
"Papi ku adalah seorang pemimpin di salah satu perusahaan ternama di Amerika, ia adalah seorang pembisnis yang kejam. Ia berani membuat perusahaan orang lain bangkrut dalam sekejap mata, ia juga berani membunuh siapapun yang sudah mengganggu bisnisnya." Jelasnya.
"Tapi? Kenapa?" Tanya Gue bingung.
"Hah...aku juga tidak tau alasan pastinya, tapi yang ku tau, ia berani berbuat apapun untuk bisa mendapatkan apa yang ia inginkan." Jawabnya.
"Lalu? Apa kamu yang akan menggantikan Papimu?" Sambung Gue.
"Itu masih belum pasti. Aku sudah pernah bilang kepadamu, kalau kedua orang tuaku mempunyai bisnis yang berbeda, dan aku yang hanya satu-satunya keturuan dari mereka. Aku harus memilih akan melanjutkan bisnis siapa." Ucapnya.
"Memang apa bisnis Mami mu?" Tanya Gue.
"Ia mempunyai perusahaan yang ada di Indonesia dan beberapa Negeri lainnya. Ia adalah seorang pengusaha yang berhasil membuat pakaian, make-up, aksesoris, dan sepatu. Buatan perusahaannya sangat terkenal dan terjamin kualitasnya di beberapa Negara." Jelasnya.
"What?? Lalu bagaimana Orang tua Lu sampai menikah?" Sahut Gue.
"Aku terlahir atas kesalahan dari mereka. Setelah Mami ku di nyatakan hamil, mereka terpaksa menikah. Tapi saat aku lahir, pernikahan mereka berakhir begitu saja. Dan yang merawatku mereka berdua, mereka bergantian merawatku. Terkadang aku harus terbang dari Amerika ke Indonesia hanya untuk bertemu dengan mereka secara bergantian." Jelasnya.
"Tapi...saat aku berumur 15 tahun, aku lebih memilih untuk tinggal sendiri tanpa harus mereka urus. Aku tinggal bersama kepala pelayan yang mulai kecil selalu menemaniku. Aku bersekolah dirumah, sampai pada akhirnya aku menutuskan untuk pindah ke Indonesia, karna musuh Papi ku selalu mengincar nyawaku untuk dijadikan balas dendam mereka." Lanjutnya.
*What?!! Apa-apaan ini?* Batin Gue.
"Ja-jadi Lu akan jadi seperti Papi Lu?" Tanya Gue.
"Tidak-tidak...aku belum memilih akan mewarisi perusahaan siapa." Jawabnya.
"Gue beritahu, Rasya nanti akan menjadi pengganti Papi Gue sebagai pemimpin di perusahaan keluarga kami. Dan Lu malah mau gantiin Papi Lu? Bisa-bisa Lu akan menjadi musuh dengan Rasya." Sahut Gue.
"Apa? Rasya juga akan menjadi pemimpin nanti? Bagaimana ini?" Sambungnya.
"Itu terserah dari Lu. Lu harus memikirkan itu dengan baik, sekarang Gue tidak ingin memikirkan hal seperti itu." Ucap Gue.
"Hah...aku akan memikirkannya lagi nanti, tapi ingat untuk menjaga rahasia ini. Terutama dari Rasya, aku tidak ingin ia tau sebelum aku memberitahunya sendiri." Sahutnya.
"Ya...baiklah." Jawab Gue.
*Gue harap, Gue tidak memberitahunya.* Batin Gue.
"Btw...Gue punya 1 pertanyaan ke Lu." Lanjut Gue.
"Apa itu?" Tanyanya.
"Apa Lu suka sama Rasya? Tidak-tidak...bukan suka, apa Lu mencintainya?" Tanya Gue.
"Hm...aku tidak tau." Jawabnya yang membuat Gue tambah bingung.
"What?!! Lu gak tau perasaan Lu sendiri? Lu ini terlalu polos atau gimana sih?" Sahut Gue yang mulai muak dengan kebingungan ini.
"Tidak-tidak...aku jauh dari kata polos, aku hanya tidak ingin menunjukkan sisi dari diriku yang sebenarnya." Jawabnya.
*Lah? Ada ya...orang yang bilang dirinya sendiri jauh dari kata polos? Hah...gak ngerti lagi Gue.* Batin Gue lalu menepuk jidat Gue sendiri.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Gakpapa...Gue cuma lagi gila hari ini." jawab Gue lalu menopang dagu dengan sebelah tangan Gue dan menatap Reina.
