
Tiara menatap Oma dengan mata membola, benar ia tak mungkin salah. Suara itu.....
"Ini ada telpon dari Rafkha, katanya sejak tadi nomor kamu nggak bisa di hubungi. Nih...." Oma segera memberikan ponselnya pada Tiara, tau akan ada pembahasan serius maka Oma pun segara masuk lebih dulu. Padahal Tiara sudah melambaikan tangannya jika tak ingin menerima, tetapi Oma seperti sengaja akhirnya ia pun pasrah.
Panggilan beralih ke Vidio call, Tiara menghela nafas berat sebelum menggesernya. Jantung mulai tidak aman dan perasaan ketar ketir nggak karuan. Sudah di pastikan Rafkha mendengar seruan dari Oma saat berbicara pada Wahyu tadi.
"Pulang sama siapa?" pertanyaan pertama yang ia terima membuatnya menahan nafas. Menjawab bunuh diri jika tidak di jawab kena maki.
"Tadi it_"
"Loe tunggu hukuman dari gue!"
Tut
Tiara memejamkan mata, belum sempat di jawab sudah kembali di matikan. Rasanya Tiara ingin mengumpat kesal, tapi apa daya hati tak sampai.
Setelah mandi dan sejenak mengistirahatkan diri. Kini Tiara terduduk di meja makan, makan malam bersama Oma tercinta. Sudah menjadi biasa makan hanya berduaan.
"Kenapa di tekuk begitu itu mukanya? mau Oma setrika biar licin?" tanya Oma meledek, beliau paham apa yang terjadi dengan cucunya. Ia mengulum senyum mengingat sifat Rafkha yang sama seperti mendiang suaminya. "Posesif" tapi sepertinya memang semua pria di keluarga mereka sama, sama-sama tidak waras jika sudah mencintai wanitanya.
"Ck, Oma seneng kan kak Rafkha kesel ma aku? tau aku pulang di antar Wahyu harusnya Oma matikan dulu panggilannya. Bukannya malah sengaja berteriak." Tiara mendengus kesal apa lagi melihat Oma menanggapi dengan tertawa.
"Oma hanya berterima kasih karena sudah mengantar pulang cucu Oma dengan selamat. Tetapi dia tampan juga, nggak kalah sama Rafkha."
"Oma mau jadi kompor sekarang? berapa tungku? satu atau dua? kayak nggak tau cucu Oma yang satu itu aja. Tau-tau orangnya nongol repot Oma!" Tiara memijit pelipisnya, ngambeknya Rafkha saja belum usai karena sejak tadi pria itu belum kunjung menghubungi. Tiara pun tak ingin menganggu berhubung dia tau jika Rafkha sedang ujian. Dan mustahil dia tiba-tiba muncul.
Dan sekarang ditambah lagi Oma meledek bahkan mengompori dirinya. Huuuhhhfff......persis sekali dengan Papahnya.
__ADS_1
"Tinggal kamunya aja, kuat apa nggak di dekati pria tampan seperti teman kamu itu. Long distance itu nggak mudah Tiara, kepercayaan nomor satu. Dan kalian harus punya itu. Dasar anak muda, labil. Eh....tapi kalian....kamu nggak lagi hamil kan?" tanya Oma seketika mengingat adegan panas di Vidio yang Andika berikan. Dan sekarang ia melihat cucunya nggak enak makan. Apa mungkin ia akan memiliki cicit secepat itu.
"Oma! aku masih P ya...!"
"P apa? polos? mana mungkin kamu polos, wajah boleh imut tapi Oma rasa urusan pacaran kamu sudah handal dan bahkan bisa mencetak banyak cicit buat Oma!"
Tiara tercengang mendengar ucapan Omanya yang membuat ia semakin pusing. Tiara menggelengkan kepala dan segera makan dengan lahap agar Oma tak berpikir jika ia hamil beneran.
Pagi ini Tiara bisa bernafas lega karena ban motonya sudah di tambal oleh suruhan Oma kemarin. Ia bisa berangkat dan pulang sekolah dengan aman. Tak takut kejadian kemarin akan terulang kembali.
"Tiara...!"
