YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Ceng Three


__ADS_3

Brugh


"Woy biasa aja! untung ini bakso kagak mental kelaklakan gue langsung!" sewot Aara yang ingin menyuap bakso ke mulutnya tetapi mendadak loncat karena Tiara tiba-tiba duduk di sebelahnya dengan kencang.


Lily pun duduk di samping Brian dengan di sambut senyuman manis dari pria itu. "Mingkem kak! kering gigi loe ntar!" celetuk Lily membuat bibir Brian terkatup.


"Nggak ada manis-manisnya amat sich neng! jangan sampe ketularan Tiara itu manyunnya! udah kayak bebek nggak di kasih makan!" ucap Brian kemudian menatap Tiara dan Lily bergantian.


"Pak, bakso dua lagi ya sama teh manis hangat jangan pakai es Pak!" Seru Brian kepada pemilik gerobak bakso yang sedang meracik bumbu.


"Siap!" seru pedagang Bakso yang bernama Pak Nur dengan mengacungkan ibu jarinya.


"Tuh udah gue pesenin, udah jangan pada merengut! apa mau gue cipook loe satu-satu?"


Ehemmm...


"Mampuuuussss....pawangnya dateng," lirih Brian yang mampu di dengar oleh Lily dan segera di beri tatapan tajam oleh gadis itu.


"Awas biji mata loe keluar dek, nanti nyebur ke mangkok bakso gue bisa berabe!" bisik Brian pada Lily dan segera di hadiahi tendangan yang membuat Brian kembali bungkam.


Sedangkan Rafkha segera mengambil duduk di samping Tiara dengan Zea duduk di samping Brian. Sempat membuat Tiara ingin beranjak tetapi segera di tahan oleh Rafkha.


"Tetap duduk atau gue cium!" bisiknya dengan tegas dan menggenggam tangan Tiara di balik meja.


Gadis itu mendengus kesal tapi setelahnya memilih menyerah dan segera menarik bakso yang Pak Nur berikan. "Makasih bapak ganteng, tau aja apa yang Tiara suka, pakai mie kuning nggak kosongan kayak bibir tetangga sebelah!" celetuk Tiara dengan memamerkan senyum manisnya.


"Aduuuh makin cantik aja si Eneng Tiara, tau lah kan tadi ngelirik meja sini, eh liat neng Tiara sama neng Lily yang kalo mesen seleranya sama. Kok tumben nggak soto neng?"

__ADS_1


"Nggak Pak, abis boleh di traktir sama kak Brian jadi sekasihnya aja." Tiara nyengir menatap Pak Nur yang manggut-manggut tanda mengerti. Sedangkan Brian mendelik mendengar ucapan Tiara.


"Uang jajan loe sama gue banyakan loe ya! ngapa jadi minta traktir sama gue sich!" kesal Brian. Brian sebenarnya bukan orang pelit, tetapi di ajarkan berhemat oleh Mamahnya, tidak sombong dan rajin menabung. Padahal uangnya di rekening sudah cukup buat beli sawah.


"Pelit! biar nanti gue bilangin sama Om Bayu!"


"Bilangin aja, yang ada uang jajan gue di tambah!" sahutnya membuat Tiara menatap sengit pria di depannya.


"Udah makan, nanti gue yang bayar!" bisik Rafkha tapi tak di gubris oleh Tiara hingga Rafkha yang gemas mengeratkan genggaman tangan Tiara yang sejak tadi belum di lepas.


"I...iya!" pekik Tiara, Rafkha mengulum senyum dan berlagak tidak tau dengan sengaja memesan makanan. Sedangkan yang lainnya tampak menyorot Tiara dengan tatapan heran. Tetapi Tiara segera melanjutkan makannya pura-pura tak terjadi apa-apa.


"Kak Rafkha mau pesan soto ya, aku sekalian ya kak. Samain aja sama kakak!" ucap Zea yang segera mengalihkan pandangan dari Tiara ke Rafkha.


"Hhmm...."


Mereka makan dengan tenang, Tiara sempat tak nyaman tetapi segera menghabiskan agar cepat kembali masuk kelas. Setelah seharian di sekolah tercinta kini semua murid lekas meninggalkan kelas setelah bell pulang berbunyi.


