YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Ini Hati Bukan Kertas


__ADS_3

Tiara segera masuk ke dalam mobil di susul dengan Wahyu. Ia tak peduli dengan Rafkha yang begitu emosi di belakang sana. Hatinya begitu sakit setelah tau alasan di balik diamnya Rafkha selama ini.


Sampai di kantor Tiara segera masuk ruangan, ia tak memberi kesempatan sama sekali untuk Wahyu sekedar menanyakan kebenaran. Wahyu pun hanya bisa diam menghela nafas berat menatap punggung Tiara yang menghilang di balik pintu dengan menutup kasar.


Tiara menangis sejadi-jadinya hingga ia merasa lega, Rafkha benar-benar membuat luka menahun di hatinya dan kini baru ia tau penyebabnya. Marah, kesal, kecewa, namun masih sayang. Itulah yang di rasakan Tiara saat ini. Begitu sakit hingga melupakan rindu.


Sampai siang hari ia memilih diam di ruangannya tanpa memperbolehkan ada yang masuk. Sekalipun itu Wahyu yang ingin meminta tanda tangan tak kunjung Tiara hiraukan.


Setelah merasa pikiran dan hatinya membaik Tiara mulai kembali mengerjakan pekerjaannya, berusaha memfokuskan diri tak peduli sejak pagi belum ke isi makanan sama sekali. Tiara mengalihkan semua kesedihannya pada pekerjaan yang juga meminta perhatian.


Ia sudah tak ingin lagi memikirkan bagaimana hubungannya kelak. Nyatanya ia bisa bertahun-tahun sendiri tanpa adanya Rafkha dan bisa menahan rindu hingga tak terasa. Tiara bukan lagi gadis manja, ia kini menjadi wanita yang mandiri dan dewasa.


"Buka pintunya! kamu belum makan dari pagi!" telpon berdering dengan Wahyu yang sedikit kesal karena Tiara mengabaikan kesehatannya.


"Aku belum lapar, kamu kalo mau makan, makan aja!"


"Tiara! aku tau kamu lagi ada masalah tetapi tak begini caranya, bagaimana kamu bisa menghadapi suamimu itu jika kamu saja sakit hati dan sakit badan!" Wahyu sengaja menekan kata suami agar Tiara paham jika ia pun tau semuanya.


Tiara terdiam mendengar ucapan Wahyu dan segera menutup telponnya. Kemudian mengambil remote untuk membuka kunci ruangannya agar Wahyu bisa masuk.


Cklek

__ADS_1


"Makan dulu!" Wahyu melangkah masuk dan menuju meja sofa meletakkan paper bag yang berisi makanan yang ia beli tadi.


Tiara pun segera menghampiri dan ikut duduk di sofa memperhatikan Wahyu menyajikan makanan tersebut dan menyuapi Tiara tanpa berkata apapun.


"Kamu sudah tau semuanya?" bukan membuka mulut untuk menerima suapan dari Wahyu tetapi Tiara justru melempar pertanyaan padanya.


Wahyu menghela nafas panjang, ia meletakkan kembali sendok yang ia genggam dan menatap Tiara dengan lekat.


"Sejak kapan?" tanyanya mencoba bersabar meski hati kecewa, namun mau di kata apa. Jika memang hubungan mereka ternyata sakral dan Wahyu tak bisa seenaknya memisahkan. Ia akan menunggu keputusan Tiara selanjutnya, jika memang Tiara benar-benar melepaskan Rafkha maka Wahyu tak akan lagi membiarkan Tiara begitu saja. Ia akan menjadikan Tiara miliknya meskipun sedikit paksaan.


"Sejak aku kelas 3 SMA, sebelum aku memutuskan untuk pindah sekolah. Maaf aku tidak jujur selama ini sama kamu, bukan aku mau menutupi dan membohongi kamu. Tapi memang karena dia jauh dan tak ada kabar, aku pun bingung harus bagaimana menjelaskan."


Tiara menundukkan kepala, kembali teringat akan pernikahannya yang tak ada ujung pangkalnya. Wahyu yang mengerti akan posisi Tiara pun tak menyalahkan dan mencoba untuk memahami. Pria itu menggenggam tangan Tiara mencoba memberi ketenangan untuknya.


Wahyu memutuskan untuk keluar ruangan Tiara untuk kembali memberi ruang pada Tiara agar lebih nyaman. Namun langkahnya terhenti saat tiba-tiba pintu ruangan Tiara terbuka tanpa ada ketukan dari sebelumnya.


