YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Sahabat Yang Baik


__ADS_3

Tiara menghentikan langkahnya di depan pintu ruangannya sendiri. Ia menatap pria yang kini berdiri menghalangi langkahnya yang ingin masuk. Tiara menarik nafas dalam, ia harus segera menjelaskan hubungannya dengan Rafkha pada Wahyu. Pria itu tak banyak bicara tetapi Tiara paham dan segera mengajaknya masuk ke dalam.


Kini keduanya duduk berhadapan di sofa, Tiara bingung harus memulai dari mana. Wahyu pun tak kunjung mengeluarkan suara membuat ia serba salah. Sejak tadi pria itu sedang meredam emosi, apa lagi nampak jelas di leher Tiara ada bekas memerah yang masih baru. Hatinya panas namun sadar tak ada hak untuk marah.


"Yu ..."


"Bagaimana hubungan kalian selanjutnya? apa sudah baikan?" Wahyu memotong ucapan Tiara dan mencecar dengan pertanyaan yang ia sudah tau jawabannya. Nampaknya bersikap bodoh lebih baik saat ini dari pada harus mencoba memahami kesimpulan sendiri.


"Aku....kita....aku dan dia sudah kembali." Tiara benar-benar tak enak hati namun harus tetap menjawab dan menjelaskan agar tak merasa menggantungkan perasaan Wahyu. Dia segera membuka tas dan memberikan undangan pada Wahyu.


"Ini undangan resepsi pernikahan kami, aku harap kamu bisa datang. Dan aku harap kamu mengerti, aku pun berterima kasih kamu sudah baik. Menjadi sahabat yang selalu ada untukku dan sayang sama aku."


Tiara menundukkan kepala dengan tangan memilin roknya, ia tak tega menyakiti tetapi ia pun tak ingin Wahyu semakin sakit hati. Dia berharap agar Wahyu cepat bisa melupakan rasa dan membangun kembali kepercayaan dan cinta untuk wanita lain. Karena sampai sekarang Tiara tau cinta pria itu masih kokoh untuknya.


Setelah pembicaraan itu, belum ada kata yang terucap dari mulut Wahyu. Dia masih diam menatap hingga Tiara semakin menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya. Ntah apa yang tengah di pikirkan oleh Wahyu. Yang jelas ia berhasil meredam rasa marah meski sulit menyurutkan api cemburu.


Setelah di rasa cukup ia memutuskan untuk beranjak dari sana, namun sebelumnya ia sempat menghentikan langkah hanya untuk memberitahu jika meeting akan dilaksanakan satu jam lagi. Tiara hanya diam tak menjawab namun gerakannya menunjukkan ia segera bersiap.


"Aku ikut mobilmu saja!" ucap Tiara saat keduanya sudah ingin berangkat menuju tempat yang telah di siapkan.


"Apa tidak membuat suamimu cemburu?" tanya Wahyu mengingatkan namun senyuman dari Tiara membuatnya mengerti dan hanya menggelengkan kepala.


"Bukan kamu nyari mati tapi kamu membuatku mati di tangan suamimu!"


Ya meeting hari ini cukup padat, ada tiga klien yang menunggu dan sudah di pastikan keduanya tak kembali lagi ke kantor hingga sore. Dan yang terakhir adalah meeting dengan perusahaan Rafkha.


Apa jadinya jika pria itu tau istrinya satu mobil sedangkan ia yakin, Rafkha adalah tipe pria pencemburu akut. Namun ia melihat Tiara justru santai saja tak peduli dan tidak ingin menjaga jarak. Hati Wahyu cukup senang karena meskipun Tiara sudah membuka statusnya tetapi tak membuat keduanya berjarak. Tetapi merasa kesal juga jika Tiara menyeret dirinya dalam masalah rumah tangga.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan meeting yang kedua kini Tiara dan Wahyu menikmati makan siang yang terlambat. Mereka memutuskan mampir di resto tempat biasa mereka makan. Hubungan pun tampak biasa saja karena Tiara tak ingin berujung canggung dan jauh.


"Mau mesen apa Ra?" Wahyu membuka buku menu dan melihat-lihat menu yang tersedia.


"Samain aja!" celetuknya membuat Wahyu melirik sekilas kemudian kembali melihat buku menu.


"Minumnya?" tanyanya lagi.


"Kita satu server Yu, pesen dua aja!" sahut Tiara yang fokus ke layar ponselnya.


Wahyu berdecak dan segera memesan makanan yang sama untuk Tiara. Kemudian menatap wanita yang sedang sibuk dengan gawai nya.


"Ngapain sich? awas nggak di makan!"


