
Rafkha turun setelah Tiara menepikan motornya ke dalam pagar. Gadis itu tersenyum kemudian mengalihkan pandangan saat melihat mamahnya keluar rumah. Wajah kesedihan tampak jelas apa lagi Tiara dapat melihat pipi beliau masih basah.
"Mah..." rengek Tiara dan membentangkan kedua tangannya.
"Sayang...."
"Rafkha, kamu nekat nyari Tiara? bukannya kamu di rumah sakit?" tanyanya mendekati dan segara memeluk Tiara. "Makasih ya Raf sudah membawa Tiara pulang."
"Iya Tante..." jawabnya singkat dan terus melihat tingkah manja Tiara pada Erna.
"Mah, aku tuh masih inget rumah. Aku tadi juga mau pulang tapi kak Rafkha tau-tau datang."
"Kamu bikin panik orang tau nggak, kalo mau pergi tuh bilang jangan tau-tau kabur dari sekolah dan nggak ninggalin kabar. Untung belum papah sebarin brosur anak hilang." Andika ikut mendekat dan memeluk putrinya. Pandangan Andika beralih pada Rafkha. Melihat wajah ponakannya yang masih pucat.
Entah sudah berapa kali Andika selalu mengucapkan terimakasih pada Rafkha. Karena hanya dia yang bisa di andalkan setiap kali Tiara membuat ulah.
"Kamu selalu merepotkan kakakmu!" ucap Andika membuat Tiara melirik ke arah Rafkha.
"Maaf Pah.."
"Apa kamu tau, Rafkha sakit dan sempat membuat cemas semuanya tapi ada yang lebih membuat cemas selain itu. Ternyata kaburnya kamu masih menjadi tranding topik dalam keluarga kita. Besok lagi jangan seperti itu! kamu sudah berjanji dengan papah tak lagi membuat ulah. Jangan kabur-kaburan! Papah gantung kamu nanti di pohon pare jika itu terulang lagi."
"Siap komandan!" Tiara mengangkat tangannya dan memberi hormat pada Andika.
"Owh jadi udah ketemu nich bocahnya." Gibran datang dan menjewer telinga Tiara hingga gadis itu mengeluh kesakitan.
"Adududuh sakit kak!" keluh Tiara dan suara deheman dari Rafkha membuat Gibran melepaskan tangannya.
Andika dan Erna menatap Rafkha yang tak terima melihat Tiara di sakiti. Bahkan Gibran menatap jengah akan sikap Rafkha yang selalu memanjakan Tiara.
"Kantongin bawa pulang kak! bocah tengil begitu loe belain aja. Kawinin aja Pah sekalian!"
"Gibran!" bukan hanya suara Andika dan Erna yang menyentak, Rafkha juga dan itu membuat Gibran menatap tajam Tiara yang tersenyum penuh kemenangan.
"Males gue, masuk aja lah...." Gibran segera masuk ke dalam rumah meninggalkan semuanya. Sedangkan Andika dan Erna hanya bisa menghela nafas panjang. Rafkha pun menatap datar Gibran yang kembali melangkah masuk.
"Rafkha pulang Om!" pamit Rafkha, tubuhnya sudah ingin berbaring di ranjang dan ingin beristirahat. Andika melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah hampir tengah malam dan kondisi Rafkha sedang tidak baik-baik saja.
"Apa nggak sebaiknya kamu menginap di sini?" Andika tidak tega membiarkan Rafkha membawa motor sendiri.
__ADS_1
"Rafkha pulang aja Om, Tante..." ucapnya dan segera berjalan menuju motornya. "Gue balik dulu ya!" Rafkha tersenyum pada Tiara yang hanya diam melihatnya.
"Hati-hati Kak, kalo sudah sampe rumah kabarin gue ya. Makasih udah nganter pulang." Tiara membalas senyuman Rafkha dan di angguki oleh Rafkha.
"Makasih Rafkha, hati-hati ya!" Andika menepuk pundak Rafkha. Kemudian ketiganya masuk ke dalam rumah saat Rafkha sudah tak terlihat.
.
.
.
Rafkha masuk ke dalam rumah dalam keadaan gelap, tak ada yang tau dia berhasil kabur di saat tubuhnya harus banyak beristirahat. Berangkat dengan semangat hingga kembali mendapatkan yang manis dari Tiara tetapi saat sampai di rumah tubuhnya kembali lunglai.
Rafkha menutup pintu rumah tetiba lampu menyala sempurna dan membuatnya terkesiap walaupun dirinya tetap tenang. Rafkha menoleh ke arah Daddy nya yang berjalan menghampiri. Menatap dengan wajah datar dengan helaan nafas panjang.
