
Tiara terisak setelah mendengarkan cerita pilu rumah tangga kedua orangtuanya. Pengorbanan mereka mempertahankan dirinya hingga lahir ke dunia. Apa lagi Bunda yang rela jauh, menahan rindu, menahan rasa sakit dan kecewa demi dia agar bisa mendapatkan kasih sayang kedua orang tua yang utuh. Dan sang ayah yang harus menyakiti orang lain demi ia dan bundanya. Apapun tak dapat membalas kasih sayang keduanya, hanya doa agar keduanya sehat dan bisa terus membersamai mengganti waktu yang dulu.
"Bunda...." Tiara memeluk bundanya, haru melingkupi kamar itu. Mengundang tangis semua yang ada di sana. Perjalanan rumah tangga yang tak mudah. Tak ada yang tau pahitnya tapi mampu melewati dan memendam rasa sakit hingga saat ini.
Tiara terkesiap saat merasakan Bunda tiba-tiba mengalami sesak. Dirinya segera berdiri bingung dan tampak linglung. Ada dua dokter dan dua perawat datang mendadak. Tiara menatap semua yang tampak panik, tak ada yang mau menjelaskan. Disaat hanya dirinyalah yang tak tau apa-apa.
"Kak...." lirih Tiara menatap Rafkha. Meminta penjelasan atas apa yang terjadi namun Rafkha bungkam dan menarik tubuh Tiara ke dalam pelukan.
"Lepas kak! aku butuh penjelasan kak! bukan seperti ini, bunda aku kenapa? bunda aku kenapa!" sentak Tiara...."hiks....hiks ...bunda kenapa...." Rafkha mendekap erat, dia tak tau harus menjelaskan seperti apa. Tiara begitu terpuruk setelah tau semua yang terjadi pada kedua orangtuanya dan tak mungkin Rafkha menjelaskan yang sebenarnya. Belum sempat tangisnya reda ia harus melihat Tiara kembali terisak hingga tampak lemas.
Rafkha memejamkan mata, melihat Tiara yang berusaha berlari mendekati Bundanya yang kondisinya nampak melemah.
"Bunda..... Bunda kenapa? Bunda sakit? apanya yang sakit Bunda? Bunda harus kuat bunda...Tiara nggak akan kemana-mana, kita akan sama-sama. Dan Tiara yang akan merawat Bunda...hiks....hiks...."
Semua kembali menangis, Andika sejak tadi mendekap Erna yang tak kuat menatap keduanya Andini pun begitu. Oma tampak terpukul dan pasrah, jika memang sudah waktunya beliau ikhlas dari pada harus melihat Cantika terus menderita. Mungkin ia sudah tenang, bertemu dengan putrinya dan mampu menjelaskan sendiri. Namun bagaimana dengan cucunya yang nampak kalut, Oma menghela nafas berat. Beliau mengembalikan semua takdir pada sang kuasa, berharap yang terbaik untuk semuanya.
Dokter kembali memberi ruang untuk Cantika, mereka paham apa yang akan terjadi selanjutnya. Kondisi yang semakin memburuk dan jantung yang semakin melemah membuat kondisi Cantika hanya menunggu mukjizat datang.
"Maafin bunda nak, Bunda tidak bisa membersamai kamu. Tetapi bunda sudah sangat bahagia bisa bertemu kamu. Hiduplah dengan baik nak, Bunda percayakan semua pada Tiara. Karena Tiara yang akan menjalani hidup kedepannya. Dengan siapapun kamu akan melangkah, Bunda percaya pilihanmu yang terbaik."
__ADS_1
Tiara terisak dengan menggelengkan kepala, baru saja ia bertemu tetapi Bunda pamit ingin pergi. Tiara menatap bunda yang ingin memanggil Rafkha. Cantika tau siapa yang di cintai oleh putrinya dia pun tak memaksa jika kelak jodoh berkata lain.
"Rafkha....titip Tiara ya nak, Bunda percaya sama kamu. Tapi bunda juga tidak memaksa jika kalian kelak tak sejalan. Hanya bunda minta tolong jaga putri bunda hingga dia jatuh pada pria yang tepat."
Belum sempat Rafkha menjawab tetapi kondisi Bunda semakin melemah, tarikan nafas semakin berat dan menutup mata selamanya.
Dokter segera mengecek kondisi Cantika, mereka menghela nafas berat dan meminta maaf jika pasien sudah berpulang.
"Bunda....." teriak Tiara segera memeluk Cantika. "Bunda jangan tinggalin Tiara bunda...hiks....hiks.... Bunda bangun Bunda. Bunda jangan tinggalin Tiara Bunda! Bunda bangun!"
Dunia Tiara seakan runtuh, hujan pun menyambut kepergian Bundanya. Haruskah takdir hanya mempertemukan sebentar lalu memisahkan dengan cepat. Belum sempat Tiara membahagiakan, membuat tawa, dan membalas cinta Bunda. Tetapi takdir dengan cepat memisahkan dan Tuhan mengambil nyawa Bunda tanpa memikirkan hatinya yang pilu.
