
"Kenapa?" Tanya Gue setelah membuka kaca mobil.
"Boleh bicara sebentar?" Ajaknya.
"Hm...masuk!" Jawab Gue menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
Setelah ia mendengar itu, ia pun sontak masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Gue.
Saat ia di dalam mobil Gue, Gue sama sekali tidak ingin menatapnya. Gue pun hanya bisa menatap kedepan saja dengan menopang kepala dengan sebelah tangan yang bersandar di pintu mobil.
"Bagaimana kabar mu, sayang?" Tanyanya.
"Baik." Jawab Gue.
"Jangan seperti itu...aku tidak ingin di abaikan lagi, sayang." Sambungnya.
"Hah...terserah Lu, Dev. Gue gak punya waktu lama." Ucap Gue.
"Padahal aku sudah membuat rencana besar agar kamu bisa memaafkan ku." Gumamnya.
Gue yang mendengar itu, sontak berbalik dan menatapnya.
"Hah?!! Rencana besar? Maksud lu?!!" Sahut Gue.
"Akhirnya kamu melihat kearah ku juga." Ucapnya.
"Gak usah basa basi, maksud Lu apaan?" Tanya Gue.
"Iya sayang...kamu pasti sudah tau kalau kita akan liburan ke luar kota bersama kan? Itu rencana ku sayang, aku sampai mengeluarkan uang banyak untuk bisa bersama dengan mu." Jelasnya.
"What?!! Jadi lu yang buat rencana gila itu? Lu pikir Gue senang, hah?!! Lu malah bikin pekerjaan Gue bertambah." Protes Gue.
"Kenapa Lu gak sekalian buat rencana keliling Dunia bersama? Biar habis tuh duit Lu." Lanjut gue.
"Kalau kamu mau...aku bisa kok ajak kamu keliling Dunia." Sahutnya.
Gue yang mendengar itu sontak menepuk jidat Gue sendiri.
"Hah...lu tau gak? Keluar kota itu gak murah, memang bagi Lu atau pun Gue itu murah. Tapi bagi orang yang gak mampu, itu mahal banget." Ucap Gue.
"Kam aku yang tanggung semua biayanya, sayang. Jadi mereka gak perlu mikirin masalah biaya." Jawabnya.
"Iya Gue tau...emang Lu kira keluar kota bareng-bareng itu gampang? Ribett woi!!!" Geram Gue.
"Kalau cuma puluhan orang aja gakpapa, lah ini? 200an orang!! Gila lu?!!" Lanjut Gue.
"Aku mau kita seangkatan bisa pergi bersama. Guru dan anggota OSIS yang aku undang itu buat bantu kita nanti." Ucapnya.
"Nah itu masalahnya!! Gue juga terlibat dalam rapat mereka, tau!!! Gue ini bukan anggota OSIS lagi, tapi Gue malah terlibat dengan kegiatan yang ribetnya minta ampun." Protes Gue.
"Maaf sayang...aku tidak tau kalau kamu akan terlibat rapat mereka." Sambungnya yang sontak tertunduk dan memasang ekspresi murung.
*What?!!!sabar-sabar...argh!!! Kesel Gue!!!* Batin Gue.
"Sudah lah...batalin aja semuanya. Gue malas pergi." Ucap Gue.
"Tapi gak bisa di batalin." Sahutnya yang sontak menatap Gue.
"Lah? Kenapa?" Tanya Gue bingung.
__ADS_1
"Tiket pesawat sudah aku pesan semua...dan biaya hotel aku juga sudah melunasi untuk seminggu full." Jawabnya.
"WHAT?!! LU GILA?!!!" Teriak Gue.
"Rapatnya masih besok, dan Lu malah udah pesan tiket pesawat? Emang Lu udah nentuin mau kemana?" Lanjut Gue.
"Udah...kita akan pergi ke jogja." Jawabnya.
*Oke...nih cowok memang mau di tabok.* Batin Gue.
"Hah...teserah Lu!! Sekarang keluar!! Gue gak mood marah-marah lagi." Sahut Gue lalu bersiap menyalakan mobil Gue.
"Ta-tapi–"
"Keluar!!" Potong Gue.
"Oke...sampai jumpa lagi, sayang." Jawabnya lalu keluar dari mobil.
Setelah ia keluar dari mobil, tanpa basa basi lagi Gue langsung menginjak gas dengan kecepatan penuh.
Saat di perjalanan, Gue benar-benar emosi dengan Devan.
*Apa dia benar-benar gila?* Batin Gue.
"HAH!!!DASAR!!" Teriak Gue di mobil.
