
Mata Tiara perlahan terbuka, mulai menyesuaikan dan menatap wajah yang tak asing baginya, tetapi merasa heran dengan posisi dan dada bidang yang tak berbalut sehelaipun. Tak hanya itu tatapannya berkabut dengan suara yang begitu berat. Jeritan Tiara terputus ketika benda kenyal begitu menuntut membekap bibirnya.
Lumaaatannya begitu menuntut hingga terbuai dan ikut melawan. Keduanya saling membelit, merasakan hawa yang semakin panas. Apa lagi kulit keduanya menempel menambah gairah semakin besar dan Rafkha tak mampu menahan. Tangannya masuk menelusup ke belakang leher Tiara, menekan tengkuk memperdalam hingga terlepas saat nafas Tiara tersengal.
Nafas Rafkha memburu dengan hembusan menyapu wajah Tiara, tatapan sayu menghanyutkan dan membuat keduanya kembali melakukan hal yang sama. Mengulang kembali manisnya sesuatu yang membuat rindu. Hingga Tiara tersentak saat tangan Rafkha mulai menelusup di punggungnya dan mengikis jarak.
"Kak ..."
"Please, hanya ini cara kita buat bersama sayang. Percaya sama gue, kita lakukan pelan-pelan dan jangan mengkhawatirkan apapun." Rafkha dengan suara serak memohon pada Tiara, dia yang hanya ingin mencari cara untuk menggagalkan rencana perjodohan tapi merasa tergoda setelah keduanya dalam keadaan hampir naked.
"Gue takut kak, gimana sama sekolah gue? gue baru kelas dua, kalo hamil gimana?" Tiara tampak ketakutan dan sangat takut jika sesuatu hal buruk menimpanya walaupun ia akui, dirinya pun menginginkan. Terlebih posisi Rafkha yang masih menindih di atas tubuhnya. Wajah yang tampan dengan tubuh menggoda, bohong jika Tiara tak terbuai. Apa lagi rambut yang acak-acakan membuat pesona Rafkha bertambah berkali-kali lipat.
"Tapi gue nggak mau loe di miliki siapapun, loe milik gue dan ini cara menggagalkan semua. Gue cinta sama loe Tiara, please...."
"Kak.." Tiara menggelengkan kepala, ia benar-benar menolak hingga Rafkha pun pasrah. Mungkin benar kata Tiara, cara lain tak harus merusak masa depan keduanya. Rafkha pun menganggukkan kepala, ia mengecup kening Tiara dan menatap wajah cantik tersenyum manis.
" Maaf..." lirih Rafkha kemudian mengecup pundak polos Tiara membuat gadis itu membuang muka merasakan pipinya begitu panas dengan desiran di dada yang membuat dirinya semakin ingin. Tapi harus di tahan karena belum waktunya dan belum ada ikatan pernikahan.
Rafkha tersenyum tipis, ia mati-matian menahan hasrat walaupun di bawah sana sudah sejak tadi mendesak hingga kepalanya ingin pecah.
"Kenapa, hhmm? kamu sexy sayang...." lirihnya membuat tubuh Tiara meremang. Dan memejamkan mata saat Rafkha menjelajahi lehernya.
"Udah kak, nanti ada setan' lewat jadi khilaf. Minggir kak!" Tiara mendorong tubuh Rafkha yang kini wajahnya tampak memerah.
Rafkha pun segera minggir dan menjauh, dia berdiri di depan jendela dengan menatap pemandangan malam. Rafkha nekat membawa Tiara pulang ke apartemennya, belum ada yang tau tempat itu. Hanya dia dan Brian. Itu pun karena Brian melancarkan aksinya untuk menculik Tiara.
Melihat perubahan di wajah Rafkha setelah penolakannya tadi membuat Tiara tak enak hati. Ia segera turun dari ranjang dengan membungkus tubuhnya dengan selimut dan berjalan mendekat memeluk Rafkha.
Rafkha melirik tangan yang melingkar di pinggulnya, tapi belum ada niatan untuk kembali membuka suara. Ia ingin tau apa yang akan Tiara ucapkan setelah ini dan berusaha bersabar tak berbalik badan dan membalas pelukan walaupun di hati begitu gemas.
__ADS_1
"Kak.....loe marah?" Tanyanya tetapi hingga berapa menit tak kunjung ada jawaban.
"Loe nggak mikir gimana gue kalo loe udah tunangan sedangkan kita sudah melakukan? loe nggak kasian sama gue kak? loe bisa aja celup sana sini tanpa ada bekas, tapi gue? apa iya karena cinta gue harus bongkar muat?"
