
"Rafkha kamu mau kemana?" Raihan kembali mendekat setelah mematikan ponselnya dan melihat Rafkha yang berusaha bangun dan beranjak dari ranjang.
"Rafkha mau cari Tiara Dad!" Rafkha melepas selang infus yang menancap dan segera turun, bahkan Daddy dan juga mommynya tak bisa menahan. Sedangkan yang lain berusaha mencegah tetapi tak di gubris olehnya. Rafkha terus memberontak dan segera pergi dari sana.
"Kak loe jangan gegayaan dech! kalo loe pingsan di jalan gimana?" seru Aara yang tak tahan melihat tingkah Rafkha yang justru akan membahayakan diri sendiri. "Lagian ada Gibran, ada kakak kandungnya! loe tuh cuma sepupu tapi perhatian loe ngalahin semuanya! loe nggak sadar udah buat Mommy dan Daddy cemas?"
Rafkha menghentikan langkahnya dan menatap kedua orangtuanya bergantian. Kemudian beralih ke Aara yang masih menatapnya dengan sengit. Rafkha menarik nafas dalam dan meminta Lily untuk mencari.
"Ly, cari Tiara sampe ketemu dan bawa dia pulang!" titahnya dan dianggukki oleh Lily.
Kata-kata Aara memang benar, Rafkha sadar akan itu. Tapi apa yang ia lakukan karena Tiara gadis yang ia cinta.
Andini dan Raihan kembali saling memandang dengan tatapan penuh makna. Keduanya menghela nafas panjang dan saling berpegangan tangan.
Rafkha kembali ke ranjang dengan di bantu oleh Brian, sedangkan Lily segera mengajak Aara untuk mencari Tiara. Dan Zea hanya diam memperhatikan Rafkha dengan mengaitkan kedua tangannya.
"Ck, kebiasaan tuh anak pengen banget di cariin! udah kayak bocah suka banget main petak umpet! Ntar kalo ketemu gue kasih rante anjing sekalian, biar nggak nyusahin orang!" kesal Aara.
"Nanggung! pake rantai kapal biar nggak bisa kemana-mana!" timpal Lily. Keduanya segera pergi meninggalkan rumah sakit.
Sedangkan di hamparan pasir putih yang luas dengan angin sepoi-sepoi menerpa wajah, gadis dengan ekor mata basah tengah berdiri menatap air yang menggulung di hadapannya. Disini ia mencari ketenangan dan di sini dia bisa meluapkan kekesalan.
Tiara sengaja mencari tempat menyendiri yang orang tak akan bisa datang menghampiri. Tiada yang mengira dia akan datang ke pantai, bahkan Rafkha sekalipun. Dia butuh tenang, hatinya butuh waktu untuk kembali berdamai. Hingga kembali tampil tanpa beban dan senyum meyakinkan.
__ADS_1
"Kenapa gue harus cinta sama loe? Kenapa hati gue harus berpatok dengan satu orang? kenapa?" teriak Tiara meluapkan isi hati.
"Sakit kak....sakit liat loe sama yang lain!"
Hingga hampir malam Tiara berdiam di sana, bahkan ponselnya yang sejak tadi berdering tidak ia hiraukan. Banyak panggilan masuk, mungkin puluhan karena sejak jam pulang sekolah hingga senja ponselnya terus berdering tanpa jeda.
"Berisik tau nggak loe! udah kayak bebek minta makan, cerewet!" ocehnya pada ponsel yang tak bisa diam. Alhasil ia matikan dan memasukkan kembali ke dalam tas. Tiara tidak tau betapa khawatir kedua orangtuanya. Terlebih Erna, sang mamah sejak tadi mondar-mandir di teras dengan perasaan cemas. Beliau sudah meminta Gibran mencari tetapi tidak kunjung ada hasil. Sedangkan Rafkha yang biasa selalu di andalkan oleh mereka sedang sakit dan tidak bisa ikut mencari.
"Sayang bisa duduk dulu nggak? aku pusing liat kamu kayak gangsing." Andika segera menarik istrinya untuk duduk dan kembali menghubungi Raihan yang tadi mengabari jika Lily dan Aara ikut mencari Tiara.