"Mamah, bunda pergi Mah...hiks....hiks...."
"Sabar nak, ini sudah jalannya. Kasian Bunda bertahun-tahun kesakitan. Ikhlaskan Bunda agar lebih tenang di sana." Andika pun segera memeluk Tiara, sejak datang putri kecilnya tak lepas dari air mata. Melihatnya membuat hati Andika teriris, dia yang sejak awal nampak pikiran dan begitu takut jika hal ini akan datang dan meruntuhkan hati putrinya.
Pemakaman segera di langsungkan, setelah di mandikan dan disholatkan kini saatnya jenazah Cantika di kebumikan. Di balik kaca mata hitam air mata Tiara terus mengalir, menatap liang kubur teruruk tanah dan papan dengan nama Cantika tertancap di kedua sisinya.
"Bunda...Tiara sudah ikhlas, tenanglah disana Bunda. Maaf kan Tiara yang belum sempat membahagiakan Bunda...."
__ADS_1
Acara tahlilan pun segera di selenggarakan, bada Isya rumah Oma tampak ramai dengan para tetangga, sanak saudara, dan kerabat yang membacakan doa. Tiara di dampingi oleh Aara dan juga Lily. Masih nampak kalut dan begitu pilu. Gibran dan Rafkha hanya mampu menatap dari seberang di barisan pria. Hingga acara selesai Tiara nampak diam tak bersuara. Andika datang mendekat, Lily pun segera memberi tempat dan memilih untuk berkumpul dengan yang lain.
"Sayang, putri Papah....Papah sedih melihat kamu seperti ini nak. Ikhlaskan ya sayang .... Masih ada Ayah Tara, Papah dan Mamah. Kami sangat menyayangi kamu."
Tiara menatap Sang Papah dengan wajah sendu, dia segera memeluk dan menangis di pelukan Andika. Menumpahkan kesedihannya pada pria pertama yang mendapatkan cinta di hatinya. Pria yang ia tau adalah Papah kandungnya.
"Pah, bagaimana jika Tiara tak ikut pulang ke Jakarta. Tiara mau disini sama Oma, menemani Oma. Juga biar dekat dengan makam Bunda dan mudah jika bertemu Ayah." Entah mengapa Tiara tak ingin pulang, kerunyaman yang ia dan Rafkha buat sebelumnya mungkin akan menghasilkan apa yang ia inginkan namun kini ia ragu. Apa lagi statusnya yang jelas hanya anak angkat. Dengan latar belakang anak Nara pidana membuat Tiara merasa tak pantas. Bukan di sana tempatnya. Bukan di tengah orang-orang yang memiliki nama baik. Bagaimana jika ada yang tau jati dirinya. Papah Andika pasti akan malu, begitupun dengan Mamah.
Tiara memejamkan mata dengan dada begitu sesak. Bukan hanya meninggalkan kedua orangtuanya tetapi juga harus meninggalkan Rafkha, menjauh dari orang yang sejak dulu selalu ada untuknya. Dengan Rafkha ia merasa sangat-sangat tak pantas. Apa lagi keluarga Baratajaya yang terkenal, terpandang dan terhormat. Akan jadi apa dirinya nanti, hanya memberi kotoran bukan menjadi kebanggaan.
"Tiara mau menjauh dari Papah dan Mamah?Apa Tiara sudah tak sayang lagi dengan Papah?" tanya Andika tak terima, tak mungkin bisa ia melepaskan putrinya yang sejak bayi tak pernah pisah. Selalu manja padanya dan kini ingin berjarak. Lalu bagaimana dengan Erna, wanita itu pasti sangat sedih jika harus jauh dari putri manjanya.
"Bagaimana dengan Rafkha?" jalan satu-satunya agar Tiara tak meninggalkannya adalah menyetujui hubungan Tiara dengan Rafkha. Jika memang harus seperti itu Andika tak mengapa, selama masih cucu Opa tak ada yang salah pikirnya. Asal Tiara tak jauh-jauh dari mereka.
"Tiara akan tetap di sini Pah, Tiara tidak ingin membuat keluarga Kak Rafkha malu. Kasian Om Raihan jika ada yang tau jati diri Tiara."
Andika menghela nafas berat, kenapa jadi seperti ini. Putrinya menjadi tak percaya diri karena sadar diri. Padahal Andika tak pernah berpikir jauh kesana. Apa kuat dan mampu jika harus berpisah.....Dan mengikhlaskan Tiara tetap tinggal. Awalnya Oma akan di ajak Andika ke Jakarta, tetapi Tiara yang ingin tetap disini tak mungkin Oma ikut serta. Jalan satu-satunya ada di Rafkha, Andika berharap Rafkha bisa membujuk Tiara agar ikut dan merestui keduanya. Karena mau bagaimanapun Rafkha harus bertanggung jawab akan apa yang di lakukan di Vidio itu bersama putrinya.
"Semoga ponakan gue nggak cuma handal di ranjang aja, tapi juga bisa di andalkan menggagalkan rencana Tiara. Kalo nggak bisa juga berarti di Joni cuma ngajak ribut doank!"
__ADS_1