
"Udah Ra, loe nggak capek nangis terus dari tadi?" Aara dan Lily yang begitu bersemangat mengintrogasi justru di buat pusing karena Tiara yang tak bisa diam sejak tadi. Kini semua sudah berada di rumah, mamah Erna yang sejak tadi menenangkan Tiara terpaksa harus segera pulang karena Papah Andika yang harus segera berangkat kerja. Dan kini tugas mereka berdua membuat Tiara menghentikan tangisnya.
"Hiks....Hiks..HIks.... baru juga gue enak-enak bentaran, udah harus pisah lama." Tiara semakin membuat kedua adik iparnya penasaran, tetapi urung untuk bertanya karena Tiara belum kunjung menghentikan tangisnya. Hingga mereka lelah dan tertidur di kamar Rafkha.
Tiara pun nampak tenang dan lelap apa lagi semalaman digempur hingga kurang tidur. Memeluk pakaian Rafkha yang semalam di pakai sampai tak terasa hari sudah menjelang sore.
Lily dan Aara sudah tak ada saat ia membuka mata, Tiara segera turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Malam ini ia memutuskan untuk tidur semalam di rumah mertuanya dan besok pagi segera pulang ke rumah Papah Andika lalu sorenya ke kampung Ayah karena sudah banyak yang harus di urus.
Baru saja Tiara keluar dari kamar, Aara dan Lily sudah kembali stand bye di atas ranjang menunggu ia selesai mandi dengan tersenyum membuat curiga.
"Loe pada ngapa dah? lihat gue udah kayak lihat rumput!" Tiara segera duduk di depan cermin mengeringkan rambutnya yang basah dengan leher yang menjadi pusat perhatian. Tiara memakai atasan kaos Rafkha yang tampak kebesaran di tubuhnya namun memperlihatkan dengan jelas semua tanda merah di sekitar leher dan dadanya sedikit.
"Ck. loe kata gue kambing! Tapi banyak banget Ra....
"Gimana rasanya?" tanya Lily menyerobot ucapan yang ingin keluar dari bibir Aara. Dia yang begitu penasaran akhirnya memotong ucapan Aara, dan kini hanya meringis dengan dua jari ia pamerkan di depan muka Aara. "Sorry..." Kemudian Lily menatap Tiara yang kini membalikkan tubuhnya dengan memegang hair dryer.
"Rasa apa maksud loe? Rasa yang tertinggal? ya sedihlah pake ditanya lagi." Tiara menggelengkan kepala menatap jengah dan melanjutkan lagi kegiatannya tanpa menghiraukan ekspresi dari kedua adik iparnya.
"Bukan itu jameeeet! Rasa malam pertama tuh gimana?" celetuk Aara yang sudah tidak sabar dengan cerita yang ia tunggu-tunggu sejak tadi.
Tiara segera menyimpan kembali hair dryernya, merapikan meja dan kembali ikut duduk di ranjang. Apa yang harus ia jelaskan, rasanya saja tak bisa di gambarkan. Tiara menarik nafas dalam sebelum akhirnya menjawab kekepoan yang sejak pagi mendera kedua adik iparnya.
__ADS_1
"Loe mau tau rasanya?" Tanya Tiara dan dianggukki oleh keduanya. "Rasanya nano-nano, kayak makan makanan restoran tapi gratis nggak bayar. Gimana rasanya?" tanya Tiara balik. Tetapi tak ada tanggapan dari keduanya, namun tampak sedang berpikir keras dengan saling menatap.
"Enak donk..." celetuk Aara.
"Hmm....Banget!" sahut Tiara, membuat tambah penasaran. "Sakit-sakit sedep, lagian dari pada kalian ngepoin gue mending kalian rasain sendiri. Cepat nikah biar tau rasanya jadi nggak penasaran." Solusi yang membuat emosi, Aara dan Lily cemberut mengingat pacar saja mereka tak punya lalu mau menikah dengan siapa.
Malam ini Tiara tidur sendiri, merasakan ranjang sebelah tak sehangat kemarin. Beruntung ada kaos Rafkha yang menemani dengan aroma tubuhnya yang menenangkan hati. Setelah makan malam tadi Tiara memilih untuk beristirahat dan tak ikut Aara dan Lily yang keluar membeli cemilan. Rencana mereka mau menonton drakor bersama tetapi Tiara mendadak sendu karena rindu.
