YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Kabur-kaburan


__ADS_3

Keduanya saling diam dengan Rafkha terus menatap tajam. Tak ada kata yang terucap hingga Tiara mendorong keras tubuh Rafkha hingga terpental ke belakang. Gadis itu segera bangkit dan melangkah meninggalkan ruangan itu tanpa perduli kemarahan Rafkha setelah itu. Yang jelas ia butuh waktu mencerna ucapan Rafkha yang membuat dirinya mendadak bungkam.


Rafkha menatap punggung gadis yang memporak-porandakan hatinya selama ini. Dia sudah menepis bahkan menyangkal hati yang salah. Tapi entah mengapa dirinya kembali lagi jatuh ke rasa yang tak seharusnya.


"Loe berantem lagi sama kak Rafkha?"


Kabar tentang keduanya tadi dengan cepat berkembang bebas, semua yang menyangkut Rafkha tak ada yang bisa menyetirnya. Suara sumbang terus menerus menyampaikan kabar dari satu orang ke orang lain. Hingga masuk ke telinga adik-adiknya.


"Hhmm...." jawabnya singkat tanpa berniat ingin meneruskan.


Hingga jam pulang sekolah tiba Tiara masih diam, dia memutuskan keluar kelas lebih dulu sebelum temannya yang lain termasuk Lily yang terus memanggilnya.


"Kemana dia? kenapa tiba-tiba menghilang," gumam Lily saat tak menemukan Tiara hingga ia sampai di parkiran.


"Tiara mana?"


"Ngagetin aja sich kak! Napak nggak sich kaki loe kak!" Lily mendengus kesal, " gue nggak tau dia kemana, tadi dia keluar kelas duluan. Mungkin sudah pulang."


Rafkha menarik nafas dalam kemudian melangkah menuju parkiran dengan Brian yang mengekor di belakangnya.


"Lily mau bareng sama kakak?" goda Brian dengan menaik turunkan alisnya.


"Nggak mau!" singkat Lily dengan memalingkan wajah menghentakkan kakinya dan pergi menuju motor Aara.


"Manis banget sich kayak brownis buatan mamah." Brian segera berlari menyusul Rafkha yang sudah menaiki motornya. "Jadi nganter gue kan?"


"Loe mau ke bandara naik motor?"


"Nanti gue pulangnya bisa naik taksi," jawab Brian segera naik ke motor Rafkha.


"Kenapa loe nggak naik taksi aja dari sini?" Rafkha tak kunjung melajukan motornya, dia masih memastikan sesuatu tetapi Brian sudah lebih dulu naik ke atas motornya.


"Ngirit!"


"Anak dokter pelit!" celetuk Rafkha dan segera meninggalkan sekolah.

__ADS_1


Rafkha paling malas berurusan dengan Zea, sudah dua tahun mereka tak bertemu dan itu cukup membuat Rafkha tenang tetapi entah mengapa kabar Zea kembali setelah dua tahun bersekolah di Surabaya justru membuat dirinya merasa tak tenang.


"Loe langsung balik? nggak nemuin Zea dulu? gue udah bilang loe bakal ikut jemput!" Brian memberondong Rafkha dengan beberapa pertanyaan yang membuat Rafkha mendengus kesal.


Keduanya masuk ke bandara, mencari sosok gadis cantik berambut panjang dengan alis ke samping khas dirinya sejak kecil. Dimana pun Rafkha tetap menjadi incaran mata para wanita, tubuhnya yang tegap dengan dada bidang membuat ia terlihat lebih istimewa di mata para gadis KPop yang hobi menonton Drakor.


Gadis berambut panjang berbalut kaos hitam dan rok di atas lutut, modis dan cukup menarik berlari dengan senyum mengembang. Kedua tangan ia rentangkan membuat Brian yang sadar akan keberadaan adiknya ikut berlari mendekati dan melakukan hal yang sama. Cukup lama tak bertemu jelas sebagai kakak ia sangat rindu. Jarak yang tak genap satu tahun membuat keduanya tampak seperti saudara kembar. Padahal dulu sang mamah kebobolan akibat ucapan Papahnya yang tak berfaidah.


Brian menatap hampa manakala pelukannya kosong tapi sang adik sudah melewati, ia menoleh kebelakang dengan tatapan sengit karena bukan dirinya yang mendapat pelukan tetapi Rafkha yang tak membalas dan hanya bersikap datar.


