
Sebelum Rani pamit, ia sempat mengingatkan Tiara kembali dengan meeting penting bersama perusahaan baru yang akan mengajak joint. Tiara paham dan mencoba melupakan kesedihannya dan kembali fokus pada pekerjaan. Kali ini joint yang menguntungkan, apa lagi tak hanya dengan satu perusahaan yang terlibat.
Perusahaan baru yang bergerak di bidang kontruksi itu sangat pintar, dia menggandeng sekaligus perusahaan bagian advertising untuk pemasaran agar pembangunan apartemen serta pusat pembelanjaan mewah yang akan di bangun di kota K cepat mendapatkan pelanggan jadi terealisasi dengan baik dan cepat mendapatkan keuntungan yang pesat.
Tiara dan juga Wahyu sudah berada dalam perjalanan, kali ini Tiara tak repot menyetir karena sudah ada Wahyu yang bisa di andalkan.
"Berkas sudah siap semuanya. Katanya perusahaan baru ini juga nggak bisa di anggap remeh, CEO nya pintar."
"Hmmm...mudah-mudahan bisa berjalan dengan lancar dan memberi keuntungan yang lumayan. PT Rafara Jaya aku sich belum lama denger ya, kalo di lihat dari nama perusahaannya sepertinya CEO nya juga perempuan, bener nggak sich?" Tanya Tiara memastikan.
"Aku belum paham karena selama ini pendirinya sendiri nggak langsung turun tangan, ada kaki tangannya yang mewakili setiap ada kerjasama atau meeting dengan perusahaan lain. Itu yang aku tau setelah aku kepoin sebentar pas aku tau ini adalah perusahaan baru berdiri 6 bulan tapi sudah melejit."
"Hmm....Dan kita akan bertemu dengan perwakilannya juga?" Tanya Tiara dengan merapikan make upnya yang tadi sempat luntur karena menangis setelah makan siang.
"Mudah-mudahan aja dengan pemiliknya langsung."
Kini keduanya sudah berada di restoran mewah di salah satu hotel ternama di Jakarta. Tiara segera masuk dan di sambut hangat oleh seorang pria yang merupakan kaki tangan pemilik perusahaan Rafara Jaya yang di utus dari kantornya.
"Silahkan duduk Bu Tiara, senang bertemu dengan Anda. CEO cantik yang sedang buming di perbincangkan."
Tiara menanggapi dengan senyum manis dan segera duduk setelah Wahyu menggeserkan kursinya, namun tidak dengan Wahyu yang tak suka dengan pujian yang di layangkan. Dan memperlakukan Tiara seperti kekasih bukan Bos yang seharusnya. Ia begitu lembut membuat Pak Saka melirik penuh selidik. Tetapi sadar akan itu, Tiara segera memperkenalkan Wahyu pada beliau.
"Maaf Pak jangan terlalu menyanjung karena saya masih banyak belajar dengan orang-orang yang berpengalaman seperti Bapak tentunya. Dan ini perkenalkan Wahyu asisten saya, beliau pun merangkap sebagai sekertaris saya juga."
Wahyu pun mengulurkan tangannya pada Pak Saka, pria yang ia duga tak jauh umurnya dengan dirinya. "Wahyu, asisten plus-plus dari Bu Tiara."
Mendengar ucapan Wahyu Pak saka mendelik menatapnya begitupun Tiara yang kurang nyaman dengan apa yang Wahyu ucapkan.
"Maaf Pak, maklum dia itu sahabat saya jadi agak bercanda tidak apa ya Pak." Tiara mencoba menjelaskan namun di bawah sana ia menginjak sepatu Wahyu dengan geregetan.
__ADS_1
Melihat tingkah Tiara yang kesal padanya justru membuat Wahyu gemas, apa lagi melihat Tiara yang salfok dengan ucapannya tadi. Apa yang dipikirkan oleh wanita itu, Wahyu menggelengkan kepala dengan menahan tawa.
Meeting pun di mulai, Tiara cukup tertarik hingga memutuskan untuk menyetujui kerja sama dengan baik. Membaca berkas yang telah di sediakan dengan teliti dan meminta usulan dari Wahyu yang juga menyetujuinya, Kini Tiara mulai menandatangani surat kerjasama tersebut sebagai tanda persetujuan atas kerjasama yang akan terjalin.
"Terima kasih Bu Tiara, nanti akan saya sampaikan pada Bos saya, dan meminta tanda tangan beliau. Untuk meeting selanjutnya mungkin dengan beliau karena beberapa bulan ini belia memang sedang sibuk menyiapkan pernikahannya jadi belum bisa menghandle langsung pekerjaan."
"Baik Pak, tidak masalah. Untuk meeting selanjutnya bisa di infokan kembali dengan asisten saya, kalo begitu kami pamit ya pak. Terima kasih atas kerja samanya." Tiara menjabat tangan Pak Saka sebelum akhirnya beranjak dari duduknya.
"Kembali kasih Bu, hati-hati di jalan!"
Tiara tersenyum dan menganggukkan kepala kemudian beranjak dari duduknya.
Bruk
Tiara tak sengaja menabrak orang yang tiba-tiba datang, ia pun segera mengambil berkas yang jatuh. Wahyu yang melihat Tiara agak kerepotan meletakkan kembali laptopnya dan membantu Tiara. Sedangkan Pria yang tadi di tabrak oleh Tiara masih diam di tempat memperhatikan interaksi keduanya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya lembut masih dengan posisi berjongkok. Tiara menganggukkan kepala dan segera berdiri untuk meminta maaf walaupun dalam hati mengumpat kesal karena dada pria itu keras sekali seperti dinding.
