
Di jam istirahat Rafkha dan Brian memutuskan untuk pergi ke roof top, keduanya terdiam dengan pemikiran masing-masing. Awalnya Brian mengajak bicara tetapi setelahnya tak lekas bersuara. Ntah ingin mulai dari mana Brian berucap tetapi cukup membuat pikirannya tak nyaman.
Deheman Brian membuat Rafkha menoleh ke arahnya. Dia tau Brian tak akan mengajak seserius ini jika tak ada yang penting. Rafkha pun tak memaksa jika ia belum mau berbicara. Hanya sedikit geregetan karna di jam istirahat ia tidak bisa bertemu dengan Tiara.
"Ck, loe udah tau kan kalo bakal di jodohin sama adik gue?" Brian akhirnya bersuara dan bertanya tentang apa yang membuatnya kepikiran.
"Hmm...tapi gue tolak." Rafkha kembali menatap ke depan dengan jawaban singkat membuat Brian kembali berdecak.
"Gue tau, tapi apa loe nggak cari tau atas dasar apa mereka menjodohkan loe dengan Zea? bahkan pertunangan kalian akan di laksanakan Minggu depan. Loe nggak curiga mereka tau kalo loe dan Tiara ada rasa?" Brian bisa bernafas lega setelah mampu mengatakan apa yang menjadi ganjalan di hatinya.
Kerena ia tak percaya jika alasan para orang tua hanya untuk menjadikan ikatan persaudaraan semakin dekat. Toh dari mereka belum jadi tunas, hubungan para orang tua memang sudah dekat. Karena yang Brian tau dari Papahnya jika trio soang memang sudah bersahabat sejak kuliah.
Rafkha menarik nafas dalam, dia pun tak memungkiri jika ada yang di tutupi. Apa lagi kepulangan Zea yang begitu mendadak. Jika memang memikirkan pelajaran seharusnya menunggu lulus sekolah barulah pindah. Kenapa di saat ia semakin dekat dengan Tiara, Zea datang dengan tiba-tiba. Apa mungkin Daddy menyadari akan perasaannya....
"Gue begini karena gue tau loe nggak suka sama adik gue dan gue nggak mau ada paksaan walaupun gue tau Zea suka sama loe. Gue sayang sama Zea, sebagai kakak gue mau yang terbaik buat dia." Rafkha kembali menoleh ke arah Brian, ia tau Brian sosok Kakak yang baik walaupun Zea tampak cuek padanya.
"Sorry, kalo gue nggak bisa terima adik loe. Gue cinta sama Tiara, Loe bisa bantu gue?" keduanya saling menatap dengan tatapan penuh makna dan senyum tipis penuh arti.
Rafkha bersyukur memiliki sahabat seperti Brian, dia menarik nafas dalam kemudian merangkul pundak Brian. Sejak dulu memang keduanya paling akur dan saling mengerti satu sama lain. Berbeda dengan Gibran, sejak dua tahun yang lalu bukan hanya hubungan Tiara dan Zea yang merenggang tetapi Gibran pun menjauh dari Rafkha dan Brian.
.
.
.
"Tumben kak Rafkha nggak ke kantin?" tanya Lily setelah menghabiskan makanannya. Entah bertanya pada Tiara atau Aara yang memang satu kelas. Tetapi Tiara tak ingin menjawab walaupun dia tau Rafkha saat ini ada dimana.
__ADS_1
"Tadi pergi sama kembarannya, entah kemana...." jawab Aara asal.
"Kembarannya loe kak!" Tiara menggelengkan kepala setelah mengingatkan Aara, memang terkadang Aara yang ucapannya paling tak bisa di telan masak-masak karena tingkat ngelantur melebihi dari dirinya.
"Lah gue mah punyanya Jini, kalo Kak Rafkha kan sama ama Brian punya Jono. Loe gimana sich pada, gue mah kembar tapi tak sama. Gue sama ma kalian berdua. Lagian kalo tuh geraga nempel di gue lah enak gue ntar!"
"Kak Aara! omongan loe bisa nggak sich serius dikit, haish....jadi pengen ketemu vampir gue nich jadinya!" celetuk Tiara. Namun sukses membuat kedua adik kakak itu menatapnya dengan tatapan berbeda. Dan Tiara hanya meringis menanggapinya.
