YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Keluarga Trio Soang


__ADS_3

Setelah jam istirahat barulah Tiara kembali ke kelas, ia tak menghiraukan suara-suara sumbang yang hanya bisa mengecap tanpa ngotak. Tiara fokus pada pelajaran, bahkan Lily pun tak berani untuk menegur, dia diam hingga jam pelajaran selesai dan waktu pulang pun tiba.


Tiara pulang bertiga dengan Aara dan Lily, sempat menolak tetapi Lily terus memaksa karena tak ingin kejadian seperti kemarin terulang lagi. Sebenarnya Lily tak tau persis dengan alasan Tiara pulang malam, dia pun belum menanyakan setelah melihat perdebatan Tiara dengan Zea tadi.


Sampai di rumah, Tiara segera masuk ke dalam kamar. Seharian ini hatinya tak baik saja, bahkan ia tak tau Rafkha kemana. Pria itu betul-betul tidak menemuinya dan Tiara sudah pasrah jika memang keduanya putus. Toh dia yang meminta putus kenapa sekarang mengharapkan, benar-benar tidak masuk akal.


Melihat anaknya yang sudah pulang tepat waktu, Erna pun bernafas lega. Dirinya yang sedang ada di dapur segera meneruskan kembali masaknya dengan semangat. Tak lama Gibran pun pulang, semangat Erna semakin bertambah karena keduanya telah sampai rumah dengan selamat dan bisa makan bersama.


Seharian Tiara hanya di kamar, dia keluar hanya untuk makan malam dan setelahnya kembali lagi ke kamar. Andika dan Erna pun cukup paham, apa lagi saat Erna mengatakan jika ia telah menyiapkan dress untuk di pakai Tiara esok hari.


Gibran yang melihat itu pun hanya menghela nafas panjang dan tak niat ikut campur masalah hati adiknya. Dia pun segera masuk ke dalam kamar setelah melihat Tiara menutup pintu rapat.


Tiara menekuk tubuhnya di atas kursi di bawah sinar rembulan, ia mendongakkan kepala menatap langit dengan taburan bintang menghiasi. Langit begitu cerah, tapi nampaknya alam tak seirama dengan hatinya yang sendu.


Besok ia harus melihat pria yang ia cintai berdiri memakaikan cincin pertunangan di jemari wanita lain. Ia pun harus ikhlas ketika ia harus mengucapkan selamat pada keduanya. Mantan kekasih dan mantan sahabat...sungguh miris jika di bayangkan. Dan ia harus membawa siapa agar bisa mengalihkan pandangannya dari Rafkha.


Ya Tuhan......


"Hati....loe harus kuat. Gue nggak akan membuat mata ini menangis besok, karena gue ingin loe habiskan air mata loe malam ini."


Tak lama Tiara pun menangis dalam diam, ia menahan Isak hingga dada begitu sesak. Tak ada yang mau cintanya berakhir menyedihkan, tetapi ini lah takdir yang sudah manusia rencanakan. Karena semua atas paksaan orang tua hingga ia harus merelakan hubungan yang hanya bertahan satu Minggu.


"Gila, harusnya gue dapet penghargaan. Apaan kek, piring hadiah sabun juga gue terima. Sebagai bentuk apresiasi dari hubungan yang hanya bertahan kurang dari satu Minggu."


Tiara tak mampu menahan Isak saat bayangan malam itu kembali terlintas dan kini ia hanya bisa berandai di sela tangisnya.


"Andai....hiks.....hiks....."


.


.

__ADS_1


.


Lily masuk ke kamar Rafkha setelah pria itu mempersilakan. Dia menatap wajah kakaknya yang tampak datar tak seperti tempo hari saat hubungannya sedang hangat dengan Tiara.


"Kak...." Lily duduk di kursi belajar menatap Rafkha yang kembali ke ranjang dengan merebahkan tubuhnya dan mata terpejam.


"Hhmm...."


"Besok_"


"Nggak usah di bahas!" jawab Rafkha cepat yang mengerti arah pembicaraan dan pembahasan yang ingin Lily ucapkan. Lily mendengus kesal melihat sikap kakaknya yang begitu dingin.


"Tapi Tiara_


"Urusan gue!" potongnya lagi. Lily pun merengut melihat kelakuan kakaknya yang tak memikirkan dirinya. Belum berucap sudah main potong saja, tak berkepriadikan.


"Serah loe dech kak, cuma satu yang kayaknya loe nggak bakal potong ucapan gue. Ini info valid dan gue nggak akan mengucapkan dua kali apa lagi menjawab pertanyaan loe!"


"Tiara dan Zea tadi debat dan....."


Lily berhasil membuat Rafkha menoleh dan tertarik dengan apa yang Lily ingin ceritakan. Bahkan Rafkha tampak beranjak dari duduknya dan menatap Lily dengan tatapan penasaran.