Tiara menegang melihta siapa yang ada di hadapannya, bahkan jarak keduanya cukup dekat dan Tiara yakin tak mungkin salah orang. Kemudian melirik wanita yang tadi siang memakinya dengan suara lantang. Setelah itu kembali menatap pria yang kini juga menatapnya begitu dalam. Mata Tiara sudah memanas dengan jantung yang berdebar kencang.
"Kamu lagi aja, dasar ceroboh sekali!"umpat wanita itu namun tak membuat keduanya mengalihkan pandangan padahal Tiara sudah menahan sesak dengan air mata yang susah payah ia tahan.
"Maaf Pak, tadi Bu Tiara mau pamit dan tidak tau jika Bapak datang." Pak Saka pun segera mendekati keduanya dan berdiri di samping Tiara. "Maaf Bu Tiara, beliau ini adalah Bos saya pemilik dari perusahaan Rafara Jaya. Bapak Rafkha Putra Baratajaya."
Tubuh Tiara nampak lemas, hampir saja ia terjatuh jika tidak ada dua tangan dari pria yang kini menahan tubuhnya. Mata Tiara masih tak beralih dari Rafkha namun ia tak kuasa akan posisinya saat ini. Apa lagi saat mengingat Rafkha sibuk mengurus persiapan pernikahan dan wanita yang sejak tadi selalu bersamanya.
Tiara tersenyum getir mendapati kenyataan pahit yang harus ia telan bulat-bulat. Wanita itu menepis cekalan tangan Rafkha di tubuhnya, kemudian berusaha berdiri dengan benar.
"Karena meeting sudah selesai, saya permisi dulu Pak Saka," ucap Tiara segera melangkah dengan berpegangan tangan pada lengan Wahyu tanpa menunggu jawaban dari siapapun.
__ADS_1
Melihat penolakan Tiara, Rafkha hanya menghela nafas panjang lalu duduk di ikuti wanita yang sejak tadi bersamanya.
Sepanjang perjalanan kembali ke kantor Tiara tampak diam tak bersemangat, kepalanya pening dengan mata terpejam. Entah bagaimana kerja samanya ke depan, Tiara seakan tidak sanggup untuk kembali bertemu. Ingin membatalkan juga tidak mungkin karena jelas di sana tertera jika adanya pembatalan secara sepihak dengan alasan yang tidak bisa di terima akan di kenakan pinalti sepuluh kali lipat dari investasi yang akan di ajukan.
Tidak mungkin Tiara mempertaruhkan perusahaannya demi urusan pribadi sedangkan banyak nasib karyawan yang harus ia perhatikan.
"Kenapa?" pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Wahyu setelah keduanya sudah kembali lagi di kantor. Sejak tadi ia menahan keingintahuan dan memberikan waktu untuk Tiara namun kini ia tak bisa membiarkannya lagi setelah melihat wajah murung Tiara semakin menjadi.
Tiara menggelengkan kepala kemudian duduk di sofa dengan menyandarkan tubuhnya, ia menarik nafas dalam dan mengeluarkan dengan perlahan berulang-ulang kali agar emosinya kembali reda. Tak ada yang ingin di jelaskan pada Wahyu karena ia belum siap orang lain tau dan menertawakannya atas kebodohan dirinya selama bertahun-tahun.
"Siapa Dia?" tanya Wahyu lagi setelah tidak mendapat jawaban dari Tiara. Kini Tiara pun hanya menatapnya dengan pancaran mata penuh luka. Dan itu semakin membuat Wahyu curiga dan ingin sekali memaksa agar Tiara mau bercerita.
Hingga jam pulang kantor pun Tiara masih bungkam, ia memilih untuk pulang telat sampai Wahyu lelah membujuknya untuk pulang padahal semua pekerjaan telah ia selesaikan dan sejak tadi Tiara hanya melamun di depan laptop dengan tatapan kosong.
"Mau sampai kapan di sini Ra? ini sudah malam, jangan menyiksa diri sendiri begitu. Kamu butuh istirahat, ayo pulang aku antar! Dan aku nggak akan memaksa kamu untuk bercerita jika kamu belum siap."
Wahyu tak mungkin meninggalkan Tiara sendiri, sejak tadi dia hanya diam memperhatikan setelah menyelesaikan semua pekerjaan. Dan sekarang ia tak bisa lagi membiarkan Tiara terus saja diam, sedikit memaksa agar Tiara lekas pulang.
"Mau jalan sendiri atau aku gendong, hhmm?" Tiara segera menoleh ke arah Wahyu dengan tatapan datar kemudian mengambil tas serta kunci mobilnya setelah mematikan laptop yang sejak tadi hanya diam menyala.
"Kamu yakin mau pulang sendiri?" tanya Wahyu memastikan dan di angguki oleh Tiara.
Wahyu pun hanya bisa merelakan namun tak untuk membiarkan Tiara pulang tanpa pengawasan. Ia mengikuti Tiara sampai mobil wanita itu masuk pagar rumah dan meninggalkannya setelah merasa aman.
Tiara keluar dari mobil dan berjalan gontai menuju rumah, meminta tolong pada Pak Tono untuk memasukkan mobilnya ke garasi dan segera masuk ke dalam rumah. Tiara menghempaskan tubuhnya di atas ranjang setelah membuka sepatunya dengan asal. Berat, hari ini sungguh berat hingga ia tak sanggup mengeluarkan kata-kata.
..."Besok pagi meeting dengan atasan PT. Rafara Jaya. Aku kirim emailnya sama kamu sekarang. Sudah selesai dan tak perlu di pusingkan. Pagi tinggal berangkat dan aku jemput kamu besok!"...
Pesan masuk dari Wahyu membuat kepala Tiara serasa ingin pecah dan segera masuk kamar mandi untuk berendam.
__ADS_1