10 menit pun berlalu, Gue akhirnya sampai di kamar Gue. Dengan perasaan yang sangat-sangat tidak baik, dan emosi yang akan meledak jika ada sesuatu yang mengganggu Gue.
Karna ini masih siang, Gue pun akhirnya memutuskan untuk tidur siang agar emosi Gue bisa mereda sedikit.
Saat Gue bersiap menutup mata, tiba-tiba saja ponsel Gue berdering dengan sangat keras.
Gue pun sontak terduduk dan melempar bantal Gue ke ponsel Gue sendiri yang ada di atas lemari yang ada di samping ranjang Gue.
Gue pun meraih ponsel Gue dan melihat siapa yang menelpon.
"Oh...si ****** ini ngapain nelpon, coba?" Ucap Gue lalu mengangkat telponnya.
"*KENAPA?!!" -Gue.
"Astaga!! Kenapa teriak-teriak sih?" -Rasya.
"Sudah lah...buruan kenapa? Gue mau tidur." -Gue.
"Lu mau Ice Cream gak? Gue mau beli nih." -Rasya.
"Gak!! Gue udah makan Ice Cream tadi." -Gue.
"Yaelah...yakin gak mau?" -Rasya.
"GUE BILANG GAK YA GAK!!! GANGGU MULU LU!!" -Gue.
"Ya maaf...padahal ini Ice Cream milo." -Rasya.
"Yaudah...beli 5, sama Ice Cream lainnya, yang rasa coklat." -Gue.
"Banyak banget! Lu lapar atau doyan?" -Rasya.
"Gak usah banyak bacot!! Beli aja. Bye." -Gue*.
__ADS_1
Sebelum Rasya menjawab sepata kata pun, Gue pun sontak memutuskan teleponnya secara sepihak.
Gue pun sontak meletakkan kembali ponsel Gue lalu kembali berbaring. Gue sudah mulai menutup mata.
Tapi belum cukup satu menit Gue menutup mata, ponsel Gue berdering lagi. Gue emosi yang meledak-ledak, Gue pun sontak mengambil ponsel itu lalu mengangkat teleponnya tanpa melijat siapa yang menelpon.
"*KENAPA LAGI?!!" -Gue.
"Maaf kak...ini saya Jordan." -Jordan.
"Lah? Sorry-sorry...kenapa?" -Gue.
"Ini kak...rapat besok kaka tidak usah ikut kata kepala sekolah." -Jordan.
"Lah? Kenapa?" -Gue.
"Saya tidak tau kak, saya juga baru di beritahu tadi." -Jordan.
"Jadi...kita gak jadi pergi kan?" -Gue.
"Hah? Gak kak...bukan itu maksud saya, kaka gak ikut rapat karna katanya tidak ingin merepotkan kaka lagi." -Jordan.
"Lah terus? Tetap jadi gitu?" -Gue.
"Iya kak...liburan itu tetap di laksanakan, tapi kita akan ke Jogja kak." -Jordan.
"Gue udah tau." Gumam Gue.
"Hah? Kenapa kak?" -Jordan.
"Gak papa...terus apa lagi?" -Gue.
"Liburannya akan di laksanakan saat sehari setelah pembagian rapor." -Jordan.
"Terus yang ikut di suruh bawa apa aja?" -Gue.
"Setau saya hanya membawa pakaian yng di perlukan selama seminggu dan kebutuhan lainnya. Masalah biaya Hotel dan pesawat kan sudah di tanggung kak." -Jordan.
"Kamu baru di kasih tau sama kepala sekolah?" -Gue.
"Hahaha...iya kak." -Jordan.
"Oh oke...ada yang lain lagi?" -Gue.
"Sudah tidak ada kak." -Jordan.
"Baiklah, kalau begitu saya matikan telponnya. Bye." -Gue.
"Iya, kak" -Jordan*.
Setelah telpon mati, dengan sabarnya Gue. Gue pun melempar ponsel Gue ke kasur Gue, lalu melemparkan diri Gue ke kasur dan memperbaiki posisi tidur Gue.
"Semoga gak ada yang ganggu lagi." Gumam Gue lalu menutup mata Gue.
Kali ini kata Gue tertutup selama 5 menit, tapi Gue tidak bisa tertidur selama 5 menit itu. Tapi saat Gue sudah mulai tetidur, tiba-tiba pintu Gue di buka dengan paksa oleh seorang.
"RAISA." Teriaknya.
Gue yang benar-benar merasa terganggu, sontak melemparkan bantal Gue ke orang itu dengan sangat keras. Gue pun terduduk dan melihat siapa orang itu.
__ADS_1
"Loh?"
Bersambung