
Hari ini semua keluarga meluangkan waktunya untuk acara syukuran rumah baru Tiara dan Rafkha. Mereka pun begitu bersyukur dengan hubungan keduanya yang kembali setelah bertahun-tahun terpisah dengan ketidak pastian dan kesalahpahaman.
Setelah tadi sore rumah mereka di datangi Pak ustadz beserta anak yatim dari salah satu pantai terdekat. Kini semua keluarga kembali berkumpul di ruang keluarga untuk membahas acara resepsi pernikahan Rafkha dan Tiara.
Hanya Ayah Tara yang tak dapat hadir karena sang istri sedang hamil dan tak dapat di tinggal atau di ajak kemana-mana karena kehamilannya yang masih muda dan rentan. Rafkha pun mengundang Brian untuk datang, setelah beberapa tahun menjaga jarak kini keduanya sudah akur apa lagi hubungannya kini dengan Aara semakin serius dan akan membawa hubungan mereka kejenjang serius.
Tiara pun sejak tadi hanya mengobrol dengan Lily dan mendengarkan curhatannya tak ikut nimbrung dengan yang lain. Rafkha pun tak mengapa, ia yang ikut membahas acaranya bersama dengan keluarga dan tak mengganggu Tiara dan adiknya.
"Loe yakin?"
"HHmmm....terus gimana donk, mereka bahkan sudah mau menikah." Lily tampak frustasi, ntah apa yang keduanya sedang bicarakan namun cukup serius dan Lily pun tampak kalut dan hampir meneteskan air mata.
Mereka berkumpul sampai larut tanpa sadar Tiara sudah terlelap di samping Lily yang juga ikut tertidur di sofa. Rafkha menatap istrinya dengan tersenyum tipis, Tiara begitu terlihat lelah dan rencananya malam ini pun gagal. Namun melihat wajah letih Tiara membuatnya tak tega. Ia segera mengangkat tubuh Tiara masuk ke dalam kamar, sedangkan Brian mengangkat Lily menuju mobil dan membawanya pulang bersama dengan Aara juga.
Rafkha ikut berbaring di samping Tiara setelah memastikan semua pintu telah terkunci rapat dan memeluk tubuh istrinya lalu ikut terlelap dengan damai.
Pagi ini Tiara terjaga lebih dulu, ia segera masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan diri. Keluar dengan tubuh lebih segar namun bingung ingin memakai pakaian apa karena ia belum memindahkan barang-barangnya ke rumah ini.
Tiara menatap Rafkha yang masih pulas dan segera membangunkannya. Duduk di samping ranjang lalu merusuh agar Rafkha segera bangun.
"Kak...." Tiara menggoyangkan tubuh Rafkha namun tak kunjung membuka mata. Hingga ia kesal dan sengaja menaiki pria itu lalu duduk di atas perutnya.
"Kakak bangun ikh! udah siang tau, CEO tapi males-malesan begini!" kesal Tiara tanpa sadar ia tengah membangunkan dua nyawa sekaligus. Rafkha membuka mata dan Joni pun mulai terjaga. Ia menarik nafas dalam melihat kelakuan istrinya yang membuat Rafkha justru malas untuk turun dari ranjang.
Pria itu semakin betah apa lagi Tiara seperti menggoda dirinya yang sejak semalam menahan. "Kenapa sayang?" tanyanya dengan suara berat.
"Bangun kak! kamu nggak kerja?" Tiara bersidekap dada dengan posisi kaki terbuka duduk bersantai di atas Rafkha. Wanita itu tak sadar jika hanya memakai bathrobe dan menampilkan bagian dalam.
"Kerja, tapi pagi ini lebih dulu ngerjain kamu baru kita berangkat ke kantor." Dengan cepat posisi pun berubah, kini Tiara sudah tergeletak di atas ranjang dengan tali bathrobe yang sudah terurai.
__ADS_1
Pergerakan Rafkha begitu gesit sampai Tiara tak dapat melawan. Bahkan untuk sekedar berucap saja ia tak mampu. Rafkha sudah lebih dulu membungkam mulutnya dan melumaaat begitu dalam hingga Tiara kewalahan mengimbangi setiap pergerakannya.
"Kak..." Tiara memukul dada Rafkha saat pria itu melepaskan dan memberi jeda. Tiara meraup banyak oksigen dan menatap tajam pria yang sesuka hati menyedot tanpa aba-aba.
"Kak ini sudah siang, kita ha_mmmppffttt." Rafkha benar-benar tak ingin di ganggu dan tak menerima penolakan. Ia terus bergerak di atas tubuh Tiara dan membuat sang istri kembali bersenandung dengan suara erootis membangkitkan gairah.
Pagi yang cerah akan semakin indah dengan aktivitas pembuka yang melenakan. Hingga mencapai pelepasan akibat penyatuan yang nikmat. Rafkha mengecup kening Tiara begitu dalam.
"Makasih sayang, rasanya masih sama. Aku terkesan, kamu begitu menggoda sampai aku nggak bisa menahan."
Tiara tak menjawab, berawal kesal berujung melawan dan ikut terbuai. Tak dapat di pungkiri Rafkha memang selalu bisa melumpuhkan dirinya. Alhasil harus kembali masuk kamar mandi dan keramas lagi. Belum lagi harus bersiap lebih cepat karena sudah telat.
