YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Si Joni Makin Berotot


__ADS_3

Kedua insan yang saling memadu kasih dan mulai akur setelah perdebatan yang terus berlangsung. Ada saja yang di permasalahkan di sela-sela kemesraan yang mulai timbul. Beruntung dengan sabar Rafkha menjelaskan dan berusaha untuk terus mengerti jika sang istri hatinya masih sulit menerima.


"Aku menginginkanmu sayang, sudah lama aku menahan. Bolehkah malam ini aku buka puasa?" lirih Rafkha saat memberikan kesempatan untuk Tiara mengambil nafas banyak-banyak. Memperhatikan wajah merona dengan nafas yang tersengal.


"Bagaimana jika aku menolak?"


Rafkha menghela nafas berat dan kembali memeluk Tiara, menyatukan kedua dada yang polos kemudian menekan dengan gemas.


"Kak!" pekik Tiara saat merasakan dekapan Rafkha begitu kencang.


"Sayang kalo nolak dosa loh! kamu nggak dengar kata Pak ustadz, istri tidak boleh menolak keinginan suami." Bisa-bisanya Rafkha mengingatkan masalah ranjang dengan membawa-bawa Pak ustadz, lalu bagaimana dengan dirinya yang sengaja tak memberi kabar bertahun-tahun. Apa minta di getok kepalanya oleh Pak ustadz.


Tiara pun menatap jengah pria yang kini sedang membujuk rayu, ingin rasanya ia menggigit lidah pria itu. Tetapi ia tau jika hal itu ia lakukan sama saja ia bunuh diri. Dan memberikan kesempatan Lebih pada Rafkha yang sedang di landa birahi.


"Lalu bagaimana dengan anda bapak? apa kah anda tidak dosa selama bertahun-tahun mengabaikan istri. Itu sama saja anda tidak menafkahi dan kita bubaran!" ucap Tiara mengingatkan, ntah ia pun tak tau kebenaran ucapannya, hanya ingin mengimbangi Rafkha yang berucap dengan membawa-bawa Pak ustadz. Beruntung tak di sebut nama, jika ia pasti kini Pak ustadz tersebut sedang tersedak karena di bicarakan oleh mereka.


"Sayang....aku kan udah minta maaf. Sudah menjelaskan juga. Aku lagi nggak bisa di ajak berdebat atau berbicara banyak lagi. Pusing kepala aku sayang!" rengek Rafkha.


Tiara tercengang melihat sikap Rafkha yang begitu manja, hilang sudah sikap datar, dingin, dan si tegas Rafkha Putra Baratajaya pemilik Perusahaan yang sedang meroket. Dan Tiara pun heran dengan sikapnya yang jauh dari empat tahun yang lalu.

__ADS_1


"Eh .." Tiara kembali tersentak saat Rafkha tiba mendekat dan menyesap begitu kuat seperti bayi yang seharian di tinggal pergi oleh ibu nya ke pasar. "Kakak!"


Rafkha tak perduli, kebanyakan mikir membuatnya semakin pusing. Tak hanya kepala atas yang ingin pecah bawah pun rasanya ingin meledak.


Tiara akhirnya pasrah juga, memberontak sudah tak bisa karena gerakan Rafkha begitu cekatan dan tak bisa di sudahi jika sudah seperti ini. Ia pun sebenarnya menginginkan, namun menolak karena masih kesal. Tapi tubuh dengan cepat berinteraksi dengan baik hingga kini keduanya sudah polos dan Rafkha mampu menguasai tubuh Tiara kembali.


"Indah sangat mempesona, aku merindukanmu sayang. Sudah banyak perubahannya sekarang. Pantas saja mata pria semakin jelalatan. Kamu betul-betul menggoda," ucapnya dengan suara berat kemudian mengecup bibir Tiara semakin liar.


"Kakak! kenapa si Joni makin berotot gini! Kakak ajak senam terus ya? Oh ya ampun kak....aku takut lihatnya. Ia seperti master sekarang. Pasti sangat sakit, aku kok ngeri sendiri kak, dia terlihat garang." Tiara bergidik ngeri ketika sadar si Joni menantang seperti ingin menerkamnya bulat-bulat. Mungkin jika ada mata, si Joni saat ini sedang menatap tajam dengan air liur yang sudah ingin menetes.


"Dia tampilannya aja garang sayang, tapi jinak kok. Masih cupu dan belum banyak masuk, kan kita terhalang jarak dan waktu. Makanya jangan kelamaan di lihat biar cepet akur seperti dulu."


"Kakak, kenapa sakit sekali! ini seperti waktu itu, si Joni benar-bear minta aku plontos abis ini!" pekik Tiara tak tertahan karena si Joni yang menerobos tanpa aba-aba.


Namun pesona si Joni memang bukan kaleng-kaleng, sekali masuk mengobrak-abrik dengan rasa yang membuat Tiara terlena dan mendesaah hebat di bawah kukungan Rafkha yang bergerak penuh semangat.


Buka puasa yang sangat melenakkan, melebur jadi satu dengan peluh yang membasahi tubuh. Tiara sampai lupa dimana dirinya saat ini. Merasa asing di awal namun karena interaksi keduanya membuat Tiara lupa dan kini begitu menikmati permainan yang hampir terlupakan.


"Benar-benar Maco laki gue! fitnes terus kali ini ya...pelukable banget pokonya."

__ADS_1


Keduanya saling mendamba dalam hati dan melampiaskan dengan sentuhan yang memberi getaran tersendiri. Hingga sama-sama sampai di titik yang di tuju. Dan Tergeletak dengan saling menatap langit-langit kamar.


Tak lama Rafkha pun kembali mendekap tubuh Tiara, menyanjung dan mengucapkan terimakasih berulangkali. Mengecup kening dengan sayang dan tersenyum hangat menatap wanita yang kini terkulai lemas.


"Laper kak...." rengek Tiara tanpa membuka mata, perutnya baru terasa perih setelah tadi di kuras habis oleh Rafkha. Cukup kuat juga mengimbangi padahal sejak pagi belum makan.


"Mau makan apa sayang, biar aku pesankan."


Perlahan mata Tiara terbuka, menatap Rafkha dengan lekat. Ia baru teringat jika sejak tadi Rafkha tidak bilang keduanya ada di mana. Saking lelapnya tertidur sampai tak tau Rafkha membawanya kemana.


"Memang saat ini kita ada dimana sich kak?"


"Kita sedang di hotel sayang," jawab Rafkha kemudian meraih telepon yang ada di atas nakas dan segera memesan makanan.


"Hotel? bisa-bisanya kakak bawa aku kesini. Sepertinya memang niat sekali ingin meniduriku!" Tiara menggelengkan kepala dengan mata mulai kembali terpejam. Padahal jika ingin pun keduanya sudah kembali akur dan bisa saja melakukan di rumah.


"Hotel mana kak?" lirih Tiara yang kembali memejamkan mata. Namun tak sampai benar-benar terpejam jawaban Rafkha membuatnya kembali membuka mata bahkan sekarang membola sempurna.


"Hotel Bali."

__ADS_1


__ADS_2