
" Kakak tutup dulu itu pintunya!" seru Tiara saat Rafkha mengejarnya dan membuka pakaian tanpa peduli pintu samping yang masih terbuka. Tiara pun kembali tercengang melihat dada bidang Rafkha. Sama halnya dengan Rafkha, Tiara pun terkesima melihat tampan dan gagahnya suaminya kini.
"Jangan aja ngeces, tapi asli bikin ngiler."
"Mikir apa sayang?" Rafkha segera memeluk dan mencium bahu Tiara yang terbuka.
"Oh ....eh i..itu kak pintunya kok nggak di tutup? Ikh nanti kalo ada yang lihat gimana?" Sebisa mungkin Tiara menetralkan kembali sikapnya agar Rafkha tak curiga.
"Hanya ada kita di sini dan biarkan angin masuk dengan bebas karena malam ini kamar kita akan kembali panas. Apa kamu sudah siap sayang?"
Mulut bertanya tetapi tangan dan bibir nya sudah mengeksekusi lawan. Melumpuhkan dengan sentuhan yang membuat Tiara tak mampu lagi menolak dan lupa akan pintu yang masih terbuka.
Rafkha menguasainya, tanpa mulutnya menjawab tubuh Tiara sudah memberikan jawaban yang membuat Rafkha tersenyum tipis melihatnya. Semangatnya kembali bangkit dan adrenalin nya bekerja dengan baik. Semua dalam kendali, Tiara di buat pasrah dan menerima hingga kembali melebur jadi satu dalam penyatuan yang indah dan desahaaan yang membuat gairah semakin memuncak.
Rindu dan mau jadi satu, peluh menyertai setiap sentuhan dan singgungan tubuh yang saling bergerak teratur.
"Kak...."
"Nikmati sayang, malam ini milik kita. Apa masih kurang gerakan si Joni di dalam sana?" Rafkha kembali menyerang titik-titik sensitif Tiara. Tak ada jawaban dari bibir tipis itu hanya ada suara lenguhan yang begitu menggoda di telinga hingga keduanya lupa sudah menghabiskan waktu cukup lama. Asyik bergelut di atas ranjang membuat Tiara tak menyadari jika sejak tadi ponselnya berdering. Sudah menjadi kebiasaan Wahyu sebelum tidur selalu memastikan keadaan Tiara baik-baik saja. Tetapi sudah hampir pagi ia di buat tak bisa terpejam karena Tiara tak kunjung mengangkat panggilan.
Mungkin Wahyu lupa jika kini Tiara sudah ada yang menjaga, the real pawang yang sesungguhnya. Hingga ia lelah menghubungi dan tertidur dengan ponsel yang masih ada di genggaman.
Pagi ini merupakan pagi yang indah untuk sepasang pasutri yang baru kembali bertemu. Rafkha lebih dulu terjaga kemudian mengecup seluruh wajah Tiara dengan gemas. Lalu membenarkan selimut yang sedikit tersingkap agar Tiara lebih nyaman dan tidak kedinginan.
Semalam setelah mendapati pelepasan yang ntah sudah ke berapa kali, wanita itu terkulai lemas dan tak sanggup lagi menuruti keinginan Rafkha yang tak ada lelahnya. Tiara pun memilih tidur lebih dulu saat letih benar-benar mendera tubuh hingga hampir siang wanita itu belum kunjung terjaga.
Rafkha tersenyum mendapati sang istri masih nyenyak di balik selimut tebal. Honeymoon dadakan yang Rafkha adakan berhasil tanpa kendala dan hubungan keduanya kembali seperti dulu lagi malah lebih harmonis dengan kata-kata cinta yang keluar dari mulut keduanya di saat puncak itu sudah terasa menggebu.
Rafkha memesankan makanan dan pakaian untuk Tiara kemudian menunggu sang istri terjaga dengan membuka email yang masuk di ponselnya. Dia merasa lebih bugar dan sehat dari sebelumya dan itu berpengaruh pada mood dan semangat dalam bekerja.
__ADS_1
"Eeuuugghhh....." Tiara menggeliat dan mulai terjaga dengan membuka perlahan matanya. Melihat sekitar mencari seseorang yang sudah membuat tubuhnya remuk redam karena ulahnya semalam.
Melihat pergerakan istrinya, Rafkha pun segera menutup layar ponsel dan meletakkan nya. Ia melangkah mendekat dan naik keatas ranjang mencuri ciuman dari bibir Tiara yang membuat istrinya menutup rapat selimut hingga atas kepala.
"Sayang, kamu nggak pengen makan? ini sudah siang loh, kamu sudah mengabaikan sarapan. Ayo makan agar badannya kembali kuat."
