
Tiara masih tak habis pikir dengan pikiran suaminya, kenapa jauh sekali jika memang hanya ingin berbaikan dan bertukar peluh di ranjang. Tak bisakah hotel Jakarta, di sana saja hotel puluhan lalu kenapa harus bersusah payah terbang kesini.
"Bar-bar ku kayaknya berpindah ke kakak," gumam Tiara dengan menatap tajam pria yang kini tersenyum melihatnya.
"Sayang, apa kamu lupa ini tanggal berapa?" tanya Rafkha mencoba untuk mengingatkan Tiara namun wanita itu begitu lama berpikir hingga Rafkha gemas sendiri.
Rafkha segera turun dari ranjang dan mengangkat tubuh Tiara untuk ia ajak membersihkan diri dan setelahnya baru menunjukkan sesuatu yang Tiara lupakan. Mungkin karena tak pernah ada momen bersama dan begitu banyaknya pekerjaan membuat wanita itu lupa. Bahkan sulit sekali mengingat, hingga sejak tadi diam dan sedikit tidak nyambung di ajak bicara.
"Sayang, jangan terus melamun. Atau mau aku mandikan sekalian biar lebih cepat. Katanya kamu laper sayang?" Rafkha mulai mendekati dan memeluk tubuh Tiara dari belakang. Keduanya sama-sama polos di bawah guyuran shower.
Merasakan gerak yang tak biasa membuat Tiara segera tanggap jika Rafkha tak bisa di biarkan ada celah. Langsung masuk tanpa ampun dan mengeksekusi hingga lawan lelah dan terkulai lemas.
"Kak...katanya mandi, tapi kenapa begini! pergerakanmu membuat aku resah kak. Jangan seperti ini, aku udah laper banget loh kak!" Tiara merasa ada yang mengganjal di belakang, si Joni memang minta di ikat biar tidak kembali berdiri sesuka hati. Tidak tau si Jeni sudah panas akibatnya, bahkan rasa getaran akibat ulahnya saja masih tertinggal.
"Kali ini aku mengalah, biarkan si Joni berdiri menunggu kita selesai makan. Tapi tidak untuk setelahnya. Kamu nggak akan aku lepaskan begitu saja," bisiknya kemudian segera membawa Tiara masuk kedalam bathtub dan dirinya memilih untuk kembali mandi di bawah guyuran shower.
Setelah selesai mandi Tiara melihat gaun yang telah tersedia di atas ranjang. Sempat heran dan melirik sekilas Rafkha yang juga sedang memakai pakaiannya. Kemudian segera ia pakai saja karena sudah di pastikan ini semua yang menyiapkan suaminya yang sedang rajin sekali memberi kejutan.
"Sudah?" tanya Rafkha yang kini mendekati Tiara yang sedang sibuk merias wajah. Tiara benar-benar berbeda, Rafkha di buat terkesima sejak tadi dengan wajah sang istri yang semakin cantik dan body yang semakin menarik.
"Dikit lagi, memangnya kita mau kemana sich kak? Kok aku pakai gaun begini? elegan sich, tapi bingung aja karena nggak tau tujuannya. Nggak saltum kan kak?" Tiara segera beranjak dari duduknya dan berdiri menghadap Rafkha yang sejak tadi memperhatikan pergerakannya.
"Memangnya kenapa? kan hanya aku yang melihatnya, seandainya aku memintamu hanya memakai bathrobe juga nggak apa-apa kan?" Rafkha mengecup pipi Tiara dan menggandengnya menuju tempat yang telah ia siapkan.
Sejak tadi Tiara tidak paham dengan keberadaan dirinya saat ini, hanya tau di hotel namun belum melihat-lihat ruangan yang cukup mewah.
Tiara heran Rafkha membawanya ke arah pintu yang ia tau itu adalah pintu balkon. Wanita itu terus mengikuti tanpa banyak bertanya. Hingga matanya membola melihat pemandangan yang di suguhkan.
__ADS_1
Rafkha hanya mengajaknya dinner di balkon kamar tetapi bukan cuma balkon biasa seperti dirumah. Disini pemandangan langsung ke hamparan pantai yang indah, dengan bulan yang nampak jelas. Sudah ada dua kursi dengan lilin kecil mengiringi langkah keduanya. Lalu lilin yang berbentuk hati melingkari kedua kursi yang akan mereka duduki.
"Ayo sayang..." Rafkha mengajak Tiara untuk duduk di sana.Setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman kini Rafkha pun ikut duduk dan membuka tudung saji yang ada di atas meja.
"Ini semua kakak yang menyiapkannya?" tanya Tiara yang masih takjub dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Apa kamu suka?" Rafkha melihat jelas binar bahagia dari mata Tiara. Ia senang melihat Tiara terlihat begitu bahagia dan raut kekecewaan pun kian sirna.
