YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Dimana Ayah?


__ADS_3

"Bunda....." lirih Tiara dengan air mata yang tak dapat terbendung lagi. Disini ia melihat wanita yang melahirkannya begitu mengenaskan. Keduanya saling berpelukan dengan Isak tangis kerinduan hingga membuat semua ikut terharu dan ikut menitikkan air mata.


Tiara menangkup pipi tirus yang membuatnya tak sampai hati. Masih tidak menyangka wanita yang ada di depannya adalah ibu yang telah berjuang melahirkan dirinya. "Bunda....apa kabar?"


"Lebih baik setelah bisa memeluk kembali putri Bunda," lirih Cantika dengan senyum tulus tetapi menambah sesak di dada Tiara saat mendengar suara yang begitu lemah.


"Bunda, maaf Tiara baru datang. Aku baru tau jika aku bukan anak kandung Mamah, maafkan Tiara Bunda...... tapi setelah ini Tiara tidak akan meninggalkan Bunda lagi."


Ucapan Tiara membuat Erna terhenyak, berarti setelah ini Tiara tidak kembali ke Jakarta dan tidak ikut serta pulang bersamanya. Bagaimana dia bisa jauh dari putri yang sejak bayi telah ia asuh. Andika yang mengerti kesedihan Tiara segera memeluk Erna dan menenangkan istrinya agar lebih tenang dan ikhlas.


Cantika melihat ke arah Erna begitu sedih sedih setelah mendengar ucapan Tiara. Dia paham pasti berat berpisah dengan putrinya. Tapi dirinya pun ingin sebentar saja merasakan kasih sayang Tiara dan kelak akan mengembalikan putrinya di tempat yang seharusnya.


Tiara melirik bagian bawah tubuh Cantika, ntah apa yang terjadi tapi pemandangan ini sangat menyakitkan baginya. Hingga suara lemah bunda kembali membuatnya fokus akan wajah sendu itu.


"Apa Tiara malu memiliki Bunda yang tidak mempunyai kaki?"


Bukan hanya Tiara yang terkesiap dengan pertanyaan dari beliau tetapi semua yang sejak tadi menyaksikan pun ikut tersentuh. Andika yang sejak tadi diam segera menatap Cantika dan Tiara bergantian.

__ADS_1


"Apa ini alasan Bunda memberikan aku pada Mamah?" tanya Tiara ragu tetapi berusaha memahami keadaan walaupun hatinya sejak tadi hancur melihat kondisi Bundanya.


Cantika pun menganggukkan kepala dan tangis Tiara pecah dengan menutup wajahnya. Rafkha segara mendekat dan memeluknya, ia tau ini sangat tak mudah bagi Tiara. Dia pun tak menyangka jika gadis yang ia cintai harus menerima kenyataan sepahit ini.


Melihat perlakuan Rafkha pada Tiara membuat Cantika menatap Andika dengan heran. Walaupun ia tak pernah bertemu dengan keponakannya tetapi dia hafal betul karena Andika sering mengirimkan foto keluarga Andika dan Andini padanya. Andika yang paham akan itu hanya bisa menganggukkan kepala pasrah berharap Cantika bisa mengerti dan membantunya menyelesaikan masalah anak-anak mereka.


"Ssstt.....kuat sayang, ada aku oke! kamu nggak sendirian. Bunda membutuhkan semangat dan kamu harus bisa memberikan itu. Kasian Bunda sayang..." lirih Rafkha yang masih dapat di dengar oleh semuanya termasuk Gibran yang menatap jengah keduanya.


Rafkha segera merenggangkan pelukannya dan mengusap air mata Tiara. Perlahan ia mundur dan kembali memberikan ruang untuk keduanya berbicara. Tiara kembali menatap wajah Bunda dan menggenggam tangan beliau.


"Maafkan Tiara Bunda, Tiara hanya terlalu sedih melihat keadaan Bunda. Bukan karena malu, tapi masih sangat terkejut melihat Bunda seperti ini. Apa yang menjadi penyebabnya? dan kemana Ayah? Papah bilang kedua orang tuaku masih lengkap. Tapi sejak aku datang, aku tidak melihat keberadaan beliau. Apa Ayah pergi setelah tau keadaan Bunda seperti ini?"


