
Rafkha segera duduk di samping Pak Saka, kemudian tak lama Dina masuk dengan membawa beberapa lembar berkas yang telah di siapkan.
Wanita itu masih menatap sengit Tiara dan mulai duduk mendekati bosnya. "Ini Pak sudah saya siapkan." Dina tau Rafkha sudah ingin menikah namun ia memang menyukai Rafkha sejak pertama melamar dan ingin menggunakan kesempatan sebaik mungkin agar bisa dekat meski hanya mencium wangi parfumnya saja.
"Hhmm...." Rafkha segera menyodorkan berkas-berkas tersebut setelah sempat membacanya kemudian di terima oleh Tiara dengan memperhatikan Dina yang kini ikut duduk di samping Rafkha dengan mengikis jarak.
Meeting pun di mulai, Tiara tidak melupakan ucapannya pada Rafkha tadi. Ia menekan kekesalan karena Rafkha pun tak sadar si uler kadut tengah mendekat dan menatap dengan lekat. Seperti dirinya akan merugi jika suaminya terus di dekati, Tiara berusaha menyelesaikan meeting ini dengan lancar hingga usai.
"Baik, meeting hari ini selesai sampai di sini. Kedepannya semoga project ini berjalan lancar dan mulai besok pengerjaan sudah bisa di mulai." Pembangunan apartemen dan beberapa tempat pusat pembelanjaan akan di mulai esok dengan orang-orang yang berkompeten di dalamnya.
Ini adalah projects pertama dengan sang istri dan banyak rencana di dalamnya. Sejak awal Rafkha mengajak kerjasama bukan tanpa alasan, karena itu semua akan ia persembahkan untuk Tiara meski ada campur tangan dana perusahaan Tiara di dalamnya. Namun hanya sedikit selebihnya Rafkha sudah mengatur serapi mungkin agar Tiara tak lagi di pusingkan akan itu.
Mereka pun bersalaman, Tiara sengaja meminta Wahyu untuk pulang duluan dan ia tetap tinggal tanpa menunggu Rafkha meminta. Melihat Dina yang sengaja membereskan berkas-berkas di atas meja dengan gerakan lambat dan menghalangi Rafkha untuk beranjak membuat Tiara naik darah.
"Sayang...apa masih lama? dedeknya minta di Elus loe dari tadi..." Tiara berdiri dengan mengusap perutnya membuat semua yang ada disana terdiam menoleh ke arahnya. Begitupun dengan Wahyu yang akan meninggalkan ruangan berbarengan dengan Pak Saka, nampak terkejut dengan ucapan Tiara. Pasalnya baru dua hari bertemu masak ia sudah mengandung. Ajaib sekali mereka, tetapi Wahyu dan Pak Saka secepatnya sadar dengan apa yang terjadi.
"Lebih baik kita cepat keluar Pak, sepertinya rumah tangga mereka mulai memanas."
"Hhm ... Bapak betul sekali, mari!" Wahyu pun segera mengikuti langkah Pak Saka keluar dari ruangan mereka.
"Hay, jangan gila kamu ya! mana ada di tabrak bisa hamil. Lagian kena juga nggak," sewot Dina yang tak terima dengan ucapan Tiara. Dan mulai mendekati Tiara namun di tahan oleh Rafkha.
"Jangan berani-berani menyentuhnya! dia benar, ada bayiku yang minta di manja Papahnya. Dan cepat kamu keluar dari ruangan saya!" tegas Rafkha tanpa mengalihkan pandangannya pada Tiara yang juga menatapnya heran.
Tiara tak percaya Rafkha justru malah mengiyakan padahal dirinya niat ingin mengerjai keduanya. Malah berujung ia curiga dengan tatapan Rafkha yang kini begitu tajam melihat bagian perut seperti menelanjanginya.
"Tapi Pak, memang siapa dia? Wanita ini kan hanya klien Bapak dan kalian baru bertemu."
"Cepat keluar! atau kamu mau aku hamilin juga!" mata Tiara melotot mendengar ucapan Rafkha begitupun dengan Dina. Namun Dina malah mengulum senyum dan merapikan rambutnya kemudian kembali mendekat.
__ADS_1
"Heh! mau ngapain kamu? berani mendekati suamiku! aku patahkan kakimu sekarang juga!" sentak Tiara yang tak terima kemudian mendekati Rafkha yang kini tersenyum tipis melihat kemarahan Tiara.
Sejak tadi ia menahan cemburu, tetapi kini rasanya ia lega melihat Tiara masuk ke dalam perangkapnya.
"Suami? siapa yang kamu sebut suami? jangan ngarang ya Bu Tiara yang terhormat. Pak Rafkha ini baru ingin menikah, belum memiliki istri sah. Jangan ngaku-ngaku dech, lagian mana mau Pak Rafkha dengan wanita ceroboh macam kamu!"
"Wah ngajak perang, nggak percaya? kamu nggak percaya jika saya istrinya?"
"Nggak!" ketus Dina.
Tiara segera mendekati Rafkha bahkan melangkah naik ke atas meja dan lompat ke tubuh Rafkha yang nampak gelagapan dengan aksi bar bar istrinya. Beruntung ia sigap dan segera menangkap tubuh Tiara, namun tak hanya itu bibirnya di bungkam oleh sang istri dengan brutal membuatnya mendelik tak percaya namun tak menyia-nyiakan.