Rafkha pun tak membiarkan Tiara berjalan sendiri karena ia tau wanita itu sedikit kesulitan. Ia sadar pagi ini begitu bar-bar karena merasa geregetan apa lagi si Joni sedang bugar-bugarnya di pagi ini.
Keduanya mandi di bawah guyuran shower tanpa melakukan apapun, Rafkha tak mau kena amuk yang berujung Tiara merajuk. Agak iseng agar sang istri tak lagi merengut.
"Makanya itu bibir di kondisikan sayang, jangan ngambek! maaf aku nggak bisa nahan. Apa lagi posisi kamu yang menggoda iman."
"Alasan aja!" Tiara segera mengambil handuk dan membalut tubuhnya kemudian berbalik melihat Rafkha yang juga melakukan hal yang sama. "Gendong...." rengeknya dengan merentangkan kedua tangan.
"Siap tuan Putri," ucap Rafkha dengan senang hati kemudian membawa Tiara keluar dan menurunkannya di ruang ganti.
Awalnya Tiara sempat bingung, masalahnya yang ia tau tak ada baju ganti sejak tadi. Lalu bagaimana ia harus berangkat ke kantor. Masak iya pakai milik suaminya.
"Kenapa? nggak jadi berangkat? ada yang sakit, hhmm?" tanya Rafkha saat mendapati istrinya diam saja tanpa pergerakan. Ia pikir Tiara mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantor karena kelakuannya tadi yang begitu brutal.
"Bukan itu, tapi dari tadi aku bingung mau pakai baju apa kak. Kepindahan ini begitu mendadak dan aku nggak punya pakaian ganti sama sekali. Terus gimana mau pergi?" Tiara menghela nafas berat, ia segara duduk di kursi yang berada di tengah ruangan.
Melihat Tiara yang nampak frustasi karena masalah sepele membuat Rafkha mengulum senyum. Dia lupa memberitahu istrinya jika semua sudah ia siapkan. Rafkha segera membuka lemari yang ada di sampingnya. Disana berjejer pakaian kantor Tiara, kemudian Rafkha membuka lagi lemari sebelahnya menunjukkan banyak pakaian Tiara yang telah ia sediakan hingga pakaian dalaam juga ada.
__ADS_1
"Sayang, sini!" Tiara mendongakkan kepala kemudian berjalan menghampirinya.
Mata Tiara berbinar melihat isi lemari yang sudah penuh dengan pakaiannya. Tertata rapi bahkan ada aksesoris serta tas dan sepatu branded yang siap pakai. Suaminya benar-benar penuh kejutan, tau begini sejak tadi ia sudah rapi dan siap berangkat ke kantor.
"Kakak so sweet banget sich, bikin makin cinta tau nggak!" Tiara segera berlari menuju lemari setelah menyematkan kecupan di pipi Rafkha.
Kini keduanya sudah siap berangkat, Tiara sengaja berbekal makanan sisa semalam yang ia panasi karena tidak sempat masak pagi ini. Di jalan Tiara menyuapi Rafkha dengan sabar, untuk pertama kalinya mengurus suami. Suatu yang tak pernah Tiara bayangkan semenjak Rafkha lenyap tanpa pesan.
"Jangan pulang sendiri, tunggu aku datang oke!" Rafkha menepikan mobilnya tepat di depan lobby kantor milik Tiara. Ia tak dapat mengantar sampai dalam karena hari semakin siang.
"Iya, Kakak hati-hati ya. Dan jangan terus mau di dekati dengan uler kadut macam dia. Kalo sampai aku lihat kalian berdua lagi, nggak akan ada kesempatan untuk Kakak tidur denganku! mengerti?"
Rafkha mengacak rambut Tiara dengan terkekeh dan menganggukkan kepala. Ancaman yang tak dapat di anggap main-main. Bisa sekarat si Joni jika tak dapat akses masuk meski hanya semalam.
"Kamu pun sama, tau batasan dengan bawahan. Dan tau cara bersikap dengan teman pria." Pesan yang mengandung sindiran namun hanya di tanggapi dengan senyuman. Rafkha di buat tidak tenang karena sang istri yang tak menimpali.
"Sayang...."
"Siap Bos!" Tiara mengangkat tangannya, bersikap hormat lalu segera mencium punggung tangan Rafkha yang di balas dengan kecupan di kening dan bibirnya.
"Kakak! lipstik aku luntur tau!" kesal Tiara kemudian meraih tasnya untuk kembali membubuhi lipstiknya yang luntur karena ulah tawon sebelahnya.
"Sudah jangan cantik-cantik sayang! kamu sudah cukup membuat aku gelisah tau nggak, pakaian sudah aku atur agar jangan terkesan sexy tetapi aku lupa jika tubuh istriku menggoda di setiap lekukannya." Rafkha menyugar rambutnya dan kembali memperhatikan istrinya.
"Tapi aku suka!" celetuk Tiara dan segara kabur setelah ia sengaja membuka kancing satu di bawah kerah agar tak terlihat culun tanpa menyadari ia membuat setiap saja yang melihat tau lukisan yang ada pada lehernya.
bye...
"Dasar nakal!" gumam Rafkha melihat istrinya yang berlari masuk ke dalam dengan langkah membuat mata pria khilaf.
__ADS_1