YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Perpisahan


__ADS_3

Setelah tiga hari sepeninggalan Cantika semua tampak berkemas, mereka bersiap kembali ke Jakarta. Selama tiga hari itu pula Tiara benar-benar memantapkan hatinya, dia tetap dalam pendiriannya untuk tetap tinggal di rumah Oma dan melanjutkan sekolah di sana.


Tiara pun sudah mengikhlaskan apa yang telah terjadi, semua yang telah ia lewati. Tentang hidup dan asmara, ingin lebih pasrah dan mengikuti takdir tuhan akan kemana. Karena ia yakin setelah hujan akan ada pelangi, namun hidup tak melulu harus indah berwarna-warni.


Akan ada saatnya ujian datang dan Lika liku kehidupan sudah pasti tak akan mudah. Tiara pun ingin lebih mandiri, ia ingin seperti bundanya menjadi wanita kuat di umur yang masih muda. Menata kembali hidupnya agar lebih baik dari sebelumnya.


Sejak tadi Erna pun diam memeluk putrinya, dia begitu berat melepas dan ingin selalu bersama. Bujukan kembali di layangkan namun Tiara benar-benar tak goyah padahal ia tau jika putrinya pasti akan kesulitan.


"Mah, Tiara ingin mandiri. Tiara ingin menjadi anak yang kuat dan nggak melulu manja. Kelak mamah pasti bangga memiliki Tiara. Lagi pula mamah bebas kapan saja datang, jika kesal dengan Papah Mamah lari aja kesini menyusul Tiara."


"Sayang, jangan mengajari Mamah yang tidak-tidak!" Andika mendekati keduanya dan memeluk erat, dia pun berat tetapi niat putrinya baik. Dan tidak begitu khawatir saat ada Mamahnya yang ikut menjaga.


Setelah berhasil menenangkan kedua orangtuanya hingga mau melepaskan dirinya tinggal jauh. Kini Gibran, pria yang di jodohkan oleh Opanya dulu namun terpaksa harus di batalkan karena Andika sadar jika putrinya tak cinta. Kini Gibran berdiri di hadapannya. Menatap dalam kemudian memeluknya dengan erat.


"Kalo loe berubah pikiran loe bisa hubungin gue dan gue jemput loe secepatnya. Jaga diri baik-baik, meskipun loe gagal jadi bini gue, tapi loe tetep adik gue!" Tiara membalas pelukan Gibran, dia bersyukur masalah perjodohan tak memberatkan dirinya dan memaksa hatinya untuk menerima. Karena walau bagaimanapun hati Tiara sudah bertuan sejak dulu, meskipun kini ia ingin fokus menata hidup tetapi tak membuatnya melepas cinta yang telah bersemi di hatinya.


"Makasih Kak, loe emang kakak gue yang terbaik. Jaga Mamah Papah ya, bilang Mamah jangan terlalu memikirkan gue!" lirih Tiara, sejak tadi ia menahan tangis karena tak ingin semua ikut bersedih.


Tak lupa juga Tante dan Omnya pamit, memeluk erat Tiara karena mereka pun telah menganggap Tiara seperti anak sendiri.


"Sayang, hati-hati di sini ya! Jaga diri baik-baik! nggak ada yang datang-datang bikin Tante darah tinggi lagi nanti. Tapi semangat, harus semangat. Dan...Tante nggak melarang hubungan kalian." Andini kembali memeluk Tiara sebelum masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Lily dan Aara pun segera memeluk Tiara setelah Mommy nya masuk ke dalam mobil, keduanya menangis karena akan lama tak bertemu lagi.


"Jangan nangis donk, loe berdua sedih bener udah kayak gue mau kemana aja. Libur semester kita masih bisa ketemu, gue bakal kesana atau loe yang akan kesini. Jangan di ambil pusing, selama jet pribadi bokap loe berdua masih punya sayap. Kalian bisa kapan aja datang."


Sekuat hati Tiara menghibur, semampunya menahan air mata dan sesak di dada.


"Pokoknya jangan ngilang aja loe! kabarin gue bila perlu loe ceritain semua yang loe jalani di sini, termasuk kalo ada cowok ganteng di sekolah baru loe! sisain satu buat gue!" celetuk Lily dan mendapat toyoran dari Aara.


"Yeee ....bisa aja loe! gue juga mau!" sambung Aara yang membuat Lily jengah.


