
Tiara tercengang melihat pria yang tiba-tiba datang dan melengos masuk ke dalam gerbang. Di tambah lagi sang mamah yang sudah rapi entah ingin kemana tetapi cukup membuat penasaran.
"Rafkha akhirnya kamu datang juga, maaf ya Tante mendadak ngabarinnya. Habisnya om Dika baru banget telpon. Ini aja Tante baru packing." Erna menggeret kopernya keluar rumah. Sudah di pastikan beliau akan keluar kota menemani Andika. Tetapi kenapa Tiara yang anaknya justru tidak tau.
Tiara merogoh ponselnya yang ada di dalam saku, mengintip notifikasi yang ada di sana tetapi tidak ia temukan panggilan tak terjawab ataupun pesan dari kedua orang tuanya.
"Eh Tiara sudah pulang, bareng Rafkha ya?"
Lagi-lagi saking hebohnya Erna tak melihat jika sejak tadi putrinya sudah berdiri memperhatikan.
"Berapa lama mah?"
"Eh, kok nanya nya berapa lama, emang tau mamah mau kemana? mamah lupa ngabarin kamu sama Gibran. Tapi mamah sudah ngabarin Rafkha jika mamah mau keluar kota nemenin Papah. Nanti kamu kabarin Gibran dan kalo ada apa-apa bilang Rafkha. Malam ini Rafkha tidur di sini!"
"Sebenarnya anak mamah tuh siapa sich!" Tiara menghentakkan kakinya dan masuk tanpa menoleh ke arah keduanya. Erna tercengang mendengar ucapan Tiara, tapi setelahnya ia segera menghampiri Tiara yang berlari menaiki tangga.
"Tiara...cantik.....anak mamah, tunggu dulu!" seru Erna dari bawah tangga.
Tiara menghela nafas panjang kemudian segera menoleh ke belakang. "Ada apa mah?"
"Maafkan mamah sayang, mamah harus ke Surabaya. Papah kamu mendapat tugas dari Om Rai untuk mengecek perusahaan yang ada di sana. Jangan ngambek ya sayang, maaf mamah nggak sempat ngabarin kamu. Tadi tuh buru-buru, yang terpenting anak-anak mamah aman karena ada Rafkha di rumah."
Tiara kembali menuruni tangga dan memeluk sang mamah. "Hati-hati ya Mah, salam buat Papah. Dan bilang Papah, harap di buang karena aku tak mau punya adik!" Tiara segera melepas pelukannya dan berlari menuju kamar sebelum mamahnya sadar akan apa yang ia ucapkan.
"TIARA!"
brak
Tiara segera menutup pintu kamarnya dan tertawa mendengar teriakan Erna dari bawah sana. "Bilang saja mau berduaan, dasar Papah!"
Tiara segera melemparkan tas dan sepatu. Kemudian melepas seragam sekolah dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dan mengusap keningnya dengan sabun.
"Vero, jangan aja gara-gara di cium loe gue jadi jerawatan. Itu bibir sebelumnya kan buat rujakan. Mantannya pasti sesuka hati membiarkan bibirnya di cium-cium. Rabies aja!" gerutu Tiara kemudian segera melangkah ke dalam bathtub untuk berendam.
"Aaaakkkkhhhhhhh....."
"Kakak ngapain disini?" teriak Tiara, pasalnya ia keluar dengan menggunakan handuk sebatas paha dan rambut yang terbungkus memamerkan leher jenjangnya.
__ADS_1
Tiara berbalik dan hendak masuk kembali ke dalam kamar mandi tetapi naas kakinya terpeleset dan terjungkal beruntung Rafkha yang ingin keluar kamar segera berlari dan menangkap tubuh Tiara.
deg
Rafkha yang berniat ingin bicara dengan Tiara seakan mendapat Jackpot, matanya menatap jelas dada Tiara yang begitu mulus dan menggoda hingga membuatnya menganga dengan mata melebar.
"Merem kak!" Tiara menutup mata Rafkha dengan kedua tangannya hingga membuat Rafkha tersadar dan gelagapan.
"Tiara ntar loe jatuh!" geram Rafkha.
"Mata loe minta gue sliding kak!"
