
Tiara menghela nafas berat menatap pria yang kini tersenyum padanya, Tiara tau latar belakang keluarganya berada bahkan Ayahnya memiliki perusahaan sendiri lalu kenapa harus melamar menjadi asisten nya. Jika sudah begini bagaimana Tiara bisa menolak, sedangkan beberapa tahun ini Wahyu sudah banyak membantu.
"Diterima nggak?" tanyanya meminta kepastian dengan mengulum senyum, sebenarnya Wahyu sendiri sudah yakin jika Tiara akan menerima. Dia sendiri memang sudah bertekad tak ingin menjauh dari Tiara meskipun sadar Tiara menjaga jarak. Setidaknya sampai Tiara jatuh ke tangan yang tepat. Sebucin itu dirinya hingga rela andai kata Tiara dimiliki orang lain, yang terpenting orang itu tulus menyayangi dan tak menyia-nyiakan Tiaranya.
"Menurut kamu? Kamu nanya ya? kamu bertanya-tanya?" Tiara menggelengkan kepala dan menatap dengan wajah datar.
"Jangan gitu sama aku, dengan gini kamu nggak terlalu memforsir diri kamu untuk bekerja dan nggak terus kerja lembur bagai kuda." Ya Wahyu memang tau keseharian Tiara, dia tetap memantau meskipun jarang bertemu. Keluhan pun terkadang keluar dari mulut Tiara saat ia benar-benar lelah. Wahyu selalu menyempatkan diri setiap harinya mencari kabar tentang Tiara dengan menelpon atau lewat pesan singkat.
Bagaimana tidak mengeluh pada Wahyu jika hanya pria itu yang dekat dengan dirinya saat ini. Sedangkan orang yang ia harapkan kehadirannya saja menghilang ntah kemana. Jadi jangan salahkan Tiara jika ia mengeluhkan kehidupannya pada orang yang selama ini selalu ada di sisinya.
Dan hari ini Wahyu resmi menjadi asisten pribadi Tiara yang merangkap sebagai sekertaris. Wahyu mulai menempati ruangan yang berada di samping ruangan Tiara dan mulai belajar agar memahami pekerjaannya. Sedangkan Rani sudah mulai berkemas karena hari ini ia terakhir bekerja pasca cuti melahirkan.
"Makan siang dulu yuk!" Wahyu masuk keruangan Tiara saat jam makan siang, ia membujuk Tiara agar makan terlebih dahulu di sela-sela kesibukannya. Tiara memang tak ada niat untuk keluar ruangan, ia memilih untuk makan siang di ruangannya karena pekerjaan masih sangat banyak.
"Bu bos_"
"Wahyu pekerjaan aku masih banyak banget loh, kamu makan aja dulu. Lagian aku di bawakan bekal oleh Mommy tadi." Tiara tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari layar laptop. Itulah dia sekarang, menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja dan bekerja. Karena baginya terlalu banyak waktu senggang membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu percuma. Pikiran melayang dan membuatnya kembali bersedih mengingat pria yang belum tentu memikirkan dirinya.
"Makan dulu nanti aku bantu pekerjaan kamu! apa kamu lupa sekarang ada aku yang bekerja juga, aku tau apa yang harus aku kerjakan setelah ini dan aku jamin kamu nggak akan lembur hari ini!"
"Tapi Yu_" akhirnya Tiara pun pasrah saat Wahyu menutup laptopnya dengan sedikit memaksa dan membawa bekal yang ada di atas meja sofa lalu menggandeng tangan Tiara mengajaknya ke cafe terdekat.
"Padahal aku bisa makan di ruanganku tau, kan aku ada bekal." Tiara mendengus kesal namun nampak pasrah dan mengikuti langkah Wahyu dengan terpaksa. Banyak karyawannya yang menatap dua orang yang nampak serasi bagi mereka, bahkan ada yang mengira jika asisten baru CEO nya adalah kekasihnya sendiri.
__ADS_1
Kini keduanya sudah berada di dalam cafe dengan Tiara memakan masakan Mommy dan Wahyu memesan makanan yang ada di sana.
"Kamu mau pesan minum apa Ra?"
"Aku mau jus mangga aja, last sugar ya mbak," ucap Tiara pada pelayan restoran yang sedang mencatat pesanan keduanya.
Tiara dan Wahyu makan dengan khidmat, Tiara pun hanya diam menikmati dengan menahan sesak di dada. Makanan itu mengingatkan dirinya pada Rafkha, meski terasa sangat nikmat namun di setiap suapan Tiara rasanya ingin menangis. Tetapi berusaha menguasai diri agar tak terlihat beda di depan Wahyu.
Namun Wahyu cukup peka akan hal itu, ia mengambil sapu tangannya dan menyodorkan tepat saat Tiara ingin menyuap kembali makanannya. Seketika Tiara tertegun karena belum ada air mata setetespun yang jatuh, ia sekuat tenaga menahan tetapi dengan sikap Wahyu padanya membuatnya justru terisak di balik sapu tangan milik Wahyu.
