
Kini Tiara berkemas setelah Andika memberitahukan jika kedua orang tuanya masih ada dan kini berada di kampung bersama Oma. Belum banyak yang Andika ceritakan tetapi Tiara sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan kedua orang tua kandungnya.
Bahkan ketika Andika ingin menjelaskan, Tiara segera masuk kamar untuk membereskan pakaian. Membuat Andika dan juga Erna terpaksa menuruti. Mereka pasrah dengan semua yang nanti akan terjadi, mengembalikan lagi pada yang maha pencipta bagaimana kedepannya.
Kini keluarga Raihan pun datang, setelah tau Rafkha sudah membawa Tiara pulang dan ingin bertolak ke Surabaya. Ini momen penting bagi Andini yang mendadak rewel ingin ikut serta. Dia tak tega dengan keponakannya yang nanti pasti hancur hatinya.
Raihan telah tiba membawa serta istri dan kedua putrinya. Mereka semua memutuskan untuk ijin dari sekolah untuk mengantar Tiara bertemu dengan ibunya. Rafkha pun sejak tadi hanya diam, hatinya gamang. Dia memikirkan bagaimana nanti ketika bertemu dengan orang tua kandung Tiara, apa mereka akan menerima dirinya atau menolak sedangkan mereka tau jika keduanya sudah berhubungan badan.
Perjalanan menuju Surabaya menjadi singkat karena menggunakan jet pribadi milik keluarga Baratajaya. Jet yang cukup menampung semua keluarga untuk terbang ke Bandar Udara Internasional Juanda Surabaya. Dengan segala kekuasaan keluarga Baratajaya semua menjadi mudah.
Mereka sampai di bandara dan masih harus menempuh perjalanan darat menuju kampung tempat Omanya tinggal. Pada sore hari semua sampai dengan di sambut oleh wanita tua yang masih terlihat sehat walaupun wajah berkeriput tetapi masih gagah.
Ini kali pertama semua cucunya datang mengunjungi, biasanya beliau yang datang ke Jakarta untuk menengok saat rindu melanda. Dan kini beliau terkejut dengan kedatangan anak dan cucunya, haru di usia nya yang sudah tua tetapi masih bisa melihat semua anak cucu sehat. Namun heran karena tak ada kabar namun tiba-tiba datang.
"Assalamualaikum Oma...." semua cucu perempuannya segera menghampiri, menyalami dan memeluk dengan sayang. Tiara pun ikut serta walaupun hatinya gundah. Dia tampak celingukan dan heran kenapa hanya Omanya yang menyambut, apakah kedua orangtuanya bekerja atau memang tidak mau bertemu hingga ia di titipkan dan di asuh Mamah Papah yang seharusnya menjadi Om dan Tantenya.
"Wa'allaikumsalam....kenapa tidak memberi kabar? tau gitu Oma masak banyak buat kalian semua, cucu Oma sudah besar dan cantik-cantik. Aara, Lily dan Tiara. Kalian tumbuh menjadi gadis yang cantik dan ini si imut manja!" Oma mencubit pipi Tiara dengan sayang dan memeluk mereka kembali.
"Terlalu kangen sama Omanya jadi mereka ingin segera datang." Andika tersenyum pada mamahnya, menyalami dengan takzim diikuti istri dan yang lain hingga kedua cucu laki-laki yang segera menghampiri.
"Rafkha dan Gibran, makin tampan kalian..." Keduanya memeluk Oma dengan Tiara yang sejak tadi memperhatikan. Dia berdiri dengan Lily yang terus mendampingi. Siapa lagi jika bukan Rafkha yang meminta adik-adiknya menjaga Tiara karena hatinya sedang tidak baik-baik saja. Sedangkan dia harus tetap menjaga batasan saat semua keluarga berkumpul.
__ADS_1
"Ayo masuk! Oma buatkan minum..."
"Tidak perlu Oma, biarkan cucu-cucu cantik Oma yang membuatkan minum. Oma cukup duduk dan mengajak anak-anak Oma beristirahat karena sepertinya mommy mabuk pesawat. Maklum Oma nggak biasa di ajak Daddy jalan-jalan menembus awan." Ucapan Aara membuat Oma dan yang lainnya tertawa, pantas saja Andini yang selalu heboh jika bertemu dengan Mamahnya nampak diam. Ternyata diam-diam nahan mual.