"Iya gue merem tapi tangan loe awas!" kesal Rafkha, bukan hanya mata yang Tiara tutupi tetapi seluruh wajahnya hingga ia sulit bernapas.
Rafkha segera melepaskan tubuh Tiara setelah memastikan gadis itu berdiri dengan benar.
"Jangan buka mata dulu kalo gue belum selesai pakai baju!"
"Terus loe mau pake baju di depan gue?" tanya Rafkha dengan seringai di wajahnya.
"Gila loe kak! keluar!" sentak Tiara dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Kak Rafkha awas baju gue ketinggalan!"
.
.
.
Hingga malam Gibran tak kunjung pulang, dia malah mengirim pesan jika dirinya menginap di rumah Vero karena ingin mabar game dengan teman-temannya yang kebetulan besok libur sekolah dan orang tua tidak ada dirumah.
"Hhuuuuhhff.....terus gue harus berduaan aja gitu sama kak Rafkha, ntar kalo jadi bo_"
"Bo_"
Tiara segera mengatupkan bibirnya dengan memejamkan mata, ia lupa jika Rafkha ada di hadapannya. Mata dan tangannya sedang sibuk dengan layar ponsel tetapi telinganya mampu mendengar dengan jelas gumamannya sejak tadi.
__ADS_1
"Bo_ apa Tiara?"
"Bobo, iya bobo. Tiara mau bobo dulu ya kak, udah malem ngantuk..." padahal jam baru menunjukkan pukul 8 malam dan mereka baru selesai makan. Jelas itu hanya alibi Tiara untuk menghindari Rafkha yang menatapnya dengan tatapan tak biasa.
"Duduk!"
"Hah?"
"Gue bilang duduk!" titah Rafkha meminta Tiara untuk duduk di sampingnya tetapi Tiara seakan tak perduli dan tak menghiraukan hingga dengan santainya ia melengos untuk segera melangkah ke kamar.
Bruk
Tiara terkejut saat tangannya di tarik dengan kencang hingga terjatuh di pangkuan Rafkha. Mata keduanya saling terkunci dengan posisi yang tak terduga. Hingga pandangan Rafkha jatuh pada bibir mungil Tiara yang menggemaskan.
Jantung keduanya saling berpacu, sungguh remaja jaman now wawasan lebih luas apa lagi masalah hasrat dalam keadaan sadar saja bisa khilaf apa lagi tidak. Rafkha tak bisa menahan dan mulai mengikis jarak.
Nafasnya terasa menyapu wajah Tiara hingga begitu hangat menyapa. Rafkha mengeratkan pelukannya semakin dekat menatap lekat tanpa perlawanan. Hingga di jarak tiga centi tangan Tiara mulai mencengkeram kaos Rafkha menambah ke gemasan di hati Rafkha.
BRAK
meong.....meong....aannggg.....
"Aaagghhh...." pekik Tiara.
Suara kucing kawin membuyarkan aksi keduanya hingga membuat Tiara terjingkat dan memeluk leher Rafkha. Sedangkan Rafkha memejamkan mata dan merutuki kedua kucing tersebut yang sangat mengganggu.
Apa lagi wajah Rafkha sudah memerah menahan rasa di bawah sana yang begitu menyiksa karena pergerakan Tiara mampu membuat si geraga menggeliat.
"Diem Tiara....." Rafkha mengerang membuat pergerakan Tiara seketika terhenti.
"Takut kak!"
"Tapi pergerakan loe buat si doi bangun! diem kalo nggak mau gue serang loe malam ini juga!"
deg
Tiara mencoba mencerna ucapan Rafkha dan merasa aneh ketika ada yang mengganjal di bagian tubuh Rafkha. Sadar akan sesuatu Tiara segera melompat dari pangkuan Rafkha dan beralih di sofa.
__ADS_1
"Celamitan dah loe kak! denger kucing kawin terus loe mau ikutan! Jangan sampe tuh si geraga nyelonong, belum sampe pintu masuk udah gue depak duluan!" sewot Tiara dengan memerah merona, sejatinya ia malu tetapi tak ingin di buat canggung dengan keadaan. Hingga ia memalingkan wajah tetapi tiba-tiba tangan Rafkha meraih tubuhnya.