
RAISA POV*
Tepat pukul 07.00 gue dan Rasya sampai di parkiran sekolah tapi saat kita keluar dari mobil gue dibuat terkejut dengan seseorang yang menggunakan mobil Lamborghini Veneno yang sama persis dengan mobil yang di gunakan Devan setiap kita kencan.
Itu Devan? *Batin gue.
Masa iya Devan, gue selama ini gak pernah liat dia bawa mobilnya ke sekolah, gak mungkin Devan. *Batin gue.
"Woi!! Yuk masuk." ucap Rasya.
"Eh, iya bang." jawab gue lalu kami pun mulai berjalan masuk tanpa menghiraukan orang yang membuat gue penasaran.
Tapi saat gue sedang asik berjalan dengan Rasya, dan Rasya yang sedang merangkul gue sambil berbincang masalah semalam tiba-tiba ada seseorang yang memegang pundak gue dan membuat Rasya terkejut lalu ia menggenggam tangan itu dengan kasar dan berbalik.
"Elu!!!" teriak Rasya lalu melepaskan genggamannya.
"Eh Reina, kenapa Rei?" tanya gue.
"Gak, cuma mau manggil aja." jawabnya.
"Kalau mau manggil ya manggil aja jangan pegang pundak adek gue sembarangan dong." gumam Rasya.
"Diam lu." bisik gue.
"Eh lu mau kekelas kan, ikut kita aja tapi lu harus ngantar gue ke kelas gue dulu, baru lu sama Rasya bareng ke kelas kalian, lu mau ka–" ucap gue yang terpotong dengan teriak mereka berdua.
"Ogah!!/Gak!!" teriak mereka serentak.
"Yaelah belum juga kelar ngomong udah di potong aja, yaudah Rei lu pergi ke kelas sendiri ya, lain kali aja kita jalan bareng lagi." balas gue.
"Iya." jawab Reina.
Kami pun masuk kesekolah dengan terpisah, Reina berjalan sendiri sedangkan gue tentu saja sama Rasya. Setelah sampai di kelas gue, gue langsung melepas rangkulan Rasya.
"Oh iya bang, lu jangan buat ulah sama Reina, awas aja sampe lu macam-macam gue tabok lu." ancam gue.
"Lu kok malah bela dia sih, disini gue yang tertindas harus bagi meja sama tuh orang." Protesnya.
"Bukannya gue bela dia, tapi kan gue cuma ngasih tau lu jangan buat ulah ke dia, takutnya lu malah bermasalah lagi kan gue juga yang susah." jawab gue.
"Terserah lu dah, memang lu gak sayang sama abang sendiri." ucap Rasya murung.
"Lebay lu, sana dah ke kelas lu gue mau masuk, bye abang gue sayang." saut gue lalu masuk ke kelas.
"Jahat lu Sa!!" teriak Rasya di depan kelas gue dan anak-anak di kelas gue langsung ngeliat ke dia sambil tertawa kecil setelah itu Rasya pun pergi dari kelas gue.
RASYA POV*
Saat gue sampai di kelas gue ngeliat si anak baru itu duduk dengan sangat nyaman sambil mendengarkan musik.
Sabar Sya, sabar. *Batin gue.
Gue pun duduk di kursi gue dan seperti biasa teman-teman gue langsung berkumpul di meja gue dan Putra memulai obrolan.
"Sya, gimana rencananya?" tanya Putra.
"Pasti berhasil kan." sambung Agung.
"Dan gue yakin kagak berhasil." saut Rendi.
"Kagak berhasil Bjir, malah bikin gue nyesel gara-gara buang sia-sia semua kopinya." jawab gue.
"Kok bisa?!" tanya Agung.
"Kan udah gue bilang kagak bakal berhasil." sambung Rendi.
"Lu semua salah paham bangk*, Adek gue gak kecanduan kopi tapi dia bilang dia kecanduan kopi tapi bukan yang kayak kita pikirin." jawab gue.