Tiara membuka selimutnya, matanya menatap tajam pria yang berbicara penuh makna. Benar-benar suaminya ini tak berperikemanusiaan, dengan terang-terangan menyuruhnya makan agar tubuh kuat, apa maksudnya....
Melihat ekspresi dari Tiara membuat Rafkha ingin tertawa, ia tau mengapa sang istri begitu garang menatapnya. Padahal ia tak sampai hati menyerang kembali setelah semalam membuat istrinya kewalahan. Hanya menggoda agar Tiara kesal karena itu membuatnya gemas.
"Nggak usah ngadi-ngadi ya kak! Badan aku masih pada sakit udah mau di timpa lagi. Benar-benar minta aku ikat si Joni!" sewot Tiara dengan terus menatap tajam Rafkha namun tangan sudah bergetar mempertahankan selimut agar jangan sampai tersingkap begitu saja.
"Kalo aku maksa gimana?" bisik Rafkha di telinga Tiara, tubuh wanita itu meremang merasakan hembusan nafas Rafkha tepat mengenai telinganya belum lagi pundaknya di gigit gemas. Wajah Tiara merona namun dengan kekuatan penuh wanita itu segera bangkit meninggalkan selimutnya yang sudah mulai di tarik oleh Rafkha. Tak peduli dengan tubuh polosnya, Tiara segera berlari menuju kamar mandi.
"Dasar mesum! anak soang mupeng!" seru Tiara menuju kamar mandi dan segera menguncinya dari dalam. Tanpa ia sadar jika Rafkha tertawa melihat kelakuannya.
"Kita pulang ke rumah kita ya...."
Tiara menoleh kearah Rafkha dengan tatapan penuh tanda tanya, kini keduanya sudah berada di bandara dan sedang menunggu mobil jemputan.
"Rumah kita? rumah yang mana? rumah Daddy?" Tanya Tiara penasaran, namun Rafkha tak banyak menjawab. Ia merangkul tubuh sang istri dan mengecup keningnya dengan sayang.
"Kak..."
"Apa sayang?" Rafkha terkekeh melihat Tiara yang begitu kepo dengan rumah yang ia maksud. Bahkan wanitanya kini tengah merengut membuat Rafkha ingin sekali menyesaap nya andai tak sedang di tempat umum.
"Nggak di jawab!"
"Nanti kamu akan tau," jawabnya kemudian mengajak Tiara menuju lobby karena Pak Saka telah sampai di sana.
__ADS_1
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil yang membawa mereka ke rumah yang Rafkha siapkan. Pria itu benar-benar banyak kejutan, Tiara sendiri begitu penasaran tetapi ia mencoba menikmati perjalanan dan meraba kemana arah mobil itu melaju.
Ternyata mobil yang mereka tumpangi masuk ke dalam komplek perumahan elit dengan rumah bergaya Eropa modern yang begitu cantik bagi Tiara.
Mata wanita itu berbinar melihat rumah impiannya sudah di depan mata. Bahkan ia tak menyangka dari sederet perumahan yang ada di komplek ini, hanya rumahnya yang tampak beda.
"Ini kakak yang mendesainnya?" tanyanya setelah turun dari mobil. Rafkha segera meminta Pak Saka untuk pulang dan kembali fokus ke Tiara yang sejak tadi menggenggam tangannya.
"Iya sayang, rumah impian kita. Dan disinilah tempat kita tinggal sekarang. Kamu suka?" Rafkha segera mengajak Tiara masuk dan melihat-lihat ruangan yang ada.
"Aku suka banget, makasih kak."
Cup
Tiara mengecup bibir Rafkha namun seketika matanya membola karena bukan hanya mereka saja yang kini ada di rumah itu. Hingga ia malu karena sudah begitu agresif mencium bibir Rafkha.
"Udah nggak tahan kayaknya, Ampe nggak liat kita ada di mari. Ntar dulu neng main sosor-sosornya!" celetuk seseorang yang datang dengan membentangkan kedua tangan.
Kejutan begitu banyak setelah pertemuannya dengan Rafkha. Tiara pun sangat bersyukur karena begitu di cintai sampai seperti ini. Ia mendekap Papahnya namun senyuman manis ia berikan pada Rafkha yang sejak tadi menatap penuh cinta. Semua begitu merindukan momen ini, momen dimana Tiara dan Rafkha kembali akur dan bertemu.
Mereka pun tau kesalahpahaman yang terjadi. Namun tak ingin ikut campur urusan rumah tangga keduanya. Dan membiarkan Rafkha sendiri yang menyelesaikan meski harus geregetan karena mereka harus menerima keputusan Tiara yang memilih menjauh dari keluarga karena merasa dicurangi oleh mereka.
...****************...
Sambil menunggu up mereka berdua, baca dulu yang satu ini ya man teman....
__ADS_1