
Hari-hari Tiara jalani dengan baik, tak ada yang tau akan statusnya namun tak membuat Tiara bersikap bebas, sampai sekarang Tiara selalu menjaga batasan. Banyak pria yang mencoba mendekat namun tak membuatnya merasa bangga tetapi justru akan membuatnya susah.
Ia harus memikirkan cara menolak tanpa menyakitkan, bertutur kata dengan lembut tanpa meninggalkan kesan buruk. Rafkha pun tak lepas bertukar cerita dan kabar, mengikis rindu dengan saling bertukar pesan dan menyapa lewat panggilan vidio.
Hingga kesibukan keduanya membuat jarak dan sulit menyatukan komunikasi, kini Tiara sudah kembali ke ibu kota. Ia meninggalkan Ayahnya yang lebih betah di kampung untuk meneruskan pendidikannya. Tiara berkuliah satu kampus dengan Lily dan Aara, Gibran, Brian dan Zea. Namun hubungan dengan Zea nampak datar dan tak pernah saling sapa.
Sebenarnya bisa saja Tiara tetap meneruskan di kampung namun Ayahnya justru menganjurkan dia kembali ke Jakarta dan masuk ke universitas yang ternama di sana. Sampai saat ini sudah hampir setengah semester ia tempuh, tanpa ada kendala meskipun semakin sibuk dan bentrok dengan waktu Rafkha di sana. Tetap berkirim pesan namun jarang beratap muka.
"Halo Ratu,"
"Hai Ra, ada apa?"
"Aku boleh minta tolong nggak?"
"Apa sich cantik? bilang aja, mau apa?"
"Tolong ke rumah aku ya, tengok Ayah aku soalnya semalem beliau bilang sakit kepala. Ini aku hubungin nggak bisa, aku minta tolong ya Ibu Ratu yang mulia," rayunya.
"Oke, upahnya apa nich?"
"Apa aja boleh asal jangan godain Ayah aku! Aku nggak mau Ayah khilaf dan aku harus memiliki ibu tiri macam cabe giling!"
"Eits jangan salah, begini-begini Angga cinta mati sama aku!"
"Terserah dech pokoknya jangan lupa tengok Ayah aku ke rumah, Oke!"
"Sipp! bye...."
Ya Tiara selalu meminta tolong pada Ratu untuk urusan Ayahnya karena rumah yang tak terlalu jauh dan Ratu sangat baik mau ikut membantu saat Tiara tak dapat bolak balik pulang. Tiara menghela nafas lega dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas dengan buru-buru.
__ADS_1
BRUKK
"Awwhhh..." Tiara terjungkal tanpa sengaja menyenggol bahu mahasiswa baru, dia yang tak hati-hati saat menaiki beberapa anak tangga menuju kelasnya yang sudah terlihat jelas. Masih cukup aman karena dosen belum masuk namun merasakan lututnya yang nyeri membuatnya meringis sendiri.
Uluran tangan tepat di depan wajah, mencoba memberi bantuan pada Tiara yang masih tertunduk dengan memijat lutut. Sadar akan seseorang yang ingin membantu membuat Tiara mendongakkan kepala menatap siapa gerangan yang membantunya.
"Wahyu!"
"Tiara! Bener ini kamu Tiara?" Tanpa menunggu Tiara menggenggam tangannya Wahyu segera menarik tangan Tiara untuk membantu nya berdiri.
"Aku nggak nyangka bisa bertemu kamu di sini, pangling lagi. Makin cantik!" puji Wahyu yang begitu terkesima melihat Tiara yang semakin dewasa, cantik dan terlihat feminim.
"Aku juga nggak nyangka ini kamu! kok bisa kuliah disini juga?" baru kali ini keduanya bertemu, bahkan Tiara yang kini menjadi primadona kampus dan hampir semua mengenalinya tak pernah ia melihat batang hidung Wahyu nampak sejak awal masuk kuliah.
"Aku baru pindah karena orang tua di pindah tugas, jadi ya udah sekarang aku kuliah di sini. Owh iya aku mau ke kelas dulu ya, mahasiswa baru soalnya." Wahyu memang jika didepan Tiara sedikit banyak bicara karena dulu sempat nyaman.
"Loh...."
"Mungkin jodoh." Wahyu tersenyum dan segera menyiapkan bukunya karena dosen sudah mulai masuk. Tiara yang dibuat bungkam karena ucapan Wahyu segera fokus kembali pada makul yang akan di mulai. Keduanya mengambil jurusan akutansi, sama halnya dengan Lily yang sejak tadi memperhatikan dari belakang.