"Aku kangen kakak!" rengek Zea di pelukan Rafkha.


"Hhmm....bagaimana kabarmu?"


"Baik, seperti yang Kakak lihat, aku sehat dan tambah cantik kan?" tanyanya lagi setelah merenggangkan pelukannya.


Brian mendekati keduanya, bersidekap dada menatap sang adik dengan tatapan jengah dan cukup menarik perhatian.


"Kakak jemput aku juga?"


Zea meringis menatap kakaknya yang kini menatapnya dengan kekesalan di dada.


"Auramu tertutup oleh kak Rafkha, sampai tak terlihat jika kakakku datang juga."


"Kalo bukan adik udah gue tukerin loe ke pasar loak! ayo balik!"


Brian menarik tangan Zea untuk segera pulang dan reflek Zea pun meraih tangan Rafkha agar mengikutinya. Ketiganya melangkah keluar bandara dengan Rafkha mengikuti sampai tempatnya menitipkan motor.


"Kak Rafkha naik motor?"


"Hhmm..."


"Ini kan bandara bukan stasiun kok bisa?" tanya Zea heran dan tak mungkin ia meninggalkan kakaknya untuk bisa pulang bersama Rafkha.


"Loe lupa siapa moyangnye? ayo taksinya udah datang, masuk sekarang!" titah Brian yang sudah membuka pintu mobil untuk Zea. Dia cukup paham jika sejak tadi Rafkha gelisah, sudah pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan. Dan sebisa mungkin ia tak memperbolehkan Zea pulang bersama Rafkha.

__ADS_1


"Tapi kak Rafkha?"


"Nggak mungkin loe ikut gue naik motor!" tegasnya segera melangkah meninggalkan keduanya yang masih sibuk berdebat. Rafkha merasa tak tenang apa lagi sejak kejadian di basecamp tadi ia tak nampak melihat Tiara. Tujuannya saat ini adalah memastikan sendiri jika gadis itu sudah ada di rumah.


Rafkha melajukan motornya menuju rumah Andika, aneh memang seharusnya tak berlebihan seperti ini tetapi karena sudah menjadi hal biasa tak membuat kedua orangtuanya serta Om dan tantenya merasa heran karena sejak kecil Rafkha selalu ada melindungi Tiara.


"Rafkha kok kamu sendirian? Tiara mana?"


Rafkha tercengang mendapati pertanyaan yang menjawab kegelisahannya. Hatinya semakin tak karuan saat ia tak mendapati Tiara berada dirumah.


"Rafkha pergi dulu Tante!"


Rafkha segera berlari menuju motornya dan segera menancap gas meninggalkan Erna yang heran dengan sikap Rafkha, ia pun belum sadar jika Rafkha datang tanpa Tiara. Hanya menggelengkan kepala melihat sikap Rafkha yang tak jauh dengan Raihan.


"Bapak sama anak sama, sama-sama datar!"


Rafkha melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, menyalip beberapa pengendara lain dengan memicu sumpahan dan umpatan.


Mencari ke beberapa tempat, tapi tak kunjung menemukan. Menghubungi adiknya menanyakan keberadaan Tiara tapi tak juga mendapat info yang ia harapkan. Justru beberapa pertanyaan dari mommynya yang ternyata mencuri dengar saat ia menghubungi Aara.


"Loe dimana sich dek, bisa nggak sich sehari aja nggak buat gue khawatir! kerjaan loe nggak jauh dari kabur-kaburan."


Rafkha pun merutuki dirinya yang tak bisa menahan untuk tak mengatakan isi hatinya yang membuat Tiara justru marah padanya.


"Mau loe ke ujung dunia pun gue pasti nemuin loe dan nggak akan gue lepasin loe gitu aja!"


Hingga malam Rafkha tak kunjung menemukan Tiara hingga ia merasa tak berguna. Seluruh keluarganya menghubungi dan terus menanyakan tentang keberadaan Tiara saat ini tapi tak ada satupun yang ia tanggapi karena ia pun belum menemukan. Hingga matanya menangkap sosok yang sejak tadi ia cari duduk di halte sekolah dengan menundukkan kepala.


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Comentnya mana nich yang udah nungguin cerita anak-anaknya Raihan dkk.


Jangan lupa like juga ya...


Aku menunggu dukungan kalianπŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2