YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Tiara mana?


__ADS_3

Pagi ini keluarga Baratajaya nampak sibuk, Rafkha yang sejak tadi hanya mondar-mandir dengan ponsel yang menempel di telinga membuat Lily jengah. Padahal adiknya repot menyiapkan keperluan Rafkha tetapi Rafkha sendiri nampak sibuk dengan hatinya.


Nomor Tiara dan juga Oma tidak ada yang bisa di hubungi. Sedangkan ia sangat berharap Tiara datang, karna waktunya di Indonesia pun tinggal beberapa hari lagi. Ia sudah mendaftarkan diri untuk berkuliah di London karena Daddynya berharap Rafkha kelak benar-benar bisa mengurus semua usaha keluarga Baratajaya dan peninggalan dari keluarga Oma Sifa.


"Kak, gue pusing liatin loe dari tadi! itu pake kemejanya kak, udah jam berapa ini. Duuuhhhh....udah nanti juga Tiara datang!" sewot Lily.


"Emang dia hubungi loe?" Rafkha menghentikan langkahnya dan menatap Lily dengan tatapan penasaran.


"Ya nggak juga sich..." Lily meringis menatap wajah kesal kakaknya. "Tiara nggak mungkin setega itu kak, udah sekarang loe rapi-rapi, nanti keburu nyonya teriak liat loe belum ngapa-ngapain kak!" Lily segara keluar kamar Rafkha memberi ruang untuk kakaknya berganti pakaian.


Lily mengambil ponselnya dan menghubungi Tiara, tetapi nomornya tidak dapat di hubungi. "OMG Tiara loe buat kakak gue gila, kemana lagi ini anak!" Lily menghela nafas berat dan segera bersiap ikut ke sekolah kakaknya.


Aara pun sudah rapi hasil riasan dari sang mommy, lumayan kata mommy nggak perlu ke salon buang duit karena beliau pun bisa. Uang Daddy aman masuk kantong. Memang mommy Andini paling bisa.


"Mana kakak kamu?" tanya Andini yang sudah rapi dengan kebayanya membuat Raihan yang sejak tadi diam membaca koran melirik dengan tatapan ingin. Sang istri masih sangat cantik dengan body yang menarik. Andai tak ada acara penting sudah ia tarik istrinya masuk kamar detik ini juga.


"Masih di kamar, baru juga ganti baju," Lily kemudian duduk di samping Aara, "loe udah kayak badut di dandanin Mommy!"


"Mom.... mmmmppptttfff.." Lily membekap mulut Aara yang malah ingin mengadu dengan Mommynya. "Tangan loe bau!" kesal Aara lalu segera mengambil kaca dan mengecek dandanannya.


"Cetar begini di bilang badut, loe rabun kali!" kesal Aara, Lily memang sengaja meledek padahal ia juga di dandani oleh Mommynya.


Rafkha tampak gagah melangkah menuruni tangga, dengan jas yang pas di tubuhnya aura ketampanan keluarga Baratajaya begitu terlihat. Lily dan Aara saja begitu terkesima melihat kakaknya yang sudah mirip dengan artis Korea.


"Gila, kakak gue nich. Cakep sich, tapi ngapa gue malah jadi takut loe di semutin ya kak!" celetuk Lily membuat Aara menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Kok disemutin?" tanyanya heran.


"Iya lah, loe nggak liat tuh manis bener kakak gue! Di jamin Tiara nyesel kalo sampai nggak datang." Aara menganggukkan kepala menyetujui. Mereka pun segera berangkat dengan Rafkha yang mengemudikan mobil.


Sampai di sana bertepatan di mulainya acara, mereka segera mengambil tempat duduk. Khusus untuk Raihan dan Andini di bagian depan selaku pemilik yayasan. Dan anak-anaknya duduk di tempat para murid berkumpul.


Semua nampak menyimak, dan mengikuti acara dengan khidmat. Dari proses sambutan, pengambilan hasil kelulusan, pengumuman nilai tertinggi yang di raih oleh anak pemilik yayasan yaitu Rafka Jhon Putra Baratajaya. Namun dari rangkain acara tak ada satupun yang membuat hati Rafkha bahagia. Bahkan nampak tak fokus karena sejak tadi Rafkha menatap ke arah pintu.


"Selamat ya Jhon! gila ponakan gue hebat, anak Raihan banget emang nich anak!" Andika datang saat acara hampir selesai, dia datang bersama Erna dan Gibran yang tak ketinggalan mengucap selamat pada kedua wisudawan.


