
Tiara dan Rafkha kembali terbuai, di bawah rembulan keduanya saling menyesaap hingga terdengar suara decapan yang menambah gairah. Pasangan muda yang sedang di mabuk cinta saling mengungkapkan rasa. Dan semakin mengeratkan.
"Gue sayang sama loe..."
"Gue juga kak..." lidah keduanya kembali membelit hingga teriakan seseorang membuat gerakan terhenti, terdiam dan mencari suara tersebut.
"Woooooyyyyyy........udah Rafkha, dasar anak soang! adik loe berdua pada pengen noh!" seru Gibran dari bawah.
Tiara memejamkan mata bahkan saat ini ia tengah duduk jongkok karena malu. Ternyata sejak tadi keluarganya menonton dari dekat kolam renang. Para remaja begitu antusias mendapati tontonan gratis yang berisi edukasi sedangkan para orang tua tampak mengawasi.
Rafkha menghela nafas berat, ia menoleh ke arah Tiara yang diam menutupi wajahnya. "Ayo kita turun!" ajaknya lembut dengan berjongkok di depan Tiara.
"Malu kak!" rengek Tiara kemudian menubruk Rafkha.
"Nggak apa-apa sayang, ada gue. Ayo!" Rafkha menggenggam tangan Tiara dan mengajaknya turun ke bawah menemui semua keluarga. Tiara berdiri di belakang Rafkha, sempat melirik Papah Andika, Mamah Erna dan Ayah Tara nampak menatap tajam ke arahnya, sedangkan Andini dan Raihan justru nampak jengah melihat kelakuan anaknya yang main sosor saja.
"Enak Ra?" celetuk Aara dengan mengulum senyum dan mengintip Tiara yang belum mau keluar dari balik tubuh kakaknya.
"Banget lah, loe nggak liat sampe cepook-cepook!" sahut Lily menarik atensi para orang tua dan membuat Tiara semakin mengeratkan genggaman pada Rafkha.
"Huussshh....ngomong apa kamu itu!" Andini menggelengkan kepala mendengar ucapan bar-bar putrinya.
__ADS_1
Rafkha menarik tangan Tiara dan memintanya untuk duduk, awalnya Tiara menolak karena masih malu dan takut. Tetapi panggilan dari Mamah Erna membuatnya segera berlari dan memeluk.
"Maaf Mah...." rengeknya.
"Nggak apa-apa sayang, mamah ngerti kalian masih muda. Godaan bergentayangan dimana-mana." Erna tersenyum menatap putrinya yang sangat ia rindukan. Tadi Erna sangat bahagia melihat Tiara datang tetapi begitu sedih setelah tau Tiara akan ikut dengan Ayahnya.
Rafkha berdehem meminta perhatian semua keluarga, ia menarik nafas dalam sebelum akhirnya membuka suara. Menatap satu persatu orang tua, memantapkan hati sebelum mengutarakan niatnya.
"Mah, Pah, Om, Tante, Oma dan Om Tara. Sebelumnya Rafkha minta maaf jika apa yang kalian lihat tadi membuat khawatir akan Tiara. Dan apapun yang selama ini Rafkha perbuat membuat kalian cemas. Lusa Rafkha akan pergi ke London untuk melanjutkan kuliah. Dan sebelum Rafkha berangkat, Rafkha ingin ijin menikahi Tiara."
"Wooooowwww........anak Sultan minta nikah besok gitu maksudnya? nggak mau kalah emang loe sama tahu bulat. Maunya dadakan aja!" celetuk Andika namun seketika berhenti setelah mendapat cubitan dari Oma.
"Dengarkan dulu! main potong aja...." sewot Oma membuat Andika meringis dan yang lain menahan tawa melihat ekspresinya.
"Bagaimana dengan Tiara, kamu akan berangkat lusa. Dan kemungkinan selama 4 tahun tidak pulang. Apa Tiara sanggup?" tanya Raihan, ia menatap Rafkha dan Tiara bergantian.
Tiara yang mendapat sorotan dari keluarganya segera melepas pelukan sang Mamah. Menoleh ke arah Rafkha, ia pun ragu akan itu. Menikah, sedangkan ia masih sekolah. Apa boleh begitu....Sedangkan ia melihat Bundanya begitu sulit menikah di usia dini.
