YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Vampir


__ADS_3

BRAK


"Loe beneran suka sama kak Rafkha?"


Tiara terjingkat saat ingin membuka pakaian tiba-tiba Gibran masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu. "Woy, Adik loe cewek Bambang! ketuk pintu dulu kalo mau masuk kamar. Ngadi-ngadi loe kak!" sewot Tiara membenarkan pakaiannya kemudian duduk di pinggir ranjang menatap Gibran yang berdiri dengan tangan bersedekap dada.


"Kenapa?" tanya Tiara setelah bosan menunggu Gibran yang diam dan tak bersuara. Hampir 10 menit tak ada percakapan. Hingga Tiara berdiri dan mendekati. Tetapi tiba-tiba Gibran menutup pintu meninggalkan Tiara yang menganga menatap pintu kamar yang sudah tertutup rapat.


Dengan cepat Tiara berlari untuk menyusul Gibran, menggedor pintu kamarnya dan berteriak minta untuk di buka.


"Woy loe gaje tau nggak!" teriak Tiara dengan tangan yang tak henti mengetuk tetapi tak kunjung di buka oleh Gibran.


"Tidur! besok sekolah!" seru Gibran dari dalam kamar.


Tiara mendelik mendengarnya dan menendang pintu kamar Gibran.


"Auw.....sakit! gara-gara loe nich Gibran bege!"


Tiara segera melangkah masuk ke dalam kamar dengan bibir mengerucut dan hati kesal. Ntah apa yang ingin Gibran katakan, tetapi Tiara cukup dongkol karena kelakuan Gibran yang terkadang tidak jelas baginya. Banyak menatap dan ujung-ujungnya kabur tanpa berucap. Dan pergi setelah ia kesal. Hal yang menjadi kebiasaan tetapi cukup membuat geregetan.


Pagi ini Rafkha sudah rapi dan tampak bersemangat, senyum tipis terukir seraya langkahnya mendekati meja makan untuk sarapan bersama yang lain. Semua sudah tampak berkumpul dan memulai makan, pemuda itu pun segara duduk dan memakan nasi goreng buatan mommy nya.


Belum ada perbincangan, semua tampak khusyuk dengan hidangan yang telah tersedia. Hingga suara Raihan memecahkan keheningan di sela-sela suara sendok dan garpu yang saling bertemu. Membuat semua terdiam dan menghentikan kunyahannya.

__ADS_1


"Minggu depan kita kembali ke rumah Om Bayu untuk melaksanakan pertunangan."


Rafkha mengeratkan genggaman tangannya di sendok dan garpu yang ia pegang. Rasa nikmat akan menu yang di buat oleh sang mommy seketika hilang bahkan serasa hambar. Rafkha pun diam dengan wajah datar dan rahang yang mengeras.


Lily dan Aara menoleh menatap Rafkha dan melihat betapa wajah sang kakak menahan amarah. Mommy pun melakukan hal yang sama kemudian menoleh ke arah suaminya yang menatap putranya dengan wajah tegas.


"Apa papah akan menikah lagi?"


"Rafkha!" sentak Raihan, pertanyaan konyol yang membuatnya marah. Dia tau jika putranya akan menolak tetapi bukan dengan pertanyaan tak masuk akal, sedangkan Andini segera meraih tangan suaminya untuk menenangkan.


Rafkha tersenyum tipis menanggapi dan mulai menatap kedua orang tuanya bergantian. "Jika bukan papah lalu siapa? sedangkan aku tak pernah berencana apapun, maaf jika pertanyaanku dan ucapanku menyinggung hati Mommy dan Daddy. Jika tujuan itu mengarah kepadaku, dengan sangat menyesal aku kecewa akan keputusan kalian. Dan aku menolak dengan tegas, pertunangan mengarah ke arah keseriusan untuk melangkah ke depan menuju pelaminan. Sedangkan aku tidak menyukai dia apa lagi mencintainya. Andai itu Daddy, Mommy, atau kedua adikku yang merasakan. Aku yakin kalian akan menolak sama seperti yang aku lakukan."


Semua yang ada di sana tertegun dengan ucapan Rafkha yang begitu panjang, ini hal pertama dan sangat langka hingga Aara dan Lily menatap tak percaya.


"Semua keputusan sudah deal sejak kalian masih kecil dan Daddy tidak bisa membatalkannya. Karena akan menyinggung keluarga Om Bayu khususnya Zea yang sudah tau akan hal ini. Begitupun dengan kamu, kamu sudah tau lebih dulu sebelum kalian kembali bertemu."


