
Flash back on
Tara adalah anak terpandang di desanya, Anak dari pemilik perkebunan terluas dan memiliki pekerja buruh yang banyak. Belum lagi dengan pabrik penggilingan padi milik orang tuanya yang besar dan sangat terkenal. Dan Tara lah anak satu-satunya di keluarganya. Ia memiliki Bapak dan Ibu yang baik. Namun dia lebih memilih untuk kuliah di Jakarta. Meskipun Ibunya meminta dirinya tetap di kampung tetapi tidak membuatnya tetap tinggal, karena Tara ingin kuliah dengan tenang tanpa ada julukan anak juragan.
Berkuliah di Jakarta hingga lulus dan berniat menikahkan Cantika yang ia kenal melalui Andini, mantan terindah baginya. Hari kelulusan Tara mengajak Cantika untuk bertemu dengan kedua orangtuanya, bertegur sapa dengan baik hingga acara lamaran dan rencana pernikahan sampai di depan mata.
Tetapi kabar duka dari kampung membuat Tara harus segera pulang tanpa Cantika, kerena saat itu Cantika sedang ada acara kelulusan, dan Tara tidak ingin mengganggu momen penting dia yang hanya sekali seumur hidupnya. Padahal Cantika sangat ingin ikut, ia ingin hadir dan melihat calon Mamah mertuanya untuk yang terakhir. Tidak hanya itu saja ia ingin mendampingi Tara yang sedang berduka dan pasti butuh teman untuk berbagi kesedihan.
"Kak, aku ikut ya..." Cantika sejak tadi sudah merengut ingin ikut, tetapi Tara benar-benar tidak sampai hati membiarkan Cantika melewatkan acara itu apa lagi di lanjut acara perpisahan.
"Cantik....sayang....kakak cuma sebentar, sekitar seminggu di sana. Sampai selesai acara tahlilan kakak akan kembali menemui kamu dan kita menikah. Kamu di sini fokus dengan semua persiapan, jangan sampai capek-capek karena setelah menikah kamu nggak bakal aku kasih istirahat!" Tara mengedipkan sebelah matanya. Sebenarnya tak hanya itu saja alasan Tara tak ingin mengajak Cantika. Dia ingin mencari tau penyebab Ibunya tiba-tiba meninggal.
"Ikh apa sich kak!" ucapnya malu-malu, Cantika memang memiliki perangai yang lembut dan tidak suka dikasari. Maka dari itu semenjak dekat dengan Cantika, Tara menanggalkan panggilan loe gue yang dulu sering ia ucapkan. Apa lagi Cantika yang memiliki sifat yang manja dan menggemaskan bagi Tara. Berawal di anggap tukang ojek dan kini berubah menjadi ojek cinta, intinya kesal jadi suka.
Berat meninggalkan Cantika sendiri, tetapi setelah pamit dengan keluarga mantan kekasihnya yang mana adalah keluarga angkat dari calon istrinya ia pun tenang. Dan melarang Cantika tinggal sendiri di rumah pribadinya.
Sampai di kampung halaman, Tara segera menuju rumah di mana tempat ia di besarkan. Dan baru saja Tara menginjakkan kakinya di depan pagar, sudah nampak barisan para pelayat memenuhi halaman rumah. Sesak dada Tara melihat bendera khas adanya duka di rumah itu. Pria itu segera masuk dan memeluk tubuh kaku ibunya yang kini terbujur tak bernyawa.
Ibunya tidak memiliki riwayat penyakit apapun, bahkan semalam ia baru saja mengobrol melalui sambungan telepon. Membahas pernikahannya dengan Cantika tetapi belum ada 12 jam setelah ia mematikan sambungan ponsel, Tara mendapat kabar di pagi buta jika ibunya sudah meninggal. Namun saat di tanya penyebabnya, mereka tidak ada yang menjawab. Hingga Tara geram dan merasa ada yang sengaja membuat ibunya meninggal.
Bapak pun tak kalah terkejut karena sang istri sebelum meninggal masih sempat pergi ke pasar dan pulang dalam keadaan baik-baik saja. Kemudian sarapan bubur yang ia ketahui di beri oleh temannya saat bertemu di pasar. Ibu masih sehat dan sempat memasak namun saat menemani Bapak sarapan, beliau jatuh pingsan dan tiba-tiba meninggal.
Tara dan bapaknya merasa terpukul dengan meninggalnya Ibu, namun belum surut kesedihannya bahkan tanah kuburan ibu masih basah. Dengan tega bapak pulang membawa wanita tepat di saat Tara ingin pamit kembali ke Jakarta karena ia juga harus mempersiapkan acara pernikahan yang tak mungkin di tunda.
Tara menggelengkan kepala saat melihat seorang wanita yang memiliki umur tak jauh dari ibunya datang dengan pakaian rapi dan para ustadz pun hadir dengan beberapa orang yang ia tidak kenal. Wanita itu tak sendiri, dia datang bersama dengan seorang gadis yang tak jauh umurnya dari dia.
"Ada apa ini Pak?" tanyanya dengan meletakkan tas yang akan ia bawa. Tara tak mengerti dengan apa yang akan bapaknya rencanakan karena selama seminggu ia di kampung, Tara tak banyak mengobrol dengan bapak yang sibuk dengan kebun dan usahanya.
"Kenalkan ini calon Ibumu yang baru nak, bapak akan menikahinya hari ini."
