YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Kenapa Gibran, Kenapa Bukan Rafkha?


__ADS_3

Semalaman Erna dan Andika tidak bisa tidur, apa lagi Gibran tak kunjung menemukan Tiara. Pemuda itu menghampiri kedua orangtuanya yang saling berpelukan dengan wajah sendu. Gibran menarik nafas dalam kemudian duduk menekuk satu kaki di hadapan kedua orangtuanya.


"Mah Pah, maafin Gibran. Semua karena Gibran tidak bisa menjaga rahasia hingga Tiara pergi. Gibran nggak terima dengan apa yang Rafkha lakukan Mah Pah." Gibran menggenggam tangan keduanya dengan perasaan menyesal, tetapi Erna dan Andika segara memeluknya.


"Mungkin memang ini sudah saatnya nak, sudah saatnya Tiara tau yang sebenarnya. Jangan merasa bersalah, Tiara nggak akan kemana-mana. Ada Rafkha, dia aman dengan Rafkha."


"Tapi Rafkha lah yang merusaknya Pah!" ucap Gibran tak terima.


"Tapi dia bisa di andalkan dalam menjaga Tiara. Rafkha memiliki alasan hingga berbuat nekat dan Papah harap kamu bisa mengerti." Erna pun menganggukkan kepala membuat Gibran pasrah. Ia memang tak pernah ada untuk Tiara tapi ia pun tak lepas pengawasan.


Hingga pagi Erna tampak lesu karena belum mendapatkan kabar Tiara. Ponsel Rafkha dan Tiara tak dapat dihubungi. Ntah apa yang mereka berdua lakukan, namun membuat pikiran semakin tak karuan dan makan tak enak. Andika sejak tadi menghubungi Raihan menanyakan keberadaan Rafkha dan Tiara tetapi tak ada yang tau keberadaan keduanya.


Andika memijit pelipisnya, tak menyangka anak gadisnya akan melakukan sejauh itu dan kini kabur tak tau kemana. Akankah ia menikahkan keduanya, lalu bagaimana dengan janjinya. Andika hanya mampu menghela nafas berat. Tak tau keputusan apa yang harus ia ambil kedepan.


"Mah, Gibran mau mencari Tiara lagi. Doakan Gibran bisa membawa Tiara pulang ya." Gibran menyalami kedua orangtuanya. Perasaan Gibran pun sama, ia tak tenang hingga mengerahkan semua teman-temannya untuk mencari termasuk Vero yang sudah tau rahasia sebenarnya. Maka dari itu ia tak lagi berani mendekati Tiara atau membalas perbuatan Rafkha. Karena ia memandang Gibran sebagai sahabatnnya.


Namun belum sempat Gibran beranjak dari sana, mereka di kejutkan dengan datangnya Tiara dan Rafkha. Andika, Erna, dan Gibran segera mendekat dan memeluk Tiara. Mereka menangis tersedu, Tiara di dekap erat oleh ketiganya tetapi tangan Tiara tak lepas dari Rafkha. Tiara pun terus menggenggam, karena apapun yang mereka rencanakan tak membuat keduanya saling melepaskan.

__ADS_1


Kini mereka terduduk di sofa, sejak tadi Erna terus memeluk Tiara hingga duduk pun mereka saling berpelukan. Tetapi Tiara pulang bukan tidak dengan tujuan. Tiara ingin tau siapa orang tua dia sebenarnya.


"Mah, Pah Tiara pulang karena Tiara ingin tau siapa orang tua Tiara. Tiara ingin tau jati diri Tiara sebenarnya." Wajah imut yang kini tampak sendu, bahkan Andika dan Erna tak kuasa melihat gurat kesedihan di wajah putrinya.


Andika dan Erna saling memandang satu sama lain, bahkan Gibran pun segera mendekati lalu duduk di antara Rafkha dan Tiara. Gibran menatap Tiara dengan penuh kasih sayang. Kemudian meraih tangan Tiara hingga kedua pasang mata beradu pandang.


