
Sudah tiga hari Rafkha tak dapat di hubungi, membuat Tiara merasa tak tenang. Ntah apa yang terjadi dengannya tetapi setiap Tiara mencoba untuk menghubungi nomor Rafkha tak kunjung aktif. Hal itu jelas membuat Tiara khawatir apa lagi Mommy dan Daddy pun tak tau kabar suaminya saat ini.
Hari-hari Tiara seakan sepi, ia hanya sibuk berkuliah mengerjakan tugas dan tidur. Tak ada gabut-gabut manja seperti yang biasa ia lakukan saat vidio call dengan Rafkha. Sempat Daddy mengabari kala nomor Rafkha bisa di hubungi namun hanya memberikan kabar jika ia baik-baik saja dan tak perlu di khawatirkan tanpa menghubungi Tiara, membuat wanita itu seperti tidak di anggap lagi.
Sudah jarak memisahkan saat ini komunikasi pun menjadi sulit membuat Tiara semakin frustasi. Rafkha benar-benar menguji kesabarannya, bagaimana mungkin dia diam. Justru dengan sulitnya komunikasi membuat Tiara ingin sekali menyusulnya.
"Mom, boleh tidak Tiara menyusul kak Rafkha. Tiara rindu Mom dan Tiara ingin sekali bertemu. Apa lagi kak Rafkha saat ini sulit di hubungi."
Mendengar keluhan Tiara membuat Andini tak tega, namun jika membiarkan Tiara berangkat sendiri membuatnya tak tenang.
"Mommy akan mengijinkan tetapi tidak untuk kesana sendirian, kamu harus ada yang menjaga. Bagaimana jika terjadi apa-apa sama kamu, Mommy sudah pasti diserang dengan empat pria sekaligus. Ayah kamu, Papah, Daddy dan Rafkha. Belum lagi jika Gibran pun ikut menyalahkan. Bisa habis mommy oleh mereka."
"Mungkin libur semester aku akan meminta Kak Gibran untuk menemani." Setelah pembahasan itu Tiara mencoba kembali fokus dengan kuliahnya. Dia menunggu hingga libur semester tiba dan akan menyusul Rafkha dengan memberi kejutan padanya.
Rafkha menjauh tetapi Wahyu semakin dekat dan selalu ada untuknya. Para adik ipar pun tau akan itu, Gibran pun sadar jika Wahyu ada rasa, tetapi tak lagi ikut campur saat Tiara dengan tegas jika hanya menganggap Wahyu adalah sahabat. Hubungan keduanya pun tak lebih dari itu.
Meskipun mustahil jika persahabatan itu murni karena Wahyu yang masih mencintai Tiara. Seperti saat ini, sudah seminggu Tiara memforsir tubuhnya untuk terus belajar dan mengerjakan tugas hingga lupa makan. Lily pun telah mengingatkan karena ia tau Tiara begini karena begitu semangat ingin bertemu kakaknya. Dia ingin mendapatkan nilai bagus agar Rafkha bangga padanya.
"Ra, makan dulu yuk. Aku suapin ya," ucap Wahyu perhatian hingga membawakan makanan untuk Tiara ke kelas bahkan kini memaksa Tiara untuk makan.
"Nanti aja Yu, tanggung. Aku mau selesain ini dulu sebentar, habis ini aku makan."
Wahyu tak percaya begitu saja karena sudah sering Tiara berucap demikian hingga ia memutuskan untuk memaksa Tiara makan dengan menyuapi wanita itu.
"Ayo A' dulu Tiara!"
"Wahyu!" kesal Tiara karena Wahyu telah mengganggu konsentrasinya.
__ADS_1
"Buka mulutnya! nanti sakit aja," ucap Wahyu tak kalah sewot.
Akhirnya Tiara pun menurut, ia membuka mulutnya dan memakan setiap suapan yang Wahyu berikan. Pemuda itu pun nampak senang hingga senyumannya mengembang saat melihat Tiara menghabiskan makanannya tanpa sisa.
"Elahh minta di suapin aja pake bilang ntar-ntar, tau gitu gue suapin loe dari kemarin, badan sampe kurus begitu!" Lily datang tiba-tiba dan duduk nimbrung dengan keduanya. "Tapi gue kalo nyuapin loe nggak pake sendok pakenya sekop!" celetuk Lily hingga pulpen Tiara melayang hampir mengenai keningnya.
Lily tertawa melihat Tiara yang sewot padanya, sudah hampir dua minggu setelah kakaknya jarang menghubungi dan bertukar kabar Tiara nampak murung. Dia pun tak mengerti sesibuk apa kakaknya di sana. Sudah jarang menghubungi dan kini malah tak ada kabar sama sekali.
"Ra, kayaknya gue nggak bisa pulang bareng loe dech, kak Aara nggak minta anterin ke gramed. Gimana donk?" Lily sebenarnya malas kemana-mana, kasihan juga membiarkan Tiara pulang sendirian tetapi gimana jika tak memungkinkan harus bonceng tiga seperti jaman sekolah dulu.
"Udah biarin si Tiara pulang sama aku aja!" Wahyu justru senang bisa ada kesempatan untuk pulang bareng dengan Tiara. Karena jarang-jarang ada kesempatan berhubung Lily selalu membersamai.