Hampir 90 menit kelas selesai dan dosen pun segera meninggalkan kelas. Wahyu segera mengajak Tiara menuju kantin karena pagi tadi sempat tidak sarapan dan dia yang baru disana belum cukup paham dengan tata letak kampus tersebut.
"Temenin aku yuk! nanti aku traktir," ajak Wahyu yang kini tengah duduk di kursi depan Tiara yang kosong. Wahyu tersenyum memperhatikan Tiara, nyatanya sejak di tolak dengan Tiara dia belum lagi mendapatkan tambatan hati. Rasa pada Tiara masih sama apa lagi melihat perubahan Tiara saat ini yang semakin ayu membuat jantungnya jedag jedug tak menentu.
"Oke, tapi bentar aku mau ajak..."
"Siapa Ra?" Tanya Lily dengan tatapan selidik, sebagai adik yang baik ia harus bisa melindungi kakak iparnya dari para pria yang mendekat. Agak sulit memang karena banyak mahasiswa yang menyukai Tiara dan mengira wanita itu jomblo padahal telah memiliki surat kepemilikan yang sah.
"Oh kenalin ini Wahyu temen gue di kampung Oma dulu, satu sekolah pas gue kelas dua. Wahyu kenalin ini Lily adik gue!" keduanya saling berkenalan dan berjabat tangan setelah itu menuju kantin untuk makan siang.
__ADS_1
Tak hanya Tiara saja yang di traktir oleh Wahyu tetapi Lily pun juga, mereka makan di meja yang sama dan saling mengobrol. Lily sudah mulai nyambung dengan Wahyu dan tampak santai tak seperti di awal kenal. Mungkin karena awalnya ia begitu posesif namun setelah melihat Tiara yang biasa saja dan menjelaskan jika Wahyu adalah sahabatnya dulu, Lily merasa tenang.
"Li, Wahyu ini jomblo loh!"
"Terus maksud loe apa? dan apa hubungannya sama gue!" celetuk Lily yang sudah mulai paham dengan jalan pikiran Tiara.
"Ya gue mah ngasih tau aja, siapa tau cocok. Ya kan Yu!" sahut Tiara dengan niat baiknya. "Auwh....sakit Lily! gue bilangin sama kakak loe ntar!" Tiara meringis kesakitan karena cubitan pedas yang Lily layangkan.
"Makanya nggak usah ngadi-ngadi."
"Sans aja bege! gue kan cuma ngasih tau. Ya kalo mau sok atuh!" jawab Tiara santai dan hanya di tanggapi dengan senyuman tipis dari Wahyu.
"Tapi sayangnya gue gagal move on rasa gue masih sama dengan wanita yang sama."
Uhuuuk....Uhuuk....Uhuuk....
Wahyu dan Lily segera mengambil minuman masing-masing untuk Tiara membuat TIara yang kini kesulitan karena tersedak memutuskan untuk meraih minumannya sendiri.
"Pelan-pelan dong Ra, sorry kalo ucapan gue buat loe terkejut."
Tiara hanya diam menunduk dengan wajah memerah, dia memang terkejut namun tak ingin menimpali sesuatu yang akan kembali membuka masa lalu. Apa lagi di sana ada Lily, Tiara tak ingin adiknya salah paham.
Setelah makan ketiganya kembali ke kelas dan kembali belajar hingga kelas selesai hampir sore. Seperti biasa Tiara akan pulang bersama dengan Lily dan Aara pulang di antar oleh Brian. Sejak kembali ke Jakarta Tiara tinggal di rumah Andini, sempat Andika tak terima tapi apa boleh buat jika suaminya telah bertitah.
"Rumah kamu dimana Ra?" tanya Wahyu yang akan menaiki motornya.
"Komplek Pemuda, nggak jauh dari sini." Tiara pun tengah bersiap ingin pulang, memakai hoodie milik Rafkha dan tak lupa helm untuk keselamatannya. Dia mulai duduk di bangku kemudi sedangkan Lily menempati jok belakang.
"Bareng aja, kebetulan kita searah. Aku di belakang kalian," Wahyu segera menyalakan motornya dan mulai mengikuti keduanya. Tiara dan Lily pun tak keberatan, namun keduanya tak sadar jika Wahyu mengikuti sampai rumah.
__ADS_1