
"Ada paket penting untung Papah!" Brian memberikan sebuah map coklat yang tertutup rapat. Beliau mengernyitkan dahi, heran dengan apa yang dia terima. Dia bukan CEO seperti Raihan yang kadang kala mendapatkan dokumen atau surat kontrak penting dari klien.
Urusan rumah sakit tak seribet itu, dia pun tak ada masalah ataupun apapun yang membuatnya harus mendapatkan surat. Dengan ragu Bayu meraih map tersebut, kemudian menimang-nimang memikirkan apa isinya.
"Dari siapa?" tanyanya pada Brian.
"Nggak tau, tapi katanya penting. Coba buka dulu aja Pah, biar nggak penasaran." Saran Brian di pikirkan oleh Bayu, tapi mengingat ada acara yang tak kalah penting membuatnya ingin menunda. Bayu menatap kedua sahabatnya dan segera ingin meletakkan map tersebut di atas meja, tetapi Raihan dan Andika pun tampaknya penasaran dan memberi waktu untuk Bayu membukanya lebih dulu.
"Buka aja dulu, loe punya masalah kali sama orang. Kan nggak lucu lagi acara lamaran eh rumah loe di gerebek polisi. Auto panik geng....!" ledek Andika.
"Mulut loe! loe kata gue penjahat!" sewot Bayu dan kembali menatap Map tersebut. "Tapi kok gue horor ya, seumur-umur jadi dokter nggak pernah gue Nerima paket beginian. Kalo paket makanan dari mantan pasien mah sering, apa lagi dari mantan kekasih, bukan cuma makanan pengaman juga."
Cika yang mendengar ucapan absurd dari suaminya segera memukul pahanya membuat Bayu meringis dengan mengulum senyum.
"Beneran sayang, aku jujur...."
"Iya mantan buaya!" ketus Cika dan mendapat kekehan dari yang lain.
"Udah lah kak dari pada penasaran, buka aja. Siapa tau ada yang berbaik hati ngasih loe tiket pesawat ke surga," Andini tak kalah antusias karena dia pun penasaran dengan isinya. Sedangkan anak-anak mereka tampak sabar melihat tingkah para orang tua mereka yang heboh jika sudah kumpul bersama.
"Loe mau nyumpahin gue mati Ndin? bini loe Rai, loe kasih apa sich tuh mulut makin lincah kayak belut!" Bayu menghela nafas berat dan segera membuka Map yang begitu rapat terbungkus aman.
"Cepat Om bukanya! durasi nich, kita udah laper....!" Aara pun yang sejak tadi anteng akhirnya bersuara, perkara paket saja harus menunggu lama. Apa tidak ingat jika saat ini ada acara inti dan makan malam yang hampir terlewatkan.
"Oke....oke....gue buka dulu." Bayu pun akhirnya mengalah dan membuka dengan perasaan yang penasaran, sama halnya dengan yang lain mereka ingin sekali tau isi dari map tersebut.
"Flashdisk?" Bayu melihat lagi isi dari Map itu tetapi tak ada apapun di sana, hanya ada satu flashdisk dan lembaran tebal yang polos.
Bayu pun menatap sang istri dan kedua sahabatnya yang lain, setelahnya tanpa di beri aba-aba seperti tadi ia segera berlari menuju ruang kerja dan kembali dengan membawa laptop. Semua yang ada di sana pun semakin penasaran, bahkan Aara, Lily, Tiara, Brian dan Gibran sudah berdiri di belakang sofa yang diduduki orang tua mereka.
__ADS_1
Bayu segera menekan tombol play saat flashdisk sudah terpasang. Dan dalam hitungan ke tiga semua tampak tercengang dengan isi yang ada di dalamnya. Yang mana sebuah Video dengan durasi lima menit. Cukup lama dengan menampilkan kedua remaja yang sedang bercumbu di atas ranjang bahkan bagian atas tampak tak berbusana dan hanya di tutupi oleh selimut putih tebal.
"Damn!"
Raihan mengusap kasar wajahnya, begitupun dengan kedua sahabatnya yang lain dan Erna segera menutup laptop dengan air mata yang sudah runtuh membasahi pipi. Andini dan Cika pun tak menyangka dengan apa yang mereka lihat.