"Siapa yang membuat mu Gila?" Tanyanya lagi.
*Lu!! Terus siapa lagi?* Batin Gue.
"Hah...Lu mau tau gak? Cara buat buktiin kalau Lu mencintanya atau tidak?" Tanya Gue.
"Bagaimana caranya?" Tanyanya.
Gue sontak duduk degan tegak lalu meletakkan kedua tangan Gue di atas meja dan menatap Reina serius.
"Lu dengerin Gue baik-baik, dan jawab pertanyaan Gue tanpa berbohong sedikit pun." Sahut Gue.
"Baiklah." Jawabnya.
"Kalau ada seseorang yang bertanya kepada mu, siapa yang kamu cintai? Siapa orang pertama yang kamu bayangkan?" Tanya Gue.
"Hm..." Dehem Reina yang tiba-tiba terdiam seperti berfikir.
"Rasya." Gumamnya yang terdengar jelas di telinga Gue.
__ADS_1
*Oke...gue paham.* Batin Gue tersenyum kecil.
"Sekarang...Lu bayangkan, Rasya sedang kencan dengan cewek lain dan disitu Lu ngeliat mereka sedang bermesraan. Apa yang Lu rasakan?" Tanya Gue lagi.
Tentu saja Reina sontak terdiam lagi dalam pikirannya, entah apa yang sedang ia pikirkan.
"Sakit...aku tidak suka itu." Lirihnya.
*Itu Lu cemburu, bambang. Astaga kenapa Gue terlibat dalam percintaan konyol mereka?* Batin Gue kesal.
"Rasanya...aku ingin menyingkirkan wanita itu, bagaimana pun caranya." Sahutnya.
*Uwo...psikopat girl.* Batin Gue.
"Satu lagi pertanyaan yang akan Gue tanyakan. Kalau Lu lagi senang, orang pertama yang Lu pikirkan siapa?" Tanya Gue.
Tanpa berfikir dan juga basa bsi, Reina langsung menjawab.
"Rasya!!" Jawabnya tegas.
*Nah...Gue suka yang ngegas.* Batin Gue.
"Berarti Lu mencintai Rasya, dan tentu saja Lu juga menyukainya. Lu gak mau dia berkencan dengan cewek lain, dan orang yang selalu ada di pikiran Lu itu, Rasya." Jelas Gue.
"Apa benar aku mencintainya? Apa Rasya juga sama seperti ku?" Tanyanya.
*Lah? Pakai nanya lagi, kalau dia gak suka sama Lu, ngapain Gue capek-capek nanya kayak gini? Astaga!!* Batin Gue.
"Masalah Rasya juga mencintaimu atau tidak, akan ada saatnya Lu tau sendiri." Jawab Gue.
"Sekarang...Lu harus berjuang demi cinta Lu, dan sepertinya Rasya juga cinta pertama mu kan?" Lanjut Gue.
"I-iya." Jawabnya.
"Nah...perjuangan kan dia, jangan sampai orang lain memilikinya. Tapi jangan melakukan hal konyol untuk menunjukkan kalau kamu mencintainya, cukup dengan hal sederhana saja." Jelas Gue.
"Bagaimana caranya?" Tanyanya.
"Misalnya, seperti–" Jawab Gue yang tiba-tiba terpotong karna ponsel Gue berbunyi.
"Rasya?" Ucap Gue lalu menjawab telponnnya.
"*Halo..." -Gue.
"Lu dimana?" -Rasya.
"Di cafe dekat sekolah." -Gue.
"Lu udah pulang?" -Gue.
"Kok Lu di cafe? Bukanny Lu lagi gak enak badan?" -Rasya.
"Gue habis dari mall, sama Reina. Sekarang kita nungguin Lu di cafe. Masa Lu pulang sendiri, gak mungkin kan?" -Gue.
"Yaelah...Gue bisa nebeng sama Putra kali. Reina bareng Lu? Pantesan dari tadi dia gak kelihatan." -Rasya.
"Dah lah...buru kesini, jalan kaki aja bisa kan. Dekat kok, bang." -Gue.
"Lu kesini!! Gue capek, buru." -Rasya.
"Iya-iya...bye." -Gue*.
Gue pun memutuskan telponnya, lalu berdiri menuju kasir untuk membayar minuman yang kami pesan tadi.
