
Rafkha mendongakkan kepalanya ke arah balkon, ntah mengapa rasanya tak ingin pulang. Tapi hari sudah sore dan masih banyak yang harus ia kerjakan. Senyumnya mengembang saat melihat Tiara keluar dengan kaos kebesaran dan hotpants berdiri di pinggir balkon menatapnya dengan senyuman imut.
"Masuk! jangan pamer...."
Notifikasi masuk ke ponselnya membuat Tiara segera membuka pesan. Dia kembali menatap Rafkha yang sudah naik ke atas motor bersiap ingin pulang.
"Bodo!" ucapnya tanpa bersuara tapi Rafkha mengerti dan menyorot tajam dari bawah.
"Kak loe mau pulang nggak?" tegur Lily menatap jengah sang kakak yang terus saja mendongak ke atas. "Leher loe nggak bisa balik ntar kak! ayo pulang keburu hujan!" ajak Lily dan meminta Aara segara melajukan motornya. "Ayo kak! si Kakak masih mau lama-lama disini, momongannya belum jinak!"
Tiara menarik nafas dalam melihat pria yang semakin menjauh dan tersenyum tipis mengingat sikap manisnya. Haruskah ia senang atau justru bersedih mengingat hubungan kekeluargaan antara keduanya.
"Hati, kamu ingin menangis atau tersenyum?"
.
.
.
"Kalian kenapa baru pulang? hujan-hujanan begini lagi, ya Allah anak-anak mommy...." Andini bertolak pinggang melihat ketiga anaknya pulang dalam keadaan basah kuyup. Beliau segera masuk lalu keluar lagi dengan membawa handuk.
"Ini handuknya, buka sepatu di sini lanjut mandi!" titah sang mommy yang hanya di jawab anggukan dari anak-anaknya. Mereka segera masuk meninggalkan sepatu yang basah dan menuju kamar.
"Ini anak gue pada abis makan apa ya, kok nggak ada yang pada bersuara. Tuh mulut pada kemasukan ranting kali ya di jalan." Andini menggelengkan kepala dan segera masuk kedalam, menyiapkan teh hangat untuk ke tiga anaknya.
Malam ini semua sudah siap makan malam bersama, personil lengkap hanya satu yang berbeda. Rafkha datang dengan memakai baju hangat dan wajah pucat. Efek kehujanan membuatnya flu dan demam. Andai kedua adiknya mau mampir dan tak terburu-buru untuk pulang pasti tak seperti ini jadinya. Banyak kegiatan dan pikiran karena sebentar lagi akan ujian, membuat daya tahannya menurun karena kurang tidur. Dan mudah terserang penyakit.
"Kamu sakit Raf?"
"Demam sedikit Dad," jawabnya dan segera menyeruput wedang jahe buatan mommy.
"Cepat makan dan minum obat, atau mau ke rumah sakit?" tanyanya lagi, Daddy Rai memang paling dekat dengan Rafkha. Atau mungkin karena anak laki-laki satu-satunya yang tak terlalu dekat dengan mommy Andini setelah remaja. Ntah risih atau bagaimana, ia lebih dekat dengan Raihan walopun terkadang suka menjahili dengan mencium kening atau pipi mommynya yang membuat Raihan tidak terima.
__ADS_1
"Besok sembuh Dad."
Raihan menghela nafas panjang dan menganggukkan kepala, sedangkan mommy Andini fokus menyiapkan makan untuk Rafkha karena jika sakit ia mendadak malas.
"Di makan! atau mau mommy suapin?"
"No Mom."
"Memangnya bayi!" celetuk Aara.
"Aara, tidak boleh begitu! itu kan Abang..." ucap Lily mengingatkan.
"Iya Upin, ini ayam gorengnya!"
Raihan dan Andini menggelengkan kepala melihat kelakuan kedua putrinya. Ada saja jika sudah bersama, tapi mereka bersyukur anak-anaknya tampak akur. Karena tak ada kebahagiaan lain selain melihat anak-anaknya hidup dengan baik.
"Memang kalian dari mana saja sich? pulang sore, hujan-hujanan. Kurang masa kecil kalian? sampai hujan besar di terjang?" oceh Andini di sela makannya.
"Mampir tempat om Andika Mom, makan dulu di sana. Mereka kan baru pulang, makanan banyak anak cuma dua ya sudah kita sikat!" jawab Aara dengan wajah polosnya.