Wajah Dina memerah melihat keduanya saling bercumbu, ia memang masih tak percaya namun melihat Rafkha yang ia tau tak tersentuh membuatnya memaksakan hati untuk mempercayai jika keduanya memiliki hubungan lebih.
"Tutup rapat dan jangan ada yang mengganggu, apa lagi masuk!" perintah Rafkha menghentikan langkah Dina. Namun tak lama ia segera menutup pintu dengan kasar.
Wajah Tiara nampak merah dan lega melihat Dina keluar tanpa di minta. Kemudian segera turun dari atas tubuh Rafkha namun dengan cepat Rafkha menahan tubuhnya dan melangkah menuju kamar pribadi miliknya yang telah tersedia.
"Mau menyelesaikan yang tertunda dan sudah di mulai," jawabnya kemudian kembali membungkam bibir Tiara tanpa memberi kesempatan untuk wanita itu protes. Tiara pun tak dapat berkutik lagi, Rafkha dengan mudah melancarkan aksinya.
Tiara lupa jika anak soang yang satu ini tidak bisa dipancing sedikit. Dan kini ia harus berakhir di atas ranjang ruangan yang tak terlalu besar namun nyaman. Sepertinya pemilik kantor ini memang sengaja membuat ruangan tersebut untuk menyambut kedatangan istrinya.
Rafkha tersenyum melihat wajah sang istri yang nampak letih dengan mata sayu. Ia mengecup seluruh wajah istrinya dengan cinta yang setiap harinya bertambah.
"Ayo mandi sayang, setelah ini kita harus ke butik."
"Capek banget Kak! tenaga aku habis di sedot jelmaan Diego." Rafkha terkekeh mendengar ucapan istrinya, tanpa aba-aba ia segera meraih tubuh sang istri dan membawanya untuk bersih-bersih.
"Kak..." rengek Tiara tak ingin buru-buru beranjak tetapi Rafkha seperti tak ingin berlama-lama di sana.
__ADS_1
"Nanti istirahat lagi dirumah sayang, sekarang kamu cukup diam biar aku bantu. Karena kita tidak bisa menunda fitting baju. Acara sudah dekat dan aku ingin yang terbaik untukmu!"
Setelah dari butik, Tiara benar-benar mengistirahatkan diri sampai tak tahan lalu tertidur di mobil dalam perjalanan pulang. Rafkha pun tak mengganggu, ia mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk kamar setelah sampai di rumah. Menyematkan tanda sayang dan berganti pakaian setelah memastikan Tiara tertidur dengan nyaman. Setelah itu Rafkha turun kebawah membuatkan makanan sebelum Tiara terjaga.
Pagi ini di salah satu kapal pesiar yang telah Rafkha sewa untuk acara resepsi pernikahan, telah ramai dengan para kru Event organizer yang menata dekor seapik mungkin.
Keluarga pun sudah dalam perjalanan menuju lokasi karena sore ini acara akan di mulai hingga malam hari. Tiara di buat takjub bahkan tak henti bersyukur, Rafkha benar-benar ingin membuatnya bahagia dengan caranya. Dan itu berhasil, malam ini semua impiannya terwujud.
Acara resepsi yang di impikan akan segera terlaksana. Dan Tiara pun mulai di rias untuk acara yang akan di mulai.
Para tamu sudah mulai datang, sapaan sampai pujian mulai tersemat dari setiap orang yang datang. Kedua mempelai pun sudah berdiri di singgasana menyapa para tamu dan menyalami dengan senyuman mengembang.
"Bagaimana sayang? kamu suka?" tanya Rafkha dengan melingkarkan tangannya di pinggang Tiara.
"Sangat suka kak, makasih sudah mewujudkan impianku. Aku mencintaimu Kak, kamu segalanya untukku...." Jawab Tiara kemudian mengalungkan tangannya di leher Rafkha siap untuk berdansa.
Kini keduanya berdansa di tengah kerumunan para tamu yang datang, banyak pasangan yang juga ikut serta. Begitupun dengan Brian dan Aara, Lily dan Wahyu lalu Gibran yang membawa seorang wanita cantik yang ntah bertemu di mana karena sebelumnya ia jomblo akut.
Semua tampak bahagia dan menikmati pesta, begitupun para orang tua. Hanya Ayah Tara yang sibuk dengan istrinya karena mabuk laut efek kehamilannya. Lalu memilih untuk beristirahat di kamar yang telah di sediakan.
"Tak ada yang membuatku bahagia selain melihat senyuman di wajah istriku.."
"Untuk hari ini, esok dan nanti, tetaplah bersamaku menjadi permaisuri di hatiku dan jangan pernah berniat ingin pergi meski hanya selangkah saja..."
"Tiara Baratajaya aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku..."
Tiara menatap haru dengan air mata yang sudah terjun. Tak ada jawaban yang keluar dari bibirnya, hanya senyuman manis dan kecupan yang ia berikan pada suami tercinta.
Dan kini keduanya menjadi pusat perhatian karena ciuman dari Tiara yang di sambut hangat oleh Rafkha. Kebahagiaan yang bertahun-tahun tertunda membuat hubungan keduanya semakin erat...
__ADS_1
Malam ini pun menjadi saksi cinta keduanya semakin bersemi dan di lanjut honeymoon indah yang telah Rafkha siapkan esok hari.
-Tamat-