"Udah intinya loe berdua sisaan dari gue!" ucap Tiara dengan tersenyum.


"Ehemmmm......" deheman orang yang sejak tadi diam menyimak membuat ketiganya menoleh.


"Ikh tunggu dulu kak!" ucap Lily saat Aara menariknya kemudian Lily segera memeluk Tiara yang memang keduanya sangat dekat. "Pokoknya kita kuliah bareng!" tekan Lily sebelum akhirnya pergi.


Tiara menganggukkan kepala, mengiyakan dulu setelahnya ia akan memikirkan lagi kedepannya mau seperti apa.


Tiara menatap wajah pria yang selalu ada dan mengisi hatinya, akan jauh membuat tak sanggup tetapi yakin jika ini yang terbaik. Rafkha menggenggam tangan Tiara mengecupnya begitu dalam dan kembali menatap wajah imut yang akan lama lagi bertemu.


"Yakin?" tanyanya lembut. Tiga hari membujuk Tiara namun gagal dan kini tiba saatnya mereka harus terpisah jarak. Rafkha sadar mungkin ini awal agar ia tak kaget nantinya tetapi keputusan begitu cepat hingga Rafkha tak ada persiapan apapun.

__ADS_1


"Yakin...maaf kak, tapi ini yang terbaik. Dan gue nggak minta loe untuk selalu ada buat gue, gue bebasin loe kak. Gue sadar siapa gue dan siapa loe." Tiara menarik nafas dalam, Tiara tak ingin menangis, berulang kali ia lakukan hingga kembali bisa menguasai dirinya.


"Dek....sampai kapanpun kita saling memiliki, jangan kemana-mana, jangan ada niat pergi dan menghilang dari gue. Tunggu sampai gue jemput loe, sekarang gue ikhlas kita jauh, tapi suatu saat gue nggak akan biarkan pemikiran loe misahin kita lagi!" tegas Rafkha.


Rafkha menerima keputusan Tiara, dia menghargai dan tak mau terus posesif hingga membuat Tiara tak nyaman. Dia pun sadar Tiara masih sulit menerima keadaan dan jati dirinya yang tak sesuai keinginan. Maka dari itu Rafkha pun mengalah, tetapi tak selamanya ia akan diam. Suatu saat Rafkha akan menjemput Tiara bagaimana pun caranya.


Tiara menganggukkan kepala dan tersenyum hangat. Berpisah sejenak untuk kembali bersama setelah menjadi dewasa dengan diri yang berbeda. Tiara sudah banyak belajar dari pengalaman bundanya. Ia tak ingin menikah muda, karena sadar pernikahan bukanlah akhir dari perjalanan percintaan. Namun awal dari memulai hidup bersama orang yang memiliki sifat, sikap, dan prinsip yang berbeda. Karena sadar dirinya belum mampu jika terburu-buru.


cup


Mata Tiara membola saat Rafkha nekat mengecup bibirnya di depan keluarga yang masih memperhatikan dari dalam mobil. Dan Oma yang sejak tadi duduk di kursi teras mengamati keduanya.


"Malu kak!" tegur Tiara dengan wajah memerah.


"Buat salam perpisahan dek," Rafkha memeluk Tiara dengan sayang, mengecup kening tanpa peduli penonton yang mengumpat kesal karena melihat kemesraan keduanya.


"Jangan nakal dan gue harap loe datang di acara kelulusan gue nanti. Karena setelahnya kita bakal terpisah lebih jauh lagi. Dan baik-baik di sini, jangan merasa bebas karena mata gue banyak!"


Satu bulir air mata menetes tetapi dengan cepat Tiara mengusapnya. Rasa sesak semakin menjadi apa lagi harus melihat mobil travel yang membawa keluarganya menjauh dan pergi.


"Cinta ini cuma buat loe kak dan nggak akan terganti dengan yang lain."

__ADS_1


"Tiara kan bandel ya Oma, berarti harus kuat dan tahan banting. Nggak boleh cengeng dan manja, Tiara mau kayak bunda Oma. Tapi kok sakit ya Oma, sesak dan mau huaaaa......hiks.....hiks.....mau nangis Oma.....hiks.... hiks.."


Oma menghela nafas berat kemudian mengajak Tiara masuk ke dalam rumah karena suara tangisnya mampu membuat tetangga berbondong-bondong datang kerumah beliau.


__ADS_2