"Emang pacarnya kemana sich? ikut menghilang juga kayak sahabatnya?" tiba-tiba Tiara sewot sendiri saat mengingat suaminya.
"Lah loe ngapa ikut kesel sama kak Brian? sans guys....Kak Brian karuan mau nganter Zea ke rumah sakit, katanya sakit gitu. Lah yang ono..bagai hilang di telan Bumi!"
"Kakak loe itu! minta gue lelepin ke sumur!"
Jam pulang pun tiba, Wahyu benar-benar mengantar Tiara pulang ke rumah. Sebenarnya Tiara ingin sekali menolak tetapi karena Wahyu yang sudah baik sekali padanya membuat Tiara tak enak.
"Sampai sini aja Yu!" Tiara meminta Wahyu untuk menurunkan dirinya di depan komplek karena tak enak pada Mommy, takut-takut berpikir negatif padanya.
"Masuknya masih juga Ra! udah biar aku anter sampai rumah aja! tenang aja kalo kamu belum siap kenalin aku sama orang tua kamu juga aku nggak apa-apa kok." Ucapnya santai, dalam hati ngarep tetapi Wahyu cukup paham jika Tiara hanya menganggapnya sahabat.
"Apa sich kamu tuh, udah pokonya aku turun sini aja! aku mau jalan biar sekalian olahraga."
Mau tak mau Wahyu akhirnya menepikan motornya, namun saat Tiara ingin turun nampak mobil Daddy nya ikut berhenti di belakang motor Wahyu. Melihat itu Tiara jadi gugup sendiri dan mendadak tak tenang takut Daddy nya salah paham dan berujung panjang.
__ADS_1
"Ra!" seru Raihan mengeluarkan sedikit kepalanya membuat Tiara segera turun ingin mendekat.
"Eh kamu mau kemana?" tanya Wahyu yang tak sadar jika di belakangnya ada mobil.
"Ada Daddy, mending kamu pulang aja. Makasih ya, aku bisa masuk sama Daddy."
Wahyu menengok ke tempat dimana mobil berhenti dan memperlihatkan sosok pria paruh baya yang masih tampak gagah dan tampan. Ia mengira itu adalah Ayahnya Tiara hingga Wahyu segera menyusul dan mendekati mobil Raihan. Tiara nampak terkejut saat melihat Wahyu yang sudah berada di sampingnya yang ingin masuk ke dalam mobil.
"Kamu mau ngapain?" tanya Tiara tak santai.
"Aku mau pamit sama Daddy kamu, nggak enak main pulang aja, mana nganter cuma sampe depan komplek. Nanti aku di cap cowok tak bertanggung jawab lagi. hehehehe...."
Tiara segera menoleh ke arah mertuanya yang nampak diam memperhatikan, memintanya untuk segera masuk dengan menganggukkan kepala sekali sudah mampu membuat Tiara paham.
"Om, maaf cuma bisa antar Tiara sampai depan aja. Soalnya Tiara nya nggak mau, lain kali saya antar sampai rumah. Maaf ya Om.." ucap Wahyu sopan, namun Tiara hanya menunduk menahan nafas ngeri Wahyu berbicara di luar batas. Meskipun ia percaya bahwa Wahyu tak mungkin melakukan demikian.
"Oh iya makasih ya, lain kali biar Tiara pulang sama Lily tidak masalah. Takut nanti pawangnya lihat dan kamu habis kena marah. Malah saya tidak akan tanggung jawab!"
Tiara tercengang mendengar ucapan Daddy-nya, memang Rafkha tak akan diam jika sampai melihat dirinya di bonceng pria lain. Tetapi tak harus di jelaskan juga pada Wahyu yang belum tau apa-apa. Kan ribet nanti jika Wahyu menanyakan lebih jauh lagi.
"Oh..i..iya om. Tapi apa pawangnya segalak itu Om?"
Tiara menghela nafas berat dan memijat pelipisnya, apa kali Wahyu malah bertanya demikian. Tiara tak bisa membiarkan terlalu lama dan segera meminta Wahyu cepat pulang.
"Yu, maaf ya Daddy aku baru pulang dari kantor capek banget jadi nggak bisa lama-lama, aku duluan ya. Makasih udah anter aku pulang. Bye..." Tiara melambaikan tangan, " ayo Dad kita pulang!" Ajak Tiara. Beruntung Raihan segera melajukan mobilnya sehingga tak berlama-lama mengobrol dengan Wahyu.
"Itu tadi siapa Ra?"
__ADS_1
"Sahabat aku pas di kampung Oma dulu Dad, kebetulan dia kuliah di tempat yang sama. Dan kami berteman baik Dad, dan kebetulan Lily pulang bersama dengan Kak Aara. Jadi Wahyu mengantar Tiara sekalian karena rumahnya kebetulan searah sama kita," jelas Tiara sebenar-benarnya.
"Ya sudah tak apa, hanya Daddy mengingat kan saja jangan sampai Rafkha tau. Kamu tau sendiri betapa posesifnya dia? bukan kamu yang kena marah tapi dia yang habis di tangan suamimu!" Raihan sengaja mengingatkan dengan menekan kata suami agar Tiara pun ingat. Apa lagi masih remaja dan banyak godaan, takut khilaf dan dia yang gagal menjalankan amanah.