Rafkha merasakan punggungnya basah oleh air mata Tiara. Rafkha segera membalikkan tubuhnya dan menatap wajah cantik yang kini sembab karena banyak menangis. Kemudian memeluknya erat dengan mengecup keningnya berulang kali.
"Maaf..."
" Gue bakal ikhlasin kak."
"Nggak!" Rafkha menggelengkan kepalanya dan segera menatap wajah Tiara. "Kita berjuang bersama, kalo loe nyerah, gue perkosa loe sekarang juga!" gertak Rafkha membuat mata Tiara melebar.
"Kak!"
"Gue nggak peduli!" sentaknya.
"Loe egois kak! loe nggak mikir pandangan semua orang sama gue bagaimana nantinya. Loe cuma mikir diri loe sendiri!" ucap Tiara tak kalah tinggi. Keduanya saling menatap dengan emosi yang meluap, saling beradu pandang hingga Rafkha mengikis jarak.
Rafkha segera melangkah meninggalkan Tiara dan mengambil kaos serta jaket lalu keluar dari sana.
Dan malam ini Rafkha kembali membawa Tiara ke apartemennya yang lebih aman dari pada harus melihatnya menangis di tepi jalan. Tiara masih saja menangis hingga Rafkha sejak tadi menahan rasa kesalnya dengan mengepalkan tangan.
Sesak rasanya mengetahui fakta yang sebenarnya, apa lagi saat ini Rafkha harus kembali melihat Tiara terluka batinnya. Dipelukannya Tiara terisak hingga mata membengkak, sejak tadi Rafkha pun hanya bisa mendekap dan dekapan menjadi begitu erat saat Tiara terisak begitu kencang.
Hingga kini suara Isak berganti dengan suara dengkuran halus menandakan kelelahan yang di rasa. Tiara tertidur di pelukan Rafkha. Membuat pria itu bisa bernafas lega dan berharap besok Tiara bisa lebih kuat setelah menangis hingga lelah.
Rafkha beranjak setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh Tiara dan meninggalkan jejak sayang di keningnya. Dia keluar kamar menghubungi untuk Brian yang sejak tadi menelponnya tetapi belum sempat ia angkat.
"Loe dimana bro?"
__ADS_1
"Apartemen, bagaimana dengan mereka?"
"Sudah pada pulang, tapi om Andika dan Tante Erna nyariin Tiara. Calon lakinya juga."
"Tiara cuma milik gue!"
"Iya atur aja udah, sabar ya....kasian Tiara."
"Jadi benar?"
"Hhmm...."
Rafkha tak berniat meneruskan panggilan, matanya terpejam merasakan sakit saat apa yang ia pikirkan benar adanya. Rafkha menoleh ke arah Tiara yang sudah nyenyak meskipun masih terdengar Isak lembut dari bibirnya.
Hingga pagi keduanya tertidur nyaman dengan saling berpelukan, sepanjang malam Rafkha tidak membiarkan Tiara sendirian. Ia terus mendekap karena takut jika di saat gadis itu terjaga lalu memutuskan pergi begitu saja. Rafkha tak ingin terjadi sesuatu dengan Tiara apa lagi harus kehilangannya.
"Eugghhhh....." Tiara membuka mata, menatap wajah tampan dengan lingkar hitam di bawah mata. Tangannya terulur mengusap rahang tegas milik Rafkha, kemudian mengecup bibir dan segera beranjak dari sana.
"Mau kemana?" Rafkha kembali mengeratkan pelukannya, menahan pergerakan Tiara hingga gadis itu tak bisa bergerak.
"Mau ke kamar mandi kak," lirihnya dan Rafkha melepaskan setelah mengecup pipi Tiara.
Tiara keluar dengan pakaian yang sama tetapi rambut terbungkus handuk. Gadis itu duduk di samping Rafkha yang telah menyiapkan sarapan dan segera meminum susu buatan Rafkha.
"Aku nggak nyangka kalo kakak bisa nekat. Tapi aku bersyukur dengan itu aku tau posisi aku di keluarga kita."
Rafkha menggenggam jemari Tiara dan menatapnya lekat. "Apapun yang terjadi, jangan merasa sendiri. Ada gue yang sayang sama loe, kita lalui sama-sama ya."
"Tapi kita sudah_"
__ADS_1
"Ssstttt......loe tetap kekasih hati gue, sampai kapanpun!" Rafkha menutup bibir Tiara dengan jari telunjuknya dan membawa gadis itu kedalam pelukan.
"Ayo kita pulang kak, gue mau tau siapa gue sebenernya."