"Nggak!" jawab Aara dan Lily berbarengan.
"Ckckck......dasar Kakak lucknut! gue nggak dikasih masakan mamah. Liatin aja gue acak-acak isi dapurnya!" sewot Andini.
"Sayang!" Raihan segera mengusap punggung tangan sang istri agar tidak terus emosi. Sudah dari jaman dulu memang Andini dan Andika jarang akur dan selalu berdebat ketika bertemu. Tetapi bukan berarti musuhan, hanya saja memang sudah menjadi ciri khasnya seperti itu.
"Mungkin mereka merindukan kamu dan ingin bertemu. Makanya sengaja nggak di bawain titipan dari mamah."
"Mungkin, nanti sajalah weekend kan kita mau kumpul di rumah kak Bayu. Aku lagi males kemana-mana mas, pengen di rumah aja."
Raihan menganggukkan kepala dan menatap putranya yang tak berselera makan. "Bagaimana hubungan kamu dengan Zea?"
Rafkha hanya diam tak mau menjawab karena memang tak ada jawaban untuk pertanyaan itu, hingga ketiga perempuan di sana menatapnya tapi tak membuat Rafkha mengeluarkan suara. Lily yang berada di samping kakaknya segera menyenggol lengan Rafkha. Menyadarkan sang kakak agar cepat menjawab.
__ADS_1
"Apa yang Daddy mau dari aku dan Zea?"
"Bukannya kalian dekat?" tanya Raihan lagi.
"Dekat bukan berarti pacaran Dad, lagian itu dulu!" jawabnya singkat kemudian meletakkan sendok serta garpu tanpa niat menghabisi makanannya.
"Aku harap Daddy dan mommy tak berpikir lebih dan tak mengharapkan apapun dari itu. Aku tidak menyukai Zea!" tegasnya. "Aku ke kamar Mom Dad."
Rafkha segera meninggalkan meja makan dan melangkah menuju kamar. Melihat itu Raihan hanya bisa menghela nafas panjang, putranya persis seperti dia.
"Apa kakakmu di sekolah punya pacar?" tanya mommy mulai mengajak kedua putrinya untuk bergosip.
"Sayang aku sudah selesai, cepat habiskan makanmu dan biarkan mereka istirahat!" titahnya kemudian mengecup kening sang istri dan segera pergi.
"Jangan lama-lama disini, besok kalian sekolah ya!"
"Iya Dad," jawab Aara dan Lily.
"Bilang saja tidak boleh bergosip!" gumam Andini. "Eh gimana, kalian belum jawab pertanyaan mommy."
"Siapa yang berani mendekat Mom jika Kak Rafkha saja dinginnya mengalahkan kutub. Banyak yang suka bahkan ngefans sama anak laki-laki Mommy yang terkenal dengan ketampanannya itu. Tapi Kak Rafkha nya nggak melirik sama sekali," jelas Aara.
"Ganteng-ganteng masak nggak punya pacar, sama Zea juga bilangnya nggak suka. Apa jangan-jangan kakak kamu..." Andini segera membekap mulutnya dengan mata membola.
"Jangan berpikir seperti itu Mom, siapa tau ada hati yang ia jaga. Mommy nich anak sendiri di bilang sakit!" celetuk Lily yang tau betul siapa gadis yang ada di hati Rafkha. Tapi ia tak ingin memberitahukan kepada siapapun karena tak ingin membuat Rafkha marah.
"Loe tau apa tentang kakak? ada yang loe rahasiakan ya?" tanya Aara menyorot Lily dengan tatapan selidik.
"Emang kembaran loe pernah curhat sama gue! Tanya Tiara sono yang dekat sama dia, kali aja tau!"
Aara merengut mendengar ocehan adiknya, memang iya kembarannya paling anti curhat dengan mereka.
"Sudah-sudah, kalian masuk kamar sana! Yang penting anak mommy normal semua nggak belok. Kalo sampe Kakak kamu terbawa arus, mommy bongkar celananya!" celetuk Andini membuat kedua anak gadisnya meringis.
__ADS_1
"Mau ngapain Mom?" tanya Lily ngeri, karena terkadang sikap bar-bar Mommynya suka ekstrim.
"Mau mommy catok isinya biar lurus!"