YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Sial


__ADS_3

"Jadi selama ini cewek yang loe suka adik loe sendiri?" Brian benar-benar tak menyangka, dia pikir perlakuan Rafkha terhadap Tiara murni sebatas kasih sayang kakak kepada adiknya. Apa lagi yang ia tau Gibran tak terlalu dekat dengan Tiara. Jadi Rafkha lah yang menggantikan perannya. Tapi hari ini ia menerima fakta jika Rafkha mencintai Tiara. Bahkan ia hampir saja mendapat bogem mentah dari pemuda itu.


Setelah memberitahu jika Tiara memintanya menjadi pacar, Rafkha menatapnya begitu tajam bahkan setelah bell istirahat berbunyi, Rafkha menarik Brian ke basecamp dan mengatakan kata-kata yang membuat otak Brian mendadak korslet.


"Berani loe terima Tiara jadi pacar loe, gue kirim loe ke rumah sakit sekarang juga!"


Kini Brian menatap Rafkha yang meringkuk di sofa. Tubuhnya masih panas bahkan terlihat lemas. Flu membuat kepala Rafkha pening dan hidung berair. Brian pun tidak mengapa jika Rafkha tak mengijinkannya untuk menerima Tiara, toh bukan Tiara gadis yang ia suka. Hanya terkejut saja dan tak menyangka otak sahabatnya ternyata mentok dan tak seluas yang ia kira.


"Tiara itu adik loe dan di luar cewek yang ngantri buat jadi pacar loe tuh banyak. Dari dunia nyata sampe dunia maya. Dari yang kelihatan wujud aslinya sampe yang cantiknya cuma efek filter. Kenapa harus dia?" Brian benar-benar tak mengerti, katakan jika memang Rafkha tak mau dengan Zea. Tapi tidak harus dengan satu circle juga.


"Loe nggak tau rasanya!" lirih Rafkha.


"Gue mau rasain loe nggak bolehin!" celetuk Brian.


"Mau mondar loe? Keluar sana! pusing gue mau tidur," Usir Rafkha. Saat ini kepalanya serasa ingin pecah, bahkan untuk beranjak dari sana saja ia tak bergairah. Rafkha pun yakin Tiara tidak akan datang. Berhubung kejadian tadi pagi yang membuat Tiara makan hati.


"Sakit aja galak loe! udah kayak singa belum di kawinin," celetuk Brian dan pergi meninggalkan Rafkha agar bisa beristirahat.


Tiara menatap Brian yang datang seorang diri, sempat memesan makanan kemudian berjalan menghampiri.


"Makan cantik..." sapanya pada Tiara dan di jawab senyuman olehnya. Sedangkan Lily menatap jengah Brian yang datang dengan gombalan.


"Ra, sambel donk!" Brian meracik semangkok mie ayam, memasukkan sambal dan saos hingga pas di lidah.


"Jangan banyak-banyak loe, mules perut loe!" Ucap Aara memperingatkan setelah memberikan mangkok sambal.


"Perhatian banget loe Ra, makasih ya. Kalian tau nggak? gue berasa punya istri tiga, mana cantik-cantik lagi. Makmur banget kan hidup gue!"


"Jangan banyak ngebacot Bambang! itu buruan di makan keburu mie loe bengkak kayak badannya Bu Sri noh!" sahut Aara menunjuk ke arah Bu Sri penjaga koprasi yang kegiatannya kipas-kipas sambil menunggu siswa yang ingin membayar dagangannya.


"Bu Sri di bilang kayak gaj_eemmmm....."


Melihat Brian yang berdiri dan berteriak ke arah Bu Sri, Aara segera ikut beranjak dan membungkam mulut Brian dengan tangannya. Bahkan Aara sampai naik ke kursi agar bisa sampai, mengingat Brian yang lebih tinggi darinya.


"Bau tangan loe Nyet!" Brian menepis tangan Aara dan kembali duduk.


"Makanya punya mulut jangan kayak galon di banting! berisik!" sewot Aara dengan menatap sengit Brian. Pria tampan tetapi terkadang mulutnya tak bisa di kondisikan.


Mereka kembali menikmati makanannya dan duduk dengan tenang. Tak ada lagi obrolan hingga Tiara membuka suara.

__ADS_1


"Kak, kak Rafkha nggak ikut makan?"