"Ayah kamu tidak meninggalkan Bunda nak, Ayah kamu ada. Beliau tidak berada di rumah ini karena sedang menjalani suatu pembelajaran agar hidup kedepannya menjadi lebih baik lagi. Dan penyebab Bunda tak memiliki kaki karena Bunda mengalami kecelakaan saat ingin menuju rumah sakit ketika akan melahirkan kamu."


Cantika mencoba menjelaskan, dia berharap Tiara bisa berbesar hati menerima apa yang telah terjadi dengan kedua orangtuanya. Hingga kini mereka harus terpisah selama 20 tahun lamanya. Andai kejadian itu tak terjadi, mungkin mereka sudah bersama dan hidup bahagia. Bisa memberikan adik-adik yang lucu untuk Tiara agar ia tak sendirian.


"Maksud Bunda Ayah ada dimana? Tiara tidak mengerti Bunda. Kenapa harus jauh dari Bunda jika hanya ingin belajar lebih baik lagi. Apa Ayah tidak menyayangi Bunda?" Tiara masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Baginya ini terlalu rumit dan sulit ia pahami di saat pikiran dan hatinya sedang terguncang.

__ADS_1


"Tiara, sabar nak. Besok Papah akan mengajakmu untuk bertemu dengan Ayah kamu. Jadi biarkan Bundamu istirahat sayang. Ini sudah malam waktunya Bunda kamu minum obat dan beristirahat. Besok kita ngobrol lagi ya sayang. Pasti Tiara masih penasaran kan dengan apa yang terjadi selama ini?maka dari itu, bersabarlah nak!" Andika segara meraih tubuh Tiara dan membawanya keluar kamar. Sedangkan Oma dan Erna membantu Cantika untuk meminum obat dan beristirahat.


"Mbak, bagaimana Tiara bisa tau?" Cantika menatap wajah sendu Erna yang sejak tadi hanya diam dan menangis. Dia pun tadi cukup terkejut dengan kedatangan Tiara dan semuanya yang begitu mendadak namun bersikap biasa agar Tiara tak semakin bingung dengan semua yang ia lihat.


"Semua berawal dari perjodohan Zea dan Rafkha sebagai usaha memisahkan Rafkha dengan Tiara. Tetapi harus gagal saat kami melihat video keduanya tengah berada di kamar dan melakukan hubungan badan."


Oma dan Cantika menutup mulut mereka tak menyangka jika keduanya bisa melakukan demikian. Hingga Cantika menangis karena tak habis pikir mengapa bisa putrinya bertidak di luar batas.


"Itu bentuk dari penolakan Rafkha karena para orang tua yang tidak mau mendengarkan hingga mereka berbuat nekat. Dan berujung Gibran kelepasan mengatakan semuanya karena ia tak terima calon istrinya di rusak oleh Rafkha." Erna menghela nafas berat, dia pun malu karena sudah gagal menjaga Tiara. Akhirnya mereka mengerti penyebab utama rahasia keluarga itu terbongkar.


Pagi ini Tiara bersama dengan Raihan dan Andika sudah berada di suatu tempat dimana Ayah Tiara berada. Sempat Rafkha dan Gibran ingin ikut menemani tetapi karena perdebatan keduanya sejak pagi tadi membuat Andika dan Raihan tak memperbolehkan mereka ikut.


Dan kini jantung Tiara ingin terlepas saat melihat plang dengan pagar tinggi yang menjulang. Gadis yang baru menginjak umur 17 tahun ini begitu terpelanting mentalnya. Kenyataan apa lagi yang harus ia terima saat ini. Begitu banyak kejutan hingga Tiara seakan tak sanggup untuk berpijak.


"Masih ingin bertemu atau kita pulang sayang?" tanya Andika setelah mereka turun dari mobil. Andika tau putrinya begitu dilema dan itu membuatnya tak sanggup menahan kepedihan yang Tiara rasakan.


"Lanjut Pah, pertemukan Tiara dengan Ayah." Suara Tiara begitu lirih bahkan mendadak lemah. Dadanya begitu sesak dengan kemungkinan yang sudah di depan mata. Hingga Andika menggenggam tangan Tiara untuk memenuhi keinginan putrinya.

__ADS_1


Raihan pun mengikuti dari belakang, tak akan ada yang tega melihat wajah Tiara yang biasa ceria kini penuh dengan tekanan. Hingga kini Tiara terkesiap melihat pria yang datang dari dalam ruangan dengan menggunakan pakaian lapas.


__ADS_2