha." Ketawa Gue dengan keras karna tidak tahan dengan geli yang menggelitik perut Gue.


"Iya-iya." Jawabnya.


"Gue mau mandi dulu." Sambung Gue.


"Pantesan dari tadi ada bau, Lu belum mandi toh." Ejeknya.


"Lu mau Gue tabok, hah?" Ancam Gue.


"Lu mau tabok orang sakit? Gue kasih tau Mami Papi Lu." Ucapnya.


"Kan mereka gak tau Lu sakit. Lagian kalau tau, bisa-bisa Lu disuruh pulang. Terus dibawa ke rumah sakit." Jawab Gue.

__ADS_1


"Kagak-kagak. Lu mandi aja sana, buru." Sambungnya lalu melepas pelukannya dan mendorong Gue.


"Jangan dorong-dorong. Entar Gue jatuh." Ucap Gue.


Gue pun turun dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi.


***


Malam pun tiba. Gue pun memesan semua yang di suka Rasya. Mau itu Cake, donat, kopi, nasi goreng sebagai makanan utama, dan tentu saja es boba yang gue janjikan.


Kami menunggu pesanan kami di kamar sambil duduk di balkon kamar dengan santai. Memandang langit dengan bintang-bintang yang terang menerang dan bulan sabit yang tepat ada di depan mata kita.


Awalnya kami hanya diam saja, Gue yang menunggu sambik membaca buku sedangkan yang mulai tadi hanya melamun sambil menatap langit.


Gue yang mengira Rasya sakit lagi, langsung menegurnya.


"Sya...jangan melamun." Tegur Gue.


Tapi tidak ada jawaban darinya.


"Bang." Panggil Gue sambil menggoyangkan badannya.


"Hah? Iya... Kenapa?" Tanyanya yang baru tersadar dari lamunannya.


"Lu kenapa sih? Melamun mulu, lu masih sakit? Demam lu naik lagi?" Tanya Gue khawatir.


"Gak kok, Gue udah gak demam. Cuma agak pusing." Jawabnya.


"Yaudah masuk aja, kita tunggu di dalam aja. Lu kebanyakan kena angin malam." Balas Gue.


"Gak usah, disini aja." Sambungnya sambil menahan tangan Gue.


"Hmm... Yaudah, lu tunggu sini. Gue ambilin jaket." Ucap Gue pasrah karna dia yang ingin tetap berada di balkon.


Gue pun berdiri, lalu berjalan masuk untuk mengambil jaket tebal untuknya.


"Lu kenapa sih?" Tanya Gue.


"Lu melamun lagi?" Lanjut Gue.


"Gak kok." Jawabnya cepat.


"Hah... Sudah lah, Bang. Jangan mikirin Reina mulu. Bisa-bisa Lu gila, loh." Ucap Gue pasrah.


"Maaf." Jawabnya murung.


Gue yang melihatnya memasang ekspresi murung sambil menundukkan kepalanya, hanya bisa pasrah lalu mengelus kepalanya lembut.


"Gue gak mau Lu sakit." Sambung Gue yang masih mengelus kepalanya.


Rasya sontak menatap Gue dan tersenyum lebar. Gue yang melihat senyumnya itu tidak tahan dan langsung menepuk kedua pipinya.


"Iish..." Ringisnya.


"Lu jangan Senyum kayak gitu, bisa-bisa yang liat malah pingsan." Sambung Gue.


"Emang kenapa? Kan Lu sering liat senyum Gue." Tanyanya.


"Senyum biasa Lu mah memang gak ada apa-apanya. Tapi kalau Lu senyum lebar gitu dengan mata yang sipit kayak tadi. Yang liat itu bisa pingsan." Oceh Gue.


"Tapi, kok Lu gak pingsan?" Tanyanya sok polos.


"Gue kan udah biasa liatnya." Jawab Gue lalu melepas tangan Gue dari pipi Rasya.


"Gue tabok nih." Ucapnya sambil melayangkan tangannya bersiap memukul Gue.


"Orang sakit gak boleh mukul orang." Ejek Gue.

__ADS_1


"Gue gak sakit parah, kali. Masa gitu aja gak boleh." Jawabnya.


"Kalau adek bilang gak boleh, berarti gak boleh ya bang." Sambung Gue.


"Sudah lah, besok mau jalan gak? Melepas galau Lu lagi." Lanjut Gue.


"Kemana?" Tanyanya.


"Terserah Lu." Jawab Gue.


"Gue bosan ke mall." Ucapnya.


"Mau ke luar kota?" Tanya Gue.


"Besok lusa sekolah, mana bisa keluar kota sehari aja." Jawabnya.


"Yaudah izin lah, kok ribet." Sambung Gue.


"Ih, anak osis kok nyuruh bolos. Parah sih, parah banget." Ejeknya.


"Gue tampol Lu gak lama. Gue bilang Izin bukan bolos." Geram Gue.


"Emang mau ke kota mana?" Tanyanya.


"Jogja? Bandung?" Tawar Gue.


"Bedua doang gitu? Malas banget." jawabnya.


"Terus kemana, dong?" Tanya Gue.


"Gak tau lah. Liat aja besok, lagian Gue masih pusing." Jawabnya.


"Dasar–" Ucap Gue yang terpotong karna tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


"Udah datang tuh, pesanan Lu." Sambung Gue.


Gue pun berdiri dan berjalan menuju pintu. Pesanan yang baru datang hanya nasi goreng dan Chatime saja. Gue pun mengambil pesanan itu lalu menutup pintu kembali.


"Mau makan dimana?" Tanya Gue sambil membawa kresek makanan itu.


"Disini aja, sambil natap langit." Jawabnya.


Gue pun menghampirinya lalu meletakkan makanan dan minuman itu di atas meja.


"Loh cuma ini?" Tanyanya.


"Yang lain belum datang, tunggu aja." Jawab Gue.


"Oh." Balasnya.


Tak lama kemudian pesanan yang lain pun datang. Saat semua pesanan sudah ada di depan mata Gue. Gue baru menyadari sebanyak apa yang Gue pesan.


"Bisa nih kita habisin?" Tanya Rasya setelah melihat semuan pesanan Gue.


"Kan Lu yang habisin." Jawab Gue santai.


"Lu memang mau nyiksa Gue." Ucapnya.


"Gue gak nyiksa, gue kan ngasih makan orang sakit." Balas Gue.


"Terserah Lu, dah. Buru makan." sambungnya.


Kami pun mulai memakan makanan utama yang Gue pesan. Di lanjut dengan makanan lainnya dan juga minumannya. Sesekali kami juga berlomba untuk menghabiskan makanan kami masing-masing dan tertawa lepas.


Hanya itu yang bisa Gue lakuin untuk menghiburnya. Walaupun Rasya adalah tipe orang yang masa bodo, tapi entah kenapa kalau tentang Reina. Ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.


Gue sebagai adek hanya bisa menghibur dan memberikan semangat untuknya. Tapi Gue berharap dia bisa bersama dengan orang yang dicintainya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2