"Maaf kalo ucapan gue nyakitin loe...tapi mamah dan papah tulus sayang sama loe. Begitupun gue, gue sayang sama loe. Selama ini gue cuek karena gue nggak mau loe curiga dengan sikap gue yang nantinya akan berlebihan."


" Kak ..." Tiara tercekat mendengar penuturan Gibran. Baru kali ini Gibran banyak bicara hingga seserius ini padanya.


"Gue cinta sama loe!"


Melihat Tiara tidak nyaman Rafkha berdehem mencairkan suasana, sebenarnya ia tak terima melihat Gibran mendekati Tiara setelah tau jika keduanya bukan adik kakak. Tetapi karena rasa hormat pada Om dan Tantenya, Rafkha pun mengalah. Ia yakin jika Tiara tetap akan memilihnya.


Gibran mengalihkan pandangannya pada Rafkha, menatap tajam pria yang sudah merusak calon istrinya dan berhasil membuat Tiara jatuh cinta padanya. Melihat ada ketegangan antara keduanya, Tiara segera melancarkan tujuannya agar sikap keduanya tak berujung perkelahian.


"Mah....."

__ADS_1


"Iya sayang....biar Papah yang akan menjelaskan ya." Erna tersenyum menatap putrinya yang sejak dulu sangat ia sayang. Tak menyangka waktu cepat berlalu dan hari ini pun tiba. Hari dimana dirinya harus melihat putrinya terpuruk dengan rahasia besar yang sudah bertahun di tutupi.


Andika menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya ia menceritakan. Beliau menatap putrinya dengan senyum haru dan rasa sesak di dada saat mengingat semua kejadian yang dulu menimpa keluarganya.


"Sebenarnya.....Tiara bukan anak kandung Mamah dan Papah."


Tiara tersenyum getir, benar dengan apa yang ia perkirakan. Tapi mengapa sesakit ini, kedua orangtuanya begitu menyayangi hingga tak ada celah untuk nya berpikir jika dirinya bukanlah anak kandung. Begitu besar kasih sayang yang di beri hingga ia tak pernah berpikir hal seperti ini akan terjadi.


"Kamu anak adik angkat Papah, nama orang tua kamu Cantika dan Tara. Dulu, mereka menitipkan kamu pada Papah dan Mamah. Lalu soal perjodohan itu terjadi saat mendiang Opa meminta Papah, kelak menjodohkan Gibran dengan kamu. Dan itu semua karena kita menyayangi kamu nak, kamu tumbuh dengan sehat dan begitu lucu, hingga opa sangat menyayangi kamu dan tidak ingin kelak kamu akan menjadi menantu pria lain dan di bawa oleh orang lain."


Air matanya menetes, benarkah sesayang itu mereka padanya hingga tidak ingin dirinya pergi. Dan bodohnya dia, Tiara baru sadar jika Gibran dan dirinya hanya berjarak beberapa bulan, bukan kembar tetapi adik kakak. Bahkan mereka sama-sama kelas XI. Tiara memejamkan mata hingga pertanyaan Rafkha membuka kembali matanya.


"Kenapa harus Gibran, kenapa bukan Rafkha yang juga cucu Opa?" tanya Rafkha tak terima, sedangkan dia cucu tertua, tetapi Gibran yang di jodohkan.


"Karena Om yang dari awal mendatangkan ibu kandung Tiara ke dalam keluarga kita, maka dari itu Om yang bertanggung jawab penuh dengan apapun yang terjadi. Maaf Rafkha, jika hal ini juga membuat kamu kecewa, bahkan Om sudah mengorbankan kamu. Tapi demi Tuhan, semua Om lakukan karena amanah dan om tidak mau mengecewakan." Andika mengusap air matanya di balik kaca mata, ia teringat akan mendiang Papahnya.


"Lalu dimana orang tua Tiara?" pertanyaan yang membuat Erna dan juga Andika gelagapan dan mendadak gugup. Keduanya itu saling beradu pandang hingga helaan nafas berat terdengar dari Andika.

__ADS_1


" Kedua orang tua kamu masih ada nak, tapi ..."


__ADS_2