YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Tara dan Cantika 3


__ADS_3

Tangisan bayi menyadarkan Cantika, proses operasi yang akhirnya di laksanakan tanpa Cantika sadar karena keadaannya sempat kritis tetapi bayi butuh pertolongan dan cepat di selamatkan. Namun suara bayi merubah yang tak mungkin menjadi mungkin, Cantika keluar dari masa kritisnya dan bisa melihat bayinya lahir dengan selamat. Bayi kecil berjenis kelamin perempuan di angkat oleh dokter dan di letakkan di atas dada ibunya. Mencari sumber asi untuk pertama kali dengan begitu aktif dan menggemaskan.


Tara pun sudah sadar, pria itu hanya mendapatkan luka ringan yang tak berdampak apa-apa karena posisinya terpental keluar dari mobil sebelum body mobil depan sempat habis tergencet badan truk. Hal yang tak terduga begitu cepat harus mereka hadapi bersama.


Dan kini Keluarga dari Jakarta pun datang berbondong-bondong ingin menjenguk Cantika dengan tangis dan kepanikan.


"Mamah....."


"Cantika, nak astaghfirullah kenapa sampai seperti ini. Apa salah mamah dan papah membiarkan kamu pergi hingga menderita begini?" Mamah terisak memeluk Cantika begitupun dengan Papah yang sangat terpukul. Andini dan Erna pun ikut menggenggam kedua tangan Cantika. Mereka tak menyangka Cantika yang menikah dengan umur yang masih muda begitu kuat melewati cobaan rumah tangga.


"Maaf kakak gagal menjaga kamu dek..." Andika dengan ujung mata yang basah pun mendekat dengan luka batin di dada. Dia yang awalnya mendapat amanah namun merasa sangat gagal setelah tau dan melihat kondisi Cantika.


"Jangan menyalahkan diri sendiri, mungkin inilah jalan hidup Cantika. Tapi Cantika berhasil memberikan cucu dan ponakan buat kalian." Dengan antusias Cantika berusaha menahan sakit di perutnya bekas jahitan yang masih basah namun cukup terkejut saat membuat selimut tak mendapati anggota tubuh yang memiliki peran penting untuknya.


"Kakiku ...." lirih Cantika, setelahnya tangis itu pecah hingga Tara yang berada di kamar sebelah mendengar tangisan dari sang istri dan meminta suster membantunya untuk mengunjungi Cantika .


Tak hanya Cantika yang menangis, pilu, dan tersedu. Semua yang ada di sana pun menangis tak terkecuali Andika dan Raihan. Semua ikut merasakan kesakitan dan kekecewaan yang Cantika rasakan. Hingga tak sanggup berkata hanya memeluk menguatkan.


"Sayang....." Tara datang dengan kepala di perban dan beberapa luka yang masih basah, suster mengantarnya hingga mendekati sang istri yang tampak terluka fisik dan batinnya. Karena semua pun tau apa yang terjadi pada pasien kecelakaan yang viral sejak datang.


"Kakiku kak....hiks ....hiks...." pandangan Tara turun menyusuri tubuh hingga lutut dan berakhir di kasur tanpa menemukan kedua kaki istrinya, hanya perban di ujung lutut yang membungkus rapi.

__ADS_1


Tangannya mengepal melihat Cantika begitu terpukul dan merasakan kesakitan berkali-kali lipat dari yang ia bayangkan. Bahkan ia merasa gagal menjadi suami yang baik. Pria itu pun nampak terisak dengan menggenggam tangan Cantika dan mengecup dengan penuh penyesalan.


"Maaf....." Dia yang membawa Cantika pulang dan dia yang membuat Cantika bertahan namun dia pula yang memberi celaka. Hingga suara ketukan dari luar membuat semua mengalihkan pandangannya pada siapa yang datang.


"Selamat malam.....dengan saudara Tara?" tanya pria berseragam coklat yang datang bersama dengan kedua temannya yang berseragam sama.


"Iya Pak, saya sendiri. Ada apa Pak?"


"Menurut kesaksian warga dan kedua korban yang saat ini sedang di otopsi. Anda di duga menjadi tersangka utama atas meninggalnya Ibu Wati dan saudara Lita. Maka dari itu kami akan membawa anda ke kantor untuk di lakukan pemeriksaan."


Belum ada 24 jam semua kesakitan menimpa keduanya hingga Cantika kehilangan kaki dan kini harus kehilangan suami yang tertangkap polisi. Hancur.....itu yang mendefinisikan hatinya saat ini. Tak ada lagi air mata dan Isak hanya tertinggal sesak di dada. Apa lagi saat melihat Tara dengan pasrah menyodorkan kedua tangannya untuk menerima borgol yang polisi kenakan.


"Maaf....maaf....telah mengecewakan mamah, Papah dan Kak Andika. Terutama istriku.....Aku salah telah menjadi pembunuh, tapi ini aku lakukan untuk menjaga istri dan anakku. Walaupun akhirnya aku yang membuat istriku celaka. Maaf......dan tolong jaga istri dan anakku selama aku tidak ada. Aku mencintainya...." Tanpa menatap Cantika, Tara segera meminta polisi untuk membawanya.


