Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Kenapa Lu Datang?


__ADS_3

RASYA POV*


Sudah 5 hari Gue di Rumah sakit. Tentu saja Gue sendirian di kamar ini, terkadang Raisa menjenguk Gue sebentar untuk memastikan keadaan Gue.


Sedangkan Orang Tua Gue, mereka hanya bisa datang saat malam saja. Itupun hanya sebentar saja, walaupun memang Gue yang menyuruh mereka pulang dengan alasan Gue butuh istirahat.


Sebenarnya dari kemarin, keadaan Gue sudah mulai membaik. Tapi, karna Raisa dan Orang Tua Gue yang memaksa untuk tetap di rawat sampai Gue sembuh total.


Sore hari ini, Raisa belum juga datang untuk menjenguk Gue. Di berjanji untuk membawakan Gue beberapa potong cake favorit Gue.


"Mana sih nih orang? Lama bener." Gumam Gue.


Tiba-tiba saja telpon Gue berdering, dan yang menelpon adalah Raisa.


"*Halo, Lu dimana?" -Gue.


"Di Hotel." -Raisa.


"Lu gak kesini? Janji Lu!!" -Gue.


"Iya...Gue ingat janji Gue. Tapi tiba-tiba ada rapat mendadak yang harus Gue ikuti." -Raisa.


"Sepenting apa sih rapatnya dari pada Abang Lu sendiri?" -Gue.


"Dua-dua nya penting, Bang. Tapi rapat ini harus segera di selesaikan." Raisa.


"Terus? Lu gak bisa jenguk Gue gitu?" -Gue.


"Maaf, Bang. Hari ini Gue gak bisa jenguk, Lu. Tapi janji Gue, tetap Gue tepati." -Raisa.


"Terserah?" -Gue.


"Nanti Gue cari orang buat anterin pesanan, Lu. Jadi Lu tenang aja." -Gue.


"Hah... Iya-iya." -Gue.


"Maaf, Bang." -Raisa.


"Iya, gak papa." -Gue.


"Yaudah, Bang. Gue matiin ya. Mau cari orang dulu." -Raisa.


"Ya, bye." -Gue*.


Gue pun memutuskan telponnya.


"Hah... Sendiri lagi." Gumam Gue.


"Gimana kalau ajak salah satu bocah, itu?" Gumam Gue lalu menelpon salah satu teman Gue.


"*Halo... Gung." -Gue.


"Napa?" -Agung.


"Lu sibuk?" -Gue.


"Gak, kenapa?" -Agung.


"Temenin Gue di rumah sakit dong. Gue sendirian." -Gue.


"Adek, Lu?" -Agung.


"Dia lagi sibuk. Tolong dong, Gung." -Gue.

__ADS_1


"Gue sendiri?" -Agung.


"Iya, lu aja. Lu ada mobil, kan?" -Gue.


"Ada... Yaudah ntar Gue kesana." -Agung.


"Makasih, A...gung." -Gue.


"Ya-ya, bye." -Agung.


"Babay." -Gue*.


Setelah telpon di putuskan sepihak oleh Agung. Gue pun meletakkan ponsel Gue di atas meja samping ranjang Gue.


Gue kembali berbaring dan memejamkan mata Gue.


RAISA POV*


Sebelum ke ruang rapat. Gue mencari seseorang yang bisa mengantarkan pesanan Rasya. Sebenarnya bisa saja Gue memesan jasa antar barang atau yang lainnya. Tapi karna Gue gak punya aplikasinya jadi gak bisa pakai jasa itu.


Gue pun memutuskan untuk meminta tolong kepada pelayan Hotel yang mempunyai kendaraan sendiri.


Saat menunggu pelayan itu, Gue menunggu di meja resepsionis untuk meletakkan beberapa kotak cake yang telah Gue janjikan untuk Rasya.


Tapi bukannya seorang pelayan yang datang menghampiri Gue. Malah seorang gadis yang seharusnya tidak Gue temui dulu.


"Raisa." Panggil gadis itu.


"Re-Re-Reina?!!" Ucap Gue gagap.


"Iya, Sa?" Tanya Reina.


"Lu kenapa bisa disini?" Tanya Gue.


"Oh... Hahaha." Bals Gue yang bingung harus berbicara apa.


"Kamu lagi nunggu, siapa?" Tanyanya.


"Oh ya... Gimana keadaan Rasya?" Lanjutnya.


"Kok Lu bisa tau Rasya sakit?" Tanya Gue.


"Hah... Itu... Murid-murid di kelas sering membicarakannya." Jawabnya.


