YOU'RE MINE ADIK NAKAL

YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Sadar Diri


__ADS_3

Tiara sampai di rumah tepat pukul sembilan malam, dia turun dari taksi dan segera masuk ke dalam rumah dengan di sambut oleh kedua orangtuanya. Tak lama Gibran pun masuk ke dalam rumah setelah mencari Tiara tetapi tak menemukan.


"Ya Allah nak.....kamu dari mana? anak gadis jangan suka kelayapan. Mamah dan Papah sampe bingung nyariin kamu, tuh lihat kakak kamu juga baru pulang dari tadi sore nyariin." Erna segera memeluk Tiara dengan erat dan di balas tak kalah erat oleh Tiara. Andika mengusak rambut putrinya dengan gemas karana selalu membuat cemas.


"Kamu tuh udah kayak lagu tau nggak? janji palsu! janji sama Papah nggak kabur-kaburan tapi apa, baru seminggu udah lupa." Andika lega melihat anaknya sudah pulang dengan selamat walaupun terlihat ada yang janggal. Mata Tiara sembab dengan hidung memerah, tak hanya itu seragamnya pun tampak lusuh.


"Masih untung janji palsu Pah, bukan alamat Palsu!" jawab Tiara asal dengan senyum yang di paksakan.


"Nanti jadinya Tiara ting-ting dong!" Andika tertawa begitupun dengan Erna yang tak menimpali, suasana hati beliau jauh lebih baik setelah melihat keadaan putrinya baik-baik saja. Sedangkan Gibran hanya menghela nafas panjang dan segara masuk ke dalam kamar.


"Tidur loe dek, udah malem!" celetuk Gibran saat menaiki tangga.


"Ya udah aku Istirahat dulu ya Mah, Pah...muach.....muach..." setelah mengecup pipi keduanya, Tiara segera berlari menuju kamar. Kedua orang tuanya hanya menatap dengan saling berpelukan. Tiara memang selalu membuat keduanya ketar-ketir.


"Alhamdulillah....Semua karena kita terlalu sayang, pantas saja Papah memutuskan demikian." Andika dan Erna tersenyum dengan wajah haru, kemudian segera masuk ke kamar.


Tiara segera mengunci pintu dengan rapat, nafasnya tiba-tiba sesak dan bayangan akan tadi membuat pikirannya tak karuan. Tiara berdiri di balik pintu kamar dengan tangan mencengkeram seragamnya. Bibir bawah ia gigit dengan mata terpejam hingga bulir air mata jatuh membasahi pipi.


Tiara segera masuk kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera beristirahat. Gadis itu mencoba memejamkan mata walaupun rasanya sulit tetapi ia butuh istirahat karena tubuhnya sangat-sangat lelah.


Keesokan harinya tak ada yang berbeda, Rafkha tetap menjemput walaupun tadi pagi Papahnya mengabari jika besok di undang di acara tunangan Rafkha. Pria itu juga bersikap manis seperti biasa, sesak rasanya hati Tiara. Ingin ia memeluk dan bilang jangan, tetapi ia bisa apa ketika semua acara sudah di depan mata.

__ADS_1


"Jangan cemberut gitu, gue cipoook nich!" ucapnya setelah memasangkan helm untuk Tiara. Rafkha pun tersenyum setelah menarik hidung Tiara yang membuat gadis itu semakin merajuk dengan memukul lengan.


"Ayo cepet naik!"


Tiara tak bersuara, hatinya tak karuan bahkan kejadian kemarin belum bisa ia lupakan dan kini ia harus berangkat sekolah dengan Rafkha yang pastinya akan membuat heboh SMA Baratajaya.


Tiara ingin sekali menjerit, memikirkan nasib dirinya ke depan. Sepanjang jalan hanya diam, bahkan banyak yang mencemooh dirinya saat Rafkha terang-terangan menggandeng tangan Tiara menuju kelas.


Penolakan Tiara pun tak di anggap oleh pemuda itu, hingga Tiara nekat melepas dengan menyentak tangannya karena suara-suara semakin terdengar dan ramai masuk di telinga.


"Loe tuh besok udah jadi tunangan orang kak, stop kayak gini. Loe nggak dengar omongan semua orang? gue juga nggak ada hak atas loe lagi! kita putus dan nggak ada hubungan lagi selain adik kakak!"


