
Waktu istirahat pun tiba. Gue dan 4 bocah itu pun pergi menjemput Raisa. Kali ini Gue pergi bersama Reina juga, ia berjalan tepat di samping Gue sedangkan 4 bocah lainnya berjalan di depan Gue.
Saat sampai di depan kelas Raisa, tidak ada hal aneh yang terjadi. Tapi saat kita mulai melangkah untuk pergi ke kantin, tiba-tiba saja terjadi hal yang sama sekali tidak ingin Gue lihat lagi dan lagi.
Benar saja, lagi-lagi Bran datang dan memeluk Reina dari belakang.
"Sayang...kamu mau makan siang?" Tanyanya.
Gue yang mendengar itu sontak berbalik dan mendorong Bran jauh dari Reina.
"Woi...cukup kasar." Ucapnya sambil merapikan bajunya.
"Kenapa? Lu gak suka Gue tendang?" Tanya Gue.
Bukannya menjauh setelah Gue tendang, ia malah menghampiri Reina lagi dan merangkulnya.
"Hah...preman tetap lah preman, yakan sayang." Ejeknya dengan tersenyum sinis.
"Lu bilang apa?!!!" Geram Putra yang bersiap melayangkan pukulannya ke wajah Bran.
"PUTRA!!!" Teriak Raisa yang berada di belakang Gue.
Putra yang mendegar itu, sontak berhenti dan terdiam. Ia pun berbalik menatap Raisa.
"Kenapa? Abang Lu di bilang preman, lu malah gak marah? Gila lu?!!!" Protes Putra.
"Gue gak mau ada masalah di kelas 12 ini, jadi kalem setahun doang. Bisa kan?" Ucap Raisa.
"Sudah Put...kalem bae, kalem-kalem." Sahut Rendi yang ternyata berdiri di samping Putra sambil mengelus dada putra.
"Argh!!!serah!!" Geram Putra lalu pergi sendirian.
"PUT!!!" Teriak Gue tapi tidak di hiraukan olehnya.
"Hah...semua ini gara" model sialan itu." Gumam Gue yang menatap Bran.
Gue yang tidak ingin berdebat, sontak menarik tangan Reina dan Raisa bersamaan. Gue pun berjalan ke arah kantin sambil menarik tangan 2 cewek itu dan diikuti 3 bocah itu.
Saat sampai di kantin. Seperti dugaan Gue, Putra lebih dulu kekantin dan duduk dengan santai di tempat biasa kami tempati.
Kami pun menghampirinya bersama.
"Lu kenapa kabur sih?" Tanya Gue setelah melepas kedua tangan cewek itu.
"Gak mood!!" Rajuknya lalu menatap Gue.
"Sya..." Bisik Agung yang ada di depan Gue.
"Napa?" Tanya Gue bingung.
"Liat belakang...ada kucing yang bakal ngamuk." Bisiknya lagi sambil menunjuk ke belakang Gue.
"Kucing? Kucing apa yang Lu–" Ucap Gue yang terpotong setelah melihat ke belakang.
Di belakang Gue benar-benar ada kucing yang akan mengamuk sebentar lagi. Reina dan Raisa ia sedang menatap Gue tajam sambil memegang pergelangan tangan mereka yang tadi Gue tarik.
"******..." Gumam Gue lalu berbalik lagi.
__ADS_1
"Me-mending kita kabur dulu." Bisik Gue mengajak 4 bocah itu kabur.
Saatu Gue ingin melangkah pergi. Tiba-tiba baju bagian belakang Gue di tarik oleh mereka berdua.
"Yatuhan..." Gumam Gue.
"Hehehe...Gu-gue mau beli makan du-lu." Ucap Gue takut setelah berbalik melihat kearah mereka berdua.
Bukannya melepas tangan mereka, mereka malah menarik Gue lagi dengan keras.
"Ma-maaf Gue gak segaja." Sahut Gue yang sontak memejamkan mata.
Plak!! Plak!!
Suara pukulan yang sangat keras itu berhasil membuat punggung Gue sakit tak karuan.
"******...ki-kita duluan, Sya." Ucap Reyhan lalu pergi bersama 3 bocah lainnya.
"Sialan tuh anak." Gumam Gue.
"Maaf nih...balasnya lain kali lagi ya. Gue laper..." Ucap Gue lalu lari dengan sangat kuat agar baju Gue terlepas dari tangan mereka.
RAISA POV*
Setelah 5 bocah itu pergi, Gue pun duduk di kursi, sedangkan Reina dia duduk di depan Gue.
