YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Memantaskan Diri


__ADS_3

Sejak mendapat pesan gambar itu hubungan Tiara dan Rafkha benar-benar merenggang, long distance relationship memang benar-benar sesulit itu. Tiara pun menjadi sulit di hubungi. Hampir seminggu Rafkha terus mencoba menghubungi Tiara tetapi tak ada jawaban, nomornya bahkan di blokir.


Rafkha pun tak kehilangan akal, ia menghubungi Oma agar bisa berbicara dengan Tiara. Tetapi gadis itu terus menghindar, alhasil Rafkha pun tak berhasil berbicara dengan Tiara. Di tambah lagi Rafkha sedang sibuk mempersiapkan acara lulusan sehingga tak dapat meninggalkan jakarta.


Kejadian seminggu yang lalu dengan Zea pun membuat Rafkha merasa bersalah pada Tiara. Memang tak ada hal lebih yang keduanya lakukan namun jebakan dari Zea hampir membuat keluarga salah paham. Beruntung Rafkha mampu menjelaskan dan benar-benar meminta kedua orangtuanya untuk menjauhkan dirinya dari Zea.


Keluarga Bayu pun benar-benar meminta maaf pada keluarga Raihan karena kelakuan anaknya hampir membuat keduanya di arak oleh warga. Dan kini Rafkha di pusingkan oleh Tiara yang tak bisa di hubungi.


"Sial!" Rafkha melempar ponselnya hingga pecah. Dirinya benar-benar di buat gila dengan sulitnya menghubungi Tiara. Dia pun merasa ada yang tak beres dengan hubungan keduanya. Apa lagi sikap Tiara yang tiba-tiba tak ada kabar dan menghindar.


"Jangan gini kak! loe gila aja kalo sekali kesal ngancurin hp, loe lupa seminggu ini udah ganti Hp hampir 5 kali. Jangan mentang-mentang anak Sultan jadi bisa seenaknya!"


Rafkha menatap tajam Aara yang mengomel menambah pusing.


Mendapat tatapan tajam dari Rafkha membuat Aara melipir tanpa menunggu di usir. Dan kini gantian mommy masuk ke dalam kamar. Menatap jengah kelakuan putranya dengan bertolak pinggang.


"Tiara itu baik-baik saja, mommy sudah menghubungi Oma kamu tadi. Mommy juga sudah bicara sendiri dengan Tiara. Dia ingin fokus belajar karena lusa ujian akhir semester. Jangan khawatir Rafkha, sejauh apapun jarak kalian jika memang kalian berjodoh pasti menemukan jalan untuk bersama. Sekarang kamu mandi agar lebih segar! muka udah kayak cucian seminggu nggak kering-kering, demek!"


Rafkha tercengang mendengar ucapan mommynya. Mengatai sesuka hati, padahal jelek-jelek begini dia itu anaknya. Rafkha mengusap kasar wajahnya, mengambil ponsel yang tergeletak di lantai dan meminta Lily untuk membawa ke Service ponsel.


"Sekali lagi begini gue nggak mau! loe kalo lagi galau nyusahin gue kak! untung loe kemarin nggak masuk perangkap Zea, kalo sampe loe kawin beneran. Ugh....loe orang yang bakal gue benci selanjutnya!"


"Lily!" sentak Rafkha menghela nafas berat.


Kejadian itu masih terngiang di ingatan, Zea datang saat ia sedang sendiri di rumah. Rafkha yang kala itu sedang sakit kepala tak menghiraukan namun aksi Zea benar-benar kelewatan, dia nekat merayu dan menindih tubuh Rafkha bahkan berhasil mencium Rafkha.


Rafkha jelas memberontak tetapi karena posisi dia yang sedang kurang sehat, Rafkha dibuat tak berkutik dengan Zea yang nekat membuka bajunya dan memperlihatkan bagian atas tubuhnya, bahkan hanya tertutup satu kain penutup bagian dada.

__ADS_1


"Mau ngapain loe?"


"Kalo kakak bisa seperti ini dengan Tiara, kenapa denganku tidak? ayo kak! aku akan tunjukkan kalo aku lebih bisa memuaskan dari Tiara." Zea segara mendorong tubuh Rafka, kembali menyatukan Indra perasa secara tiba-tiba. Sebagai laki-laki normal Rafkha pasti tergoda, namun cinta membuatnya kuat dan mendorong tubuh Zea sekuat tenaga.


