
Pagi ini Tiara bangun terlambat, efek semalam sulit tidur karena banyak yang di pikirkan membuatnya kesiangan. Sudah setengah jam lamanya Wahyu menunggu sambil menyeruput kopi buatan Bibi. Wahyu menghela nafas berat dengan mengecek jam berulang kali. Sepertinya keduanya akan datang terlambat di meeting pagi ini.
Tiara buru-buru melangkah menuruni tangga, ia benar-benar di buat repot pagi ini, beruntung sudah menyiapkan semuanya sejak malam dan sekarang tinggal bersiap dengan cepat.
"Ayo Yu!" ucapnya dengan melangkah terburu tanpa menoleh ke arah Wahyu yang menyempatkan menghabiskan kopi sebelum beranjak pergi.
"Tidur jam berapa sich Ra? sampe bangun kesiangan," Wahyu menggelengkan kepala menatap Tiara yang sibuk merias wajahnya. Rambutnya masih terpasang rollan yang belum sempat ia buka.
"Fokuslah agar kita bisa cepat sampai!" Bukannya menjawab Tiara malah bertitah. Ia lebih memilih fokus dengan dirinya yang belum rapi dari pada bercerita dan akan membuat keduanya semakin terlambat.
Keluar dari mobil dengan langkah tergesa, Tiara pun sudah cantik dengan tampilannya yang serba buru-buru. Tak heran jika Wahyu pun begitu mengagumi dan mengulum senyum menatap wajah panik Tiara yang menggemaskan.
Tepat di restoran hotel tempatnya kemarin meeting, Rafkha menatap dua orang yang berjalan mendekat. Sudah hampir satu jam ia di buat menunggu dan sudah menghabiskan satu cangkir kopi lalu kini tengah sarapan sambil menunggu keduanya datang.
"Maaf Pak kami terlambat dan maaf telah menunggu lama," ucap Tiara sopan dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Silahkan duduk Bu Tiara, Maaf Pak Rafkha tengah sarapan terlebih dahulu karena tadi terlalu pagi datang tapi ternyata anda belum tiba." Pak Saka mempersilahkan keduanya untuk duduk dan memesankan minuman hangat.
Rafkha tampak santai menghabiskan sarapannya dengan sesekali memfokuskan diri pada ponselnya. Seperti tak memperdulikan kliennya yang diam memperhatikan. Ntah di sengaja atau tidak sudah hampir setengah jam Tiara dan Wahyu di buat menunggu, hingga Rafkha selesai menghabiskan sarapannya tetapi tak segera memulai meeting.
Tiara pun tampak gelisah, ia jengah melihat Rafkha yang begitu santai dengan mata fokus pada ponsel dan hanya diam tak kunjung membuka suara. Tiara dan Wahyu saling bertatapan kemudian segera membuka berkas yang akan di bahas.
__ADS_1
"Bisa di mulai Pak, ini berkas proposal yang Bapak minta semalam." Wahyu menyodorkan beberapa berkas pada Rafkha namun tidak lekas di terima, kemudian Pak Saka yang melihat atasannya tak peduli segera meraih berkas tersebut lalu membacanya. Ntah sedang sibuk apa Rafkha dengan Ponselnya namun membuat Tiara kesal. Wanita itu berusaha diam memperhatikan tanpa ingin menegurnya lebih dulu.
Wahyu pun segera membuka laptop dan menjelaskan cara kerja serta beberapa point penting yang harus di sampaikan sebelum pengerjaan proyek di mulai. Dengan jelas dan berurutan Wahyu menyampaikan agar kliennya dapat menangkap gambaran yang telah ia dan Tiara buat untuk pelaksanaan Proyek yang minggu-minggu ini akan segera di mulai pembangunannya.
"Jika pikirannya di tempat lain sebaiknya tidak usah datang dan biarkan semua di handle dengan asisten anda dari pada sikap anda hanya membuat orang kecewa." Tiara akhirnya membuka suara setelah Wahyu selesai menjelaskan namun tetap tidak ada tanggapan dari Rafkha dan masih saja fokus pada ponselnya ntah apa yang ia lihat namun membuat Tiara naik darah atas sikapnya yang begitu datar dan seakan tak peduli.
Wahyu terkejut dengan teguran tegas yang Tiara layangkan, mencoba untuk menenangkan hati Tiara dengan mengusap punggung tangan wanita itu. Wahyu bahkan tidak peduli dengan sikap cuek Rafkha yang terpenting Pak Saka mengerti dan nanti biarkan beliau sendiri yang menjelaskan pada atasannya. Namun berbeda dengan Tiara yang nampak tersinggung dengan sikap Rafkha.
