Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Rencana Gagal.


__ADS_3

Tinggal berapa menit lagi, waktu makan malam akan tiba. Malam ini Gue sudah berencana akan mengajak Reina makan bersama dan ingin mengajaknya ke lantai paling atas untuk melihat langit malam bersama.


Tapi, alasan apa yang akan Gue gunakan agar Raisa tidak ikut bersama Gue. Karna Gue yakin kalau Raisa ikut ke lantai atas, pasti tidak ada kesempatan untuk Gue berduaan dengan Reina.


"Sa." Panggil Gue.


"Napa?" Tanyanya.


"Bentar lagi makan malam, Gue mau makan sendiri." Jawab Gue.


"Emang kenapa?" Tanyanya lalu menatap Gue aneh.


"Itu... Gu-gue mau sendiri aja. Emang gak boleh?" Jawab Gue.


"Hm... Gak papa sih, Gue juga baru mau izin ke Lu." Balasnya.


"Izin apa?" Tanya Gue.


"Devan ngajak Gue makan di luar." Jawabnya.


"Apa?!!! Ngapain dia ngajak Lu ke luar?!!" Geram Gue.


"Emang kenapa? Lu mau ikut? Ikut aja kali, dia juga gak marah." Jawabnya santai.


"Ta-tapi kan... Masa Lu keluar malam." Ucap Gue.


"Emang kenapa sih, bang? Lu kira baru kali ini Gue keluar malam? Lagian kalau Lu gak bolehin Gue berdua sama dia, kan Lu tinggal ikut. Ribet banget sih." Protesnya.


*Kalau Gue ikut sama, Lu. Terus Reina Gimana? Kan kasian dia makan sendiri.* Batin Gue dengan raut wajah sedih.


"Woi!! Lu napa diam aja sih?!!" Teriak Raisa.


"Hah? Iya-iya, lu boleh pergi sama bocah itu. Tapi–"


"Tapi apa lagi sih?!!" Potong Raisa.


"Tapi, bocah itu harus jemput Lu di depan kamar. Biarin Gue ngomong bedua sama dia dulu. Setelah itu Lu boleh pergi bareng dia." Jelas Gue.


"Oke deh, Bang. Makasih Abang Gue sayang." Ucap Raisa lalu langsung bersiap-siap untuk pergi bersama Devan.


Disaat Raisa sedang menata diri di depan meja riasnya. Gue teringat sesuatu dan sontak bertanya ke Raisa.


"Sa." Panggil Gue.


"Napa lagi?" Tanyanya yang masih sibuk dengan wajahnya.


"Hari ini Lu gak ada kerjaan? Bukannya masalah rapat kemarin Lu bakal rapat berdua sama Manajer pengadaan ya?" Jawab Gue.


"Oh masalah itu, Gue sudah memberikan kepada Manajer untuk menyelesaikan masalahnya. Karna kan Bibi juga biasa seperti itu. Dia langsung memberikan pekerjaan pada Manajer yang bersangkutan." Jelasnya.


"Lu kayak baru tau aja." Lanjutnya.


"Lupa." Balas Gue.


Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kita.


"Itu pasti Devan. Bukain pintu, Bang. Gue udah ngomong ke dia, kalau Lu mau Ngomong berdua sama dia." Sambung Raisa.


"Oke." Jawab Gue lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu itu.


"Diluar aja." Ucap Gue setelah membuka pintu.


Kami pun berdiri di luar kamar dan tentu saja pintu kamar Gue tutup.


"Mau ngomong apa?" Tanyanya.

__ADS_1


"Lu mau pergi kemana sama Raisa?" Tanya Gue balik.


"Makan malam di Restoran terus jalan-jalan sebentar buat cari angin malam." Jawabnya santai.


"Sampai jam berapa?" Tanya Gue lagi.


"Gak tau, mau Gue sih lama-lama. Tapi kalau pacar Gue maunya pulang cepat, yasudah." Jawabnya.


"Hm... Oke, Gue kasih Lu waktu sampau jam 11 malam. Jam 12 malam Raisa sudah harus ada di kamarnya." Tegas Gue.


"Lu gak ikut? Tumben." Sambungnya.


"Gua lagi ada urusan, intinya awas Lu macam-macam sama adek Gue. Gue plintir tuh kepala Lu." Ancam Gue.


"Iya-iya, thanks udah ngasih waktu kita untuk berdua aja." Ucapnya.


"Bang, Devan." Sahut Raisa lalu keluar dari kamar.


"Sudah make-up nya?" Tanya Gue.


"Sudah, kalian udah selesai ngobrol?" Balasnya.


"Udah." Jawab Gue.


"Yaudah...kita pergi ya, Bang." Ucapnya lalu menggandeng tangan Devan.


"Jangan dekat-dekat." Sahut Gue sambil melepas gandengan Raisa.


"Iya-iya. Kita pergi, Bang. Bye." Jawabnya lalu pergi bersama Devan.


Setelah tidak melihat mereka lagi, Gue langsung berlari masuk ke kamar dan menutup pintu dengan keras.


"Gue barus ganti baju." Gumam Gue lalu sibuk bolak balik lemari pakaian Gue dan meja rias Raisa.