__ADS_1
deg
Bagai di sambar petir hatinya begitu terluka dengan jawaban dari Bapak, semudah itu kah ibu tergantikan, semudah itukah bapak mencintai wanita lain sedangkan selama ini ia tau bapak sangat mencinta ibunya, dan wanita model apa yang akan menjadi ibu tirinya. Melihatnya saja Tara sudah tidak nyaman, apa lagi anak perempuannya yang sejak tadi menatap tiada henti.
"Pak, semalam baru selesai acara tahlilan ibu, tetapi bapak sudah mau menggantikan ibu dengan wanita lain? bapak masih waras akan itu?"
"Tara!"
Tara menggelengkan kepala bahkan tak menyangka lalu pergi begitu saja tanpa ingin menyaksikan pernikahan beliau.
"Minggu depan acara pernikahanku, aku harap bapak datang dan menjadi saksi pernikahanku dengan Cantika!" ucapnya sebelum benar-benar pergi dan meninggalkan rumah yang kelak akan menjadi kuasa ibu tirinya.
"Mas kenapa di biarkan dia pergi?" tanya wanita yang bernama Wati.
"Biarkan, aku paham perasaannya. Tapi lambat laun dia akan menerima. Ayo kita mulai saja ijabnya...."
Hingga seminggu ke depan dan tiba saatnya Tara menikahi Cantika, Bapaknya tak kunjung datang sampai hari H. Sehingga pernikahannya tanpa di hadiri orang tua. Sedih sudah pasti, tetapi Tara berpikir mungkin ini balasan karena ia pun pergi saat acara pernikahan Bapaknya seminggu yang lalu.
"Bagaimana bisa bapak sakit? Anda apakan bapak saya sampai beliau stroke seperti ini?" Tara benar-benar tak tega saat datang dan mendapati bapaknya tak bisa melakukan apapun, sedangkan sebelumnya beliau nampak gagah bahkan tak ada tanda-tanda akan sakit.
"Sabar Kak ..." Cantika berusaha menenangkan dengan mengusap lembut lengan Tara, namun tatapan dari wanita yang berada di sebelah ibu mertuanya membuat Cantika tidak nyaman.
"Bapak kamu jatuh di kamar mandi dan itu bukan salah saya, semua tetangga juga tau akan itu. Dan jangan menuduh sembarangan!"
Tara menghela nafas berat, dia tak mengerti kenapa semua akan menjadi seperti ini. Dan kini ia tinggal di kampung dan menggantikan Bapaknya untuk mengurus semua usaha. Beruntung Cantika mau di ajak tinggal disana, bahkan mau membantunya pergi ke kebun dan berpanas-panasan saat harus mengecek pekerjaan para pekerja.
"Mas...."
Cantika dan Tara menoleh ke asal suara, di sana ada Lita adik tiri dari Tara yang datang dengan membawa rantang yang berisi makanan dan teko kecil yang berisi teh hangat.
__ADS_1
"Ada apa Lita?"
"Lita tadi masak mas dan ini Lita bawakan untuk makan siang. Ayo mas istirahat dulu, sudah siang pasti lapar kan?" Lita segera melangkah menuju gubuk untuk menata makanan yang ia bawa. Namun sebelum Tara melangkah, ia lebih dulu menatap sang istri.
"Nggak apa-apa kak, lumayan jadi nggak perlu pulang setelah ini kita langsung ke pabrik."
"Kamu nggak apa-apa aku makan masakan wanita lain?" tanya Tara memastikan.
"Asal jangan dari makanan turun ke hati!" jawab Cantika dengan mengarahkan hati telunjuknya ke dada Tara dan di tangkap olehnya.
Cup
"Cuma kamu sayang."
Cantika membuang muka, menutupi wajahnya yang sudah merona dan membuatnya malu untuk manatap ke arah Tara, namun bukan Tara namanya jika membiarkan begitu saja. Dia dengan sengaja menghujani wajah sang istri dengan kecupan.
"Kak stop kak! malu ikh, nanti ada yang lihat!"
"Biarin, aku cium istri aku sendiri bukan istri orang!" jawabnya kemudian segera melangkah menuju gubuk.
"Kakak, awas ya kalo berani!" serunya dan segera mengejar sang suami. Interaksi keduanya tak luput dari pandangan Lita yang menatap jengah bahkan muak saat melihat Tara dan Cantika terlihat begitu mesra.
"Ini mas silahkan dimakan." Lita memberikan piring yang sudah berisikan nasi lengkap dengan lauk dan sayur. Namun hanya ada dua piring di sana dan yang satu sudah di pakai Lita untuk dirinya sendiri.
"Kamu makan di sini juga?" tanya Tara dengan tatapan menyelidik tetapi Lita dengan santai menganggukkan kepala dan segera makan. Cantika yang mengerti hanya diam dengan tersenyum menatap Tara.
"Hanya ini piringnya? untuk Cantika tidak ada?" tanyanya lagi.
"Tadinya ini buat mbak Cantika, tapi aku laper jalan kesini kan lumayan mas, kayaknya enak juga makan di tengah-tengah perkebunan gini." Tara menghela nafas panjang, dia sadar jika Lita sengaja.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kak, udah Kakak makan aja. Aku bisa pakai daun jati itu, lebih segar nanti makannya karena wanginya sedap." Cantika segera turun dari sana namun di tahan olah Tara.
"Nggak sayang, kamu tetap di sini! kita bisa makan sepiring berdua."