"Sudah ketemu?" tanya Raihan dengan kedua tangan yang ia masukan di saku celana.
"Sudah Dad..."
"Sudah bisa tidur nyenyak sekarang?" tanyanya lagi dengan tatapan selidik yang membuat Rafkha cukup was-was menatapnya.
"Jaga hati kamu! kamu sudah tau dari awal dan jangan sampai hati kamu singgah di tempat lain!"
Rafkha menghentikan langkahnya tanpa berniat menoleh ke arah Raihan dan kembali melangkah setelah menghela nafas berat.
Rafkha melemparkan jaketnya setelah masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya yang lemas.
"Sudah sampai sayang..." (send)
Pesan ia kirimkan ke nomor Tiara setelah menetralkan kembali pikirannya yang sempat berkecamuk karena ucapan Daddy membuatnya tampak tidak fokus.
Adik nakal♥️
"Tidur, jangan mikirin gue terus! gue bakal masuk ke mimpi loe asal kuncinya loe tinggal😘😘😘."
Balasan dari Tiara membuat Rafkha tersenyum senang, ia segera meletakkan ponselnya dan memejamkan mata.
"Gue akan berjuang walaupun gue tau bakal sulit buat kita bersama."
__ADS_1
Pagi ini tepat di hari Minggu, Andini sibuk mempersiapkan makanan yang akan ia bawa untuk datang ke rumah Bayu. Raihan pun menyiapkan buah-buahan yang telah ia beli di supermarket. Acara hari ini makan bersama seperti biasa, meskipun Bayu dan Cika sudah menyiapkan makanan tetapi Andini dan Erna tetap membawa masakan mereka untuk di nikmati bersama.
"Anak-anak belum ada yang bangun sayang?"
"Mungkin sudah, cuma belum keluar kamar aja mas. Kayak nggak tau aja ini kan weekend."
Dan benar saja tak lama Lily turun di susul oleh Aara yang sudah rapi. Mereka melangkah menuju meja makan karena sudah cukup lapar.
"Mom mau makan..." ucap Lily setelah melihat meja makan yang hanya diisi dengan air putih beserta gelasnya.
"Mau makan di rumah atau di rumah Om Bayu?" Andini segara menghampiri, melihat wajah kedua putrinya yang tampak kelaparan.
"Makan dulu saja Mom, nanti di sana makan lagi. Kita kan belum sarapan mom." Aara mengambil buah yang sudah di masukkan oleh Daddy nya di keranjang karena mulutnya sudah tak tahan ingin mengunyah.
"Aara!"
"Minta satu Daddy ku sayang..." Aara dengan wajah polosnya segara menggigit buah apel yang sudah ada di tangan.
Andini segara menyiapkan makanan dan menyajikannya di meja makan. Dengan lahap keduanya makan membuat Andini tersenyum melihatnya.
"Sudah siap? kakak kamu mana kok belum keluar kamar dari pagi?" Andini sudah bersiap ingin berangkat tetapi di urungkan karena melihat personil masih kurang satu. Dan siapa lagi jika bukan si Jhon, Rafkha yang sejak pagi belum terlihat batang hidungnya.
"Iya kak Rafkha masih bersemedi kali mom."
"Cepat kalian panggil, keburu yang lain menunggu. Daddy tidak enak donk sama keluarga Om Bayu dan Om Andika." Raihan segera masuk ke dalam mobil setelah meminta kedua putrinya untuk memanggil Rafkha. Begitupun dengan Andini yang segera menyusul dan duduk di samping kursi kemudi.
"Loe aja Ly, gue capek naik lagi."
Lily pun pasrah dan segera naik ke atas tetapi belum sampai di tengah tangga, Rafkha keluar dari kamar dan segera turun dengan ponsel di genggamannya.
"Baru mau gue gedor pintu kamar loe kak! lama banget sich? Mommy sama Daddy udah nunggu di mobil kak!"
"Hmm..." ucapnya dengan pandangan fokus ke ponsel. Dan Lily pun hanya menatap jengah sang kakak.
"Dasar manusia kutub!" gumamnya.
Mereka segera berangkat setelah semua masuk mobil, dengan waktu kurang dari satu jam mereka sampai di rumah Bayu dan Cika. Di sana tampak sudah ada mobil Andika dan di halaman pun ada Tiara yang sedang duduk bersama Brian sedangkan Zea duduk sendiri di ayunan dengan mata berbinar menatap mobil Raihan yang masuk ke dalam gerbang.
"Berani loe ngajak pacar gue berduaan?"
__ADS_1