"Terima kasih telah membantu Kak, aku tidak tau bagaimana aku tanpa kalian. Mungkin jika tidak ada kalian aku akan membusuk di penjara."


"Jaga diri baik-baik disini, aku hanya bisa bantu sampai disini." Andika masih menyesalkan apa yang terjadi, namun nasi sudah menjadi bubur dan tak dapat lagi merubah semuanya.


"Aku titip Cantika dan anakku Kak...."


Andika menganggukkan kepala, kemudian merelakan Tara di bawa ke tempatnya mendapatkan hukuman. Raihan sangat tau jika Andika sangat-sangat terpukul, dia menepuk pundak Andika dan mengajaknya untuk kembali kerumah sakit.

__ADS_1


Seminggu Cantika dan Bayinya mendapatkan perawatan di rumah sakit dengan di dampingi mamah papah serta Andika dan Erna. Sedangkan Raihan dan Andini memutuskan untuk pulang karena anak-anak mereka yang masih kecil-kecil sempat di tinggal belum lagi Gibran yang masih bayi pun di titipkan oleh bibi di rumah.


Keputusan besar telah kedua orangtuanya ambil, Cantika dan bayinya di bawa pulang ke Surabaya dengan Mamah dan Papah yang akan merawat. Andika dan Andini pun tak keberatan karena kondisi Cantika dan dirinya yang menolak pulang ke Jakarta. Hatinya masih rapuh dan butuh ketenangan. Keputusan itu pun tepat di lakukan.


"Kak Andika....Kak Erna...boleh Cantika minta tolong pada kalian?" tanya Cantika, saat ini mereka sudah sampai di Surabaya dan Andika juga Erna harus cepat kembali ke Jakarta karena Gibran yang mendadak rewel.


" Apapun.... Insyallah selagi kami mampu pasti akan kami lakukan untuk membantu kamu Cantika. Kamu mau apa?" Erna menyetujui ucapan Andika dan menatap Cantika dengan menunggu permintaannya.


"Sebelumnya aku berterima kasih pada Kakak yang telah membantu Tara dalam proses sidang, dan kali ini aku ingin meminta tolong. Tolong jaga bayiku dan angkatlah dia sebagai anak kakak berdua. Karena aku tidak bisa menjadi ibu yang sempurna. Aku tidak bisa merawatnya seperti ibu yang lain. Dengan segala keterbatasanku dan ayahnya yang kini dalam masa hukuman. Aku pikir tak baik baginya kelak merasakan kesulitan apa lagi jika mendapat pandangan buruk dari orang lain."


"Aku mohon, bawalah bayiku bersama kalian. Aku tidak akan meminta karena jika kalian mengiyakan aku pun akan mengikhlaskan. Dan aku minta tolong berikanlah kasih sayang yang penuh seperti kalian menyayangi anak kalian sendiri. Dan satu lagi, jagalah rahasia ini sampai putriku menanyakannya sendiri."


Andika dan Erna saling memandang, hingga anggukan dari Erna mengawali semua kehidupan bayi itu di mulai. Cantika pun ikhlas akan keputusan yang sangat berat namun harus ia lakukan demi kebaikan putrinya.


"Aku memberinya nama Tiara, Mutiara.....semoga kelak dia pun akan menjadi Mutiara di tengah-tengah keluarga kalian. Jaga dia ya Kak...aku percayakan pada Kak Erna dan kak Andika."


Akhirnya keputusan pun sudah bulat di ambil oleh keduanya, membawa pulang Tiara atas permintaan Cantika dan persetujuan bersama. Cantika pun hanya bisa menangis dan mengecup Tiara sebelum benar-benar ikut ke Jakarta dan tak lagi bisa bertemu dengan buah hatinya.


"Baik-baik disana ya nak, jadi anak yang sholehah untuk mamah dan papah kamu....Bunda sayang Tiara...."


Sungguh menyesakkan namun tak ada lagi yang harus di ragukan karena Tiara jatuh pada orang yang tepat. Namun sebelum meraka benar-benar pulang ke Jakarta. Sang Papah berpesan untuk kelak menikahkan Tiara dan Gibran. Karena Tiara adalah titipan yang sangat indah bagi keluarga mereka. Dan kelak akan menjadi Mutiara di tengah keluarga. Papah pun tak ingin Tiara kelak menjadi menantu orang lain.

__ADS_1


Amanah yang mendapatkan persetujuan dari Andika, meskipun ia tidak tau bagaimana kedepannya tetapi untuk saat ini ia hanya ingin fokus pada kedua anaknya yang butuh kasih sayang penuh dari dirinya dan istri. Hingga Andika dan Erna mampu membesarkan keduanya dengan baik dan mengirimkan setiap kegiatan atau apapun yang Tiara lakukan dalam bentuk foto dan video pada Cantika.


__ADS_2