"Apa Daddy lupa jika aku pernah menolak sebelumnya? ini bukan hal yang bisa dibuat bahan candaan dan percobaan Dad! Jika hanya untuk menyatukan persaudaraan kenapa bukan Lily atau Aara yang Daddy jodohkan dengan Brian?"


"Kak!" seru Aara sedangkan Lily tampak terkejut akan ucapan Rafkha.


"Bukan cuma aku Dad, mereka pun menolak jika berada di posisiku! jadi aku minta stop lakukan itu, Daddy bisa tetap menjalin persaudaraan tanpa harus menikahkan anak-anak kalian!" tegas Rafkha dan segera pergi meninggalkan meja makan.


Rafkha dan Andini pun tampak terdiam tak menanggapi. Keduanya hanya menghela nafas berat, apa lagi Andini sejak tadi meminta suaminya untuk tenang dalam menghadapi Rafkha. Karena apa yang di katakan Rafkha tidaklah salah. Tetapi karena rencana ini sudah ada sejak mereka masih kecil, akan sulit untuk di hindari. Mungkin bisa saja Raihan membatalkan tetapi ada alasan yang membuat ia harus tetap melangsungkan.

__ADS_1


Rafkha sampai di depan pagar tepat saat Tiara keluar rumah, ia yang ingin menaiki motor Gibran kemudian kembali menurunkan kakinya dan berlari keluar gerbang. Gibran pun hanya diam menatap dan pergi mendahulukan keduanya.


"Kak...." seru Tiara dengan senyum mengembang.


Rafkha membalas senyum dan memberikan helm untuk Tiara, dia memperhatikan tubuh mungil berbalut jaketnya. Selalu jaket Rafkha yang di pakai Tiara karena semenjak jaket Rafkha menumpuk di lemarinya, Tiara tak pernah berniat membeli atau pun memulangkan. Dia menyimpan dan selalu di pakai setiap berangkat sekolah.


"Ayo naik, keburu telat!"


Tiara mengangguk dan segera mengisi jok belakang, tanpa diminta dia sudah melingkarkan tangannya di perut Rafkha hingga menimbulkan senyum mengembang di balik helm yang pemuda itu pakai.


Pemandangan akan kedekatan keduanya pun tak membuat puluhan bahkan ratusan pasang mata penghuni SMA Baratajaya heran. Tiara melepas pelukannya saat memasuki gerbang.


Keduanya melangkah beriringan menuju kelas setelah merapikan penampilan mereka. Rafkha terlebih dahulu mengantar Tiara ke kelas, hal yang tak pernah Rafkha lakukan tetapi seperti menjadi kewajiban setelah ia menyatakan cinta.


"Belajar yang benar, awas ngabur!" Rafkha mengapit hidung Tiara dengan gemas berdiri di depan kelas gadis itu.


"Eugh.....sakit kak! iya nggak bolos lagi. Tenang sich, kemarin kan udah janji, lagian mau gue ngumpet di balik gunung kabur ke ujung Berung juga gue yakin loe bakal nemuin gue."


"Loe mau tau apa sebabnya?" Rafkha menunduk memandang Tiara dengan mengikis jarak menimbulkan semburat merah di wajah Tiara dengan degup jantung yang tak bisa di kondisikan.


"A..apa?" lirih Tiara.


"Karena hati loe dan gue punya magnet yang saling tarik menarik. Loe kutub Utara, gue kutub selatan menghasilkan suatu gesekan yang membuat kita saling bersinggungan. Makanya kalo dekat sama loe gue hawanya mau menjelma jadi vampir!"

__ADS_1


Tiara menahan nafas sepanjang ucapan Rafkha yang mengandung arus ke gombalan di dalam tegangan tinggi dengan tingkat kemesuman di dalamnya.


"Vampir....." seketika kedua tangan Tiara menutupi lehernya dengan tatapan awas. "Gue pikir loe soang belia tapi ternyata loe penghisap darah, jangan aja Aliando versi dua hadir, karena gue bukan Tiara Latuconsina yang selalu cetar dan rela mati demi loe kak! cinta gue masih waras nggak bucin kayak anak jaman kekinian!" tegas Tiara lalu segera kabur dari sana membuat Rafkha menahan tawa.


__ADS_2