__ADS_1
"Hah?! Gimana-gimana gak ngerti gue?" saut Reyhan.
"Gini-gini, jadi Raisa itu memang kecanduan kopi ya karna dia kebanyakan kerja, terus yang kalian pikirin kalau Raisa itu jadiin kopi kayak obat penenang itu gak bener bangk*, sangka kalian kopi itu kaya b*r atau apapun yang kalian pikirin itu semua gak bener, intinya gue udah salah besar sama adek gue, kopi yang kita buang sia-sia itu kopi impor dari luar negri." jelas gue.
"Kan gue udah bilang, jangan langsung ambil tindakan yang bakal kita sesali nantinya." saut Rendi.
"Ya kan gue juga terlalu khawatir, sih Putra juga malah mikir jauh." jawab gue.
"Pfft." ketawa kecil sih murid baru lalu sontak berdiri dan berjalan keluar kelas.
"Gue gak salah liat kan, sih anak baru yang dingin itu tadi senyum loh." ucap Agung.
"Gue denger dia ketawa bjir, kok malah jadi horor sih." saut Putra.
"Tapi dia cantik loh kalau senyum. Kaya tadi." sambung Rendi.
Gak salah liat kan gue? Masa dia senyum sih? Argh!! Gue halu kali. *Batin gue
"Woi!!." teriak Reyhan yang membuat gue terkejut.
"Paan sih, nj*ng." balas gue.
"Lu kok malah melamun sih?" tanya Reyhan.
"Siapa juga yang melamun, halu lu. Dah sana balik ke meja kalian masing-masing udah mau bel juga." jawab gue.
Setelah bel berbunyi, si murid baru itu masuk ke kelas lalu duduk dengan santai dan tentu saja ekspresi wajahnya sangat dingin.
Bener kan gue salah liat, masa cewek yang kayak gitu bisa senyum. *Batin gue lalu mengalihkan pandangan gue ke luar jendela.
Guru pun masuk dan pelajaran langsung dimulai, ya seperti biasa gue hanya memerhatikan guru sekilas setelah itu gue langsung melihat ke luar jendela lagi atau gue meletakkan kepala gue di atas meja dan tertidur sampai mata pelajaran lainnya berganti.
***
Bel istirahat pun berbunyi, gue dan teman-teman gue langsung pergi untuk menjemput Raisa di kelasnya.
"Sa!!" teriak gue dan Raisa sontak menoleh ke arah gue.
Saat di kantin seperti biasa kami memilih meja di pojong ruangan.
"Lu mau makan apa?" tanya gue ke Raisa.
"Samaan kayak lu aja." jawabnya.
"Minum?" tanya gue lagi.
"Hari ini gue mau jus mangga." jawabnya.
"Tumben Sa, biasa juga kopi." saut Putra.
"Lu mau gue tabok Put?" balas Raisa.
"Kagak-kagak, dah lah yuk beli makan." jawab Putra lalu kami pun pergi meninggalkan Raisa sendiri di meja makan kita untuk membeli makanan.
.
.
15 menit pun berlalu kami mengantri untuk membeli makan, setelah makanan selesai di siapkan gue dan yang lain langsung kembali ke meja makan kita, di situ ada Raisa yang sedang duduk sendirian.
"Nih." ucap gue sambil memberikannya sepiring makanan yang sama seperti gue.
"Thanks bang." jawabnya.
"Ya." balas gue lalu duduk di sampingnya begitupun teman-teman gue ada yang duduk di depan Raisa, di depan gue dan ada juga yang di samping gue.
Saat kita mulai memakan makanan kita masing-masing tiba-tiba saja gue ngeliat sih murid baru berjalan sambil membawa makanannya dan lewat di samping meja kita.
__ADS_1
"Eh, Reina." panggil Raisa yang membuat gue dan teman-teman gue terkejut.