Mereka pun segera masuk dan membawa barang bawaan masuk ke dalam. Sedangkan cucu perempuan Oma membuatkan minum di dapur.
"Ada apa, kenapa mendadak?" Oma mendadak serius, melihat wajah Tiara yang tak seceria biasanya membuat beliau curiga. Apa lagi Erna tampak sendu dan Andika yang berulang kali menghela nafas berat dengan segala beban.
"Tiara Mah...." lirih Andika. Ucapan terhenti ketika dirinya melihat sang Mamah memejamkan mata dengan menarik nafas dalam. Beliau mengerti sekarang alasan semua anak dan cucunya datang. Karena Tiara sudah tau rahasia di keluarganya. Oma pun mengangguk dan melirik ke arah Gibran yang kini menundukkan kepala.
"Gibran.."
"Iya Oma." Gibran menatap Omanya dengan perasaan entah, setelah jelas-jelas di tolak oleh Tiara membuat mental Gibran down. Apa lagi sikap Tiara yang benar-benar menghindarinya membuat Gibran hampir putus asa.
"Tiara....."
"Tiara milik Rafkha Oma!" jawab Rafkha lantang membuat Oma terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka kedua cucu laki-lakinya bisa mencintai satu gadis yang sama. Dan apakah ia sebagai orang tua tega mematahkan harapan cucunya. Beliau menghela nafas berat kemudian menatap sang Putra.
"Andika gagal menjaganya Mah, bahkan mereka sudah....."
Tangan Oma menyentuh dada membuat Andini segera mendekat, mengusap punggung sang Mamah agar lebih santai menghadapi masalah.
__ADS_1
"Tenang Mah, rileks....maaf, maafkan Rafkha. Keduanya ternyata saling mencintai. Dan Andini gagal menjadi mommy yang baik, hingga Rafkha berbuat nekat pada Tiara." Andini memeluk Mamahnya, air mata keduanya sudah mengalir deras. Begitupun yang ada di sana, Raihan tak tega melihat istrinya sampai menyalahkan diri sendiri. Apa lagi begitu sedih setelah tau apa yang Rafkha perbuat.
"Ikut Daddy!" bisik Raihan kemudian pergi ke luar rumah. Sudah dari kemarin dia tak bertemu dengan putranya, belum menanyakan apa tujuan putranya melakukan demikian meskipun dia sudah bisa membaca pikiran putranya.
Bugh
"Ini untuk pria pecundang!"
Bugh
"Ini karena kamu sudah membuat Mommy mu menangis!"
Bugh
"Dan ini dari Daddy, kekecewaan karena Daddy tidak pernah mengajarkanmu menjadi pria brengs3k!"
Rafkha menerima pukulan dari Daddy nya dengan tersenyum, dia sadar akan kesalahannya dan tak niat mengelak. Rafkha menatap Daddy dengan luka di bibir, luka dari pukulan yang Gibran layangkan tempo hari belum cukup kering, kini di tambah lagi dengan pukulan dari Daddy nya yang menambah perih.
"Maaf Dad..." lirih Rafkha, "Maaf telah mengecewakan, tapi ini bentuk penolakan dari Rafkha. Aku nggak mau di jodohkan Dad, Aku mencintai Tiara. Dia yang akan menjadi istriku kelak, bukan Zea atau wanita lain."
"Tapi bukan dengan kamu menghancurkan semuanya, membuat semua kecewa dan membuat semua berantakan."
__ADS_1
"Andai Daddy mengerti, jika tidak ada kejadian ini apakah menurut Daddy aku akan tetap menurut? jika tidak ada kejadian ini sampai kapan kalian menutupi rahasia besar dari Tiara. Daddy egois jika hanya menyalahkan aku, walaupun kelakuanku salah. Tapi disini aku pun menjadi korban. Karena seharusnya bukan aku yang kalian jodohkan."
Raihan terdiam, bahkan ia diam saat Rafkha masuk meninggalkannya. Ya, dia pun salah dan tak memikirkan perasaan putranya. Sejak awal memang dia sudah sadar akan itu, tapi dengan tega meneruskan rencana perjodohan.