"Oalah... Gue lagi nunggu pelayan, buat nganterin pesanan Rasya." Jelas Gue yang tanpa sadar memberitahu Gue sedang apa.


"Hm... Boleh aku yang anterin? Aku ingin bertemu dengannya." Tanyanya Ragu.


"Hah?!! Lu? Mau ketemu dia?" Tanya Gue bingung.


"Iya... Gak boleh, ya?" Jawabnya murung.


*Yaelah... Bukannya gak boleh. Rasya nya gk mau.* Batin Gue.


"Itu... Bo-boleh sih. Ta-tapi–"


"Maksih, Sa. Aku akan anterin pesanannya dengan baik." Potongnya sambil menggenggam tangan Gue dan mengayun-ayunkannya.


*Gue belum selesai ngomong, bambang.* Batin Gue kesal.


"Hah... Yaudah, Lu anterin semua cake ini ke dia. Setelah Lu anterin ke dia, jangan macam-macam atau ngomong aneh-aneh ke dia. Dia lagi gak mood." Tegas Gue.


"Siap... Aku pergi dulu ya. Bye." Jawabnya lalu pergi membawa semua kotak cakenya.

__ADS_1


"Semoga gak terjadi apa-apa. Amin." Gumam Gue.


"Wakil Direktur." Tegur salah satu resepsionis.


"Ya?" Tanya Gue setelah berbalik melihatnya.


"Tadi pak manajer menelpon. Katanya, anda disuruh segera kesana. Karna rapat segera dimulai." Jawabnya.


"Oh... Baik." Balas Gue lalu pergi menuju ruang rapat.


RASYA POV*


Gue baru bangun dari istirahat Gue sebentar. Karna infus Gue sudah di lepas, Gue bisa bebas mau pergi kemana aja tanpa membawa beban hidup alias tiang infusa.


Akhirnya Gue pergi kekamar mandi sendirian, untuk mencuci muka. Tapi saat Gue di dalam kamar mandi.


Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar Gue, dan sepertinya ia langsung masuk kedalam kamar Gue.


Gue mengira itu adalah Agung. Jadi saat di dalam kamar mandi, Gue tidak terlalu terburu-buru untuk menyambutnya.


Setelah Gue selesai mencuci muka dan juga membuang air kecil. Akhirya Gue keluar dari kamar mandi. Awalnya Gue tidak melihat ada seseorang di kamar Gue.


*ok gak ada orang?* Batin Gue.


"Horor!" Gumam Gue lalu berjalan pelan menuju Ranjang.


Karna tadi sofa tidak terlihat jelas saat masih di depan kamar mandi. Makanya Gue tidak melihat siapa-siap. Tapi saat Gue melihat ada seorang gadis yang duduk dengan santai di sofa itu sambil memainkan ponselnya.


Gue benar-benar di buat terkejut olehnya. Dan lebih terkejutnya lagi gadis itu adalah Reina.


"Elu?!!" Teriak Gue yang masih berdiri dan menatapnya.


"Ha-halo, Sya. Kabar kamu bagaimana?" Tanyanya lalu menghampiri Gue.


"Jangan dekat-dekat!! Berhenti disitu." Tegas Gue lalu berjalan menuju ranjang Gue.


"Ma-maaf..." Gumamnya.


"Ngapain?" Tanya Gue.


"Hah?" Tanyanya yang sontak berbalik dan menatap Gue.


"Lu ngapain disini?!! Gue kan sudah bilang jangan temui Gue, jangan muncul di hadapan Gue. Tapi... Kenapa?" Geram Gue.


Reina hanya diam sambil menundukkan kepalanya.


"Hah... Gue gak bermaksud marahin, Lu. Mood Gue lagi gak bagus. Jadi maaf karna selalu berteriak di depan mu." Lanjut Gue.


"Hm... Kenapa Lu datang?" Tanya Gue.


"Itu... Aku mengantarkan pesanan mu dari Raisa. Hanya itu saja dan aku ingin melihat mu sebentar saja." Jawabnya ragu.


"Makasih..." Balas Gue yang tiba-tiba gadis itu mengangkat kepala nya lalu menatap Gue.


"Maksih udah anterin pesanan Gue. Sekarang Lu bisa pergi kan? Gue gak mau lihat Lu lama-lama." Lanjut Gue.


"Ta-tapi–" Ucapnya yang tiba-tiba terpotong karna seseorang yang tiba-tiba membuka pintu ruangan Gue.


Bersambung


*Bantu Support author dengan Like dan Commentnya :)


Thanks*!!

__ADS_1


__ADS_2