Tiara menutup mulutnya, dia tak menyangka Rafkha seromantis ini. Di atas meja ada black forest yang bertuliskan Happy anniversary yang ke empat tahun enam bulan. Karena empat tahunnya saat Rafkha pulang diam-diam dan melihat dengan jelas kedekatan Tiara dengan Wahyu yang membuatnya mengurungkan niat untuk memberi kejutan akan kepulangannya.
Di sana juga ada sebuah kotak beludru berwarna merah dengan pita merah muda melingkarinya. Tiara penasaran dengan isi dari kotak itu meski sudah menebak-nebak namun belum lega jika tidak membukanya.
"Happy anniversary ..." lirih Tiara dengan menatap Rafkha sekilas dengan wajah haru bercampur bahagia lalu meraih kotak berwarna merah itu. "Ini buat aku kak?" tanya Tiara memastikan.
"Iya sayang, buat istri aku tercinta. Ayo di buka sayang!" ucap Rafkha dengan lembut.
"Kenapa banyak sekali kak?" tanya Tiara dengan pipi basah.
"Ia sayang, karena kita sudah melampaui empat tahun pernikahan. Dan itu semua aku siapkan di setiap tahunnya, ada juga cincinnya tetapi aku simpan di Jakarta. Sekarang aku pakaikan salah satunya ya...kamu mau yang mana sayang?" Rafkha segera beranjak dan memakaikan salah satu kalung yang Tiara pilih.
Rafkha tersenyum melihatnya, Tiara tampil semakin cantik dan menggoda. Dia mengecup leher jenjang Tiara membuat tubuh Tiara meremang dengan mata terpejam.
"Makan dulu Kak..." ucap Tiara kemudian menggigit bibir bawahnya. Anak soang ini memang selalu meresahkan, selalu saja membuat jantung jedag jedug tak karuan dengan otak mesumnya yang menular begitu cepat.
"Hhm....setelahnya kamu tidak boleh lagi menolah sayang."
Rafkha kembali duduk dan mulai menikmati hidangan yang telah tertata rapi. Di bawah rembulan dan hamparan pantai yang begitu indah keduanya saling menyapa dengan senyum. Menikmati dinner yang paling berkesan untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Tangan kiri keduanya pun saling mengapit tak rela melepas, namun tak membuat repot kedua pasangan bucin itu. Tiara benar-benar merasa di ratukan oleh pria yang tepat. Pria yang selama ini selalu ada di hatinya dan tak tergantikan.
"Makasih buat semuanya kak, nggak nyangka suami aku sekarang penuh kejutan."
"Sudah mulai mengakuinya kembali?" tanya Rafkha menggoda.
"Jelas, karena kakak satu-satunya cinta yang aku miliki. Hanya saja kemarin sempat ngeselin dan ingin rasanya aku meminta Papah Andika untuk memutilasi Si Joni. Tapi segera aku urungkan karena takut jika kita bakal bersatu lagi, terus nanti aku repot sendiri mau pegangan apa pas tidur kalo si Joninya habis."
"Sayang...."
Tiara tertawa melihat ekspresi Rafkha dengan wajah yang memerah. Ia sangat merindukan wajah kesal Rafkha karena ulahnya yang membuat Rafkha harus terus bersabar menghadapi tanpa berani membentak apa lagi berbuat kasar.
"Aku merindukanmu kak..."
Rafkha segera beranjak setelah keduanya sama-sama menyelesaikan makan. Ia meraih tubuh sang istri dan mendekapnya erat. Rafkha mengecup tengkuk Tiara berulang kali dan menyesap aroma tubuh yang sangat ia rindukan.
"Aku pun sangat merindukanmu sayang dan tak akan membiarkan kita terpisah jarak lagi. Sudah cukup kemarin yang terakhir. Nyatanya aku dan Joni tak sekuat itu untuk jauh-jauh dari istriku."
Tiara membalas pelukan Rafkha tak kalah erat, ia pun sama tak ingin kembali berpisah apapun alasannya. Dan kini ia paham sejauh apapun mereka melangkah, nyatanya cinta tau kemana jalan pulang.
"Kak...."
"Hhmm....kenapa sayang? sudah mau masuk kamar lagi?" pertanyaan Rafkha membuat Tiara gemas dan mencubit perut Rafkha dengan kencang.
"Sakit dong sayang, mau apa hmm?" Rafkha merangkum pipi Tiara dengan kedua tangannya dan menatap mata sendu itu dengan pancaran cinta yang ia punya.
"Mau punya anak berapa?" bisik Tiara kemudian mengedipkan mata dan berlari masuk ke dalam.
__ADS_1
"Dasar nakal!" Tak membuang waktu banyak Rafkha segera berlari mengejar. "Aku menagih banyak anak padamu sayang!"