"Mau nggak jalan sama Lily?"


"Nggak perlu kamu jodoh-jodohin aku, aku ikhlas kamu sama dia. Meski hati aku masih cinta tapi akan aku usahakan merubahnya menjadi sayang. Aku bahagia kalo kamu juga bahagia. Bukannya itu definisi mencintai? jadi stop memasang-masangkan aku oke!" ucap Wahyu mengingatkan, dia pun dengan tegas tak ingin di jodohkan.


Tiara menatap Wahyu dengan intens, hati Wahyu baik. Selama ini ia memang tulus bukan hanya obsesi belaka. Maka itu lah yang membuat Tiara nyaman bersahabat dengannya. Karena ia benar-benar memikirkan kebahagiaan temannya tanpa mengambil keuntungan sendiri.


"Bukan mau jodohin kamu, tapi jika kalian bisa jalan bareng kenapa nggak! hanya jalan toh kalian berteman, syukur-syukur bisa dekat dan bersahabat seperti denganku."


Wahyu menganggukkan kepala, ada benarnya dengan apa yang di katakan oleh Tiara, berteman tak masalah. Memang sejak kuliah keduanya juga nyambung, hanya Lily saja seperti menjaga batasan dan seperti menjaga hati seseorang.


"Boleh, sibuk apa dia sekarang?"


"Sibuk menata hati, aku percaya sama kamu!" Tiara tersenyum penuh makna.

__ADS_1


Lagi-lagi Wahyu bingung dengan apa yang di maksud Tiara. Ingin bertanya tetapi makanan sudah datang dan segera memutuskan untuk menikmati makanan itu karena setelah ini keduanya harus ke kantor Rafara meneruskan meeting yang tertunda.


Sampai di kantor Rafkha, keduanya di sambut oleh Pak Saka yang sudah menunggu di lobby. Pak Saka di perintah oleh Bosnya untuk menyambut istrinya yang ia lihat sedang berjalan berdua melalui cctv yang tersambung dengan laptopnya.


"Eh kamu lagi, ngapain kesini? masih mau minta tanggung jawab atas kejadian tempo hari?" Wanita yang Rafkha sebut sekretarisnya tiba-tiba menghadang di depan pintu masuk ruangan Rafkha membuat langkah ketiganya terhenti.


"Dina, jaga sikap kamu dan minggir kami ingin masuk!" tegas Pak Saka membuat Dina kesal dan segera memberi jalan. Matanya terus menatap tajam Tiara yang melangkah melewati dirinya dengan senyum samar.


"Nggak usah ngeledek!" bisik Wahyu mendekati Tiara dan berbisik di telinganya.


"Garong Yu, sepertinya cocok sama kamu. Biar jadi kalem dan nggak banyak nyolot!" Tiara pun membalas dengan bisikan.


"Aku masih waras untuk mencari pengganti kamu! wanita baik masih banyak, jika perlu aku tungguin keturunan kamu dari pada harus sama dia!" celetuk Wahyu tidak terima.


"Sayangnya aku nggak mau punya menantu aki-aki!" ucap Tiara dengan lirih disertai kekehan kecil agar tak mengundang atensi. Namun ia salah, tanpa keduanya sadari Rafkha sudah menghampiri dan mendekati istri nakalnya yang malah asyik bisik-bisik di depan mata. Tak ingat pesan yang ia berikan pagi tadi, Tiara justru membuatnya gemas dan ingin menggigit bibirnya.


"Ehemmm..... sudah selesai? bisa di mulai meeting kita hari ini? jangan buat saya bertindak gegabah dengan mengunci bos Anda di dalam kamar!"


Tiara dan Wahyu tersadar dengan apa yang keduanya lakukan, mereka menoleh ke arah Rafkha yang sudah ada di samping Tiara bahkan hanya berjarak satu jengkal saja.


"Astaghfirullah.... kakak ngagetin aja!" seru Tiara yang terkejut hingga melompat mundur mengenai tubuh Wahyu. Dan itu membuat Rafkha semakin mengepalkan tangan.


"Kamu minta di hukum baby, cepat mendekat jika tidak aku tidak akan memulai meeting kita!" tegas Rafkha, Tiara pun segara mendekat dengan merengut kesal.


"Jangan bawa-bawa urusan rumah tangga ke ranah pekerjaan. Profesional lah Pak Rafkha yang terhormat!" Tiara kembali mendekati Wahyu dan ikut duduk di sampingnya.


Melihat itu membuat Rafkha geram namun benar yang di katakan Tiara, ia harus bisa membedakan. Tetapi cemburu kan tidak memandang apapun itu!

__ADS_1


__ADS_2