Langkah Tiara terhenti setelah mendengar seruan dari orang yang ia kenal. Ya, di belakang sana Irna sedang berlari setelah sempat ke kantin untuk sarapan.
"Tiara kamu kemarin pulang sama Wahyu?" tanya Irna dengan mata berbinar. " Kok udah dekat nggak bilang-bilang sich, jadi si kalem bin jutek itu udah mulai berani menunjukkan taringnya sama kamu?" tanyanya lagi.
"Kamu dapet kabar dari lambe turah merk apa? pagi-pagi udah cosplay jadi wartawan." Tiara menggelengkan kepala, gosip selanjutnya pasti akan ada perjodohan antara keduanya. Sudah biasa dan tak heran. "Susah emang kalo cantik, gerak dikit di lirik. Bau kentut aja jadi wangi kalo gue yang buang angin. Apa lagi dapet tumpangan ketos caem auto di kepoin!"
"Kemarin aku tuh nggak kebagian naik angkutan, penuh jadi harus nunggu lama lagi. Terus dia baru mau pulang gitu, ngajakin bareng mungkin karena melas kali lihat gadis imut di lalerin gara-gara kelamaan nunggu angkutan datang.... Auwwhhh.....".
Irna memukul lengan Tiara membuat Tiara meringis.
"Di tanyain serius dikit apa!"
Tiara mengangkat kedua bahunya dan kembali melangkah meninggalkan Irna yang merengut kesal. Hari ini pun Wahyu tak biasanya menyapa, meskipun masih wajar tetapi membuat Tiara mengernyitkan dahi. Tumben.....
"Ra..."
__ADS_1
"Ya..."
"Bawa motor?"
Tiara menganggukkan kepala, sedangkan keduanya kini sudah menjadi pusat perhatian teman satu kelas termasuk Irna yang mengulum senyum. Wahyu pun membalas dengan anggukan dan segera melangkah menuju kursinya.
"Uda gitu doank? aneh...." Tiara menggelengkan kepala dan kembali fokus dengan pelajaran selanjutnya.
"Emang kamu maunya gimana Ra? udah mulai ngarep ya...." ledek Irna.
"Nggak usah jadi netizen yang suka jodohin orang dech!" celetuk Tiara.
Setelah kejadian itu Wahyu mulai aktif mendekat, tapi Tiara biasa saja. Selagi masih wajar dan berteman dengan baik kenapa nggak. Gadis itu pun tak peduli dengan gosip yang merebak, membiarkan tanpa mau menjelaskan. Nanti kalo capek juga berhenti sendiri pikir Tiara.
Selama dua hari ini Wahyu dan temannya sudah mulai makan bersama dalam satu meja dengan Tiara dan Irna. Dan selama dua hari ini juga Tiara tak mendapatkan balasan pesan dari Rafkha. Ntah kemana pria itu, tetapi Tiara percaya jika Rafkha tak akan bermain gila.
Sempat kesal, tetapi mengingat kata Oma jika harus saling percaya membuat Tiara berfikir positif. Meskipun rindu jelas nyata, biasa selalu menyempatkan waktu untuk Vidio call tetapi sudah beberapa hari ponsel Tiara nampak nganggur.
Tiara berjalan gontai masuk kedalam rumah, hari ini ia cukup lelah. Pelajaran olahraga lanjut pelajaran full karena sebentar lagi ujian naik kelas.
"Aaakkhh.....akhirnya ketemu kasur juga gue. Nyaman...." Tiara merebahkan tubuhnya di ranjang, memejamkan mata sejenak sebelum mandi dan makan. "Eh....kok geter-geter...." getaran ponsel mengganggunya, Tiara mengambil ponsel di saku kemejanya.
Mata Tiara membola melihat pesan gambar yang masuk, cairan bening mulai mengalir dengan cengkraman di sprei yang begitu kuat. Tiara segera membanting ponselnya di ranjang dan masuk kedalam kamar mandi.
BRAK
Tiara membanting kasar pintu kamar mandi dan segara membersihkan diri. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin berharap otak dan hati adem.
__ADS_1
..."Seharusnya sadar loe itu siapa karena itu lebih baik dari pada maksain!" ...