"Kamu tuh nggak ngerti aku khawatir begini Tiara tuh anak gadis, aku takut dia kenapa-kenapa, apa lagi ini udah malam mas."
"Aku juga tau sayang, Tiara anak gadis. Dia belum pernah Operasi ganti kelamin. Tapi kita harus tenang, Tiara pasti pulang. Apa kamu lupa kalo dia anak manja kesayangan kita? dia pasti bisa menjaga diri dan kembali dalam keadaan baik-baik aja! Dan nggak mungkin bisa jauh dari kita." Andika mencoba menenangkan Erna meskipun hatinya juga cemas.
Sudah pukul 8 malam dan Tiara belum sampai di rumah, jika pamit mungkin tidak akan sepanik ini. Dan sejak kabur dari sekolah anak itu belum juga memberi kabar.
"Nihil, anak gue nggak bawa hasil. Gibran gimana?"
"Gibran baru aja sampe rumah, dia juga belum nemuin Tiara. Ampun deh si Tiara kalo ngabur bikin orang bingung. Mana bini gue udah nangis terus dari tadi, minta tolong tim orange kali buat nyariin Tiara."
"Loe kata mau nyari sampah di kali!"
"Hubungin polisi belum bisa Rai, gue mau ngarahin anak buah gue juga nggak bisa. Jangan kan anak buah, induk buah aja masih butuh di kasih pupuk!"
__ADS_1
"Ck, ini perkara nyari anak Dika, bukan ngempanin pohon mangga di depan rumah loe!"
"Bantu gue lah, duit loe kan banyak. Sewain detektif Conan buat nyari Tiara!"
"Berisik loe! udah diem dulu, kalo panik jadi halu loe pusing gue dengarnya."
Tut
Raihan mematikan panggilan dari Andika yang tak berfaidah, dia juga tak mungkin diam. Apa lagi ini menyangkut ponakannya. Sejak tadi Raihan menghubungi orang-orang yang ia percayai untuk mencari, tetapi belum juga mendapatkan kabar baik.
"Kemana sich anak itu! hobi kok ngabur..." gumam Raihan yang sudah ada di rumah karena Rafkha tadi bersikeras untuk pulang.
"Bagaimana mas?" tanya Andini yang baru saja dari kamar Rafkha untuk memastikan putranya sudah istirahat dan terlelap.
"Belum pulang juga," Raihan menarik nafas dalam dan memandang Andini yang sedang meletakkan kopi di nakas.
"Makasih ya."
"Hmm....terus bagaimana mas? punya ponakan gadis sebiji aja kenapa suka banget bikin orang was-was. Dia tuh kabur sendirian tadi dari sekolah, berarti sampe malam begini dia nggak ada temannya. Aku tanya sama Lily dia juga udah putus dari pacarnya itu." Andini tadi sempat mengintrogasi Lily dan memang Tiara tidak memiliki teman dekat lainnya selain dia.
Semua tampak panik tetapi Tiara dengan santai berjalan menyusuri pantai. Dia tidak memikirkan jam berapa dan dirinya yang hanya sendirian. Suasana yang semakin ramai oleh pasangan muda mudi yang ingin menghabiskan malam di sana membuatnya santai saja. Tiara berjalan dengan membawa jagung bakar yang ingin ia bawa pulang.
Hatinya sudah sedikit tenang, bahkan lebih baik dari sebelumnya. Hanya sedikit iri melihat para pengunjung yang saling berpegangan tangan dengan pasangan mereka.
__ADS_1
"Sedih banget sich gue, yang lain pada gandengan. Eh gue pegangan sama jagung. Nasib.....! balik aja lah..." Tiara segera melangkah menjauh dari pantai menuju taksi yang berjejer dia luar.
Tubuh yang berbalut dengan jaket Rafkha membuatnya cukup hangat. Selain itu seragamnya pun tak terlihat. Tiara melangkah menuju taksi yang kosong dan segera membuka pintu. Tetapi saat ingin masuk tiba-tiba ada yang membekap mulutnya.