
Rafkha tak mau kehilangan jejak, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tapi mustahil ia bisa menemukan jika mengingat Tiara begitu cepat melesat. Sepanjang jalan Rafkha mengumpat kesal, ia merutuki kebodohan Zea, wanita yang membuatnya dalam masalah lagi dan lagi.
Rafkha melirik buket bunga dan kotak hadiah yang Tiara bawa tadi, melihat itu membuat hati Rafkha terharu. Gadisnya mempersiapkan pertemuan ini begitu niat tetapi datang di sambut pemandangan tak enak. Ingin rasanya mencekik biang kerok dari semua masalah. Tetapi Rafkha masih cukup waras membuat permusuhan di antara dua keluarga.
Sudah tiga jam lamanya ia mencari, mendatangi tempat-tempat yang biasa Tiara kunjungi tetapi ia tak menemukan sama sekali. Selanjutnya Rafkha datang ke pantai tempat terakhir Tiara kabur, menyusuri sepanjang pantai hingga tak terasa langit sudah gelap.
Rafkha duduk di atas pasir putih, lelah rasanya mencari tetapi apakah mungkin ia harus menyerah. Menarik nafas dalam dan memejamkan mata. Bayangan akan wajah dan senyum manis Tiara begitu nyata. Rindu, ingin memeluk, dan mengecup. Rafkha khawatir tak akan bisa kembali bertemu.
"Gue sayang sama loe....maaf kalo gue nggak bisa jaga. Tapi demi Tuhan gue cinta sama loe Tiara. Loe dimana sekarang, gue hampir menyerah...."
Baru kali ini dia payah, baru kali ini dia gagal menemukan, dan baru kali ini ia menangis kehilangan. Bagaimana jika Tiara sudah kembali ikut ayahnya sedangkan ia tidak tau tempatnya.
Ponselnya berdering, Rafkha mengusap kasar wajahnya dan segera mengambilnya. Panggilan atas nama Mommy tertera di layar ponsel. Sudah dapat di pastikan jika orang rumah pasti memintanya untuk pulang. Apa lagi malam ini akan ada makan malam keluarga untuk merayakan kelulusan Aara dan dirinya.
Pemuda itu mengabaikan dan kembali memasukkan ponselnya kedalam kantong kemeja. Bahkan karena panggilan yang tak henti membuat Rafkha menonaktifkan ponselnya. Bagaimana bisa merayakan di saat Tiara belum di temukan, lalu bagaimana mau enak makan jika pikiran tak karuan.
Setelah puas berkeluh kesah dengan menatap hamparan lautan yang luas, kini Rafkha memutuskan untuk pulang. Sempat mencari sebentar tetapi tubuhnya begitu lelah, apa lagi sejak pagi dia belum makan. Sampai dirumah tepat jam 10, keluarga masih berkumpul di sana. Aara,Lily dan Gibran pun sedang barbeque di halaman belakang. Namun dia tidak tertarik dan memilih segera masuk.
Rafkha berjalan gontai dengan jas yang ia sampirkan di pundak. Mommy yang melihat kepulangannya merasa lega dan segara menghampiri.
"Dari mana saja? mommy telpon dari tadi, kenapa malah nggak di angkat, di matiin lagi telponnya."
__ADS_1
"Maaf Mom, Rafkha naik dulu. Capek...." lirihnya dengan wajah tak bersemangat tanpa menjawab pertanyaan mommy karena ia yakin mommy nya sudah tau.
"Habis mandi makan dulu Raf, jangan langsung tidur!" seru Andini dari ujung tangga. "Haish anak itu, belum juga gue jelasin udah ngeloyor aja. Lagian ngapain jam segini baru pulang, mau nyari di balik batu, di dalam sumur di atas bulan juga nggak bakal ketemu." Andini menggelengkan kepala dan segera membawa sambal ke halaman belakang.
Rafkha masuk ke kamarnya, menyalakan lampu dan duduk di pinggir ranjang setelah melempar jasnya di sofa. Buket bunga dan kotak pemberian Tiara masih tertinggal di mobil. Sepertinya ia lupa membawa dan langsung masuk kerumah. Tetapi cukup tenang karena kunci mobil masih ada pada dirinya.
Penampilannya kini nampak kusut, berulangkali ia mengusap wajahnya dan menyugar rambut dengan pikiran bingung. Koper yang akan di bawa sudah siap dan lusa harus berangkat, apa mungkin bertemu dengan Tiara harus menunggu empat tahun.
Rafkha menghela nafas berat, ia segera beranjak dari duduknya dan segara masuk kamar mandi. Setelah bersih dan segar kembali kini ia melangkah menuju balkon kamar. Tak ada niat ingin turun dan makan sesuai perintah Mommy, ia ingin sendiri dan berusaha berpikir.