"Sakit banget..." Lirih Gue sambil memijat-mijat pergelangan tangan Gue yang di tarik Rasya tadi.
Tapi tiba-tiba Gue teringat dengan kejadian tadi saat di depan kelas Gue.
*Tanya gak, ya?* Batin Gue sambil melirik Reina yang ada di hadapan Gue.
"Ya? Kenapa?" Tanyanya sambil menatap Gue bingung.
*Wow!! Gue baru sadar dia cantik banget...gila-gila!!* Batin Gue yang menatap wajah Reina kagum.
"Raisa?" Tegurnya.
"Hah? Oh...itu, Bran kok bisa pindah sekolah?" Tanya Gue.
"Aku juga tidak tahu, dia tidak memberitahu ku jika dia akan pindah sekolah." Jawabnya.
"Tapi..." Sahut Gue.
"Tapi apa?" Tanyanya.
"Hm...maaf nih kalau Gue tanya yang seharusnya tidak ditanya. Lu punya hubungan apa sama Bran?" Tanya Gue.
"Oh...dia hanya teman masa kecil ku saja." Jawabnya dengan tersenyum kecil.
"Wow...kenapa Gue seperti melihat bunga di sekelilingnya saat tersenyum seperti itu?* Batin Gue.
"Apa kalian punya hubungan yang lebih dari teman? Seperti tunangan? Atau pacar?" Tanya Gue.
"Hm..." Dehemnya.
"Hah?? Ma-maaf gue gak bermaksud tanya sembarangan kok. Cuma penasaran doang, serius!" Sahut Gue.
__ADS_1
"Memang wajar jika kamu bertanya seperti itu, karna kelakuan Bran tadi kan? Dia memang selalu seperti itu kepada ku. Sudah sering aku memarahinya untuk tidak bersikap seperti itu jika di depan umum. Tapi dia tidak pernah mendengrkannya, jadi aku hanya bisa diam saja." Jelasnya.
"Tapi...aku dengannya tidak ada hubungan apapun selain teman saja." Lanjutnya.
"Oh...oke." Jawab Gue.
"Lalu...kenapa dia malah berperilaku seperti ta–" Sambung Gue yang tiba-tiba terpotong karna seseorang yang sontak duduk di samping Gue.
Gue pun berbalik dan menatap orang itu.
"Bran?!!" Ucap Gue terkejut.
"Ya?" Jawabnya dengan tersenyum. Genit.
"Kamu ngapain lagi? Tidak usah mencari masalah di sini." Sahut Reina.
"Hah...kenapa aku yang kamu marahi? Aku tidak pernah mencari masalah." Jawabnya.
"Bran!!!" Geram Reina.
"Baiklah-baiklah... Aku memang tidak sengaja mencari masalah, maafkan aku sayang." Ucapnya.
*What? Sayang? Ok Gue percaya sama Rasya.* Batin Gue setelah mendengar kata jelas 'sayang' itu dengan telinga Gue sendiri.
Tiba-tiba saja, Bran merangkul Gue dan menatap Gue dengan tersenyum aneh.
*Gi-gila!!!* Batin Gue.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Apa kamu sedang berfikir kalau wajahku ini tampan?" Ucapnya.
"Najis!!" Geram Gue.
"Najis? Apa itu?" Tanyanya.
"Bukan apa-apa." Jawab Gue dengan tersenyum paksa.
"Hahaha...kamu lucu juga." Sambungnya yang tiba-tiba mengelus kepala Gue.
*What the?!* Batin Gue sambil membulatkan mata.
"Bran!!!" Geram Reina.
"Jangan menyentuhnya!!" Lanjutnya.
"Memang kenapa? Siapa yang akan marah aku menyentuhnya? Preman itu sedang pergi sekarang." Jawabnya dengan angkuh dan masih mengelus-elus kepala Gue.
"Aku tidak suka di elus." Sambung Gue.
"What? Oh...baiklah." Jawabnya lalu berhenti mengelus Gue tapi ia masih merangkul Gue.
*Nih cowok memang belum kena tamparan, ya?* Batin Gue.
"Gadis secantik kamu...apa tidak ada yang suka? Atau hanya sekedar memakai mu?" Sahutnya dengan tersenyum kecil ke Gue.
"MAKSUD LU–" Teriak Gue yang tiba-tiba terpotong.
"Siapa?" Potong seseorabg dari belakang Gue sambil menggenggam tangan Bran yang merangkul Gue.
__ADS_1
Bersambung