Tak lama kemudian, Gue pun selesai bersiap. Memakai jaket yang cukup tebal, karna Gue yakin di atas itu pasti sangat dingin. Gue juga tak lupa merapikan rambut dan memakai parfum.


"Bodoh, lah. Ketuk aja." Gumam Gue dan bersiap ingin mengetuk pintunya.


Tapi saat Gue ingin mengetuk pintu itu, tiba-tiba saja pintunya terbuka dan ada Reina yang sedang berdiri di balik pintu itu.


"Eh... Ada apa, Rasya?" Tanya Reina.


"Hah? Anu... Lu mau makan malam, kan?" Tanya Gue.


"Iya." Jawabnya.


"Gue juga. Mau makan malam bareng?" Ajak Gue.


"Raisa mana?" Tanyanya.


"Itu... Dia pergi dengan Devan. Katanya sih mau makan malam di luar." Jawab Gue.


"Oalah... yaudah, yuk." Balasnya lalu keluar dari kamarnya dan menutup pintunya.


"Rei." Panggil Gue.


"Ada apa?" Tanyanya.


"Bo-boleh genggam ta-tangan Lu?" Tanya Gue gagap.


"Hm... Iya boleh." Jawabnga dan Gue sontak menggenggam tangannya.


"Dingin." Gumam Gue.


"Iya, tangan kamu selalu hangat." Ucapnya.

__ADS_1


"Hahaha... Iya." Jawab Gue.


Kami pun turun ke restoran untuk makan malam bersama. Gue yang memilih tempat di pojok ruangan agar tidak terlalu mencolok karna kita makan berdua saja.


"Lu mau pesan, apa?" Tanya Gue.


"Atau biar Gue yang pesanin?" Lanjut Gue.


"Boleh, aku juga mau mencoba makanan yang kamu pesan." Jawabnya.


"Oke...serahkan pada Rasya Putra yang akan memesan makanan untuk Lu." Ucap Gue dengan tersenyum.


"Hahaha." Tawa Reina yang sangat manis.


*Bisa gila, Gue.* Batin Gue.


Gue pun memesan makanan utama dan minuman saja. Sedangkan disert memang segaja tidak di pesan. Karna ada saat nya Gue dan Reina makan berdua di lantai atas sambil memandang bintang-bintang.


Setelah selesai memesan makanan. Gue meminta izin ke Reina untuk pergi sebentar. Gue ingin menemui pelayan untuk menyiapkan meja dan kursi di lantai atas.


"Rei." Panggil Gue.


"Ya?" Jawabnya.


"Gue mau pergi sebentar, Lu tunggu disini ya. Kalau pesanannya udah datang, Lu boleh makan duluan kok." Ucap Gue.


"Aku nunggu kamu aja, biar bareng." Balasnya yang membuat hati Gue rasanya ingin terbang tinggi ke langit.


"Oke, Rei. Gue pergi dulu ya." Ucap Gue lalu pergi ke luar restoran dan mencari pelayan.


Akhirnya Gue pun bertemu bertemu dengan salah satu Manajer Hotel, walaupun yang Gue cari tuh pelayan. Tapi Manajer pun bisa untuk di ajak kompromi.


"Pak." Panggil Gue.


"Ada apa, Wakil Rasya?" Tanyanya.


"Saya ingin meminta tolong... Tolong siapkan meja dan kursi di lantai paling atas Hotel ini." Jawab Gue.


"Dan juga, tolong siapkan 2 cangkir Kopi panas dan beberapa disert coklat dan stroberi." Lanjut Gue.


"Tapi, Tuan. Anda ingin apa di lantai paling atas Hotel? Bukannya sedang Hujan ya, Tuan?" Ucap Sang Manajer yang membuat Gue terkejut setengah mati.


"Hah? Hujan? Bukannya di berita cuaca malam ini tidak ada Hujan ya?" Tanya Gue tetap berusaha untuk tenang.


"Iya, Tuan. Tapi tadi baru saja hujan yang sangat deras di sertai petir, Tuan. Jika anda ke sana, itu akan bahaya untuk, anda." Jawabnya.


*Hah? Hujan? Rencana Gue? Malam romantis Gue? Semuanya gagal?* Batin Gue dengan raut wajah yang kaget.


"Tuan?" Panggil Sang Manajer.


"Hah? Iya... Kira-kira kapan Hujannya akan berhenti?" Tanya Gue.


"Saya juga tidak tau pasti, Tuan. Karna Hujannya sangat deras, bisa saja akan berhenti besok pagi." Jawabnya.


"Yasudah, terima kasih." Balas Gue.


"Sama-sama. Saya izin undur diri." Ucapnya lalu pergi meninggalkan Gue sendiri.


*Gimana ini? Hujan menghancurkan segalanya. Gue benci Hujan!!!!* Batin Gue mulai teriak karna Hujan yang menghancurkan rencana Gue, yang telah disusun dengan baik.


Gue benar-benar ingin bersama Reina di atas sambil memandang langit malam berdua. Tapi alam tidak mendukunh Gue.


Gue gak akan berhenti disini saja, masih ada hari esok untuk berdua bersamanya. Sambil menatap langit malam atau pun langit di pagi hari seperti yang telah kita lakukan kemarin.


Bersambung

__ADS_1


*Bantu support author dengan Like dan Comment nya :)


thanks*!!


__ADS_2