"Kenapa, Raisa?" tanya sih murid baru itu.
"Adek lu gila Sa, masa manggil sih murid baru." bisik Putra yang duduk di samping gue.
"Makanya, bikin orang gak selera makan aja." bisik gue.
"Gakpapa Rei, lu mau makan kan? makan disini aja sama kita, di samping Reyhan masih kosong tuh." jawab Raisa.
"Lu gila ya? Ngapain ngajak dia makan bareng." bisik gue ke Raisa.
"Suka-suka gue lah." ucapnya santai.
"Gimana Rei?" tanya Raisa.
"Gak, makasih Sa." jawab sih murid baru santai lalu pergi.
"Oh yaudah, kapan-kapan aja ya Rei." teriak Raisa ke Reina yang sudah berjalan pergi.
"Lu ngapain sih caper banget sama sih murid baru." saut gue.
"Kenapa sih? Suka-suka gue lah." jawabnya.
"Bukannya apa ya Sa, kita dari awal gak akur sama sih murid baru itu." sambung Agung.
"Terus urusan gue gitu kalau kalian gak akur sama dia? Bukan kan, jadi terserah gue mau ngajak dia makan bareng atau gak, suka suka gue lah." balas Reina.
"Lu–" ucap gue yang terpotong.
"Sudah Sya, dari pada tambah panjang urusannya mending lu diam aja." bisik Rendi.
"Sudah lah, buruan makan keburu bel masuk." ucap gue lalu kami pun melanjutkan makan kami yang sempat terpotong tadi.
Setelah kami selesai makan, gue dan teman-teman gue mengantar Raisa ke kelasnya lalu kami kembali ke kelas kami.
***
Bel pulang pun berbunyi, gue langsung keluar dari kelas dari berlari untuk menjemput adek gue tersayang alias sih Raisa Putri. Setelah gue menjemput Raisa kami pun langsung berjalan ke parkiran dengan santai dan gue tentu saja sambil merangkul Raisa.
Tapi saat di parkiran gue terkejut dengan sesuatu yang gue liat dengan mata kepala gue sendiri. Si murid baru itu ternyata di kerumunin oleh murid-murid lainnya dan gue gak tau alasannya kenapa dia sampe di kerumunin seperti itu, tapi ternyata bukan gue aja yang penasaran tapi sih Raisa juga sama penasarannya sama gue.
"Bang itu Reina kan? Dia kenapa?" tanyanya.
"Entah." jawab gue.
Saat melihat ada murid yang berlari di depan gue, gue langsung memanggilnya dan bertanya.
"Hei!!" panggil gue.
"Kenapa Sya?" tanyanya.
"Itu kenapa ya?" tanya gue.
"Oh itu sih murid baru di jemput sama orang tuanya secara terpisah, terus sih murid baru marah-marah ke orang tuanya." jawabnya.
"Kok bisa?" tanya Raisa.
"Gak tau juga gue, tapi yang bikin heboh dari pagi itu sih murid baru ke sekolah pakai mobil Lamborghini veneno yang mahalan itu, dan serakang orang tuanya malah jemput dia pakai mobil mahalan juga dan di kawal sama bodyguard gitu." jawabnya lagi.
"Oh oke, makasih." jawab gue.
"Iya Sya."balasnya lalu pergi.
"Gue heran bang, sih Reina itu siapa sih? Selalu aja jadi bahan gosipan dan kerumunan orang, padahal biasa juga anak-anak sekolah kita biasa aja kalau ada murid baru." saut Raisa.
"Sudah lah gak usah di pikirin, kita pulang aja." jawab gue.
__ADS_1
Kami pun masuk kedalam mobil dan gue berkendara dengan santai menuju rumah tapi di perjalanan gue masih bertanya-tanya dalam batin gue sebenarnya sih murid baru ini siapa dan kenapa selalu dia yang jadi bahan kerumunan anak-anak dan juga gosipan anak-anak.
Bersambung