Rafkha menahan sakit kepalanya berusaha berlari keluar, namun langkah nya terhenti saat ia melihat Pak RT yang datang untuk bertemu Daddy.


"Kalian?"


.


.


.


Tiara terduduk di teras dengan menatap lurus ke depan, termenung memikirkan semua yang terjadi padanya. Tiara menghela nafas berat, mengingat hubungan dengan Rafkha yang tak tau arah ingin kemana. Foto yang ia terima membuat dirinya sadar dan ingin menyerah. Tetapi bagaimana jika Rafkha tidak terima....


"Jika Tiara mundur bukan berarti Tiara nggak sayang kan Oma?" lirih Tiara. "Tiara ingin memantaskan diri untuk kak Rafkha Oma."


Oma menganggukkan kepala beliau paham sekarang. Tiara sedang di landa dilema karena merasa tak pantas mendampingi Rafkha. Tiara sudah menceritakan semuanya. Sebagai orang tua beliau berharap keduanya bisa dewasa bersikap.


..."Minggu depan acara kelulusan, please datang...♥️"...


Tiara menarik nafas dalam setelah mendapati pesan singkat dari Rafkha. Belum ada niat untuk membalas, rasa sakit masih belum pulih. Dan sendiri merupakan solusi, Tiara meraih tasnya dan berangkat sekolah.


Hari ini Tiara benar-benar memfokuskan diri untuk mengerjakan soal, duduk berdampingan dengan Wahyu tak membuatnya merasa terganggu. Peraturan duduk berdampingan dengan lawan jenis agar tak ada yang berlaku curang. Ntah mengapa mereka bisa mendapat nomor meja yang sama, namun Tiara tak peduli karena hal terpenting saat ini ia bisa mengerjakan dengan baik.


"Udah selesai?" Wahyu melirik Tiara yang sedang membereskan selembaran soal yang akan ia kumpulkan.

__ADS_1


"Hhmm...."


Wahyu menganggukkan kepala kemudian mengambil kertas soal milik Tiara dan jawabannya lalu di kumpulkan di depan.


"Yuk kantin!" ajaknya kemudian Wahyu berjalan lebih dulu dan di susul oleh Tiara. Keduanya duduk di meja yang sama dengan Wahyu yang memesan makanannya.


"Gimana?" tanya Wahyu dengan menatap wajah cantik yang mengusik hatinya.


"Apanya?"


"Aku?"


Tiara meletakkan sendoknya dan menoleh ke arah Wahyu. Bingung dengan apa yang di maksud oleh pria itu.


"Aku suka sama kamu?"


Uhuuuk uhuuuk uhuuuk....


Tiara segera mengambil gelas minumnya dan menyedot isinya hingga tandas. "Duh.....loe bikin gue keselek, untung masih bisa nafas!" Tiara menepuk-nepuk dadanya, masih sangat sakit di hidung dan sesak di dada.


Wahyu hanya menatap datar tetapi matanya menuntut jawaban. Satu bulan sudah cukup untuknya mengenal Tiara dan menyelami sikapnya. Memantapkan hati jika Tiara yang terbaik.


"Loe belum kenal gue dengan baik Wahyu, baru sebulan kenal nggak bisa loe buat patokan kalo gue itu baik. Gue banyak kekurangan dan nggak pantas buat loe yang tampan dan......kaya.....gue mah cuma apa atuh, remahan peyek yang nggak laku di jual. Dan gue mau fokus sama masa depan gue dulu Yu, sorry ya! Bukan gue nolak loe, tapi.....gue lagi nggak mau mikirin cinta"


Menurut Tiara inilah cara halus menolak Wahyu, pria baik yang ia tau tak banyak mau. Dapat di lihat pancaran kekecewaan dari mata Wahyu. Namun setelahnya ia tersenyum menatap Tiara. Kemudian menggenggam tangan Tiara dengan lembut.


"Kita bisa bersahabat."

__ADS_1


Tiara menganggukkan kepala, ia pun membalas senyuman dari Wahyu. Tiara pikir Wahyu akan sulit menerima ternyata ia salah. Wahyu memang baik, meskipun senyumnya itu palsu hanya untuk menutupi hatinya yang mendadak pilu.


__ADS_2