Sampai di kelas pun Lily masih saja menatapnya dengan tatapan selidik, bahkan Tiara di buat tidak nyaman dan jengah dengan Lily yang nething walaupun memang menjurus ke sana.
"Loe mikir gue udah kenalan sama si Jono?" tanya Tiara yang kesal dengan Lily, karena hingga jam pulang sekolah Lily terus melihatnya dengan tujuan mengintrogasi tanpa perlu bertanya.
Tiara menggelengkan kepala kemudian menoyor kepala Lily dengan perlahan tapi cukup membuatnya oleng ke samping kanan. Dan Lily pun merengut karena hampir terjatuh jika tidak berpegangan meja.
"Otak loe ya! baru kemarin gue jadian ya kali gue udah keloonan! ya walaupun penasaran sama si Jono yang katanya gagah perkasa dan bikin adem panas."
"Lama loe!"
"Sewot aja dech loe! ayo balik. Kalo nggak ikhlas gue pulang naik taksi." Tiara dengan santai melanjutkan langkahnya melewati Gibran menuju ke halte sekolah. Berharap di panggil dan di minta kembali tetapi Gibran tak mencegah, dan membiarkan dirinya berjalan. Bahkan tak menyapa dan melewati begitu saja.
"Gibraaaaan! njir punya kakak satu aja nggak peka banget. Lama-lama gue tukerin loe sama abu gosok! mana mau hujan, Kak Aara sama Lily udah pulang. Nasib.....nasib.....mengapa begini......" Tiara menghentakkan kakinya dan melanjutkan langkahnya menuju halte. Tetapi belum sempat sampai di sana, sebuah taksi online berhenti di depannya dan membuka jendela.
"Neng Tiara ya?" seru sopir dari dalam mobil.
"Eh iya Pak. Ada masalah apa ya sama saya?" tanya Tiara dengan menundukkan kepalanya.
"Atuh nggak ada masalah neng, saya cuma mau angkut penumpang atas nama Tiara. Ini di aplikasi saya pesananya atas nama Gibran. Diminta mengantarkan adiknya pulang. Ayo atuh neng naik!"
__ADS_1
Tiara masih berpikir sejenak tetapi suara petir tiba-tiba membuatnya terjingkat dan segera masuk ke dalam mobil itu. Dan sopir segera melajukan mobilnya.
"Gibran....Kak..... Gibran!" seru Tiara saat sudah sampai di rumah, bahkan Erna di buat gemas dengan putrinya yang masuk tanpa salam dan tiba-tiba teriak-teriak membuat dirinya terkesiap saat di dapur menyiapkan makan untuk keduanya.
"Eh kalo naik tangga tuh jangan lari begitu Tiara! kamu ini..... "
"Oke Mah...."
Belum sempat Erna selesai bicara, Tiara segera memotong dan membuat ibu dua anak itu mengatupkan bibirnya.
"Gibran......Oy Gibran....." Tiara kembali berseru di depan kamar Gibran dengan tangan terus menggedor pintu kamar pemuda itu.
Cklek
"Woy berhenti woy!" teriak Gibran menghentikan tangan Tiara yang terus saja mengetuk dan kini mengenai hidungnya.
"Oh, udah keluar. Ngomong! diem Bae.....eh tapi makasih kakakku yang tampan sudah menyewakan taksi untuk adik tercinta." Tiara begitu manis berkata dengan wajah imut menggemaskan tetapi setelahnya Gibran di buat menganga dengan suara gertakan yang membuat dia menutup telinga. "Tapi bayarin Gibraaaaan....turun sekarang sopirnya masih nunggu di bawah! Loe yang mesen loe yang tanggung jawab!"
"Tiara suaranya harap di kondisikan ya, tetangga sebelah ada yang sekarat. Jangan aja kamu buat mati gara-gara denger teriakan kamu!" Erna berseru dari bawah membuat Tiara merengut kesal. Dan segera meninggalkan Gibran yang masih diam dengan kedua tangan di telinga.
"Ck.....mimpi apa gue......"
...🍀🍀🍀...
...Jangan lupa like coment dan vote...
...juga follow ig aku weni0192...
__ADS_1
...Makasih🤗🤗...