Melihat anggukan dari Rafkha, Tiara kemudian menoleh ke arah Ayahnya. Ia tak mungkin mengambil keputusan sendiri. Ada ayah kandung yang harus ia mintai pendapat dan juga Andika sebagai Papah yang sejak bayi merawatnya.
"Ayah..." Tara menatap Tiara dengan senyum mengembang, ia pikir putrinya tak akan meminta pendapat darinya. Apa lagi kedekatan keduanya baru berjalan beberapa hari. Tetapi ia salah, Tiara menganggapnya ada.
__ADS_1
"Apa Rafkha serius? rumah tangga itu tidak mudah, harus ada pendewasaan diri untuk bisa menghadapi cobaan di dalamnya. Kalian masih sangat muda, apa lagi anak Om. Kamu tau sendiri bagaimana manjanya Tiara." Sebagai ayah Tara ingin yang terbaik untuk anaknya, memiliki menantu yang bersungguh-sungguh bisa menerima bukan hanya kelebihan tetapi kekurangan Tiara.
"Rafkha serius Om dan dengan terpisahnya kita nanti, itu akan Rafkha jadikan proses pendewasaan diri. Rafkha tau Tiara sejak kecil, kekurangan dia adalah kelebihan bagi Rafkha. Ijinkan Rafkha menikahi putri Om. Agar Rafkha tenang nanti disana Om. Rafkha juga nggak mau ambil resiko, Rafkha tidak ingin Tiara akan berpaling dengan yang lain jika kami berjauhan." Kali ini Rafkha benar-benar banyak bicara, dia tegas dan penuh Kesungguhan. Raihan sejak tadi diam menyimak tetapi cukup salut dengan kesungguhan hati Rafkha. Putranya sudah besar sekarang dan kini mengambil keputusan yang tidak bisa di anggap mudah.
Tara menganggukkan kepala " keputusan Om kembalikan lagi pada Tiara." Tara kembali menatap putrinya begitu pun Rafkha dan yang lainnya. Rafkha sadar ada keraguan di mata Tiara, tetapi ia berharap Tiara mau menerima.
"Papah...."
"Anak gue, sini sayang...." Andika meminta Tiara mendekat, mengusap lembut kepala putrinya dan menatap serius kearahnya. "Tiara meminta pendapat Papah?" tanyanya dan mendapat anggukan dari Tiara.
"Kalo Papah, Tiara harus tanya sendiri pada hati kamu. Sudah siapkah menjadi istri Rafkha? sudah siapkah menjaga Marwah kamu sebagai istri nantinya? Rafkha jauh, dan kamu harus bisa menjaga diri dan menjaga nama baik suami. Apa kamu sanggup?"
Tiara menarik nafas dalam, ia berpikir keras. Ingin meminta waktu untuk berpikir pun tak mungkin karena semua harus serba cepat dan dadakan. Hatinya ingin, mau, dan ragu, tetapi melihat kesungguhan dan binar cinta dari mata Rafkha membuatnya tak bisa menolak. Dan benar kata Rafkha, ia pun harus bisa mendewasakan diri saat jarak keduanya jauh. Mungkin tak jadi masalah dengan sekolah karena status ada tapi suami kan jauh, otomatis tidak takut hamil.
"Tiara..."
Taira terkesiap, ia tersenyum menatap semuanya yang nampak penasaran menunggu jawaban. "Tiara mau, tapi jangan buat Tiara hamil dulu. Karena Tiara kan masih mau sekolah dan Tiara nggak mau kalo sampai anak Tiara nggak kenal bapaknya karena Papahnya nggak pernah pulang." Ucap Tiara polos dan jujur.
Mata Rafkha membola mendengar penuturan Tiara begitu pun yang lain, jawaban model apa itu. Gamblang sekali sampai urusan pribadi di bawa ke sini. Wajah Rafkha bahkan kini sudah memerah dan menunduk dengan geregetan. Ingin rasanya Rafkha membungkam mulut Tiara dengan gemas.
"Ehem...Tiara terima?" tanya Andika memastikan. Tiara menganggukkan kepala menyetujui membuat semua nampak lega. "Untuk masalah anak, Tiara bisa utarakan pada Rafkha nanti setelah menikah. Bukan di sini ya sayang."
__ADS_1
"Salah ya Pah?" tanyanya polos. "Kan Tiara cuma mau jujur, kalo Tiara..."
"Sayang!"