Rafkha hanya bisa menganggukkan kepala, mengalah dan pergi begitu saja. Karena ia tau, hati Tiara sedang tak baik-baik saja dan butuh sendiri untuk menenangkan. Sedangkan Tiara yang tadi begitu keras kini tubuhnya seakan layu hingga hampir ambruk jika yg tak ada seseorang yang tiba-tiba datang dan menahan tubuhnya.


"Ayo gue antar ke kelas."


Tiara tak banyak bicara, ia hanya mengangguk dan segera melangkah menuju kelasnya. Setelah mengantarkan Tiara sampai ke kelas pria itu pun segara meninggalkan setelah sempat mengusak rambut Tiara.


Tiara hanya diam, ia tak mengucapkan apapun dan segera masuk menuju kursinya. Namun belum sempat ia terduduk, Zea tiba-tiba datang dengan bersedekap dada dan mata menghunus tajam.


"Ada apa?" tanya Tiara dengan sikap datar.

__ADS_1


"Loe nggak malu masih berangkat sama kak Rafkha? Gue tau kalian sepupu tapi gue tau perasaan loe sejak dulu. Dan seharusnya pagi ini gue yang meluk kak Rafkha bukan loe!" sentak Zea yang mengundang perhatian murid lain.


"Udah selesai ngomongnya?" tanya Tiara yang berusaha bersikap tenang. Tetapi Zea semakin mengepalkan tangannya menatap Tiara semakin tajam membuat Tiara menyeringai melihatnya.


"Sorry kalo pagi ini gue masih meluk-meluk calon tunangan loe! anggap aja ini salam perpisahan sebelum besok dia berganti status menjadi tunangan orang. Dan gue juga mau bilang makasih sama loe, karena sudah memberi waktu untuk gue sempat mencicipi bibirnya, pelukannya, dan...."


PLAK


Tiara memejamkan mata saat merasakan pipinya begitu panas, dia tersenyum getir dan menatap nyalang Zea yang berani berbuat kasar padanya. Bahkan Lily yang baru saja sampai segera menghampiri dan menarik Tiara untuk mundur tetapi di tolak oleh Tiara.


"Kenapa, hhmm? bukannya loe duluan yang curangi gue? dua tahun yang lalu gue percaya sama loe, gue jujur akan perasaan gue, tapi belum ada waktu 2 kali 24 jam, loe udah buat gue sadar kalo loe bukan sahabat yang baik. Loe nggak lebih dari penghianat, loe meyakinkan gue untuk pertahankan perasaan gue sama dia, tapi loe tusuk gue dari belakang. Nggak jadi masalah kalo ciuman pertama dia bukan untuk gue. Tapi gue bisa ikutin cara loe untuk mendapatkan hal lain dari dia." Tiara tersenyum menatap Zea yang semakin emosi, ini tak seberapa dengan penghianatan dan perlakukan kasar hingga membekas jiplakan tangan di pipinya.


"Dan satu lagi, jangan maling teriak maling!" bisik Tiara kemudian menepuk pundak Zea yang segara di tepis olehnya dan segera keluar dari kelas.


"Itu karena gue tau kalo dia udah di jodohkan sejak kecil sama gue dan nggak salah kalo gue segera membuat loe sadar diri!" teriak Zea membuat langkah Tiara terhenti, tetapi setelahnya ia kembali pergi.


Tiara sudah tak ada niat ingin mengikuti pelajaran, ia segera berlari ke atas roof top untuk menenangkan dirinya. Sakit, sangat sakit tapi ini saatnya ia speak up setelah lama diam dan menghindar. Sesampainya di sana Tiara menangis terisak setelah memastikan tak ada siapapun yang melihat. Memukul dadanya yang begitu sesak hingga ia terasa ingin lenyap sejenak dari permasalahan yang ada.


"Gue tau, gue sadar, gue nggak pantes buat kak Rafkha. Gue tau tanpa harus merasakan hal sesakit ini. Gue tau kalo gue nggak pantes mendapatkan semuanya!" teriak Tiara mengeluarkan unek-unek di hatinya. Hingga ia tak menyadari jika sejak tadi ada yang menyaksikan dengan tangan mengepal dan rahang mengeras.


Kesedihan yang Tiara pikir hanya dirinya lah sendiri yang merasakan, tanpa ia sadar jika banyak yang menyayangi dirinya.

__ADS_1


__ADS_2