Brian menatap Tiara dengan tatapan berbeda, dia menatap dalam Tiara hingga Lily menendang kakinya dan membuyarkan pikirannya.


"Sakit Lily, kalo jeleous bilang jangan malah nendang! kualat ntar sama Abang Brian kalo nggak sopan." Brian mengedipkan sebelah matanya pada lily dengan seringai jail.


"Biarin! makanya kalo punya mata di jaga, loe ngeliat Tiara udah kayak liat pisang!" sewot Lily membuat Brian mendelik mendengar ocehannya.


"Loe kata gue monyet! Tiara sayang, kakak Rafkha tercinta lagi sakit. Noh ngeringkuk di basecamp, mending loe bawain dia makan beserta obat-obatan, siapa tau kalo adik tercintanya yang ngurusin bakal langsung kabur penyakitnya. Ya kan neng Lily?" Brian menaik turunkan alisnya menggoda Lily.


Tiara baru ingat jika Rafkha sejak pagi tadi sakit, bahkan memintanya datang di jam istirahat. Meskipun hatinya kesal tetapi Tiara tak setega itu. Tiara segera beranjak dari sana dan membeli makan serta minum. Gadis itu meninggalkan makanannya yang masih tersisa banyak.


"Loe mau kemana Tiara?" tanya Lily saat melihat Tiara melangkah keluar kantin.


"Gue mau ngasih makanan buat kak Rafkha, lupa kalo tadi dia nyuruh gue ke basecamp di jam istirahat. Bentar ya, keburu masuk nich atau loe ikut aja yuk!" ajak Tiara dan segara menggeret Lily keluar dari kantin.


"Gue belum minum tau!"


"Nelen air ludah dulu aja!" sahut Tiara asal membuat Lily merengut kesal tetapi mempraktekkan ucapan Tiara.


"Seret njiiiiir!" gumamnya.


Ceklek


Dug


"Auuwhh loe kalo mau berhenti bilang kek, biar gue bisa ngerem! jidat gue Ogeb!" Lily mengusap keningnya seraya menatap heran Tiara yang tiba-tiba diam.


"Tiara....." lirih Rafkha.


Tiara menjatuhkan kantong plastik makanannya dan melangkah mundur. Hatinya sedikit nyeri bahkan air matanya sudah ingin terjun membasahi pipi.


"Maaf ganggu...."


Tiara terus memundurkan langkahnya menjauh dari ruangan, kemudian berlari ke arah kelas meninggalkan Lily yang menatap heran. Lily pun segera melihat ke dalam ruangan tersebut, ia melihat Zea yang duduk di pangkuan Rafkha.


"Kak....loe...."


"Kejar dia Ly!" sentak Rafkha sekuat tenaga.

__ADS_1


Lily segera berlari menuju kelas untuk menyusul Tiara tetapi sampai di kelas ia tidak menemukan Tiara bahkan tasnya pun tidak ada.


Tiara masuk kedalam taksi setelah membuat alasan palsu pada scurity jika ia ijin pulang karena sakit. Dan dengan mudah scurity membukakan gerbang karena hafal betul siapa Tiara.


Sial-sialnya ku bertemu dengan cinta semu


Tertipu tutur dan caramu


Seolah cintaiku....


Puas kau curangi aku


Bagaimana dengan aku


Terlanjur mencintaimu


Yang datang beri harapan


Lalu pergi dan menghilang


Tak terpikirkan olehmu


Hatiku hancur karenamu...


Tanpa sedikit alasan


Pergi tanpa berpamitan


"Ck, kenapa Pak sopir nyetel lagu ini sich. Makin deras kan air mata gue!" Tiara mengusap kasar air mata yang terus keluar tanpa ijin. Entah mengapa hatinya begitu sakit.


"Harusnya nggak gini, tapi kenapa nyesek banget! padahal gue udah bilang jangan, tapi loe masih aja suka! sekarang loe sakit kan? hiks hiks..." Tiara menepuk dadanya berulang kali dengan menahan Isak tangis.


...****************...


Namanya juga keturunan Opa Vino, hal kayak gini harus terulang lagi to le.....


Yang baca jangan sambil nyanyi ya, nanti ikut galau.


Ayo jangan lupa coment, like dan vote. Terimakasih 🤗

__ADS_1


__ADS_2