"Ck, gue sama siapa jadinya. Reseh loe dik!" kesal Gibran saat semua sudah naik di atas motor.


"Sini belakang gue aja kak!" seru Tiara tetapi segera mendapatkan tatapan tajam dari Rafkha. Apa maksudnya bonceng three, walaupun anak jaman now tapi nggak harus alay juga pikir Rafkha. Dan lagi Tiara di tengah sudah pasti nempel dengan tubuh Gibran dan Rafkha jelas tak setuju.


"Nggak usah posesif juga Bambang! kasian kak Gibran, lagian yang untung juga loe kak dapet mangga mengkel!" celetuk Tiara ngasal dan membuat Rafkha menoleh ke arah bagian dada Tiara.


"Mesum!" sewot Tiara segera menutupi tubuhnya dengan jaket Rafkha yang sejak pagi ia pakai.


"Loe yang mancing, dasar nakal!"

__ADS_1


Gibran menghela nafas panjang melihat perseteruan adik dan sepupu yang saling berbisik tetangga, bukan memberi solusi justru asik sendiri.


"Turun Ra! loe Ceng three sama Lily dan Aara aja. Biar gue ikut kak Rafkha." Tanpa berpikir panjang Tiara pun segera turun tanpa melihat kearah Rafkha yang sudah pasti tidak akan mendapatkan ACC darinya.


Brian segera melajukan motornya lebih dulu dan pamit dengan yang lain, Zea pun hanya menatap Rafkha dan Tiara bergantian dengan tatapan yang sulit di mengerti.


Kemudian ciwik-ciwik berjalan lebih dulu lalu Rafkha dan Gibran mengikuti dari belakang. Mereka melaju dengan kecepatan sedang dan berhati-hati. Setelah menempuh perjalanan 30 menit akhirnya mereka sampai di kediaman Andika dengan di sambut si pemilik rumah yang sudah tiba dari Surabaya.


"Papah ....!"Tiara turun dari motor Aara dan berlari mendekati Andika yang sudah berdiri di halaman rumah. Menyambut anak-anaknya pulang dengan senyum hangat yang ia berikan.


"Putri Papah, kangen banget ya sama Papah .." Andika membalas pelukan Tiara yang begitu manja, kemudian mengusak rambut Gibran yang berdiri di sampingnya.


"Ayo masuk, ada oleh-oleh dari Oma dan Opa. Di dalem juga Tante Erna sudang memasak. Kalian sudah lapar kan? lupakan sejenak masakan mommy kalian yang tak seberapa itu dan rasakan nikmatnya masakan istri Om!" ucap Andika bangga dengan merangkul Tiara dan mengajak mereka masuk.


"Setidaknya masakan mommy masih berasa garam Om!" sahut Aara datar.


"Pantas Daddy kalian semakin lama perutnya buncit, ternyata isinya air!" celetuk Andika. "Sayang anak-anak sudah pulang, sudah matang belum masakannya?" seru Andika mengajak semuanya ke meja makan.


"Sudah donk..."


"Mamah...." Tiara segera berlari mendekati Erna dan memeluk dan Gibran pun berjalan mendekat lalu mengecup kening mamahnya.


Sudah menjadi pemandangan yang biasa jika Tiara begitu manja dan tak mengherankan. Semua sudah berkumpul di meja makan dengan hidangan yang telah di sajikan.


"Woooww ada udang, cumi cah kangkung. Sudah kayak di restoran Tan!" Aara begitu antusiasnya dengan cepat ia menyendok nasi dan lauk yang ada di sana.


"Loe udah kayak baru nemu makan dech kak! dan itu Omg...... pusing gue liat tingkah kakak gue sendiri!" celetuk Lily dengan menggelengkan kepala. Memang sudah biasa Aara seperti itu tapi khusus hari ini ia rasanya ingin menyentil tangan Aara yang tidak di cuci terlebih dahulu dan makan tanpa sendok.

__ADS_1


"Enak Ly, habis buat ngupil!"


"Jorok!" seru semuanya dan segera meminta Aara untuk pergi cuci tangan.


__ADS_2