"Makasih Om," jawabnya singkat. "Tiara mana Om? apa belum sampai?" akhirnya keluarlah pertanyaan akan itu setelah sejak tadi Rafkha memendam rasa dan menunggu hingga tak kuasa.


"Sepertinya Tiara nggak datang Raf, nggak ada kabar jika mau ke Jakarta. Oma juga nggak ngabarin Om, karena yang Om tau Ayahnya sudah keluar dari Sell kemarin. Mungkin Tiara sudah berangkat ke kampung ikut Ayahnya hari ini."


Seketika tubuh Rafkha lemas, seperti tak ada harapan lagi untuknya. Bahkan di sisa harinya di Indonesia benar-benar tidak bisa bertemu. Rafkha menghela nafas berat.


"Kita pulang dulu ya, jangan patah semangat! masih ada beberapa hari sebelum berangkat. Kamu bisa datang menemui Tiara." Rafkha pun mengiyakan, besok dia akan pergi mencari Tiara.


Keluarga Bayu pun datang memberi selamat bersama dengan Cika, Brian dan Zea. Hubungan mereka sudah membaik dan Zea pun sudah tak datang lagi mengganggu. Setelah mendapat gertakan dari papahnya, kini Zea tak berani berulah. Meski belum bisa melupakan Rafkha tetapi ia lebih memilih menurut pada Papah dan Mamahnya yang sangat marah karena ulahnya tempo hari.


"Selamat kak." Zea mengucapkan selamat pada Aara dan juga Rafkha. Mengulurkan tangannya pada Aara tetapi tak mendapat balasan dari Rafkha.


"Rafkha..."


"Iya Mom," Andini pun menegur dan dengan malas Rafkha menyambut uluran tangan Zea. Seketika senyum di wajah Zea mengembang.

__ADS_1


"Maaf ya Kak..." ucap Zea tulus dan di jawab anggukan oleh Rafkha. Tapi tanpa di duga Zea tiba-tiba memeluk Rafkha di depan keluarganya. Benar-benar tidak bisa di kasih hati, dia lupa dengan peringatan kedua orangtuanya. Hingga Rafkha mendorong tubuh Zea hingga oleng ke belakang.


"Loe nggak bisa ya di kasih jantung!" tunjuk Rafkha. Dia begitu kesal, sudah hati sedang gundah di tambah Zea menambah masalah, runyam sudah.


"Sorry kak, aku seneng banget kakak mau maafin aku."


Rafkha tak menghiraukan ucapan Zea, dia memutuskan untuk pergi dari pada tidak bisa mengendalikan emosi. Namun baru berapa langkah, ia tercengang melihat gadis yang beberapa Minggu ini memporak-porandakan hatinya.


"Tiara..."


Tiara tersenyum menatap Rafkha, entah sejak kapan ia berdiri di sana. Tapi hati Rafka mendadak khawatir jika Tiara melihat Zea memeluknya tadi. Dan benar saja, bunga dan sebuah kotak yang berada di tangan Tiara terjatuh dengan air mata yang gugur.


Melihat itu Rafkha segera mengejar, namun begitu cepat Tiara masuk kedalam mobil dan segera meninggalkan sekolah.


"Tiara... Tiara!" seru Rafkha, "SHIIITT."


Rafkha mengambil buket bunga dan sebuah kotak berwarna biru dengan perasaan kalut. "Tiara...." lirihnya, semua yang disana pun terdiam di tempat. Semua terjadi begitu singkat, bahkan mobil yang Tiara tumpangi pun berjalan begitu cepat.


Lily berlari mendekati Rafkha, sempat merebut kunci mobil Andika untuk ia berikan pada Rafkha. "Eh...dia kan punya bapak ngapa jadi ngerebut punya gue..."


"Kak, kejar kak!" Lily menyadarkan Rafkha yang tampak kalut, ia pun segera menarik Rafkha masuk ke dalam mobil Andika.


"Ayo kak! jangan diem aja, kalo loe cinta perjuangin dia, loe paling tau dia pergi kemana. Apa loe lupa kemanapun Tiara pergi loe pasti menemukan!"


Rafkha menatap adiknya, benar kata Lily dia pasti menemukan dimana Tiara. Rafkha menganggukkan kepala dan segera masuk ke mobil Andika lalu pergi meninggalkan Andika yang mengumpat kesal.

__ADS_1


"Udah......loe bisa naik taksi, lagian mau kerumah gue. Dia itu mau ngejar anak loe bukan mau bawa kabur mobil Loe!" celetuk Raihan dan segera menarik tangan istrinya untuk pulang.


__ADS_2