"Kakak sudah sampai mana ya, kangen kak padahal belum ada 24 jam." Tiara tertidur dengan memeluk kaos dan tangan membuka layar ponsel yang menampilkan dua sejoli saling menatap gemas. Siapa lagi jika bukan dia dan Rafkha. Sampai tak terasa air mata membasahi pelupuk mata hingga tertidur lelap.
Sebelum subuh Tiara terbangun dengan ponsel yang berdering, panggilan vidio dari nomor asing masuk. Tiara mengernyit heran siapa yang pagi buta menghubungi. Tetapi cukup penasaran takut-takut itu Rafkha dengan nomor luar.
"Kakak sudah sampai?" Tanyanya dengan antusias, menatap layar dengan mengucek mata memperhatikan Rafkha yang kini sedang berada di dalam ruangan.
"Sudah, baru saja sampai. Capek perjalanannya lumayan." Rafkha melihat wajah sembab Tiara dengan mata bengkak. Tak ingin bertanya namun paham sebabnya apalagi Rafkha melihat jelas posisi tidur Tiara yang memeluk kaos miliknya.
"Syukurlah.....Istirahat kak, sepertinya disana masih malam. Nanti kita sambung lagi kalo kakak sudah hilang lelahnya."
"Iya di sini selisih 6 jam dan sekarang masih jam 10 malam, aku mau bersih-bersih dulu terus tidur ya sayang. Kamu baik-baik disana dan maaf sudah membuat kamu menangis sayang."
Tiara tampak tersenyum, menatap Rafkha yang selalu paham bagaimana hatinya saat ini. Menghela nafas berat dan memberi kecupan jarak jauh lalu mematikan ponselnya tanpa berucap apapun. Tentu saja setelah itu ia akan menangis sejadi-jadinya. Dan itu berlangsung hingga enam bulan kedepan, setiap selesai bertukar kabar Tiara selalu menangis setelahnya.
__ADS_1
Seperti pagi ini sebelum berangkat sekolah Tara menemukan putrinya bermata sembab keluar kamar dengan tas di punggung. Sudah hal biasa namun selalu mambuat beliau tak tega. Tara pun hanya bisa mengusap lembut surai hitam Tiara tanpa berucap apapun.
"Ayah aku berangkat dulu ya, maaf Tiara nggak bisa menemani Ayah sarapan. Ada ulangan hari ini, tetapi jangan khawatir Tiara sudah masak untuk sarapan dan makan siang. Biar pulang dari kebun Ayah bisa lansung makan. Jangan menunggu Tiara Yah, karena hari jni Tiara ada les di sekolah."
Tiara mengangguk paham dan mengantar Tiara sampai halaman rumah. Membantu putrinya mengeluarkan motor yang berada di garasi dan mengecup kening putrinya sebelum pergi.
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut nak! Ayah doakan hari ini di beri kelancaran dalam mengerjakan soal ulangan."
"Aamiin....Makasih Ayah." Tiara segera berangkat menuju sekolah. Ya si manja saat ini sudah mulai dewasa, bisa memasak sendiri bahkan membersihkan rumah tanpa bantuan art, padahal Tara tak mengapa memperkerjakan art namun Tiara menolak karena ingin serba bisa seperti Mamah Erna dan Bunda Cantika.
Sampai di sekolah Tiara di sambut dengan Ratu, sahabat serta teman sebangku. Baru kenal semenjak Tiara bersekolah di sana namun sudah tampak akrab. Ratu teman yang baik, dia memiliki pacar yang bernama Angga, sudah berpacaran lama sejak mereka duduk di kelas dua. Bahkan tak jarang Tiara menjadi baygon untuk keduanya.
"Kita ada ulangan kan hari ini, kamu sudah belajar belum? jangan banyak pacaran belajar nggak!" celetuk Tiara dan dianggukki oleh Ratu.
"Siap sayangku...anak bunda anak bunda anak bunda ....." dengan gemas Ratu mencubit kedua pipi Tiara yang tak henti mengingatkan agar belajar dan tak terus pacaran.
"Sakiiiit Ratu, lagian kapan Ayah kau menikah sama kamu. Ayah juga pasti mikir punya istri modelan kayak cacing kepanasan begini!" kesal Tiara dengan mengusap pipinya yang kini nampak memerah.
"Kalo sampai Om Tara mau sama aku, kamu harus bukain aku gerai mixue di kampung ini!"ucap Ratu asal lalu segera masuk ke dalam kela ssetelah membuat Tiara kesal.
"Jangan ngadi-ngadi Ratu dasar Ratu haluu! aku yang nggak siap punya ibu tiri macam belatung nagka!" seru Tiara dan segera menyusul Ratu masuk ke kelas.
__ADS_1