Rafkha mendongakkan kepala menatap wajah Tiara yang nampak kesal, senyum tipis terukir di wajahnya tetapi tak ada yang tau selain Tiara karena sudah hafal betul dengan setiap gerak gerik pria itu. Saling menatap dalam dengan saling memancarkan pancaran emosi di mata masing-masing.
"Anda keberatan saya datang? apa terlalu mengganggu dan merasa terancam akan kehadiran saya?" Tanya Rafkha dengan tatapan datar dan sikap dinginnya.
Tiara menghela nafas berat, tersenyum getir menatap tak percaya dengan sikap pria yang ada di hadapannya. Tak ada niat Tiara ingin menjawab dan memilih segera beranjak dari sana untuk pergi dari pada membuang-buang waktu.
"Aku pikir percuma kita menghabis-habiskan waktu jika tak di terima dengan sikap baik dari lawan bicara kita. Lebih baik kita ke kantor karena banyak yang harus di kerjakan dari pada meeting tidak ada kejelasan seperti ini!" Tiara segera melangkahkan kakinya membawa kemarahan yang menyesakkan dada. Tak peduli Wahyu yang masih diam bingung bagaimana bersikap karena menurutnya Tiara tak seharusnya marah dan bisa sedikit sabar karena sikap klien satu dengan yang lainnya tidaklah sama.
"TIARA BARATAJAYA!"
Langkah kaki Tiara terhenti mendengar seruan dari orang yang dulu begitu dekat dengannya. Mendengar namanya di panggil dengan nama keluarga Baratajaya di belakangnya. Apa mungkin Rafkha masih menganggapnya seorang istri setelah fakta yang ia tau kemarin. Dadanya naik turun menahan sesak yang begitu menyakitkan.
Tak hanya Tiara yang terkejut, Wahyu dan Pak Saka pun ikut terkejut mendengar seruan itu keluar dari mulut pemilik nama tersebut. Ditambah lagi kini Rafkha berjalan mendekati Tiara dengan hanya berjarak beberapa centi saja. Membuat keduanya penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Rafkha lirih membuat Tiara memejamkan mata. "Tidak ada yang ingin di jelaskan Tiara?" tanyanya lagi.
Tiara masih saja terdiam tanpa mau menoleh ke belakang, dia masih tidak mengerti dengan apa yang di maksudkan Rafkha dan memutuskan untuk kembali melangkah meninggalkan Rafkha.
"Apa begitu caranya bersikap dengan suami?"
deg
Jantung Tiara seakan ingin lepas karena debarannya yang begitu cepat, langkahnya terhenti seiring dengan pertanyaan yang membuatnya ingin menertawakan dirinya sendiri. Tiara menarik nafas dalam sebelum membalikkan tubuhnya dengan tersenyum miring.
"Anda berbicara dengan saya? Apa setelah bertahun-tahun tak ada kabar, menghilang begitu saja, masih bisa di anggap suami?" Tiara melangkah mengikis jarak dengan senyum getir yang tak surut dari wajahnya.
"Lalu apa sudah benar cara anda bersikap pada istri anda?" tanya Tiara lagi.
Rafkha menghela nafas berat dan terus menatap Tiara dengan lekat, "bagaimana aku harus menyikapi istriku yang terang-terangan dekat dengan pria lain? sudah bertahun-tahun aku menunggu kesadarannya namun seakan percuma. Lalu bagaimana caraku menegurnya? sedangkan aku tidak bisa bersikap kasar padanya, hmm? Tapi sampai sekarang keduanya masih begitu dekat bahkan sesuka hati menyentuh milikku di depan mataku sendiri!" tegas Rafkha membuat Tiara tertegun kemudian melirik Wahyu yang kini menyimak percekcokan keduanya dengan raut wajah terkejut.
Bagaiman Wahyu tak terkejut, jika wanita yang bersamanya saat ini ternyata istri orang. Bahkan Wahyu seakan tak percaya padahal beberapa tahun ini sudah begitu dekat tetapi masih kecolongan. Lalu kapan keduanya menikah.
"Aku masih bisa menjaga hati ku sampai saat ini dan hubungan kami hanya sebatas sahabat, tidak seperti anda Bapak Rafkha yang terhormat, semudah itu memutuskan untuk menikah lagi. Jika seperti itu saya tunggu surat cerai kita secepatnya!" ucap Tiara dengan lantang, "Wahyu ayo kita kembali ke kantor!"
Rafkha mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras, apa lagi Tiara meminta Wahyu untuk segera kembali ke kantor dan memutuskan untuk meninggalkannya begitu saja sebelum menyelesaikan masalah.
__ADS_1
"Jangan bermimpi ingin bercerai dari ku Tiara! You're mine adik nakal!"