"Penasaran kan loe kak?" Lily tersenyum miring dengan meledek Rafkha yang kembali ke posisi semula. "Tiara di tampar sama Zea."


Mendengar ucapan Lily, mata Rafkha kembali terbuka bahkan sudah beranjak dari tidurnya. Ia kini duduk menghadap ke arah Lily yang masih memasang wajah meledek.


"Mau tau lanjutannya, hhmm?" Lily berdiri dan mendekati Rafkha yang kian penasaran. Kemudian berdiri dengan berkacak pinggang. "Cari tau sendiri!" singkatnya kemudian segera berlari keluar kamar Rafkha dan masuk ke kamarnya dengan buru-buru.


Rafkha menggelengkan kepala dan segera meraih ponselnya untuk menghubungi nomor Tiara tetapi tak kunjung di terima. Berulang kali ia lakukan hingga larut malam, mungkin kini sudah puluhan kali hingga habis daya.


Hal itu semakin membuat Rafkha geram, ingin rasanya menemui Tiara tetapi tak memungkinkan karena kini sudah larut malam.

__ADS_1


"Loe mau main-main sama gue, nggak akan gue biarin loe gitu aja. Besok loe bakal dapat balasan yang lebih dari apa yang udah loe lakuin sama Tiara."


Hingga keesokan harinya Tiara tak kunjung dapat di hubungi. Rafkha pun sejak tadi di pusingkan oleh Andini dengan pakaian yang harus ia pakai ke acara pertunangannya nanti. Beruntung dia berhasil menghindar saat mommy nya meminta untuk membeli cincin pertunangan bersama Zea.


Sampai di malam hari Rafkha di buat hampir gila karena nomor Tiara kini tak dapat di hubungi lagi. Dan dia sangat khawatir jika Tiara tak mau datang ke acara, bukan karena dirinya yang tega. Tapi justru dirinya yang akan tak tenang jika Tiara tak ada di dekatnya.


"Ayo Raf kita masuk!" ajak Raihan saat mobil mereka sudah sampai di kediaman keluarga Bayu. Tak ada yang datang selain keluarga trio soang, karena acara ini bersifat tertutup mengingat keduanya masih bersekolah. Dan akan di adakan acara besar jika keduanya menikah.


Rafkha melangkah memasuki rumah, tak ada dekorasi, hiasan bunga ataupun balon yang menghiasi rumah. Hanya ada banyak hidangan makanan memenuhi meja makan dan Zea yang sudah berdandan cantik menatapnya dengan senyum manis.


Rafkha pun melirik ke arah Brian setelah menyalami kedua orangtuanya, tatapan keduanya saling beradu dengan maksud tertentu. Kedua orang tua juga saling bercengkrama tetap tidak dengan anak-anak mereka. Hanya Aara yang menegur Zea, sedangkan Lily begitu malas setelah tau sikap Zea pada Tiara seperti apa.


"Assalamualaikum...."


Semua yang ada di sana segera menoleh ke sumber suara, tampak keluarga dari Andika datang.


"Wa'allaikumsalam..."


"Masuk bro ...!" Semua saling membaur, saling menyapa dan bersalaman. Tetapi Rafkha hanya diam dengan perasaan tak tenang, sebab disana hanya ada Gibran. Membuat Rafkha segera bersandar di sofa.


"Loh, Tiara mana kak?" tanya Andini yang sedikit heran karena tak menemukan keponakannya yang cantik jelita.


"Aku di sini Tante...."


Semua yang ada di sana segera menoleh ke asal suara, tak terkecuali Zea. Mereka terkesima dengan penampilan Tiara yang begitu cantik jauh seperti kesehariannya. Entah apa tujuan Tiara, ingin membuat Zea iri atau Rafkha semakin sulit.


Rafkha pun di buat fokus dan tak rela jika sedetik saja mengalihkan pandangannya pada Tiara, hingga Zea di buat kesal dan Raihan yang tak enak hati segera berdehem membuat Rafkha sadar dan menundukkan kepala.


"Kita mulai aja kali ya, kan udah pada berkumpul juga. Setelah ini kita makan malam bersama, gimana?" tanya Bayu yang di setujui oleh Raihan, kemudian ia segera menoleh ke arah Rafkha yang tersenyum tipis padanya. Dan ekspresi Rafkha membuat Zea tersenyum puas, berbeda dengan Tiara yang semakin menunduk dengan jemari saling bergenggaman dengan Lily.


Tetapi belum sempat Raihan berucap tujuan keluarganya datang, ketukan pintu mencuri atensi semua yang ada di sana. Nampak driver ojek online dengan jaket berwarna hijau berdiri di depan pintu.

__ADS_1


__ADS_2