Rafkha menatap tajam keduanya bergantian, memang posisi keduanya tak dekat karena Wahyu yang telah beranjak dari sofa. Namun membayangkan keduanya dalam satu ruangan membuat Rafkha mengepalkan tangannya.


"Silahkan keluar dan tinggalkan kami berdua!" tegas Rafkha dengan menatap Tiara yang kini membuang muka.


Wahyu pun segera meninggalkan keduanya karena sadar akan siapa dirinya diantara keduanya. Dia paham keduanya butuh waktu untuk bicara dan ia pun tak ingin menghalangi.

__ADS_1


Rafkha melangkah mendekat namun dengan cepat Tiara beranjak dari sofa dan melangkah menuju kursi kerjanya. Niat hati ia ingin menghubungi bagian pengamanan agar segera datang dan membawa Rafkha keluar dari ruangannya, namun gerakan Tiara kalah cepat dengan Rafkha yang lebih dulu meraih lengannya dan menarik Tiara hingga menabrak dada bidang miliknya.


Keduanya saling memandang, bertatapan dengan lekat dan begitu dekat. Bahkan tak ada jarak karena tangan Rafkha memeluk pinggang Tiara dengan posesif.


"Mau apa?" tanya Tiara memberanikan diri, ia sempat terkesima dengan ketampanan suaminya kini, namun segera sadar dan berusaha tak terbuai.


"Mau kamu! aku sudah berusaha sabar Tiara, tetapi kalian semakin dekat. Setelah ini aku tidak akan membiarkan kamu dekat dengan pria manapun selain aku, mengerti!"


"Seenaknya kamu datang dan pergi sesuka hati, menghilang semaunya dan kini kembali tanpa peduli hati yang sudah kamu lukai. Gue kecewa Rafkha! Kenapa harus bertindak demikian tanpa bertanya hubungan apa yang terjalin! loe egois! loe nggak mikir hati gue selama ini! loe nggak peduli air mata gue tiap hari terbuang sia-sia karena mikirin loe kak!"


"Ini yang loe sebut pendewasaan diri, gue mau tanya sama loe! dari mana loe tau kedekatan gue sama Wahyu padahal gue nggak pernah nyinggung dia? dari mana? di situ gue sadar kalo gue nggak sebegitu berarti buat loe! di situ gue sadar kalo loe lebih percaya sama orang lain dari pada sama istri sendiri!" Tiara benar-benar emosi, ia meluapkan semua kekesalannya dan perasaan yang selama ini ia timbun sendiri.


"Dan sekarang gue menyerah, kenapa tidak sejak lama gue mundur. Cinta cuma buat gue bodoh, bertahun-tahun membuang waktu buat merindu, tetapi nggak ada arti apa-apa dan nggak mendapat apa-apa. Dan mulai sekarang, istri yang selama ini loe abaikan begitu saja meminta dengan hormat pada suaminya, Rafkha Putra Baratajaya untuk segera menceraikan saya!"


Rafkha menatap tajam Tiara, bahkan genggaman di pinggul Tiara berubah menjadi cengkraman yang membuat Tiara mendesis sakit.


"Sudah selesai bicaranya? atau ada lagi unek-unek yang belum keluar?"


Tak ada jawaban dari Tiara namun mata keduanya masih saling bersinggungan, sekuat tenaga Rafkha tak mengamuk dengan apa yang di ucapkan Tiara padanya. Meski amarahnya tak semua bisa ia redam karena tangannya yang tanpa sadar menyakiti Tiara tetapi ia tak mau menimpali ucapan Tiara.


"Dengar baik-baik! Tidak ada perceraian di antara kita, aku nggak akan biarkan milikku lepas begitu saja. Dan aku nggak akan membiarkan rasa ini hancur tanpa sisa," lirih Rafkha namun dengan kalimat yang tegas membuat Tiara tak mampu berkutik karena Rafkha pun semakin mengikis jarak.

__ADS_1


"Ini hati bukan kertas yang bisa kamu coret-coret dan jika penuh kamu buang begitu saja, lalu jika kembali membutuhkan kamu ambil lagi tanpa memikirkan bentuknya yang sudah tak lagi sempurna. Aku tetap pada pendirian aku, jika kamu tidak mau mengurusnya maka aku yang akan mengurus surat perce..mmpphhttt..."


Rafkha tak tahan lagi dengan semua ucapan Tiara yang keluar dari bibir tipisnya, saat nya ia bertindak membungkam dengan melumaaat begitu lembut dan menuntut.


__ADS_2