Kedua alisnya bertemu, Rafkha heran dengan pintu balkon yang tak terkunci kemudian membukanya dengan segera. Tubuhnya mendadak kaku dengan mata tak berkedip, bahkan langkah kakinya begitu berat untuk di ayun. Rafkha mematung menatap gadis yang sejak tadi ia cari tiba-tiba ada di depan mata. Entah nyata atau hanya halusinasi belaka. Tetapi debaran di jantungnya begitu kencang.
Rafkha segera melangkah lebar ke arahnya, meraih tubuh Tiara dan memeluknya dengan erat. Rasanya lega bahkan ia meneteskan air mata. Tiara pun membalas dengan tak kalah erat. Gadis yang tadi hampir ingin pulang sempat tertahan karena Ayahnya yang masih ada keperluan. Merasa kecewa dengan apa yang ia lihat membuatnya ingin menyerah dan pergi menyudahi semuanya.
Tetapi kehadiran Raihan secara tiba-tiba di kantor peninggalan kelurga Bundanya membuat Tiara mengurungkan niat. Raihan menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi, bahkan dia meminta Tiara untuk ikut serta pulang kerumah.
Raihan pun tau keberadaan Tiara dari ibu mertuanya yang menunggu di rumah setelah Tiara menurunkan Omanya sebelum akhirnya ia pergi menyusul Tara. Meyakinkan Tiara dan Tara yang sempat kecewa karena melihat putrinya datang dengan air mata. Hingga keduanya mengerti dan ikut bersama Raihan.
"Gue nyariin loe, gue takut nggak bisa nemuin loe lagi...Sumpah gue nggak ada apa-apa sama dia, gue cuma cinta sama loe..." Rafkha tak kunjung melepaskan pelukannya, bahkan sekarang ia mulai mencari kenyamanan di sela leher jenjang Tiara.
"Loe percayakan sama gue, gue hampir gila nggak bisa menemukan loe. Sayang.....sayang ...."
__ADS_1
"Hhmm...." Tiara hanya berdehem, Rafkha memeluknya hingga ia sesak. Mendengar suara Tiara yang berat, Rafkha segara merenggangkan pelukannya, bukan untuk melepaskan karena tangannya masih melingkar di pinggul gadis itu.
"Hah....akhirnya bisa nafas, kakak meluknya kenceng banget. Aku sampe susah nafas," Tiara memukul dada Rafkha dengan wajah merona. Rafkha tersenyum melihatnya. Menatap dalam wajah Tiara dan menarik dagunya hingga terlihat jelas wajah gadis yang ia rindukan.
Mata keduanya saling terkunci, binar cinta begitu terlihat dengan senyum yang mengembang. Tiara mengalungkan tangannya di pundak Rafkha, jarak keduanya pun begitu dekat dengan Tiara sedikit mendongak.
"Selamat atas kelulusannya, selamat atas prestasinya....dan selamat udah buat gue kesel!" Tiara merengut menatap sengit namun membuat Rafkha gemas dan mengecup bibirnya.
"Kak Rafkha!" wajah Tiara kembali merona, ia melepaskan kedua tangannya tetapi di tahan oleh Rafkha. Dan kini Rafkha kembali mengeratkan hingga tak ada jarak.
"Gue kangen, love you..." bisik Rafkha lembut mata Tiara hampir terpejam namun setelahnya kembali terbuka saat ia merasakan benda kenyal singgah lagi di bibirnya. Menyesaap begitu dalam melumaaat dengan lembut. Rafkha menekan tengkuk Tiara memperdalam dengan gerakan menuntut memaksa menerobos dan bergerak lihai di dalam sana. Tiara terbuai, membalas dan saling membelit semakin panas.
Rindu melebur dengan sesaapan yang semakin kuat, kedua insan yang sempat terpisah jarak dengan segala masalah yang mengundang kesalahpahaman membuat pertemuan memanas. Gairah remaja membara, Rafkha terus mengeratkan pelukan hingga tubuh Tiara terangkat. Rasanya ia tak ingin kembali terpisah namun cita-cita harus diraih demi masa depan cemerlang.
Tangan Rafkha menelusup di balik kaos Tiara, ia mulai nakal bahkan semakin menekan tubuh Tiara. Merasakan punggung mulus Tiara membuatnya semakin menguatkan belitan. Sedangkan Tiara sudah di buat tak berdaya dengan gerakan Rafkha dan semakin di buat kewalahan olehnya. Hingga ia tak tahan dan memaksa untuk lepas.
Rafkha mengulum senyum melihat Tiara yang hampir kehabisan nafas. Tiara kembali melayangkan pukulan di dada Rafkha namun tangannya segera di raih oleh Rafkha. Dia mengecup kedua tangan Tiara dan mengusap bibirnya yang masih basah.
"Nikah yuk!"
Taira tercengang mendengar ucapan Rafkha, namun menjadi kesempatan untuk pria itu masuk dan kembali melumaaat.
__ADS_1