Tiara yang perlahan melangkah mundur dengan kasar di tarik oleh Zea dan kembali memberikan tamparan di kedua pipinya membuat Rafkha segera beranjak dari duduknya dan menarik Tiara ke dalam pelukan. Tapi belum sempat Tiara sampai di pelukannya, dari belakang ada yang menarik lengan Rafkha hingga pemuda itu berbalik.
"Anjing!"
Bugh
Bugh
Bugh
"Kakak..." seru Tiara mendekati dengan air mata yang mulai mengalir. Rafkha pun hanya tersenyum dan mengusap pipi Tiara, menandakan jika ia baik-baik saja dan tak ada masalah.
Gibran memberontak bahkan para orang tua yang ingin segara mendekat tak keburu sampai di saat Gibran kembali melayangkan pukulan.
"Kak Gibran stop!" teriak Tiara yang segara menutupi dan menghalangi tubuh Rafkha. Entah mengapa Rafkha tak melawan, dia menerima dengan senyum tipis di wajahnya. Tiara saja di buat geregetan dengan sikap Rafkha yang hanya diam menerima. Walaupun ia tau jika Rafkha yang salah. Rafkha yang nekat dan kini membuat masalah semakin besar.
"Brengs3k loe! kalo loe nggak mau tunangan sama Zea bukan berarti loe harus ngerusak Tiara! Gue dari dulu udah percaya sama loe! gue percaya kalo kasih sayang loe tulus sebagai kakak. Ternyata loe bangsaat!"
"Kak stop kak, cukup!"
"Cukup loe bilang? loe pikir gue bakal terima? Nggak!" sentak Gibran kemudian segera menarik Tiara kedalam pelukannya. Dan Rafkha pun tampak pasrah karena kemarahan Gibran wajar, kemarahan seorang kakak kepada pria yang telah merusak adiknya.
"Kak!"
__ADS_1
"Diem!" sentak Gibran lagi kemudian melepaskan Tiara dan maju mendekati Rafkha yang sejak tadi diam tak melawan.
"Jangan loe pikir gue diem gue terima atas kedekatan loe yang melampaui batas! dan loe udah ngerusak semaunya, ngerusak kepercayaan gue dan ngerusak calon istri gue!" sentak Gibran.
deg
Tiara terpaku di tempat, begitupun dengan Rafkha yang menatap Gibran dengan lekat mencari kebohongan di matanya tetapi tak ia temukan, hingga ia menarik kerah kemeja Gibran karena butuh penjelasan.
Para orang tua yang ada di sana pun menundukkan kepala tak menyangka akan secepat ini semua terungkap. Begitupun dengan Erna yang sudah terisak di pelukan Andika. Ini bagai bom atom yang meledak tiba-tiba, bertahun-tahun mereka sembunyikan dan akhirnya terbongkar juga. Bahkan di waktu yang kurang tepat.
"Apa maksud loe, hah!" Rafkha benar-benar sudah emosi, bukan hanya dia yang memberi kejutan tetapi dirinya juga di beri kejutan yang tak kalah mencengangkan bahkan membuatnya seketika gila.
"Jawab! apa maksud loe!" bentak Rafkha dan melepas cengkeraman di baju Gibran hingga tubuhnya terbentur di dinding.
"Sejak bayi Tiara udah di jodohin sama gue!"
Tiara menutup mulutnya dengan kedua tangan, dadanya begitu sesak hingga sempoyongan beruntung Lily dan Aara segera mendekat.
"Dan perjodohan kalian hanya untuk memisahkan karena yang benar-benar di jodohkan itu gue dan Tiara!" ucapnya dengan nada tinggi membuat Rafkha merasa di bodohi oleh keluarganya sendiri dan segera melayangkan tinjuan.
Bugh
Bugh
Bugh
Tinjuan yang membuat darah bercucuran di lantai, tinjuan di dinding tepat di samping wajah Gibran. Ia tak perduli rasa sakit di tangannya sementara hatinya lebih sakit dari apapun. Kemudian dia memejamkan mata saat dengan jelas ia mendengar kepiluan dari wanita yang ia cinta.
"Lalu aku anak siapa?"
__ADS_1