Wahyu pun tak ingin banyak bertanya, cukup paham akan hati Tiara yang tak baik-baik saja. Andai Wahyu mau mencari tau tentang Tiara dan jati dirinya pasti ia akan menjaga jarak. Namun Wahyu hanya melihat jika Tiara tak memiliki kekasih karna tak ada satu pria pun yang dekat dengan wanita itu selain dirinya.
Meski hati gundah gulana tak baik-baik saja tetapi bekal buatan Mommy habis tak tersisa. Rasanya enak apa lagi sudah lama ia tak di buatkan oleh Andini. Tiara tersenyum kecut dan mengemas kembali wadah makannya kedalam paperbag. Wahyu yang melihat Tiara sudah selesai makan pun segera menyelesaikan makannya karena sejak tadi hanya sibuk memperhatikan Tiara.
Tiara merengut mendapatkan ledekan dari Wahyu, sebenarnya malu namun karena memang benar ucapannya jadi Tiara hanya diam dengan muka masam. Kini keduanya segera kembali menuju kantor karena harus segera menyiapkan berkas untuk di bawa meeting siang ini.
"Nggak usah gandengan segala Wahyu!" Tiara menarik kembali jemarinya dari genggaman tangan Wahyu dan segera melangkah lebih dulu.
"Mau nyebrang Bu Bos, sabar napa! aku gandeng biar aman!" Wahyu kembali menggenggam tangan Tiara saat keduanya sedang ingin menyebrang jalan namun saat saat di tengah-tengah jalan raya kaki Tiara terkilir karena high heelnya yang tak seimbang akibat terburu-buru mengimbangi langkah Wahyu. Dan menyebabkan cekalan tangan Wahyu terlepas, tanpa sadar dari arah kanan ada sebuah mobil hampir saja menabraknya beruntung cepat menginjak rem jika tidak Tiara sudah terpental saat ini.
"Tiara!"
Wahyu segera kembali melangkah berbalik arah namun pengendara lain mulai ramai melaju hingga Wahyu kesulitan untuk membantu Tiara.
__ADS_1
"Auwhhh....sakit banget sich!" keluh Tiara membungkukkan tubuhnya, ia tak kunjung beranjak karena ngilu yang ia rasa.
"Hay kamu, mau bunuh diri ya!" seorang wanita berpakaian tak kalah sexy turun dari dalam mobil dan memaki-maki sesuka hati, Tiara tak menggubris, ia memijat pergelangan kakinya sebelum akhirnya menegakkan tubuhnya kembali.
"Maaf mbak jika mengganggu perjalanan anda, kaki saya tadi terkilir jadi tidak se_"
"May...ayo kita akan ter_" Tiba-tiba seorang Pria keluar dari dalam kursi kemudi dan meminta wanita yang memaki Tiara untuk segera kembali masuk namun ucapannya terhenti saat sadar siapa wanita yang hampir ia tabrak itu.
Tubuh Tiara seketika kaku mematung melihat seseorang yang juga terdiam menatapnya namun segera masuk kembali ke mobil setelah menarik tangan wanita sexy itu. Tiara menepi saat ada tangan yang merengkuh pinggulnya untuk minggir dan membawanya menyebrang jalan.
"Kamu nggak apa-apa Tiara?" Tanya Wahyu setelah berhasil membawa Tiara ke seberang dan mendudukkan wanita itu di salah satu kursi yang ada di trotoar.
Tiara masih diam, lidahnya kelu untuk berucap dan dadanya semakin sesak, bahkan tubuhnya seketika oleng jika Wahyu tak segera meraihnya. Tiara memilih segera beranjak dari sana dan kembali masuk ke kantornya menuju ruangan kerja miliknya. Dengan langkah kaki yang terseok Tiara berjalan cepat meninggalkan Wahyu yang nampak bingung dengan sikap Tiara yang linglung.
"Dia kenapa?" gumam Wahyu menatap punggung Tiara yang menjauh dengan dia yang masih berdiri di tempat.
Tiara segera mengunci pintu ruangannya, ia butuh sendiri saat ini. Meletakkan paperbag yang masih ia genggam dan mendudukkan tubuhnya di sofa. Wanita itu masih diam dengan pandangan kosong namun pikiran kembali pada sosok pria yang ia temui tadi. Begitu rupawan dengan setelan jas dan tubuh yang terlihat lebih atletis dari sebelumnya.
Lalu siapa wanita itu dan ada hubungan apa dengan dirinya, sejak kapan kembali dan mengapa tak mengabari...
Kecewa, itulah yang Tiara rasa saat ini, rasanya ia muak di permainkan seperti ini. Tak ada kabar tau-tau bertemu dalam posisi yang berbeda. Bahkan tak ada tegur sapa apa lagi menanyai keadaan. Tiara tertawa dengan air mata yang menetes, menertawai kebodohannya yang menunggu menahan rindu. Tetapi yang ia tunggu nampak baik-baik saja bahkan tak mengenalinya. Hubungan macam apa yang terjalin saat ini....
"Gue menyerah.... Loe yang buat gue mundur teratur dan buat gue sadar jika hubungan ini hanya sebatas cinta sesaat."
__ADS_1