Setelah itu, Gue pun langsung berkendara menuju sekolah dan diikuti oleh Reina.
Saat sampai di parkiran sekolah, ternyata Rasya sudah menunggu Gue dengan Devan.
*Kenapa ada Devan, sih?* Batin Gue.
Dengan terpaksa Guepun memarkirkan mobil di depan mereka, setelah itu Gue pun keluar dari mobil dan menghamiri mereka.
"Yuk." Ajak Gue ke Rasya.
"I-iya." Jawabnya lalu mulai melangkah kemobilnya.
__ADS_1
Gue pun ikut melangkah ke mobil, tapi saat langkah yang kedua, Devan sontak memanggil Gue.
"Raisa!" Panggilnya.
"Hah..." Gue hanya bisa menghela nafas, lalu berbalik dan menatapnya.
"Kenapa?" Tanya Gue.
"Maaf...apa boleh kita bicara sebentar?" Tanyanya.
"Gue gak ada waktu." Jawab gue.
"DEV...THANKS, UDAH BANTU GUE KELUAR DARI MASALAH TADI." Teriak Rasya dari dalam mobil.
Gue yang mendengar itu, sontak berbalik menatap Rasya bingung. Sedangkan Rasya yang Gue tatap, ia hanya tersenyum lebar. Gue pun kembali menatap Devan.
"Hah...thanks, udah bantu abang Gue." Sahut Gue.
"Apapun untuk mu, sayang." Ucapnya.
"Apa sekarang kita bisa bicara sebentara?" Lanjutnya.
"Datang ke Hotel saat makan malam, kita akan berbicara di sana." Jawab Gue lalu berbalik dan melangkah ke mobil.
"BA-BAIK, SAMPAI JUMPA NANTI." Teriaknya ke Gue yang sudah di dalam Mobil.
"Jalan." Perintah Gue ke Rasya.
"Siap, bos." Jawabnya lalu mulai berkendara menuju Hotel dan di ikuti Reina.
***
Sudah satu jam Gue berdian diri di kamar dengan Rasya. Rasya yang mulai tadi hanya tidur di ranjangnya tanpa menjelaskan apa yang terjadi tadi di sekolah saat Gue pergi.
"Hah...dia memang selalu membuat orang khawatir." Gumam Gue lalu duduk di balkon kamar sambil membaca buku untuk menghibur diri.
Bukannya fokus membaca, Gue malah kepikiran dengan Devan. Apa yang akan ia katakan nanti? Apa dia akan memberitahu sisi dirinya yang lain? Atau dia ingin mengatakan hal lain?
Pertanyaan yang tak henti-hentinya muncul di pikiran Gue. Mau bagaimana pun Gue tidak memperdulikannya, akhirnya Gue tetap akan memikirkan dirinya.
"Hah...melelahkan." Gumam Gue.
Gue sontak berdiri dan mengambil earphone Gue yang berada di atas meja rias Gue. Setelah itu Gue kembali duduk di balkon, tapi kali ini Gue tidak membaca, gue lebih memilih mendengar musik dengan volume yanh keras agar Gue hanya fokus kepada lagunya saja.
Gue sambil memejamkan mata dan bersandar di punggung kursi dengan tangan yang di letakkan di atas perut.
***
Tidak terasa saat Gue membuka mata, ternyata langit sudah gelap.
"Sepertinya Gue ketiduran." Gumam Gue.
Gue pun masuk ke dalam, dan menutup pintu balkon lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci muka.
Setelah keluar dari kamar mandi. Gue pun menghampiri Rasya yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Sya...bangun!!" Ucap Gue.
"Emmh...iya." Jawabnya.
"Buruan, entar lagi makan malam." Sambung Gue lalu berjalan ke arah meja rias.
"SYA!! KALAU LU GAK BANGUN...LU GAK AKAN ADA KESEMPATAN MAKAN BERDUA LAGI SAMA REINA!!" Teriak Gue.
"Hah?!! IYA GUE BANGUN." Balasnya.
"Nah pintar." Ucap Gue.
"Dah sana cuci muka. Gue mau keluar dulu." Lanjut Gue lalu berdiri.
"Mau kemana?" Tanyanya.
"Keluar doang." Jawab Gue lalu berjalan ke arah pintu.
Tapi saat Gue ingin membuka pintu, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu itu.
__ADS_1
Bersambung